Jumat, 27 Februari 2015

First sightseeing in Riga

 St. Peter's church in the background was built in the 13th century and can be seen from the university. I think we are not going there because the wind would blow us away on the top floors!
This is the house of the blackheads and the office of the president. Mr president arrived with his bodyguards while we were taking pictures around here.
 You can see the Freedom monument of Latvia behind us. It is very tall.
This is the opera (and ballet) house of Riga with this wonderful fountain sculpture!
Now we are thinking where to go on our next hikes!
We are using the public transportation here in Riga because it is faster during rush hours!

Kamis, 26 Februari 2015

Looking for a place to sleep

At firstwe went to check hotels and hostels just in case.
Are you sure we have the correct address?
re we even in the right country?
Here we met our host at her Alma Mater and working place at Riga Technical university.

And tomorrow we will have a short walk through Riga

Rabu, 25 Februari 2015

We arrivrd in Riga

We arrived safely in Riga. Here we are in front of Riga central train station. Next days comming more posts...

Selasa, 24 Februari 2015

HECTICNYA MAU BERLIBUR KE BRUNEI




Tiket pesawat sekali jalan ke Brunei tertanggal 26 April 2014 sudah saya kantongi hampir setahun yang lalu. Tapi hingga 2 minggu menjelang keberangkatan saya masih memegang surat cuti yang belum ditandatangani oleh si boss. Dampaknya?! Saya belum bisa beli tiket pulang.. *manyun*




10 hari sebelum keberangkatan


Entah habis kejatuhan durian runtuh darimana, tiba-tiba team marketing di

Jumat, 20 Februari 2015

JEFF THE KILLER: VOW OF REVENGE PART 04 (FINAL) � ORIGINAL SERIES

 

1

Janet bak tersambar petir begitu menyadari kenyataan itu. Dr. Gunther adalah ibu Kate dan selama ini ialah yang merawatnya dengan semua keluhannya. Apakah selama ini ia menjerumuskannya? Apa ia juga yang membunuh teman-temannya satu demi satu?

Kristabelle; Janet tahu ia sudah meninggal. Ia tak pernah lagi menerima kabarnya sejak ia meninggalkan St. Xavier�s College.

Anne; ia menemukannya tewas tenggelam di air mancur setelah berseteru dengannya. Namun tubuhnya lenyap begitu Janet kembali memeriksanya dengan Michael.

Trisha; tubuhnya terguling-guling di dalam mesin cuci dengan semua tulangnya patah. Seorang wanita bertopeng berusaha menyerangnya pada saat yang sama. Seperti Anne, mayat Trisha juga lenyap begitu saja.

Emma, sahabat terakhirnya yang terbunuh. Janet menemukannya tertikam dengan golok di dalam kamarnya. Ia tadi memegang golok itu sehingga sidik jarinya menempel di sana, jadi satu-satunya cara untuk membersihkan namanya adalah dengan menemukan pelaku sebenarnya.

Dan pelakunya adalah Dr. Gunther?

Janet sulit mempercayai Dr. Gunther yang selama ini begitu lembut dan perhatian padanya adalah seorang pembunuh sadis. Namun mengingat apa yang telah dilakukan teman-teman Janet kepada putrinya, pasti ia ingin membalas dendam.

Sebuah benda lain menarik perhatiannya. Ada sebuah diari diletakkan di atas meja. Apa ini milik Dr. Gunther?

Perlahan gadis itu membukanya. Ia melihat tanggal dimana Dr. Gunther memulai sesi terapinya.

�Rencanaku mulai berhasil. Janet sama sekali tak tahu apa-apa. Semua teman-temannya sebentar lagi akan lenyap dari dunia ini.�

Dengan bergidik ia membuka lagi halaman lain, waktunya bertepatan dengan kematian pemuda bernama Logan itu.

�Aku terpaksa mendorongnya. Semula aku hanya ingin menakutinya agar ia tak lagi ikut campur. Namun aku tak menyangka tubuhnya akan tertancap di pagar. Aku sama sekali tak berniat membunuhnya. Namun akan sangat berbahaya bagi misiku apabila ia mengetahui kebenaran tentang Kate, putriku, dan menceritakannya pada Janet. Aku tak bisa membiarkannya ...�

Tiba-tiba pintu berdecit terbuka. Janet segera bersembunyi di bawah meja. Sosok bertopeng masuk ke dalam ruangan dengan langkah pelan.

Itu Jeff The Killer. Atau siapapun yang menyamar sebagai dia.

Ia pasti dalam keadaan lengah, pikir Janet. Ia merasa percaya diri. Pembunuh itu pasti tak mengira ia bersembunyi di sana.

Janet meraih ke atas meja, mencoba mencari sesuatu yang bisa ia pakai sebagai senjata. �Sempurna!� bisik Janet pada dirinya sendiri ketika ia menemukan sesuatu yang tajam: sebilah pisau pembuka surat.

Dengan satu serangan, Janet keluar dari belakang meja dan menusukkan pisau itu ke sosok bertopeng di depannya.

Ia tak sempat menghindar dan pisau itu langsung menancap di dadanya.

Janet menusukkan pisau itu lebih dalam sambil menutup matanya. Terdengar suara jeritan wanita dari balik topeng itu.

Janet akhirnya berhasil menjatuhkan wanita bertopeng itu. Setelah merasakannya tak bergerak lagi, ia membuka matanya dan memberanikan dirinya untuk membuka topeng itu.

Wajah Dr. Gunther membelalak dengan darah mengalir dari mulutnya. Ia tak lagi bernyawa.

Janet terduduk sambil menangis. Kini ia aman. Sang pembunuh telah tewas.

Tiba-tiba Michael masuk setelah mendengar jeritan dari dalam kamar itu. Dengan tatapan tak percaya, ia menatap Janet dan mayat Dr. Gunther dengan pisau tertancap di jantungnya.

�Apa yang kau lakukan!� seru Michael dengan panik.

Janet menatapnya dengan wajah sembab, �Kau ... kau juga terlibat dengan semua ini kan?�

�Apa yang kau lakukan, Kate? Kenapa kau membunuh ibumu sendiri!� seru Michael dengan nada marah bercampur kesedihan.

�Apa?� jerit Janet, �Apa maksudmu? Aku Janet! Bukan Kate!�

�Kau Kate! Semua ini ibumu lakukan sebagai terapi untuk membantumu! Untuk menyingkirkan semua teman-teman imajinasimu satu-persatu!�

Janet memegangi kepalanya dengan histeris, �Aku tak mengerti apapun yang kau katakan! Namaku Janet! Aku bukan Kate!�

�Dengarkan aku! Semua nama teman-temanmu sesuai dengan urutan dimana kau katakan mereka dibunuh: Krystabelle, Anne, Trisha, Emma, dan kau, Janet! Huruf pertama nama-nama mereka akan membentuk namamu sendiri KATE J! KATE JOHNSON! Mereka semua adalah kepribadian gandamu!�

Janet merasa seperti tersambar petir. Teman imajinasi? Kepribadian ganda? Maksudnya, mereka semua tak nyata?

�Kau menciptakan teman-teman imajinasimu itu karena kau kesepian. Sejak kecil kau tak punya teman dan selalu dibully, karena itu kau menciptakan mereka berlima. Kemudian segalanya bertambah buruk ketika insiden di pesta dansa SMA. Kau mengalami mental breakdown dan meminum semua pil milik ibumu. Kau berhasil selamat setelah koma beberapa bulan dan akibatnya, kau kehilangan berat badanmu dengan drastis. Pada malam dimana kau mencoba bunuh diri, kepribadianmu sebagai Kate juga ikut mati. Kau kembali sebagai Janet dan mulai mengalami kehidupan normal, namun semuanya berubah dalam satu malam ....�

Tiba-tiba ingatan kembali mengalir ke dalam otak Janet. Kejadian malam itu ...

Saat ia bertemu dengan Jeff The Killer pada malam Halloween.

Saat itu ia menjadi Krystabelle dan pulang dari asramanya di St. Xavier�s College untuk liburan. Ia bersama Jason, pacarmu, melewati kegelapan malam. Kemudian hal itu terjadi.

Mereka berpapasan dengan Jeff The Killer.

Jeff membunuh Jason, namun membiarkannya hidup. Entah mengapa.

Michael kembali menjelaskan, �Karena trauma dengan kejadian itu, otakmu berusaha menghapus pikiran itu. Semenjak kematian Jason, kau mengalami stress berat hingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ya, tempat yang selama ini kau pikir sebagai kampusmu, St. Xavier�s College, adalah New Davenport Asylum, dimana ibumu bekerja sebagai kepala rumah sakit.�

�Namun kemudian ibumu menyadari bahwa kejadian itu juga membunuh salah satu kepribadianmu malam itu, Krystabelle. Ibumu hanya ingin kau menjadi Kate kembali dengan menyingkirkan semua teman-teman imajinasimu. Jadi ibumu melakukan terapi hipnotis ini dengan membuatmu berpikir Jeff The Killer membunuh semua teman imajinasimu satu-persatu. Ibumu juga menanamkan pikiran bahwa teman-temanmu yang telah menyebabkan Kate bunuh diri sehingga kau berpikir mereka pantas mati.�

Janet bergumam ngeri, �A ... aku tak pernah menemukan mayat mereka ... karena mereka tak pernah ada?�

�Ibumu berharap, kau akan kembali sebagai Kate setelah kau berhasil mengatasi mereka. Namun aku sama sekali tak menyangka kau benar-benar mengira ibumu adalah Jeff The Killer dan membunuhnya!�

�Ibu ...� Janet, atau Kate, akhirnya tersadar apa yang telah ia lakukan. Ia mengguncang-guncangkan tubuh ibunya yang berlumuran darah di lantai sambil menangis.

�Ibu ... maafkan aku! Aku ingat semuanya sekarang! IBUUUU!!!!�

�Kate, aku sangat menyesal!� Michael mendekatinya.

�Tidak! Aku bukan Kate! Kate sudah mati! Aku Janet!� jeritnya. �Kenapa? Kenapa ia tak membiarkanku mati saja malam itu? Kenapa Jeff The Killer membiarkanku hidup?�

Michael merasa tak tega memberitahunya, namun mungkin kini ia bisa melihatnya dengan jelas, setelah ia menyadari siapa dirinya.

�Karena ia ingin menjadikanmu pengantinnya, Kate. Kurasa ini pertama kali Jeff jatuh cinta ... dan ia ingin menjadikannya sama sepertinya.�

�Apa maksudmu?�

Michael mengambilkannya cermin dan menghadapnya ke arah wajah Kate.

�TIDAK!!! TIDAAAAAAAAK!!!�

***

 

�Benar-benar tragis apa yang terjadi malam ini.� kata seorang opsir polisi ketika menanyai Michael atas kejadian pagi ini.

Dari kejauhan, Michael bisa melihat Kate dituntun masuk ke sebuah ambulans.

�Apa yang akan terjadi dengannya?�

�Ia akan dibawa ke rumah sakit jiwa di pusat kota.� jawab polisi itu dengan iba.

�Ini bukanlah kesalahannya. Ia hanyalah korban.�

�Ya, korban dari eksperimen Dr. Melissa Gunther, ibunya. Ia memang dikenal sebagai psikiater yang kerap menggunakan cara2 kontroversial untuk merawat pasiennya.�

�Bukan,� kata Michael dengan tegas, �Ini semua adalah kesalahan Jeff The Killer!�

�Jeff The Killer? Anda berkata seolah anda memiliki dendam pribadi dengannya.�

Michael menatap polisi itu, �Jeff telah membunuh orang tua saya dan berusaha membunuh saya.�

Ia menghela napas sejenak sebelum mengungkapkan identitas aslinya.

�Saya Michael Liu, adik dari Jeff The Killer.�

 

EPILOG

Kate masih terduduk di dalam ruangannya. Jaket pengikat putih telah mengungkung kedua tangannya hingga ia tak bisa menggerakkannya.

Kenapa mereka melakukan ini? Bukan ia yang berbahaya! Ada pembunuh yang lebih berbahaya masih berkeliaran di luar sana.

Kate merasa ini semua tak adil.

Ia bukan Kate, sahutnya dalam hati. Kate adalah pengecut. Ia takkan bisa menghadapi Jeff The Killer.

Ia takkan pernah bisa membalas dendam jika ia kembali menjadi dirinya.

Begitu pula teman-temannya yang lain. Kristabelle yang kaya, Anne yang cantik, Trisha yang atletik, serta Emma yang cerdas. Mereka semuanya lemah.

Sudah terbukti bahwa Janet yang paling tangguh.

Karena itu ia akan tetap menjadi dirinya.

Mulutnya tersenyum dengan lebar. Wajahnya cantik ... jauh lebih cantik ketimbang sebelumnya. Ketika Michael menunjukkannya pertama kali, ia sangat terkejut dan ketakutan. Mulutnya telah sobek ke samping dan matanya membelalak, sama seperti Jeff.

Ia telah merusak wajahnya.

Ia telah membuat wajahnya sama sepertinya.

�Hahaha ...� Janet tertawa histeris. Ia bahagia sekarang. Hanya orang seperti Jeff yang bisa mengalahkannya.

Dan kini ia tak berbeda jauh dengan Jeff.

Kini ia bisa memburu dan membunuhnya.

Janet ... tidak, nama itu tak berima dengan Jeff.

Jane.

Ya, itu lebih cocok.

Jane The Killer.

 

THE END

Goodbye London!

We had a goodbye dinner with traditional fish and chips, just without the fish, but with a veggie burger.

Then we took our plane back to Germany!

Rabu, 18 Februari 2015

Broadway Market

We took a nice walk along the channel to get to the Broadway Market in Hackney.



There were so many stalls with great food!

And music!
We had a great veggie burger for lunch...



...and something sweet for dessert.

Selasa, 17 Februari 2015

ADA CENGKEH LAUT DI PISANG

Para pembaca yang budiman, judul artikel kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan kuliner ya.


Salah satu kebun cengkeh di pulau Pisang

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau di wilayah provinsi Lampung, yaitu pulau Pisang. Pulau pisang masuk dalam wilayah kabupaten hasil pemekaran yaitu Pesisir Barat.

Di pulau ini, saya berkesempatan untuk tinggal dan

Senin, 16 Februari 2015

Covent Garden

 Today we visited Covent Garden, a large market in the heart of London
 A part of the market is the "apple market" where you can buy crafts.
 The sun was shining so beautiful and we enjoyed the time on the market
Behind Covent Garden you can walk through other shopping streets.
Oh look, a classic British phone booth
Of course we have to drink a classic English tea at tea time.
Further you find in the home country of Banksy Streetart at every corner...

Minggu, 15 Februari 2015

London by night

We visited the famous department store Harrods! It's very impressive from the outside...
 
...and from the inside!
 

We also took a ride on one of the big red double deckers. We saw lots of exciting night life. You can watch a short film of Picadilly Circus here.
 
 
There are also many musicals in London
 

Sabtu, 14 Februari 2015

JEFF THE KILLER: VOW OF REVENGE PART 03 � ORIGINAL SERIES

 

Jeff_The_Killer_Sighting

Janet hendak menjerit saat tangan itu membekap mulutnya, namun ia tak bisa. Ia bahkan tak bisa bernapas. Janet mencoba melawan dan meronta. Pada satu kesempatan, ia berhasil mengigit tangan yang membekapnya. Terdengar jeritan seorang wanita di belakangnya. Dan begitu Janet menengok, ia melihat senyum itu.

Senyum Jeff The Killer.

Janet kembali menjerit dan berlari keluar. Ia tak sempat menoleh ke belakang untuk melihat apa pembunuh itu masih berada di sana.

Tiba-tiba seutas tangan menariknya ke arah dinding.

�AAAAAAA!!!!� gadis itu menjerit sambil meronta �Jangan bunuh aku! Jangan!�

�Janet! Tenanglah! Ini aku, Michael!!�

Janet menangis sambil memeluk pemuda itu, �Ia ... ia mengejarku!�

�Siapa yang mengejarmu?� pemuda itu berusaha menenangkannya.

�Jeff The Killer.�

�Apa? Mustahil ia di sini!�

�Tak hanya itu. Kurasa ia sudah membunuh Trisha.�

�Trisha? Salah seorang temanmu?�

�Ya ... dia ... aku menemukannya di dalam mesin cuci.�

�Kita harus memeriksanya.�

�Tidak ... tidak ... dia masih di sana!� raut wajah Janet masih sepucat kertas.

�Tak apa. Aku akan ada di sini menjagamu!�

Michael perlahan menuntun Janet ke ruang cuci. Mereka memasuki ruangan.

�Lihat, tak ada seorangpun di sini kan?�

Janet segera berlari ke arah mesin cuci dan ...

Tak ada apapun di sana.

�Ta ... tadi aku melihatnya. Aku bersumpah, Mike! Mayat Trisha ada di sana!�

Lagi2 ini terjadi. Mayat temannya menghilang. Mengapa Jeff The Killer begitu cepat beraksi. Apa ....

Apa dia ada di dalam kampus ini?

Janet mulai menangis.

�Tenanglah, Jan ... Tenanglah ...�

***

Mereka berdua duduk di meja kantin, menunggu pagi.

�Jadi, kau ingin menceritakan sesuatu?�

Janet mengangguk. �Saat aku bilang aku tak kenal Logan, aku berbohong.�

�Jadi kau kenal pemuda itu?�

�Ya, dia suka ... apa itu istilahnya, stalking?�

�Ia sering mengikutimu? Kau sudah melaporkannya ke Dr. Gunther?�

Ia menggeleng, �Tidak! Belum. Kurasa ia tak berbahaya. Ia hanya sangat terobsesi dengan Jeff The Killer.�

�Apa hubungannya denganmu?�

Janet menghela napas, memulai ceritanya, �Ia pasti sudah menceritakan padamu kan tentang teori bahwa Jeff The Killer adalah creepypasta? Ia menunjukkan gambar seorang gadis bernama Kate Johnson yang ia percayai fotonya telah di-photoshopped menjadi meme Jeff The Killer. Masalahnya, aku mengenali gadis itu.�

�Apa?�

�Gadis itu memang Kate Johnson. Aku dan empat temanku pergi satu sekolah dengannya, bahkan kami satu angkatan. Kemudian saat pesta prom dance kelulusan angkatan kami, keempat temanku memutuskan untuk mengerjainya. Hanya Krystabelle, Emma, Trisha, dan Anne yang terlibat dengan hal ini. Aku sama sekali tak tahu menahu. Tapi mereka memanfaatkanku untuk mengajak Kate ke pesta, agar ia tidak curiga.�

�Apa yang mereka lakukan padanya?�

�Mereka mengangkatnya sebagai homecoming queen. Gelar itu hanya diberikan pada gadis paling cantik dan populer dalam satu angkatan. Jadi semua orang di pesta itu mengetahui bahwa itu adalah lelucon. Terkecuali Kate, ia benar-benar bahagia, sebab selama SMA ia hanya diolok-olok dan dibully. Kemudian di atas panggung ...�

Janet merasa tak kuat untuk meneruskan ceritanya, namun ia tetap melanjutkan, � ... mereka melakukan hal yang mengerikan. Saat Kate membuka kado yang diperuntukkan bagi pemenang homecoming queen, ia melihat kepala babi. Ya, mereka membungkus potongan kepala babi sebagai kado. Kemudian mereka menumpahkan seember penuh darah babi ke atasnya, sambil mengatakan bahwa �babi� sepertinya tak pantas menjadi ratu pesta dansa.�

�Astaga ...�

�Hal yang lebih mengerikan terjadi keesokannya. Tubuhnya ditemukan tak bernyawa di kamarnya. Kate telah memutuskan untuk bunuh diri karena tak sanggup menanggung penghinaan yang kami lakukan.�

�Tapi itu bukan salahmu ...�

Janet menggeleng, �Seharusnya aku menyadarinya sejak awal. Aku tahu sekali tabiat teman-temanku. Dan aku selalu menganggap Kate dan Jeff The Killer memiliki hubungan.�

�Apa? Apa hubungannya?�

�Jeff The Killer ... dulunya ia berubah menjadi pembunuh karena dibully juga kan? Aku pikir ... aku pikir Kate telah berubah menjadi pembunuh juga. Sama dengan Jeff.�

�Apa? Jeff The Killer versi perempuan maksudmu?�

�Seseorang membekapku tadi saat aku menemukan mayat Trisha. Ia seorang perempuan, Mike! Itu pasti Kate. Ia menyamar menjadi Jeff, supaya ia yang disalahkan atas kejadian ini! Tapi aku tahu ... aku tahu itu dia!�

�Tapi kau sendiri yang bilang ia sudah meninggal karena bunuh diri?�

�Enntahlah, aku tak tahu ... mungkin ia belum mati dan mengubah penampilannya ...�

�Janet, kau melantur hingga kemana-mana. Mustahil hal seperti itu terjadi! Bagaimana jika kau kembali ke kamarmu dan beristirahat? Kau membutuhkan tidur.�

�Namun, bagaimana dengan mayat Trisha?�

�Tak ada apapun di sana kan, kau melihatnya sendiri. Aku akan mengurusnya dan memberitahu Dr. Gunther. Ia yang bertanggung jawab di sini. Sekarang kembalilah tidur.�

Janet bangkit dari kursinya, menuruti nasehat Michael. Sementara itu Michael mengangkat teleponnya, hendak berbicara dengan Dr. Gunther.

Janet kemudian berjalan menuju pintu, membelakangi Michael yang masih duduk di kursinya. Sejenak ia menghentikan langkahnya. Ia belum berterima kasih pada Michael atas segala bantuannya. Ia selalu ada untuknya setiap Janet membutuhkannya.

Janet berbalik, namun tubuhnya membeku ketika mendengar percakapan Michael di dalam telepon.

�Ya ... dia melihat mayat Trisha ... jangan khawatir, aku akan membereskannya ...�

Tubuh Janet berubah dingin.

***

Michael. Selama ini dia pelakunya! Karena itu ia selalu saja bertemu dengannya di tiap TKP.

Janet segera berbalik dan lari, namun itu membuat Michael menyadari bahwa gadis itu masih ada di belakangnya dan kemungkinan besar mendengar percakapannya.

�Janet! Tunggu! Aku bisa menjelaskannya!� panggil Michael.

Namun Janet sama sekali tak menoleh ke belakang. Ia terus berlari dan berlari, menuju ke kamarnya. Sebentar lagi para mahasiswa yang tinggal di asrama akan terbangun dan ia akan aman. Ia hanya perlu sampai ke kamarnya dan memperingatkan Emma.

Ia akhirnya sampai di pintu kamarnya dan membukanya dengan tergesa-gesa.

�Emma! Emma! Bangun! Ada pembunuh di kampus ini!�

Janet hendak membangunkan temannya, namun ia menjerit. Tubuh Emma tergeletak di atas ranjang. Seprainya berlumuran darah. Tubuhnya tertelungkup, namun Janet tahu ia sudah meninggal. Sebilah golok menancap di punggungnya.

Janet menjerit sekeras mungkin. Secara regfleks ia mencoba mencabut golok itu dari punggung Emma. Darah gadis itu menyembur ke tubuh Janet ketika ia mencabut golok itu. Namun begitu sadar tangannya mengenggam pegangan golok, ia langsung melemparkannya. Betapa bodohnya aku, pikir janet. Sidik jarinya baru saja menempel pada golok itu. Ia bisa dituduh sebagai pelakunya!

Ia segera berlari keluar, begitu pula para penghuni asrama yang lainnya yang terbangun karena jeritan Janet. Namun mereka justru berteriak begitu melihat Janet. Beberapa orang bahkan berusaha menangkapnya.

�Apa? Apa yang kalian lakukan?� Janet kemudian menyadari bahwa ia kini berlumuran darah Emma.

�Tidak! Bukan aku pembunuhnya!�

Janet berusaha melarikan diri lagi, kali ini menuju ke ruangan Dr. Gunther. Hanya ia yang bisa membantunya sekarang.

Ia masuk ke dalam kantor Dr. Gunther dan menutup rapat pintunya. Ia mendengar seseorang berteriak-teriak di lorong supaya menangkapnya, namun Janet merasa mereka takkan menduga ia akan pergi ke ruangan Dr. Gunther.

Janet mengendap-endap ke ruangan Dr. Gunther. Ruangan itu sedikit terang karena cahaya dari luar ruangan. Dr. Gunther pasti bahkan belum bangun pagi-pagi begini. Ah bodoh sekali, pikirnya.

Ia mendengar suara beberapa orang berlari-lari di luar. Mereka masih berusaha mengejarnya, jadi Janet memutuskan tetap bersembunyi di ruangan ini.

Janet kemudian melihat sebuah file di atas meja Dr. Gunther. Sebuah kliping. Aneh, ia belum pernah melihatnya sebelumnya di ruangan Dr. Gunther.

Rasa keingintahuan menguasai hati Janet, jadi ia membukanya.

Kliping itu berisi potongan2 berita tentang Jeff The Killer.

Mulai dari pembunuhan yang terjadi di pesta ulang tahun seorang anak yang menewaskan dua anak pembully. Akibat dari insiden itu, Jeff kehilangan wajahnya akibat terbakar. Kemudian berita berikutnya meliput kematian kedua orang tua Jeff. Satu-satunya korban dari tragedi malam tersebut adalah Liu, adik Jeff. Pelaku semua pembunuhan itu adalah Jeff sendiri, karena sang ibu menginginkan dokter untuk meng-euthanasia anaknya.

Pembunuhan demi pembunuhan bergulir sejak kejadian malam itu. Korban Jeff terus berjatuhan, kebanyakan adalah anak muda. Berita dari setiap korban Jeff dan hasil penyelidikannya, semua ada di sana .... tak ada yang terlewatkan. Bahkan pembunuhan-pembunuhan copy-cat yang terjadi di New Davenport High. Kliping itu juga memiliki cerita Jeff The Killer dari internet, bahkan yang bersifat fiktif seperti creeypasta dan foto2 Jeff dari berbagai sumber.

Janet mulai gemetar begitu menyadari sesuatu.

Dr. Gunther begitu terobsesi dengan Jeff The Killer.

Namun matanya membelalak melihat satu2nya berita yang tak berhubungan dengan Jeff The Killer di kliping itu.

Berita itu bertajuk, �Kisah Tragis Sang Homecoming Queen�

Di bawahnya terdapat gambar Kate Johnson.

Seorang gadis bernama Kate Johnson (18) ditemukan dalam kondisi kritis tadi malam setelah meminum racun sebagai usaha bunuh dirinya setelah diolok-olok di pesta dansa sekolahnya. Menurut sumber, Kate diangkat menjadi homecoming queen sebagai bentuk bullying oleh siswa-siswa seangkatannya. Sang gadis dikenal menjadi sasaran karena berat badannya. Kondisi Kate hingga berita ini diturunkan masih dalam kondisi koma di rumah sakit pusat.

Kate Johnson merupakan putri dari psikolog terkenal Dr. Melissa Johnson yang setelah perceraiannya kini membuka praktek dengan menggunakan nama aslinya, Dr. Melissa Gunther.

Jantung Janet terasa berhenti berdetak.

Dr. Gunther adalah ibu Kate?

 

TO BE CONTINUED

Jumat, 13 Februari 2015

A trip to London

We took a weekend trip to London!
 
Here you can see as at a big underground station...
...and inside of the London tube, one of the most important transport systems for London.
Here we are at Victoria station. Lots of people everywhere.
We admired the great view from the Millenium Bridge.
We also went to see the London Eye, but we didn't take a ride, because it costs a fortune.
We had a great lunch from the supermarket. It's always fun to pick up stuff you couldn't get back home.
Of cause we also saw Big Ben and heard the famous bells.

Selasa, 10 Februari 2015

SEBUAH CERITA DARI SEPENGGAL SURGA DI PESISIR BARAT



Perjalanan kali ini dimulai dengan sebuah percakapan antara saya dengan seorang nelayan di dermaga Kuala Stabas, Krui, Kabupaten Pesisir Barat, provinsi Lampung.


Kapal bercadik di sekitar dermaga Kuala Stabas, Krui

Saya : "Disini pelabuhan buat menyeberang ke pulau?"
Nelayan : "Iya, Mbak mau ke pulau?"
Saya: "Iya, Kapalnya ada?"
Nelayan : "Tuh kapalnya" (nunjuk kapal dengan nama Pulau Carita

Back home again...

 Today we arrived safe in Stendal.
 Maja, our little friend, was allowed to open the package
 In the parcel she found tea, tea bags, cheese crackers, a chocolate bar, a postcard and our traveling box
 We were in our box inside our  new sleeping bags and there were other sweets, cards and souveniers.
Look, what we brought with us.... THANKS to Myra, Amy and Jade for the nice time in Canada!