Minggu, 30 November 2014

THE LAST RESORT PART 04 � ORIGINAL SERIES

 

�Ada apa? Kenapa kalian berteriak?� Shun berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Wajahnya tampak pucat ketika melihat tubuh Taka yang tak lagi bernyawa tergantung di tengah kamar, dengan kursi di bawahnya.

�Keparat! Kemana saja kau!� Seiji mendorongnya dengan histeris, �Seharusnya kau menjaganya!�

�Ma ... maaf!� seru Shun, �Aku ... aku hanya ke kamar mandi sebentar. Aku tak mengira ia akan melakukannya ...�

�Tidak.� Terdengar suara di belakang mereka. Miki menoleh.

Masa-kun? Sejak kapan ia ada di sini?

�Bukankah tadi katanya kakinya sakit? Ia saja tak bisa berjalan dan harus dibantu agar sampai ke sini.� Masa-kun menatap darah yang mengering di paha Taka yang kini terayun berputar secara perlahan.

�Astaga.� Miki menutup mulutnya dengan shock begitu menyadari apa yang telah terjadi. Yuka hanya bisa melongo, sedangkan Haruna mulai menangis.

Taka tak mungkin naik ke sana.

Ia dibunuh.

***

�Kita harus memanggil polisi sekarang!� seru Seiji.

�Namun telepon tak bisa digunakan! Saya sudah mengatakannya pada kalian!� kata Misaki bersikeras. Ia mengikuti mereka berenam yang tergopoh-gopoh berjalan menuju ke pintu depan, dimana telepon berada.

�Siapa yang tega membunuh Taka?� Haruna terisak.

�Yang jelas bukan kita berempat.� kata Seiji dengan marah, �Sejak tadi kita selalu bersama di dalam kamar. Ini hanya menyisakan satu tersangka, kau!�

Semua menatap pria yang ditunjuk oleh Seiji. Shun.

�Ta ... tapi Shun tak punya alasan membunuh Taka!� Yuka berusaha membelanya, �Ia kan teman kita!�

�Teman?� Seiji tertawa sinis, �Apa kau tahu mengapa ia selalu ikut di geng kita, Yuka? Karena Taka memanfaatkannya. Ya, Taka hanya memanfaatkannya supaya mendapat nilai bagus! Dipikir lah pakai logika, tak mungkin orang kaya dan sepopuler Taka mau berteman dengan kutu buku culun seperti dia! Mungkin saja akhirnya si tolol ini menyadarinya dan membalas dendam!�

Wajah Shun tampak merah padam. Tanpa berkata apapun, ia berbalik pergi meninggalkan mereka.

�Hei, pembunuh! Tunggu!� Seiji hendak mengejarnya, namun keburu dihentikan Masa-kun, �Kau keterlaluan! Kau sama sekali tak punya bukti untuk menuduhnya!�

�Oh, dan kau, Mister Nice Guy? Dimana kau saat pembunuhan terjadi? Setahuku kau lenyap begitu saja, mungkin saja kau pelakunya!� tuduh Seiji.

�Kalian semua hentikan!� jerit Haruna. Tangisannya makin keras. �Kita ... kita harus keluar dari desa ini. Desa ini sudah dikutuk! Kejadian buruk selalu terjadi pada kita semenjak kita berada di pantai itu. Miki hampir tenggelam, mobil kita tabrakan, dan sekarang ...�

�Haruna, tenanglah.� Miki memeluk gadis itu, mencoba menenangkannya.

�Nyonya! Nyonya!� tiba Misaki menjerit ketika ia melihat ke luar.

Semua ikut melihat ke luar melalui pintu kaca dan melihat seorang wanita bergaun kimono putih berjalan di luar halaman resort. Ia melangkah menuju ke sebuah pintu, tepat di bawah lantai dua penginapan itu.

Ia kemudian membuka pintu itu dan mulai melangkah naik ke tangga.

�Nyonya Makiko!� Misaki mencoba membuka kunci pintu, namun Masa-kun melarangnya.

�Jangan! Itu terlalu berbahaya!�

�Namun Nyonya ada di luar ...�

Tiba-tiba telepon mereka berdering.

What the fuck ...� Seiji terkejut.

Tanpa membuang waktu, Misaki segera mengangkatnya.

�Halo? Tuan Ryuichi!�

�Misaki! Kau masih di resort? Kenapa kau tak pergi bersama yang lainnya?�

�Tuan, dimana Anda? Mengapa Anda membiarkan Nyonya sendirian?�

�Apa maksudmu? Aku masih berada di kuil!�

�Saya melihat Nyonya Makiko di luar. Beliau naik ke lantai dua ...�

�Misaki, itu mustahil! Makiko sudah meninggal!� terdengar kepedihan dalam suara Ryuichi, �Para biksu tak bisa menyelamatkannya. Mereka juga tak membiarkanku pergi dari kuil ketika makhluk-makhluk itu keluar. Misaki, cepatlah bawa mobil dan keluar dari sana!�

Misaki menutup teleponnya dengan berurai air mata. Tiba-tiba Seiji dengan kasar menarik tangan gadis itu.

�Kau pembohong! Katamu telepon sudah tak berfungsi lagi!�

�Seiji, hentikan!� seru Yuka sambil menangkap tangan Seiji, �Ia perempuan!�

Misaki mengusap air mata di pipinya, �Telepon masih berfungsi, tapi tak bisa digunakan untuk menghubungi ke luar desa ini. Memang sudah dirancang seperti itu ketika sirine berbunyi. Agar dunia luar tak tahu apa yang terjadi di sini.�

�Apa ... apa maksudmu?�

�Seiji, kumohon tenanglah!� suara Masa-kun berubah menjadi lebih tenang, �Kami tak bisa menjelaskan apa yang terjadi di desa ini, namun kita hanya punya dua pilihan. Tetap berada di resort ini atau pergi dari desa ini.�

�Pergi dari sini!� Haruna masih menangis, �Kumohon, kita harus keluar dari tempat ini! Aku tak tahan lagi!�

Misaki menatap mereka sebentar lalu berkata, �Baiklah. Tuan masih memiliki satu mobil di belakang. Saya akan mengambil kuncinya dan membawa kalian semua pergi dari sini.�

Misaki, walaupun di tengah dukanya, masih berusaha tegar. Ia membuka pintu geser kertas di dekatnya dan bayangannya pun menghilang di lorong.

�Apa yang kita lakukan sekarang?� Miki menatap Masa-kun.

�Kita harus menunggunya.�

�Bagaimana dengan Shun?�

�Dia ...�

Perkataan Masa-kun terpotong oleh suara gebrakan yang keras. Seorang pria berumur paruh baya tiba-tiba muncul di depan pintu, berusaha masuk.

Wajah Masa-kun berubah cerah ketika melihatnya, �Pak Hiroshi? Ini saya Masahiro! Anda masih ingat dengan saya?�

Namun ia sama sekali tak menghiraukan perkataan Masa-kun, �Biarkan aku masuk! Mobil kami mogok dan makhluk-makhluk itu ... mereka sudah membunuh istri dan anakku!�

�Apa yang ia bicarakan?� seru Seiji.

�Hati-hati, Masa-kun! Ia membawa senapan!� jerit Miki.

�Pak Hiroshi, tenanglah!� seru Masa-kun, �Kami akan pergi dari sini, jadi ...�

�Biarkan aku masuk!� pria itu tiba-tiba meletuskan senjata untuk memecahkan kaca jendela pintu. Para gadis menjerit. Ia segera meraih pegangan pintu dan membuka kunci dengan paksa.

�Pak ... kumohon, tenanglah!�

Namun pria itu tampaknya sudah kehilangan kewarasannya, sama seperti yang menimpa Taka, namun berkali-kali lipat lebih parah. Mereka tahu ia takkan segan-segan menembak mereka jika keinginannya tak dipenuhi.

�Dimana mobilnya! Aku tahu Ryuichi masih memiliki mobil lain! Dimana!� ia menodongkan senapan itu ke arah mereka.

�Tenanglah, Pak! Misaki baru mencarikan kuncinya!�

�Tak ada waktu lagi!� wajahnya tampak panik, �Mereka akan menemukanku! Mereka ada dimana-mana!�

Matanya membelalak ketakutan ketika ia melihat bayangan bergerak di pintu geser kertas di depannya.

�Li ... lihat! Mereka ... mereka ada di sini!�

Ia segera mengarahkan moncong senapannya ke bayangan itu dan ketika pintu itu bergeser membuka ....

�Tidak! Jangan!!!!�

�DOR!!!!�

Misaki tak pernah menyadari apa yang terjadi dengannya. Ia langsung ambruk di atas lantai kayu dengan perut berlumuran darah.

�Misaki-chan! Misaki-chan!� jerit Miki. Ia segera memangku tubuh gadis itu, berusaha menyelamatkannya. Namun terlambat.

Ia sudah tak lagi bernyawa.

Yukatanya yang indah kini bernoda darah. Miki menatap dengan marah pria yang baru saja menembak gadis polos itu.

Pria yang dipanggil Hiroshi itu tak sempat merasakan penyesalan karena tiba-tiba dua makhluk ganjil berkulit sangat pucat menerkam tubuhnya. Salah satunya merangkak naik ke atas tubuhnya dan langsung mematahkan lehernya.

�Krak!�

Dua makhluk itu segera menyeret tubuh pria itu dari pandangan mereka sambil mengeluarkan suara aneh,

�Kyu-ai ... kyu-ai ...�

Dua makhluk lain berusaha masuk dan melangkah di atas pecahan kaca. Mata mereka bulat dan besar, seperti bola yang menempel di lubang tengkorak. Pupil mereka sangat kecil, hanya setitik warna hitam, bila dibandingkan ukuran mata mereka yang seperti membengkak. Kepala mereka botak dan mereka berjalan dengan merangkak dengan keempat kakinya, seperti seekor laba-laba. Jari-jari mereka sangat panjang dan mulut mereka sobek hingga hampir mencapai telinga, memamerkan gigi-gigi taring mereka yang kecil namun tajam.

�Kyu-ai ... kyu-ai!�

�Katamu mereka tak bisa masuk!� seru Miki.

�Mereka tak bisa mendobrak masuk. Namun jika pintu dibuka, itu seperti mengundang mereka ...� seru Masa-kun. �Ayo semua, cepat pergi lewat pintu belakang!�

�Haruna!� tiba-tiba Yuka menjerit, �Haruna tidak ada!�

***

Shun segera menyalakan mobil. Beruntung sekali ia menemukan kunci ini di kamar sang pemilik penginapan. Ia sebenarnya tak mau pergi sendiri seperti ini, namun setelah apa yang dikatakan Seiji tadi ... Shun memilih untuk meninggalkan mereka supaya mati membusuk di sini.

***

Haruna berlari keluar. Ia meninggalkan teman-temannya. Ia benar-benar tak bisa berada di sana lagi. Ia harus pergi dari desa ini.

Ia melihat nyala lampu dan suara derum mesin mobil.

Di tengah kegelapan, ia bisa melihat sebuah mobil bergerak hendak meninggalkan penginapan.

�Tunggu! Kumohon tunggu aku!�

***

Shun tak bisa melihat apapun dalam kegelapan. Ia hanya mengandalkan lampu mobilnya. Ia seperti samar-samar mendengar suara seorang perempuan.

Suara apa itu? Apa halusinasi saja? Atau suara makhluk-mahkluk itu?

Tiba-tiba ia melihat sesuatu di depannya, memaksanya menginjak rem secara mendadak.

Namun terlambat, ia sudah telanjur menabrak apapun di depannya itu.

Apa itu salah satu makhluk itu?

Walaupun takut, Shun mencoba untuk memeriksanya. Ia keluar dari mobil untuk melihat apa yang telah ia tabrak tanpa sengaja.

�Tidak ... oh tidak ...�

***

�Cepat! Mereka mengejar kita!� seru Masa-kun. Miki, Yuka, dan Seiji berlari mengikutinya.

Seiji memperlambat larinya untuk menyalakan handy-cam. Ia harus merekam makhluk-makhluk ini. Dunia harus melihat mereka.

�Seiji, apa yang kau lakukan!� jerit Miki begitu menyadari Seiji sudah jauh tertinggal di belakang mereka.

Ia menyalakan handy-cam dan melihat ekspresi ketakutan teman-temannya di depannya.

�Seiji! Di belakangmu!�

�Apa .....AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!�

Tiba-tiba ia merasa sesuatu mencengkeram punggungnya. Ada yang aneh dengan gambar yang tangkap melalui handy-cam. Tubuh teman-temannya semakin kecil dan kecil hingga mereka menjadi titik di tanah.

Tidak, bukan mereka yang mengecil.

Ia yang semakin tinggi.

Ia menyadari sesuatu mengangkatnya ke udara.

Dan tiba-tiba ...

�AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!�

Seiji kembali menjerit ketika makhluk itu tiba-tiba menjatuhkannya. Tanah menjadi semakin dekat ... dan dekat ... dan ....

�BRAAAAAAAK!!!�

Handy cam itu kini hanya merekam tanah dengan layar yang retak.

***

�Tidak! Tidaaaaak!� jerit Yuka. Ia berusaha menggapai jenazah Seiji, namun Miki menghentikannya.

�Jangan, Yuka! Kita harus terus berlari!� seru Miki, walaupun ia sendiri menangis menyaksikan kematian temannya itu.

Dua gadis menjerit ketika lebih banyak makhluk-makhluk itu datang, berterbangan di udara seperti hama. Mereka berbeda dengan yang merangkak di tanah. Mereka memiliki sayap seperti kelelawar, namun masih mengeluarkan teriakan dan suara yang sama.

�Kyu-ai ... kyu-ai ...�

Salah satu makhluk itu terbang rendah dengan cepat, mengincar kedua gadis itu.

�Awaaaas!�

Miki menutup matanya dan berusaha melindungi Yuka. Namun yang ia rasakan hanyalah hempasan angin. Ia membuka mata dan menyadari Masa-kun berusaha melindungi mereka dengan menamengi mereka dari serangan makhluk itu menggunakan tubuhnya sendiri.

Namun hal yang lebih mengerikan terjadi. Makhluk itu mengangkat tubuh Masa-kun dan merenggutnya ke udara, membawanya terbang bersamanya.

�Masa-kun!!!�

 

TO BE CONTINUED

Sabtu, 29 November 2014

A day at Bishop's University

Today we attended a lecture in the biggest classroom at Bishop's University; an English speaking university in Quebec.
 
Our hosts are busy preparing for exams, so we are helping them study!

Rabu, 26 November 2014

We arrived at the Bishop's University

Hello friends,
Today we arrived in Canada!
Our new hosts Annie and Jade welcomed us warmhearted...
Both showed us enthusiastically their university where they are studying.
Annie and Jade told us that we just unfortunately missed the lot of snow. But perhaps it will snow the next days again.

Sabtu, 22 November 2014

THE LAST RESORT PART 03 � ORIGINAL SERIES

 

 

�AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!�

�Taka!� Seiji yang paling tampak khawatir di antara mereka, sebab ia adalah sahabat Taka. Mereka berenam akhirnya sampai di tempat mobil mereka tabrakan tadi. Teriakan itu masih menggema di tengah kegelapan malam. Lampu-lampu senter mereka menimpa permukaan mobil. Para gadis hampir menjerit melihat noda-noda darah di bagian luar mobil. Namun tak ada tanda-tanda Taka berada di tempat dimana ia tadi duduk.

�Taka! Taka!�

�Jangan ... jangan ...� suara Taka seperti tangis ketakutan. Namun itu membuat mereka tahu ia masih ada di sini.

Masa-Kun yang pertama tiba di mobil itu dan mengintip ke dalam.

�Ia ada di sini!�

Tubuh Taka tampak meringkuk di dalam kursi belakang. Ia tampak sangat ketakutan. Tubuhnya gemetar sangat kencang, bahkan sampai membuat mobil itu ikut bergetar juga. Ia menatap ke depan dengan wajah pucat pasi. Air mata mengalir dengan deras di matanya. Teman-temannya ada di depannya, berusaha menenangkannya, namun ia tampaknya tak mengenali mereka. Ia masih sangat histeris.

�Taka-kun, tenanglah!� ujar Yuka, �Apa yang terjadi denganmu?�

Yuka berusaha menyentuh bahu Taka untuk menenangkannya. Namun Taka justru mengibaskan tangan Yuka dan berteriak makin histeris.

�Tidaaaak! Jangaaaaaaan!!!�

�Taka! Taka! Tenanglah!�

Miki mendengar sesuatu bergemerisik di belakangnya. Ia menengok ke belakang dan melihat sesuatu berwarna putih merayap di tanah dan bergerak memasuki hutan, meninggalkan mereka dan menghilang di balik semak-semak.

�Apa ... apa yang ia lihat sehingga ia ketakutan seperti itu?� Seiji ikut merasa ketakutan melihat temannya itu bertingkah sangat aneh, seperti kesurupan.

�Sesuatu itu ... sesuatu itu baru saja mengawasi kita ...� kata Miki.

�Hah?� semua menoleh ke arahnya.

Miki menatap teman-temannya, �Apapun itu, ia tahu kita datang ... mengawasi kita dari balik semak-semak ... dan baru saja pergi ...�

�Apa yang kau katakan?� Seiji menatapnya dengan jijik, �Taka dalam kondisi seperti ini dan kau masih mengatakan hal aneh seperti itu? Dasar perempuan aneh!�

�Sudahlah kalian jangan bertengkar! Tempat ini tidak aman! Kita harus segera pergi dari sini! Dengar ... letak desa sudah tak begitu jauh lagi. Kita bisa berjalan ke sana ....� kata Masa-kun dengan wajah cemas.

�Apa kau gila? Taka tak bisa berjalan! Lebih aman jika kita menunggu bantuan di sini sampai pagi!� Seiji menolak ide itu.

�Tidak, kalian tak mengerti .....�

�NGUUUUUUUUNG .....�

Terdengar suara dengung sirine. Arahnya dari pantai.

�NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNG ...�

�Ya Tuhan, itu adalah ....�

�NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNG!� sirine itu bertambah keras.

�Itu sirine tsunami! Semuanya pergi! PERGI!�

***

Entah kekuatan apa yang mendorong mereka hingga mampu berjalan hingga ke desa. Secara bergantian mereka membopong Taka yang kini menjadi seperti mayat hidup. Ia tak bisa mengenali teman-temannya. Ia selalu mengerang setiap saat. Bukan karena kesakitan, namun karena takut. Ya, rasa takut itu sepertinya menelan semua rasa sakitnya. Ia selalu menatap ke sekelilingnya dengan cemas, seakan-akan menanti makhluk itu kembali.

Sirine itu masih berdengung. Mereka selalu berusaha untuk tetap berada di tempat tinggi. Namun mereka tahu tak bisa tetap di hutan, karena apapun yang menakut-nakuti Taka tadi masih berkeliaran bebas di luar sana.

�Oh tidak!� Masa-kun menatap jalanan di bawahnya. Puluhan cahaya bergerak meninggalkan desa. Akhirnya mereka menyadari apa itu.

Lampu mobil. Para penduduk sudah mulai mengevakuasi desa. Mereka berbondong-bondong meninggalkan tempat itu.

�Tapi Taka membutuhkan pertolongan ... apa masih ada orang di desa?�

�Semoga saja masih. Harus!� kata Masa-kun. Entah mengapa, mereka mempercayakan Masa-kun untuk memimpin mereka semenjak Taka tak mampu lagi membedakan realita dan khayalan. Mungkin karena ia sudah tahu dengan baik tempat ini. Mungkin karena tinggal ia laki-laki yang bisa diharapkan di antara mereka. Mungkin karena ia mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Miki sendiri percaya padanya. Namun ia tahu, seharusnya ia tak terlalu menaruh kepercayaan penuh pada pemuda itu. Miki masih merasa Masa-kun merahasiakan sesuatu dari mereka.

Mereka memasuki desa. Suara sirine akhirnya berakhir, namun mereka tahu, situasi genting yang mereka hadapi belumlah usai.

Semua rumah yang mereka lewati dalam keadaan gelap. Tak ada satupun nyala lampu kecuali ...

�Hei, lihat! Masih ada orang di sana!�

Mereka bertujuh segera menuju ke rumah itu, sebuah kediaman bergaya Jepang kuno.

�B&B Cottage.� ucap Shun. �Kurasa ini sebuah penginapan.�

Mereka mengetuk-ngetuk pintu dan berteriak, �Tolong kami! Kumohon, tolong kami!�

Masa-Kun menggedor-gedor pintu, �Jika ada orang di sini, tolong jawab kami!�

Hotel itu hanya satu-satunya rumah yang menyala. Di balik pintu kaca, seorang gadis berpakaian yukata muncul dari dalam ruangan, menatap mereka dengan curiga.

�Syukurlah, kumohon biarkan kami masuk! Teman kami terluka!�

Gadis itu hanya terdiam sejenak lalu berkata, �Sa ... saya tak bisa membiarkan kalian masuk. Saya harus menunggu tuan saya pulang dulu.�

�Dengar, ini rumah milik Tuan Ryuichi dan Makiko-san bukan? Aku mengenal mereka. Kumohon, biarkan kami masuk. Kami butuh bantuan!� pinta Masa-kun dari balik pintu.

Mungkin iba melihat beberapa dari mereka adalah gadis muda dan mereka juga tengah menggendong seseorang yang sedang sakit, akhirnya dengan enggan, gadis itu membuka kunci pintu dan membiarkan mereka masuk.

�Syukurlah, terima kasih sekali!� Masa-kun masuk bersama yang lainnya. �Siapa namamu Nona?�

�Na ... nama saya Misaki. Apa ... apa yang terjadi dengannya?� ia menatap Taka yang dipapah oleh Shun dan Seiji. Tatapan matanya masih kosong dan darah di lukanya masih belum kering.

�Kami mengalami kecelakan, Misaki-chan. Kumohon, biarkan kami naik ke lantai dua. Tsunami akan segera datang.�

Wajah gadis itu langsung pucat, �Tidak! Kalian tak boleh naik ke sana!�

�Tapi tsunaminya akan segera datang!� Yuka bersikeras.

�Ya, sirine itu ....�

Misaki menggeleng, �Itu bukan tsunami. Tak ada tsunami di desa kami selama ratusan tahun.�

�Tapi sirine itu ...�

�Sirine itu untuk memperingatkan warga desa, namun bukan tsunami.� Misaki segera menutup dan mengunci pintu. �Melainkan sesuatu yang lebih mengerikan.�

�Lalu kenapa kau belum pergi?�

�Saya tak bisa. Tuan saya membawa istrinya ke kuil dan mereka belum kembali. Saya tak bisa meninggalkan resort ini begitu saja.�

�Haaaaah ... haaaah ...� Taka tiba-tiba mengerang lagi dengan ketakutan, �Mereka datang! Mereka datang!�

�Taka, tenanglah!� namun sepertinya semua usaha mereka percuma. Taka tak mendengarkan mereka lagi.

�Dengar, Nona! Apa kau memiliki kamar kosong? Teman kami butuh istirahat. Ia mengalami shock.�

�Baik,� Misaki mengangguk, �Kalian bisa membawanya ke salah satu kamar tamu kami. Saya akan mengantar kalian.�

Shun dan Seiji membawa Taka mengikuti Misaki. Para gadis berada di ruang depan bersama Masa-kun.

�Astaga, banyak yang terjadi semenjak aku pergi.� Masa-kun tertunduk lesu di depan pintu. Ia kemudian mengangkat kepalanya, menatap ke hiasan cangkang kerang yang ditempel di dinding lorong, �Dulu tempat ini bahkan bukanlah sebuah hotel.�

�Apakah kita bisa menggunakan telepon?� tanya Haruna.

�Kurasa tidak.� Misaki keluar dari dalam ruangan, diikuti Seiji dan Shun. �Jalur telepon selalu mati jika sirine berbunyi.�

�Kalian meninggalkan Taka sendirian?� tanya Yuka.

�Tak ada yang bisa kami lakukan untuknya.� Shun mengangkat bahunya.

�Ia terus-terusan berhalusinasi tentang makhluk yang ia lihat.� kata Seiji. �Demi Tuhan, makhluk apa yang bisa membuatnya ketakutan setengah mati seperti itu?�

�Apa kau tahu sesuatu?� tanya Miki tiba-tiba sambil menatap Masa-kun. �Sepertinya kau merahasiakan sesuatu dari kami.�

Masa-kun mendongak ke atas dan menatapnya. Melihat mata teduhnya, ingin sekali Miki mempercayainya. Pemuda itu jelas diselubungi misteri, namun dari raut wajahnya, jelas ia sama bingungnya dengan mereka.

�Kau juga bisa melihatnya bukan?� tanya Masa-kun. Miki berniat menjawabnya namun ia kemudian sadar, bibir Masa-kun sama sekali tak bergerak.

Bagaimana mungkin ia bisa mendengar suaranya?

�Kau bisa melihatnya kan Miki? Sejak kapan kau memiliki kemampuan seperti ini?�

�Apa-apaan ini?� tanya Miki dengan panik dalam hati, �Bagaimana ... bagaimana kau bisa berbicara dalam kepalaku?�

�Jadi, mereka sudah ada di sini?�

Tiba-tiba Miki mendengar satu suara lagi, kali ini seorang gadis. Miki menoleh ke arah Misaki. Ia tahu betul itu suaranya, namun lagi-lagi ia hanya tampak tak bergeming di tempatnya berdiri, tanpa menggerakkan bibirnya sedikitpun.

�Ada satu di hutan. Itu yang membuat salah satu teman kami hampir gila.� Masa-kun ganti menatap Misaki. �Sirine itu ... untuk memperingatkan warga kota akan kedatangan mereka bukan?�

�Tenanglah,� suara Misaki menggema di benak Miki, �Kalian akan aman di sini. Mereka takkan mendekati rumah yang memiliki kuil.�

�KUIL?� suara Masa-kun terdengar marah, �Ada kuil di rumah ini?�

�Tenanglah. Kuil itu membuat hal-hal buruk tak bisa masuk.� Misaki menjawab.

�Dan begitu pula hal-hal baik! Kuil itu membuat tanah di sekitarnya dikutuk!�

�Kalian berdua! Keluarlah dari kepalaku!� tanpa Miki sadari, ia menjerit sambil menutup kedua telinganya.

Teman-temannya memandangnya dengan aneh. Namun belum sempat mereka menegur Miki, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam, tepat dari ruangan dimana Taka berada.

Mereka semua bergegas melihat keadaan Taka. Ia tengah meringkuk di dalam selimut di atas kasurnya. Ia terlihat gemetaran sangat hebat.

�Taka! Apa yang terjadi?�

Tangannya terulur dari dalam selimut, sementara seluruh tubuhnya masih tersembunyi di baliknya.

Ia menunjuk ke pintu geser kertas yang ada di depannya. Mereka semua tak bisa melihat apa yang ada di baliknya, namun Miki ...

Ia bisa melihat bayangan di belakangnya. Siluet mengerikan seseorang ... bukan, sesuatu .... dengan sendi-sendi yang membengkok dengan tidak wajar. Ia tengah merangkak dengan keempat kakinya dan berusaha membentur-benturkan kepalanya ke dinding kertas itu.

Miki hendak menjerit, namun ia kembali mendengar suara dari kepalanya.

�Tenanglah, ia takkan bisa masuk.�

Itu suara Misaki.

Miki yang tak tahan lagi akhirnya keluar.

�Aku akan menjaganya di sini. Ia hanya berhalusinasi saja. Kalian beristirahatlah dulu.� kata Shun.

***

�Jadi apa yang sebenarnya dilihat Taka?� tanya Seiji sambil mengutak-utik kameranya.

�Mungkin macan gunung seperti yang kau katakan.� kata Yuka, mencoba mencari penjelasan logis atas semua ini.

�Ya, aku juga akan ketakutan seperti itu jika melihat macan gunung hendak memakanku.� kata Haruna dengan lesu.

�Ditambah lagi kita ditakut-takuti oleh alarm tsunami palsu. Benar-benar malam yang penuh kesialan!� maki Seiji.

Mereka berempat beristirahat di sebuah kamar. Sementara Misaki tengah mempersiapkan sesuatu untuk dimakan Taka. Sedangkan Masa-kun, entah dimana ia sekarang. Miki ingin bertemu dengan dia. Namun anehnya, bukan untuk meminta penjelasan dari semua yang terjadi ini. Tetapi karena Miki mulai merasa resah jika tak melihatnya. Apakah ini pertanda dia mulai ...

�Ah, mustahil!� pikirnya.

Miki ingin sekali mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada teman-temannya, tentang makhluk yang ia lihat. Namun ia tahu takkan ada yang mempercayainya.

Kecuali Masa-Kun.

Miki meletakkan tangannya di tatami, mencoba untuk bersantai setelah malam panjang yang ia lalui.

Namun tangannya menyentuh sesuatu.

Halus seperti porselen, namun berduri.

Miki hampir menjerit, namun ia masih menahan dirinya.

Cangkang kerang spiral itu lagi-lagi berada di sampingnya.

Miki jelas-jelas ingat ia meninggalkannya di dalam mobil.

***

Tanpa ada yang menyadari, Shun menyelinap keluar dari kamar Taka dan mengendap-endap ke sebuah kamar. Ia menyadari, dari interiornya yang berantakan, ini pastilah kamar pribadi sang pemilik penginapan.

Ia mulai mengobrak-abrik isi lemari dan menemukan apa yang ia cari.

Sebuah buku.

Buku manual tepatnya.

Dari sampulnya yang lusuh, ia tahu benar bahwa usia buku ini pastilah sudah tua. Buku ini pastilah diturunkan dari generasi ke generasi.

Di Barat, buku semacam ini dinamakan �grimoire�.

Buku yang memuat panduan praktik ilmu hitam.

Shun membuka isinya. Tepat seperti yang ia duga, praktik pemanggilan arwah ke dalam tali pusar untuk kemudian menumbuhkan tubuh baru memang sudah dilakukan secara turun-temurun di desa ini.

Tanpa mereka tahu, Shun sudah melakukan berbagai penelitian tentang masa lalu desa ini. Ia mengetahui kebiasaan mengerikan yang mereka lakukan, menggunakan ritual ilmu hitam untuk membangkitkan anak mereka yang hilang di tengah laut.

Tapi Shun percaya, ritual ini tak hanya akan menciptakan zombie. Zombie hanyalah mayat hidup tak berotak, namun yang mereka ciptakan ... sangat berbeda. Mungkin pada tahap-tahap awal, sosok mereka sangatlah mengerikan dan sama sekali tak mirip dengan manusia normal. Namun Shun percaya, jika sudah mencapai tahap terakhir, maka mereka bisa kembali menjadi manusia seutuhnya, seperti saat mereka hidup.

Shun menyebutnya: transformasi yang sempurna.

Sayang sekali, Shun belum pernah mendengar ada yang mencapai tahap itu. Selalu saja usaha mereka digagalkan para biksu Shinto yang mencium praktik upacara ilmu hitam mereka. Tentu saja apa yang mereka lakukan bertentangan dengan ajaran agama dan yang lebih mengerikan lagi ...

Mungkin mengundang sesuatu yang bukan manusia ke dalam dunia ini.

Namun inilah alasan Shun datang ke desa ini.

Dan kini ia sudah mendapatkannya.

Sebuah benda berkilau mencuri perhatian Shun.

Well, apa ini? Sebuah bonus!�

***

�Saya sudah mempersiapkan makanan untuk Taka.� Misaki muncul di depan pintu mereka sambil membawa senampan makanan. �Apakah tak apa jika saya masuk ke kamarnya?�

�Tentu saja, Misaki-chan.� jawab Yuka. �Shun ada di sana. Tapi biarkan kami mengantarmu jika kamu canggung. Kami juga ingin melihat keadaannya.�

Mereka berempat segera mengikuti Misaki. Miki masih penasaran dimana keberadaan Masa-kun sekarang. Tadi ia merasa terganggu dengan suaranya bergaung di kepalanya, tapi justru kini ia rindu ingin mendengar suaranya kembali.

Namun ketika mereka membuka pintu geser pintu kamar Taka, yang terdengar hanyalah suara jeritan Misaki dan suara ketika piring dibawanya jatuh dan pecah di lantai kayu.

Sedangkan yang lainnya tak mampu bergerak, apalagi bersuara, melihat apa yang terjadi di dalam kamar.

Tubuh Taka terayun bak pendulum di tengah ruangan. Selimut yang tadi ia gunakan kini melilit di lehernya.

 

TO BE CONTINUED

Senin, 17 November 2014

THE LAST RESORT PART 02 � ORIGINAL SERIES

 

Miki ingin menanyakan, apakah salah satu temannya sengaja membawa cangkang kerang itu. Namun ia pikir itu pertanyaan bodoh. Siapa yang peduli dengan sebuah cangkang kerang? Mungkin saja Yuka atau Haruna memungut cangkang ini dari pantai karena indah. Miki hanya tak ingin begitu memikirkannya.

�Ah sial! Hari sudah gelap begini! Padahal aku berencana meninggalkan desa ini sebelum matahari terbenam, tapi gara-gara insiden tadi ...�

Miki merasa bersalah mendengar perkataan Taka tersebut.

�Hei! Hei! Tunggu! Berhenti!� seru Haruna tiba-tiba.

�Ada apa sih?�

�Lihat di sana! Itu pemuda yang tadi!�

�Apa?� bisik Miki dalam hati.

Lampu mobil mereka menyorot tubuh seorang pemuda yang berjalan membelakangi mereka. Ia berjalan di pinggir hutan sambil memunggungi sebuah ransel.

Taka menyalakan klakson dan pemuda itu menoleh. Ia meletakkan tangannya di depan matanya, mencoba menghalau silaunya lampu mobil.

Miki bisa melihat wajahnya dengan jelas. Haruna memang tidak melebih-lebihkan. Ia memang tampan dengan sepasang mata cokelat yang gelap dan amat misterius.

�Hei, benar! Itu dia!� seru Haruna girang. Dia langsung membuka jendela dan segera menyapanya.

�Hei! Kamu pemuda yang tadi kan?�

Mata Miki dan pemuda itu saling bertatapan dari sela jendela yang terbuka itu.

�Kau mau kemana?� tanya Haruna lagi.

�Saya hendak ke desa.� jawabnya pelan, di tengah deru mesin mobil yang masih menyala. Mata mereka berdua masih saling memandang.

�Ikut saja dengan kami. Kami juga mau kesana kok!�

�Hei!� seru Seiji. Ia memang nampak keberatan, terutama karena mobil sudah penuh terisi dengan enam orang. �Apa ibumu pernah mengatakan sesuatu tentang mengangkut orang asing di tengah malam?�

�Ah, kau berisik!� protes Haruna. �Ia jelas-jelas orang baik sudah menolong Miki tadi. Justru kau di sini yang moralnya dipertanyakan, dasar tukang intip mesum!�

Seiji cemberut karena tidak mampu membalas Haruna.

�Sudahlah,� kata Taka. �Toh kita juga lewat desa kan? Tak ada salahnya, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih.�

�Ayo masuklah!� kata Haruna dengan girang.

Pemuda itu tak menolak sedikitpun dan masuk ke dalam, walaupun harus berimpitan dengan empat orang lainnya yang sudah berada di kursi belakang mobil. Entah mengapa, namun Miki berpikir bahwa mungkin ini karena dirinya.

Pemuda itu masih menatap Miki, membuat gadis itu merasa canggung. Tatapannya kemudian beralih ke depan, ke arah hutan.

�Apa kau backpacker? Ranselmu besar sekali?� tanya Haruna, yang kini jelas-jelas ingin merebut perhatian pemuda itu.

�Ah iya, saya sedang berlibur di daerah ini.�

�Sini ranselmu biar aku simpan.� Haruna lalu mengangkat ransel itu dan menjatuhkannya ke arah pangkuan Seiji yang duduk di depan.

�Hei!�

�Sudah jangan protes! Di sini sudah penuh! Tempatmu kan masih lega.�

Miki hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya.

By the way, siapa namamu?� tanya Haruna lagi tanpa bisa melepaskan pandangannya dari pemuda itu.

�Ehm ... namaku Masahiro.�

Ia kembali menatap Miki. Gadis itu mencoba mengalihkan pandangannya dan menatap ke depan. Tanpa sengaja ia melihat mata Taka tengah mengawasi pemuda itu dari spion depan.

�Masahiro? Nama yang bagus. Jadi kamu lebih sering dipanggil Masa atau Hiro?�

�Ehm ... orang tuaku biasa memanggilku Masa.�

�Oh, kalau begitu, aku panggil kau Masa-kun ya?� kata Haruna dengan genit. Miki hanya tertawa melihat Yuka menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah Haruna. �Namaku Haruna. Lalu yang ada di sampingmu Miki, yang kau selamatkan tadi, lalu cewek berambut pendek itu Yuka, yang berkaca mata itu Shun, dan yang sedang menyetir itu Takahashi, namun kami biasa memanggilnya Taka.�

�Hei, kok aku tidak mendengar namaku diperkenalkan?� seru Seiji dari depan.

�Oh ya,� kata Miki dengan canggung, tak berani menatap mata pemuda itu, �Terima kasih kau sudah menolongku.�

Miki tak mendengar sepatah katapun dari mulut Masa-kun, namun ia tahu pemuda itu tengah memperhatikannya.

�Sama-sama.� jawab pemuda itu dengan singkat.

�Kami semua datang dari Tokyo. Apa kau pernah ke sini sebelumnya??� tanya Taka, kali ini mencoba bersahabat.

�Ehm ... orang tuaku dulu berasal dari sini. Namun aku sudah lama tak pernah datang lagi ke sini.�

�Yah, kau memang terlihat seperti dari keluarga nelayan. Cara berenangmu tadi hebat sekali.� Entah apakah yang dikatakan Taka itu untuk memujinya atau ...

�AWAAAAS!!!!� jerit Miki tiba-tiba.

�BRAAAAAAAAAAAK!!!!�

***

 

Miki tak tahu apa yang terjadi, namun kepalanya sangat pusing. Sepertinya ia tadi terbentur.

�Apa kau baik-baik saja.� Terdengar suara lembut di sampingnya. Miki menoleh dan melihat tatapan pemuda itu. Tatapan yang membuatnya merinding sekaligus salah tingkah.

�Apa yang terjadi?� tanya Miki sambil memegangi kepalanya.

Miki menyadari mobil dalam keadaan miring. Ia menoleh dan melihat Yuka tampak kesakitan memegangi bahunya. Shun berusaha membuka pintu di sampingnya, tapi macet.

�Haruna, bisa kau buka pintu di sampingmu?� tanya Shun.

�Kalian berdua di depan tidak apa-apa?� seru Yuka dengan cemas.

�Apa ... apa tadi?� Seiji mengerang.

�Sepertinya kita menabrak sesuatu.� jawab Miki.

�Yah,� ujar Seiji kesakitan sambil menatap dengan ngeri kaca jendela yang pecah di depannya, membentuk pola seperti jaring laba-laba, �Kita menabrak pohon.�

�Tidak, sebelumnya ...� kata Miki, �Sebelumnya aku melihat sesuatu melintas di depan mobil kita. Seperti bayangan putih ...�

�Ya, aku juga melihatnya,� kata Taka sambil mengerang, �Aku membanting setir ke samping untuk menghindarinya, tapi justru kita menabrak pohon ..... aaaargh, sakit sekali ...�

�Apa kau terluka, Taka?� tanya Yuka sambil melongokkan kepalanya ke depan.

�Astaga ... � muka Seiji memucat ketika melihat darah merembes di paha Taka, �Man, lukamu kelihatannya parah ...�

Masa-kun membantu Haruna membuka pintu samping dan satu-persatu mereka yang duduk di kursi belakang turun. Seiji dan Shun membantu Taka untuk keluar dari mobil. Yuka dengan cekatan mengambil kotak P3K dan segera merawat luka di kaki Taka. Lukanya ternyata tidak begitu parah, namun Taka mengatakan kakinya terasa sakit untuk digerakkan.

�Ah, sial! Tak ada sinyal di sini!!� seru Seiji kesal.

�Ya, kau benar. Hapeku juga.� kata Shun.

�Jadi kita terjebak di sini?� Haruna tampak ketakutan. Mobil mereka jelas rusak parah. Bagian depannya benar-benar hancur dan asap keluar dari bagian mesin. Dengan kata lain, mereka kini terjebak di tengah hutan di malam hari yang gelap.

�Kurasa aku ingat ada sebuah rumah di atas bukit ini.� kata Masa-kun. �Aku tak tahu apakah ada penghuninya, namun kita bisa mencoba.�

�Malam-malam begini? Tidak, man! Bisa saja ada binatang liar di luar sana. Ba ... bagaimana dengan binatang yang baru saja hampir kita tabrak?�

�Kurasa itu bukan binatang,� kata Miki. Semua mata menatapnya, �Kurasa itu seseorang ...�

Yeah, right,� Taka tak setuju, �Manusia yang berjalan dengan empat kaki. Aku tak begitu jelas melihatnya, namun yang jelas ia merangkak dengan empat kaki.�

�Mungkin kijang atau mungkin ... singa gunung!� Seiji mulai ketakutan tanpa sebab.

�Mau tidak mau kalian harus mencari pertolongan,� kata Taka yang terlihat tak mampu lagi menahan rasa sakitnya, �Lebih aman jika kalian pergi bersama-sama.�

�Akan kuantar kalian ke sana.� Masa-kun menawarkan diri.

�Aku akan ikut denganmu.� Entah mengapa Miki dengan spontan mengatakan hal itu. Ia sendiri juga tak mengerti.

�Aku juga akan ikut. Hanya aku yang tahu ilmu medis di sini, bahaya jika terjadi sesuatu dengan kalian di luar sana. Apalagi ini sudah gelap. Kalian berdua, anak-anak cowok!� Yuka menatap Seiji dan Shun. �Kalian akan jadi bodyguard kami.�

�Aku bagaimana?� tanya Haruna cemas.

�Kau di sini saja menemaniku.� kata Taka sambil masih duduk bersandar di ban mobil.

Haruna kelihatan lega dengan ide itu. Ia bukan tipe gadis yang mau berjalan di tengah hutan malam-malam, apalagi dengan kemungkinan bertemu hewan liar.

�Baiklah, ayo kita berangkat.� Masa-kun mulai berjalan menaiki bukit, dibekali dengan sebuah senter. Empat orang lainnya mengikutinya.

***

 

�Maafkan aku tadi tidak menolongmu.� tiba-tiba Shun berkata pada Miki di tengah perjalanan.

�Oh,� Miki tersenyum, �Tak apa-apa, Shun. Aku mengerti kok kalau kamu tak bisa berenang.�

Miki tanpa sengaja melihat pergelangan tangan Shun ketika ia menggosoknya untuk mengusir rasa dingin. Ada semacam bekas luka sayatan di sana. Namun buru-buru Shun menyembunyikannya di balik lengan kemeja panjangnya ketika sadar Miki memperhatikannya.

Miki kembali melihat ke arah atas bukit dan melihat seberkas sinar.

�Kau benar. Lihat!� tunjuk Miki, �Ada cahaya di sana. Sepertinya ada sebuah rumah.�

�Syukurlah.� kata Yuka. �Semoga saja mereka punya telepon.�

Namun begitu mereka sampai, rumah yang dimaksud oleh Masa-kun ternyata hanya sebuah pondok bobrok.

�Ini yang kamu maksud dengan rumah?� tanya Seiji.

�Hei, bisakah kau menurunkan kamera itu?� Shun mulai merasa risih, �Apa kau perlu merekam ini semua?�

�Ini untuk dokumentasi liburan kita. Kamu anak baru diam saja!�

�Pondok ini kosong rupanya. Dahulu orang tua kami selalu melarang kami mendekatinya.� kata Masa-kun dengan heran, �Apa mungkin pemiliknya sudah pindah?�

Masahiro mendekati gubuk itu dan melihat sumber cahaya yang tadi mereka lihat.

�Apa itu lilin?� tanya Yuka yang hanya melihat dari kejauhan.

�Bukan, ini ....�

�Itu dupa.�

Masa-kun menoleh dan melihat Miki berdiri di belakangnya, menatap lekat-lekat dupa yang berjejer banyak itu.

�A ... aku tak pernah melihat dupa sebanyak itu.� kata Yuka yang mulai merasa ketakutan, �Bahkan di kuil Shinto sekalipun. Ini tempat apa?�

�Kenapa kita tak coba mengeceknya?� tiba-tiba saja Seiji membuka pintu gubuk itu.

�Hei, jangan!� Masa-kun mencoba menghentikannya, namun terlambat.

�Ugh, bau apa ini?� Seiji langsung menutup hidungnya. Bau busuk langsung menyeruak begitu pintu geser kayu pondok itu dibuka. �Hei, teman-teman, lihatlah ke sini! Aneh sekali di dalam sini!�

Miki segera mendatangi Seiji dan melongok ke dalam. Di dalam ruangan depan, terdapat tumpukan sampah ... banyak sampah. Seperti sisa makanan, menumpuk seakan-akan sudah berbulan-bulan ditimbun di situ. Baunya pun sungguh menyesakkan. Dan di dalam ruangan itu masih tedapat ruangan lagi. Kali ini pintunya tertutup rapat dengan jimat-jimat yang dihubungkan dengan tali, menyerupai jaring laba-laba.

�Tempat apa ini?� bisik Miki dalam hati. Perasaannya mulai tak enak.

�Astaga!�

Miki menoleh dan melihat wajah Masa-kun yang berdiri di belakangnya menjadi pucat pasi begitu melihat isi pondok itu.

�Ini kuil! Semuanya, pergi! INI KUIL!!!�

�Apa? Apa maksudmu?� tanya Yuka tak mengerti.

�Pergi dari sini! Aku tak bisa menjelaskannya, namun kita harus pergi!�

Walaupun mereka baru saja mengenal Masa-kun, namun intonasi dalam suaranya membuat mereka sadar bahwa ia sangat serius. Merekapun segera mengikutinya menuruni bukit.

�Desa sudah tak begitu jauh dari sini. Mungkin akan memakan waktu lama jika kita berjalan kaki, namun kita akan aman di sana!� kata Masa-kun. Suaranya penuh dengan nada kekhawatiran. Miki tak mengerti, seberapa serius situasi yang kini mereka hadapi?

�Teman-teman! Kalian dimana!� terdengar suara dari kaki bukit.

�Itu suara Haruna! Haruna!� panggil Miki. Apa terjadi sesuatu dengan mereka?

�Teman-teman!� Haruna tampak lega ketika melihat mereka menuruni bukit.

�Haruna! Kenapa kau di sini? Kau harusnya menjaga Taka!� tanya Yuka.

�Taka terus mengerang kesakitan. Ia menyuruhku agar meminta kalian supaya lebih cepat ...�

�AAAAAAAAAAAA!!!!�

Terdengar teriakan dari arah dimana mobil kami menabrak pohon.

Itu suara Taka.

�AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!�

Dan seumur hidup Miki tak pernah mendengar suara manusia ketakutan seperti itu.

 

TO BE CONTINUED

THE LAST RESORT PART 01� ORIGINAL SERIES

 

Inilah interpretasi-ku tentang sekuel Resort. Kisah ini akan menceritakan enam orang mahasiswa dari Tokyo yang tengah berlibur di pantai. Ketika mereka mengangkut seorang pemuda misterius dan terdampar di resort tempat semua cerita itu berawal, kejadian mengerikan pun mulai terjadi. Cerita ini terinspirasi dari berbagai film, mulai dari �Evil Dead�, �Sadako 3D�, hingga �Silent Hill�. Ingat baik-baik bagian prolog-nya karena akan berkaitan dengan bagian epilognya.

NB:

1. Cerita ini harusnya kumuat 2 minggu lalu, namun karena berbagai keterbatasan, maka baru bisa kumuat minggu ini. Karena itu aku akan langsung memuat part 1 dan 2 (dari keseluruhan 6 part) pada minggu ini. Namun untuk berikutnya, setiap part akan dimuat setiap hari Minggu seperti biasa.

2. Label �Original Series� berarti kisah ini murni tulisanku, bukan hasil copya paste dan terjemahan.

***

 

�Huh, seram apanya!� pemuda itu berkata pada pacarnya, �Rumah hantu ini payah sekali! Aku ingin uangku kembali!�

Anata ... kamu serius nggak takut? Aku saja merinding dari tadi ...� gadis itu mendekat pada kekasihnya.

Seorang gadis yang berjalan di belakang mereka tertawa cekikikan, �Anak zaman sekarang tak mudah ditakuti ya?�

Pemuda itu menoleh.

�Ah, maaf Nona. Saya tidak tahu anda di belakang kami.�

�Tak apa. Aku juga berpendapat sama kok. Rumah hantu ini sama sekali tak seram. Aku pernah mengalami cerita yang lebih seram.�

�Hah, benarkah? Pengalaman nyata anda?�

�Tentu. Apakah kalian pernah mendengar cerita tentang sebuah resort?�

�Resort?� gadis itu tampak tertarik. �Belum pernah. Seperti apa ceritanya?�

�Apa benar kalian ingin tahu seperti apa ceritanya? Tidak menyesal?�

�Hahaha ... tak ada yang membuatku takut, Nona!� kata pemuda itu menyombong. �Ceritakan saja. Saya sangat ingin mendengar seberapa seram ceritanya.�

�Iya,� kekasih pemuda iu juga mengangguk, �Ayo ceritakan!�

Gadis itupun memulai ceritanya sambil tersenyum.

�Semua dimulai di sebuah senja di pantai yang terlihat damai. Namun itu hanyalah awal dari bencana yang akan kami alami.�

***

Miki menatap lautan biru di hadapannya. Deburan ombak seolah menyanyi di kepalanya. Ia menatap jauh ke laut lepas, sementara pasir-pasir yang terbawa hempasan ombak seolah-olah menggelitik kakinya.

�Miki,� sahabatnya, Yuka, memanggil, �Kita harus pulang sebelum sore.�

�Ah, tak bisakah kita menunggu sampai matahari terbenam?� kata temannya yang lain, Haruna, sambil menggulung tikar yang tadi mereka pakai untuk piknik.

�Sebentar lagi malam.� Taka, yang selalu dianggap sebagai pemimpin oleh teman-temannya menjawab, �Aku tak bisa melihat jalan kalau sudah gelap.�

�Ah, kau ini,� keluh Haruna, �padahal kan kita sudah jauh-jauh ke sini.�

�Ini bukan Tokyo, Nona. Di sana tak masalah segelap apapun, aku masih hapal jalan.�

�Tokyo tak pernah gelap.� ujar Shun, pemuda berkacamata itu. �Sudahlah, Haruna. Berkemas-kemaslah. Kita bisa melihat senja dari atas mobil. Justru akan semakin jelas.�

�Nah, tuh.� goda Taka , �Dengarkan pacarmu itu!�

Haruna memukul bahu Taka, �Bocah culun itu bukan pacarku!�

�Haruna!� bisik Yuka dengan tajam, �Pelan-pelan, nanti dia dengar!�

Namun pandangan Shun masih terpaku pada buku yang ia baca.

�Kamu itu kenapa sih?� bisik Yuka, masih dengan raut muka kesal. �Kau bisa menyinggung perasaannya.�

�Kalian itu yang kenapa! Ini seharusnya menjadi piknik yang keren, tapi mengapa kalian malah mengajak si kutu buku itu dan gadis aneh itu. Seharian dia hanya berdiri menatap laut, sama sekali tak berbicara dengan kita.� Haruna menggerutu.

Well, aneh atau tidak, Nona,� kata Taka. �Miki tetaplah teman satu angkatan kita dan mau tidak mau kita akan berjuang bersama dia sepanjang semester ini.�

Yuka menatap Taka, �Dia tidak aneh. Ia memang introvert. Orang-orang bahkan mengatakan ia punya indra keenam.�

�Ah, kau dan empatimu, Yuka.� Taka menghela napas, �Aku tahu kita mahasiswa psikologi, tapi nalurimu untuk menolong orang, terlalu overwhelming bagiku. Setauku indra keenam nggak akan banyak berguna jika kita tak bisa menggunakannya untuk melihat soal ujian semester depan.�

Mata Yuka membelalak, �Jadi ini alasanmu mengajak mereka berdua?�

�Kok malah kalian berdua sih yang bertengkar?� malah ganti Haruna yang kesal karena tak diacuhkan, �Sekarang kemana Seiji? Dari tadi aku tak melihatnya.�

�Ah, anak itu,� Taka kembali mengeluh, �Pasti dia sedang merekam karang-karang bodoh itu. Biar aku panggil dia. Kalian berempat langsung saja ke mobil.�

Sementara itu, Miki sama sekali tak menyadari teman-teman tengah membicarakannya. Ia sibuk dengan suara ombak. Entah mengapa, suara ini begitu menenangkannya. Ia baru saja hendak berjalan ke arah teman-temannya ketika kakinya menginjak sesuatu tanpa sengaja.

Ia menatap ke bawah dan melihat sebuah cangkang kerang. Bentuknya seperti tanduk berulir dengan duri-duri di permukannya. Miki mengangkatnya. Cangkang itu cukup besar dan permukaannya halus seperti pualam.

Miki menatap bagian dalam cangkang itu. Hampa. Dulu pernah ada makhluk yang menghuninya, menganggap sebuah rumah, perlindungan. Namun ketika ia mati, ia hanya meninggalkan cangkang ini. Sangat menyedihkan.

Namun manusia lebih menyedihkan lagi, pikirnya. Ketika mati, ia takkan meninggalkan apa-apa. Ia hanya lenyap tanpa bekas, tanpa bukti bahwa ia pernah ada di dunia.

Ia takkan meninggalkan apapun, kecuali penderitaan.

Miki mendekatkan cangkang kosong itu ke telinganya. Ia bisa mendengar ombak berdesir di telinganya. Ia bisa membawa pulang pantai ini bersamanya, di dalam cangkang ini.

�Miki! Ayo! Keburu sore! Nanti Taka marah-marah!� seru Haruna.

Miki segera berjalan cepat ke arah teman-temannya, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar sesuatu di antara deburan ombak.

Itu suara teriakan.

Arahnya dari laut.

Ia segera menoleh dan melihat sesosok tangan menyembul keluar dari deburan ombak yang biru. Tangan itu mencoba menggapai-gapai udara. Sedetik kemudian, kepalanya muncul dari dalam air. Itu adalah seorang bocah laki-laki.

�Tolong ... tolong ...� suara itu makin jelas terdengar. Kepala anak itu kembali tenggelam ketika ombak yang lebih besar menghantamnya. Tanpa berpikir panjang, Miki segera berlari ke arah laut untuk menyelamatkan anak itu. Ia segera terjun ke dalam air dan berenang menuju ke tempat anak itu tenggelam. Sayup-sayup terdengar jeritan dari teman-temannya, namun ia tak mempedulikannya. Hanya beberapa detik di air, ia sudah merasakan air memasuki telinganya dan membuatnya tuli untuk sejenak.

�Dimana anak itu?� teriak Miki dalam hati, �Dimana dia?�

Namun kemanapun ia mencoba melihat, tak ada tanda-tanda anak itu. Hanya air dan air, berkilo-kilometer jauhnya. Bahkan ia tak bisa melihat daratan lagi.

�Hah, kupikir tadi aku tak berenang sejauh ini?�

Tiba-tiba Miki merasakan sesuatu menarik kakinya. Miki mencoba menjerit, namun air segera membanjiri paru-parunya ketika kepalanya mulai tenggelam. Miki mencoba meronta, namun genggaman di kakinya terasa lebih erat, menariknya lebih kuat ke dasar lautan. Warna biru yang mengelilinginya bertambah pekat, bercampur dengan buih putih yang berasal dari napas dan rontaannya.

Miki melihat ke bawah, mencoba melihat apa yang menariknya.

Apa kakinya tersangkut jaring nelayan?

Rumput laut?

Tidak.

Ia hanya melihat bayangan hitam, seperti manusia, bercampur dengan gelapnya dasar lautan.

Apapun itu ia memiliki sepasang mata yang menyala dalam kegelapan, menatap ke arahnya.

Kepalanya makin pusing dan terasa berat. Ia tak sanggup lagi meronta.

Ia tak sanggup lagi membuka matanya.

Ia tak sanggup lagi bernapas.

***

 

Miki membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah cemas dari teman-temannya yang mengelilinginya, terutama Yuka.

Ia masih merasakan rasa asin dalam mulutnya. Berarti ia tak sedang berhalusinasi tadi. Ia benar-benar tenggelam.

Mika mencoba bangun. Ia terbatuk dan memuntahkan air laut. Ia merasakan pasir-pasir menempel di rambutnya yang basah.

�Apa ... apa yang terjadi denganku?� Miki masih mencoba mengusir rasa asin yang melekat di lidahnya.

�Apa yang tadi kaupikirkan?!� seru Taka kesal, �Kata yang lain, tadi kau melompat begitu saja ke laut.�

�Anak itu ... apa ia tak apa-apa?� bisik Miki khawatir.

Teman-temannya saling berpandangan, �Anak yang mana?�

�Anak itu ... ia tenggelam. Apa kalian tak melihatnya?�

�Kami tak melihat siapapun di dalam air kecuali kau, Miki.� kata Yuka dengan wajah prihatin.

�Yah, kau dan cowok ganteng yang tadi menyelamatkanmu.� tambah Haruna.

�Oya, dimana dia?� Mereka segera menoleh untuk mencari pemuda.

�Aneh sekali, bukannya dia tadi ada di sini bersama kita?�

Miki tampak heran, �Pemuda yang mana?�

***

 

�Pemuda itu benar-benar ganteng!� pekik Haruna di dalam mobil. Selama setengah jam perjalanan, hanya itu yang ia bicarakan. �Aku benar-benar tak percaya. Ia begitu heroik! Entah dari mana tiba-tiba ia muncul dan membopongmu ke pesisir. Bahkan kupikir tadinya ia mau memberikan napas buatan kepadamu. Duh, kalau itu aku juga ingin.�

�Aku sama sekali tak ingat ada pemuda yang menyelamatkanku.� kata Miki. �Apa dia benar-benar melakukan napas buatan kepadaku?�

�Haha ... tidak seromantis itu Nona,� kata Seiji yang berada di kursi depan bersama Taka yang tengah menyetir. �Tapi ia menekan dadamu dan air langsung muncrat dari mulutmu. Lalu kau sadar.�

�Hei, Seiji!� seru Haruna tiba-tiba sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, �Bukannya tadi kau merekamnya di handy-cam-mu? Mana coba aku lihat!�

�Oh ya, aku lupa!� Seiji segera mengambil kembali handy-cam dari dalam tasnya, �Sebentar ...�

Serta-merta Haruna langsung merebutnya, �Mana, biar aku saja yang mencari!�

�Hei!� protes Seiji.

Namun Haruna tak peduli dan langsung mengutak-atik handy cam itu. �Mana ya rekamannya? Nah ini dia ...�

Ketiga gadis itu langsung melongok mencoba melihat ke layar handy-cam yang kecil itu. Namun yang tampak justru gambar mereka bertiga sedang menghabiskan waktu di pantai.

�Hei, dasar brengsek! Jadi selama ini kau memata-matai kami waktu berjemur memakai bikini!� seru Haruna marah.

�Dasar mesum!� Yuka ikut marah dan memukul pemuda itu dari belakang.

�Hei ... hei ... jangan mengamuk seperti itu! Taka yang menyuruhku!�

�Hei, man! Jangan sangkut-pautkan aku!� protes Taka.

�Eh, lihat ... ini adegan dimana kau terjun ke laut!� seru Haruna.

Terdengar suara jeritan para gadis di dalam video. Rekaman itu tampak bergoncang-goncang karena Seiji yang merekamnya tengah berlari menghampiri mereka.

�Ada apa?�

�Miki ... ia tenggelam!�

�Kenapa kalian tak menolongnya?�

�Ombaknya terlalu besar, kami takut ...� ujar para gadis.

�A ... aku tak bisa berenang ...� Shun terbata-bata.

�Ah, sial!�

�Hei, lihat! Ada yang mencoba menolong Miki!�

Kamera segera diarahkan ke tengah laut, namun ....

�Sreeek ... kesreeek ...�

Terlihat seperti semut memenuhi layar.

�Hei, mesum! Kameramu rusak!�

�Ah, tidak mungkin! Mana kulihat!� Seiji segera merebut kameranya kembali.

�Ak ..... ak ....sreeek .... sreeek ...� layar masih buram, walaupun selama seperkian detik masih menampakkan gambar normal. Tampak sesosok pemuda mengangkat tubuh Miki ke pantai, namun wajahnya tak jelas. Kemudian gambar kembali buram.

�Ah brengsek! Kenapa jadi rusak begini?� Seiji memukul-mukul kameranya, �Aaaah ...nah ini sudah benar!�

�Apa ... apa yang terjadi denganku?� terdengar suara Miki di rekaman itu.

�Apa yang tadi kaupikirkan?� terdengar suara Taka yang sedang kesal.

�Hei, bukannya ini pas Miki sudah sadar ya? Tba-tiba saja rekamannya normal pada saat kejadian ini. Tapi pas pemuda itu muncul, malah rusak. Aneh sekali.� Seiji tak habis pikir.

�Mungkin kameramu yang sudah bobrok.� Taka tertawa.

�Mungkin itu karma karena kameramu selalu kaupakai untuk perbuatan mesum!� protes Yuka.

�Tapi siapa ya pemuda itu? Kupikir hanya ada kita berenam saja di pantai saat itu.� tanya Miki penasaran.

�Ya, kupikir juga begitu. Mungkin saja ia penduduk lokal.� tambah Yuka.

�Apa mungkin ia penjaga pantai?� tanya Haruna yang lebih penasaran ketimbang mereka berdua.

�Tak mungkin. Bahkan tak ada yang berkunjung ke pantai itu.� kata Taka dari balik kemudi.

�Hah, kenapa?� tanya Yuka.

Seiji menoleh ke belakang, �Jadi kalian belum tahu pantainya berhantu?�

�APA? BERHANTU?�

Haruna memukul Taka dari belakang, �Jadi kau mengajak kami ke pantai berhantu?�

�Hei, kalian kan yang menginginkan pantai yang sepi? Di musim liburan seperti ini, itu hampir mustahil. Kecuali pantai itu, tak banyak yang datang ke sini karena takhyul bodoh ....�

�Itu bukan takhyul bodoh!� Shun yang semenjak tadi diam tiba-tiba angkat suara. �Kalian harus mulai menghormati kepercayaan orang lain. �

�Jadi ...� Haruna sama sekali tak mempedulikan perkataan Shun, �apa takhyul bodohnya?�

�Mereka bilang pantai itu meminta tumbal. Tiap tahun selalu saja ada anak yang menghilang tersapu ombak di pantai itu. Karena itu orang tua di desa dekat pantai itu selalu melarang anaknya mendekati tempat itu, makanya sepi.�

Miki mulai merinding mendengar cerita itu. Hingga sekarang, sepertinya semua teman-temannya, termasuk Yuka, tak mempercayai ceritanya tentang anak yang tenggelam itu. Namun Miki yakin tentang apa yang dilihatnya.

�Seharusnya kau cerita sejak awal pada kami!� seru Yuka, �Miki hampir tenggelam gara-gara kalian!�

�Hei itu bukan salah kami!�

Miki mencoba bersandar, tak ingin terlalu larut dalam pertengkaran teman-temannya itu. Tiba-tiba ia menyadari ada sesuatu yang menusuk punggungnya. Ia mencoba meraihnya dan menyentuh sesuatu dengan permukaan halus. Seperti porselen.

Miki menengok ke belakang dan menatap benda itu dengan terkejut.

Sebuah cangkang kerang yang berbentuk seperti terompet.

Ia ingat ia hanya melemparkannya begitu saja di pasir saat mencoba menyelamatkan anak itu.

 

TO BE CONTINUED

Off to Canada


We didn't stay in Stendal for very long, because the next adventure is waiting. We picked up some informations and gift for our new hosts and off we went!


Rabu, 12 November 2014

Back in Stendal

 We arrived safe and sound in Stendal. We had a real good time in Wiesbaden.
 Our travelling box has a new sticker!
 We brought loads of postcards...
 ...and two new friends: the chicks!

Senin, 10 November 2014

Time to say good bye to Wiesbaden

Back in our box. We have much fun in Wiesbaden an the other cities. Now its time to leave and start to other adventures.

we had so much fun! Thank you Vera for all!


Sabtu, 08 November 2014

Sightseeing tour in Wiesbaden

Today we finally visit the most popular places in Wiesbaden.
The hessischer state parliament
 Rathaus and Marktkirche
In front of the town hall.
The "Kurhaus" with a casino in it. Here the author Dostojewski lost all his money.
The world biggest cuckooclock.
 
The "R�mertor".

Kamis, 06 November 2014

Harry Potter - The Exhibition

Today we visit "Harry Potter - The Exhibition" in Cologne.
 Here we are in front of the "K�lner Dom".
 On Hagrids armchair.
Here we listen to the noisy Mandrake
  
With Dobby the free elf.
 Harry Potters bed.
The fat lady don't want to let us in.

Selasa, 04 November 2014

BARANG BAWAAN WAJIB

Assalamualaikum Wr.Wb.

Sejak dahulu, sebelum dan sesudah memakai jilbab, saya memang selalu dikategorikan tomboy, metal, rock and roll dan sederet kelakuan lainnya yang seharusnya sih milik para lelaki. Sikap paling menonjol dari saya terutama ketika sedang traveling adalah cuek. Entah itu dari cara berpakaian atau cara menghadapi masalah.

Selama ini, saya banyak ditanya bagaimana tips

German international Poetry Slam Championship

 For a few days we visit the "German international Poetry Slam" Championship (www.slam2014.de) in Dresden. 
 Here a some photos of us in the different locations.

Minggu, 02 November 2014

CREEPYPASTA #5: A KNOCK ON THE WINDOW

 

KETUKAN DI JENDELA

Penulis: Anonymous

  knock

Creepypasta yang ditulis oleh penulis anonim ini menceritakan seorang pemuda yang mendengar ketukan di jendelanya terus-menerus di tengah malam. Ketika ia memeriksanya, ia akan menemukan kejutan yang sangat mengerikan.

 

Aku terbaring di atas ranjang, sendiri, di suatu malam yang gelap dan sunyi. Aku hanya membolak-balikkan badanku di atas kasur, mencoba mencari posisi yang nyaman bagiku untuk tidur. Tubuhku sudah sangat lelah, namun entah mengapa, aku tetap tak bisa tidur. Ada sesuatu tentang malam ini yang membuatku merasa sama sekali tidak nyaman. Aku terus berguling di atas tempat tidur hingga akhirnya menemukan posisi yang cukup enak buatku untuk terlelap.

Aku menutup mataku, namun tak ada perbedaan. Terlalu gelap di dalam kamarku untuk bisa melihat sesuatu. Jadi kupikir butuh waktu bagi mataku untuk terbiasa dengan kegelapan. Aku terbaring di sana, tak bergerak, di tengah malam yang hitam pekat. Tubuhku mulai rileks dan pikiranku kosong, dan aku benar-benar siap untuk istirahat. Namun kesunyian itu seketika musnah dan benakku langsung dibanjiri dengan bayangan menakutkan ketika suara itu terdengar.

Tok ... tok ...

Tak diragukan lagi itu adalah suara sesuatu mengetuk jendela kaca. Tapi tidak, tidak mungkin ada orang yang mengetuk jendela kamarku dari luar! Siapa orang yang hendak membangunkanku malam-malam begini? Berpikirlah dengan logis. Jika seseorang ingin mencuri di rumahku, mengapa ia terlebih dahulu mengetuk jendela? Mereka cukup menyelinap masuk ke dalam rumah dengan sehening mungkin. Mustahil mereka mengetuk!

Tak ada monster di dunia ini. Aku bisa saja menengok ke arah jendela agar membuat hatiku sedikit tenang, namun aku menghadap ke arah yang berlawanan dari jendela Dan jujur, aku takut akan melihat hal yang paling aku takutkan berdiri di luar jendela, memandangiku. Namun, apa itu? Apa mungkin itu hanya burung yang terbang menabrak jendela? Tidak, itu sama sekali tidak realistis. Apakah mungkin ada sekelompok anak yang mengerjaiku malam-malam begini, mengetuk jendela dari luar sambil tertawa terpingkal-pingkal? Mungkin saja. Atau bahkan mungkin ini semua hanya imajinasiku? Mungkin aku mendengar suara angin di luar dan mengasumsikannya sebagai suara ketukan di jendela?

Tok ... tok ....

Tidak, itu jelas bukan imajinasiku! Anak-anak sial itu benar-benar keras kepala. Mereka tidak mau berhenti hingga melihatku bangun karena gusar. Mungkin anak-anak dengan selera humor yang sedikit sakit itu sedang menungguku di luar. Mungkin mereka akan memecahkan kaca jendela dan menyerangku. Tidak! Jangan menjadi paranoid seperti ini! Lagipula, mereka di luar, dan aku di dalam. Hingga aku mendengar suara kaca jendela pecah, aku aman. Monster itu tidak ada. Lagipula, aku belum bergerak sama sekali. Mungkin saja anak-anak itu menganggap aku sudah tertidur lelap dan akan meninggalkanku sendiri.

Tok ... tok ....

Tidak! Itu bukan anak-anak! Tidak ada seorang anakpun yang akan menunggu selama ini untuk mendapatkan reaksi dari seorang pria yang tinggal sendirian seperti aku. Mereka pasti akan bosan dan berpindah ke rumah lain untuk diusili. Namun jika bukan mereka, lalu siapa? Mengapa ada seorang pembunuh yang mau mengincarku? Berpikir logislah! Monster itu tidak ada. Jangan menjadi paranoid. Mereka ada di luar, aku di dalam. Hingga aku mendengar suara jendela yang pecah, aku aman. Namun jika itu bukan sesosok monster atau pembunuh berantai, apa yang menyebabkan suara itu? Mungkin sebaiknya aku berpura-pura tidur dan suara itu akan berhenti dengan sendirinya.

Tok ... tok ....

Oh Tuhan! Aku tak bisa memikirkan suara lain yang lebih kubenci di dunia ini selain suara ketukan di kaca jendela itu! Kumohon pergilah! Biarkan aku sendiri! Sekarang tidak ada harapan. Ia akan masuk ke sini cepat atau lambat dan melakukan hal mengerikan terhadapku. Ambil napas dalam-dalam. Lalu hembuskan pelan-pelan. Aku merasakan detak jantung di dalam dadaku mulai bersantai. Monster itu tidak ada. Ingat, mereka ada di luar. Aku di dalam. Hingga aku mendengar suara kaca jendela pecah, aku aman. Ulangi itu! Jangan biarkan ketakutan menguasaimu! Berpura-puralah tidur dan jangan bergerak sedikitpun.

Tok ... tok ....

Mereka di luar, aku di dalam. Hingga aku mendengar suara kaca jendela pecah, aku tahu aku aman. Monster itu tidak ada. Berpura-puralah tidur dan berdoalah agar ia segera pergi.

Tok ... tok ....

Mereka di luar, aku di dalam. Hingga aku mendengar suara kaca jendela pecah, aku tahu aku aman. Monster itu tidak ada. Monster itu tidak ada! Aku mulai berbisik pada diriku sendiri, �Mereka di luar, aku di dalam. Hingga aku mendengar suara kaca jendela pecah, aku tahu aku aman. Mereka di luar, aku di dalam. Hingga aku mendengar suara kaca jendela pecah, aku tahu aku aman.�

Tok ... tok ....

AKU TAK SANGGUP LAGI! Aku bisa menjadi gila apabila aku terus mendengar suara ketukan ini. Paling tidak jika aku melihat apa yang menyebabkan suara itu, aku akan menjadi sedikit tenang. Ambil napas dalam-dalam, aku mengulanginya untuk sekali lagi, �Mereka di luar, aku di dalam. Hingga aku mendengar suara kaca jendela pecah, aku tahu aku aman.� Aku mengambil beberapa napas dalam lagi, jantungku berdetak amat kencang hingga aku serasa bisa mendengarnya.

Aku perlahan menoleh ke arah jendela.

Jantungku terasa berhenti berdetak dan aku terlalu takut untuk mengeluarkan suara jeritan. Aku menoleh hanya untuk menemukan sesoeok wajah pucat dengan mata hitam kelam menatapku tajam, seakan menelanjangi jiwaku, sambil tersenyum bengis.

Selama ini makhluk itu sudah berada di ruangan ini, sambil mengetuk-ngetuk kaca jendelaku dari dalam.

CREEPYPASTA #18: CANDLE COVE

 

�CANDLE COVE�

Penulis: Kris Straub

  candle cove

Sebuah creepypasta klasik yang menceritakan perbincangan di sebuah forum mengenai sebuah acara televisi yang mereka ingat secara samar2 pada saat mereka masih kecil. Apakah acara itu nyata ataukah ....

 

CERITA INI DIKUTIP DARI SEBUAH FORUM INTERNET

Forum NetNostalgia� Televisi (lokal)

Skyshale033

Subject: tayangan anak2 Candle Cove?

Apa ada yang ingat acara anak2 ini? Namanya kalau tidak salah Candle Cove dan saat menontonnya, aku pasti masih berumur 6 atau 7. Aku tak pernah menemukan referensi apapun tentangnya. Kupikir acara itu tayang di sebuah stasiun TV lokal pada 1971 atau 1972. Aku tinggal di Ironton pada saat itu. Aku tak ingat stasiun yang mana, namun aku yakin tayangnya pada jam 4 sore.

mike_painter65

Subject: Re: tayangan anak2 Candle Cove?

Rasanya tak asing untukku. Aku besar di luar kota Ashland dan umurku sekitar 9 tahun saat 1972. Apa itu acara tentang bajak laut? Aku ingat ada boneka bajak laut di mulut gua berbicara dengan seorang gadis kecil.

Skyshale033

Subject: Re: tayangan anak2 Candle Cove?

BENAR! Berarti aku tidak gila! Aku ingat Bajak Laut Percy. Aku selalu takut dengannya. Ia tampak seperti dibuat dari potongan2 boneka lain, benar2 acara tak bermodal. Kepalanya terbuat dari boneka porselen tua yang kelihatan antik dan tampak tak cocok dengan badannya. Aku tak ingat di stasiun mana acara itu ditayangkan.

Jaren_2005

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Maaf membangunkan lagi thread lama ini namun aku tahu pasti apa yang kau maksudkan, Skyshale. Aku pikir Candle Cove hanya tayang selama beberapa bulan pada 1971, bukan 1972. Aku menontonnya beberapa kali dengan kakakku. Acara itu ada di Channel 58, namun aku tak ingat nama stasiunnya. Kami biasa menontonnya setelah ibuku melihat acara berita. Coba lihat apa aku mengingatnya dengan benar.

Acaranya berlangsung di suatu tempat bernama Candle Cove dan menceritakan seorang gadis kecil yang berimajinasi bahwa dirinya berteman dengan bajak laut. Kapal bajak lautnya bernama Laughingstock dan Bajak Laut Percy bukanlah bajak laut yang jago sebab ia mudah sekali ketakutan. Dan ada musik orgel yang dimainkan terus-menerus sepanjang cerita. Aku tak ingat nama gadisnya, Janice atau Jade.

Skyshale033

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Terima kasih Jaren! Memoriku mengalir kembali saat kau menyebut Laughingstock dan Channel 58. Aku ingat lambung kapalnya terbuat dari kayu dan dicat dengan wajah tersenyum, dengan rahang bawahnya terendam air. Terlihat seperti kapal itu sedang menelan lautan. Dan kapal itu juga bisa berbicara dan tertawa. Aku sangat ingat bagaimana kamera akan berguncang saat mereka mengganti model kapal yang terbuat dari plastik/kayu menjadi versi boneka dengan kepala seperti yang kubicarakan.

mike_painter65

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Ha ha aku juga ingat sekarang. Apa kau ingat bagian ini, skyshale: �Kau harus masuk ... ke dalam.�

Skyshale033

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Uh mike, aku merinding hanya dengan membacanya. Itu saat dimana kapal selalu menyuruh Percy untuk masuk ke dalam tempat menakutkan seperti gua atau ruangan yang gelap dimana harta karunnya disimpan. Dan kamera selalu men-zoom wajah Laughingstock dan kadang2 mem-pause-nya. KAU HARUS MASUK ... KE DALAM! Dengan dua matanya menonjol dan rahang busanya yang membuka menutup. Uh, benar2 terlihat murahan dan jelek!

Apa kalian ingat tokoh penjahatnya? Ia punya kumis melengkung dengan gigi2 yang tajam.

kevin_hart

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Jujur, seingatku tokoh penjahatnya adalah Percy. Aku berumur 5 tahun saat menonton acara ini. Benar2 menimbulkan mimpi buruk.

Jaren_2005

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Bukan, boneka dengan kumis itu bukan penjahatnya. Ia hanya pembantu tokoh jahatnya, Horace Horrible. Ia juga memiliki penutup mata di atas kumisnya. Aku berpikir itu artinya dia punya satu mata.

Namun yeah, penjahatnya adalah boneka lain. Si-Pengambil-Kulit. Aku tak percaya mereka membiarkan anak2 kecil menonton acara itu.

kevin_hart

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Ya Tuhan! Si-Pengambil-Kulit? Acara anak2 macam apa yang kita lihat? Jujur, aku tak bisa menatap ke layar televisi apabila Si-Pengambil-Kulit muncul. Ia tiba2 muncul entah dari mana, tergantung pada benangnya, hanya sebuah tulang belulang kotor yang mengenakan topi bajak laut dan jubah. Matanya terlalu besar untuk kepalanya. Demi Tuhan!

Skyshale033

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Bukankah topi dan jubahnya seperti ditambal gila-gilaan, banyak jahitan dimana-mana. Apa itu maksudnya kulit anak2?

mike_painter65

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Ya, kurasa begitu. Aku ingat mulutnya tidak membuka ke atas dan ke bawah seperti boneka lainnya, namun rahangnya bergeser maju dan mundur. Aku ingat si gadis kecil bertanya, �Mengapa mulutmu bergerak seperti itu?� dan Si-Pengambil-Kulit tidak menatap si gadis namun justru menghadap ke kamera dan menjawab, �UNTUK MENGGILING DAGING KALIAN!�

Skyshale033

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Aku lega ternyata orang lain juga ingat acara mengerikan ini!

Aku memiliki ingatan mengerikan, sebuah mimpi buruk dimana lagu pembuka berakhir, warna hitam mulai luntur, dan semua karakter ada di sana, namun kamera hanya meng-close up wajah mereka, dan mereka semua menjerit. Semua bonekanya bergerak tak karuan dan hanya berteriak, berteriak. Gadis kecil itu hanya merintih dan menangis seakan-akan ia sudah mengalaminya selama berjam-jam. Aku seringkali terbangun tengah malam karena mimpi buruk ini. Bahkan aku dulu seirng mengompol karenanya waktu aku masih kecil.

kevin_hart

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Kupikir itu bukan mimpi. Aku ingat, itu terjadi di salah satu episodenya.

Skyshale033

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Tidak, tidak mungkin! Maksudku, tidak ada plot atau cerita, atau apapun. Mereka hanya menangis dan menjerit selama acara berlangsung.

kevin_hart

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Tidak, aku bersumpah pada Tuhan bahwa aku melihat apa yang kamu gambaran. Mereka hanya berteriak.

Jaren_2005

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Ya Tuhan, ya aku ingat! Gadis kecil itu, Janice, aku mengingatnya gemetar. Dan Si-Pengambil-Kulit menjerit sambil menggertakkan giginya,. Rahangnya bergerak dengan gila2an sehingga aku pikir akan terlepas dari kawat yang menggerakkannya. Aku mematikannya dan itu terakhir kali aku menontonnya. Aku lari memberitahu kakakku dan kami tak memiliki keberanian untuk menyalakannya lagi.

mike_painter65

Subject: Re: Candle Cove local kid�s show?

Aku mengunjungi ibuku hari ini di panti jompo. Aku bertanya apa ia ingat acara bernama Candle Cove saat awal 70-an ketika aku berumur 8 atau 9. Ibuku terkejut aku masih ingat acara itu dan ketika aku bertanya mengapa, ibuku hanya menjawab, �Karena aku pikir aneh dulu kau suka mengatakan, �Aku mau melihat acara Candle Cove dulu, Ma.� Dan kemudian kau hanya menyalakan televisi ke channel tanpa siaran dan hanya menatap layar kosong selama 30 menit. Kau punya imajinasi yang besar tentang acara bajak laut kecilmu itu.�

 

static2

CREEPYPASTA #17: WORLD�S BEST SCHOOL PSYCHOLOGIST

 

�PSIKOLOG SEKOLAH TERHEBAT DI DUNIA�

Penulis: CreepyCarbs

  world_s_best_school_psychologist_by_charcoalman-d6qzm0f

Creepypasta ini bercerita tentang seorang anak yang mengeluhkan perilaku orang tuanya kepada seorang psikolog yang bekerja di sekolahnya. Sang psikolog pun membereskan masalah sang anak dengan cara yang tidak biasa ... bahkan bisa dibilang mengerikan.

Ketika aku berumur 12 tahun, aku mengambil kesimpulan, bahwa seluruh orang di dunia, termasuk keluargaku sendiri, membenciku. Aku bukanlah anak yang bermasalah, namun orang tuaku memperlakukanku seolah aku anak yang nakal.

Sebagai contoh, aku harus tiba di rumah pukul 5 sore setiap hari. Ini jelas mengekang waktu bermainku di luar rumah. Teman2ku tak boleh berkunjung ke dalam rumah dan aku juga tak boleh berkunjung ke rumah temanku. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan rumahku begitu aku tiba di rumah. Orang tuaku juga menolak membelikanku video games dan memaksa aku membaca buku dan kemudian menulis laporan resensi buku itu untuk membuktikan aku benar2 membacanya!

Walaupun semua aturan itu membuatku frustasi saat aku kecil, bukanlah itu yang membuatku merasa sedih. Yang benar2 menyakitiku adalah kurangnya cinta kasih yang ditunjukkan oleh kedua orang tuaku. Ibuku adalah wanita bermulut pahit yang hanya bisa membuatku merasa bersalah atas semua kesalahan yang aku lakukan. Ayahku hanya mengenal satu emosi: frustasi. Satu2nya saat dimana ia berbicara padaku adalah saata ia berteriak kepadaku karena nilai jelek yang kuperoleh.

Cukup tentang mereka, sekarang mari bicarakan psikolog sekolahku. Untuk menjaga privasinya, marilah kita sebut dia Mr. Tanner. Seperti SMP kebanyakan di Amerika, seorang psikolog selalu disediakan pada jam sekolah untuk mendampingi monseling bagi para murid, baik karena masalah emosi, akademis, sosial, perilaku, dan lainnya.

Jujur, aku tak pernah melihat ada murid yang berbicara dengan Mr. Tanner. Setiap hari, aku akan melewati kantornya ketika aku dalam perjalanan ke kantin dan mengintip melalui kaca jendelanya. Ia selalu sendiri di sana, dengan kertas2 pekerjaannya.

Aku menduga anak2 lain terlalu takut untuk membicarakan masalah mereka dengan seorang dewasa yang asing bagi mereka. Untuk alasan ini, butuh 3 minggu bagiku untuk mengumpulkan keberanian untuk menemuinya di kantornya. Pada 2 Maret 1993, akhirnya aku memutuskan untuk membicarakan masalahku pada Dr. Tanner. Selama istirahat makan siang, aku berdiri di depan pintu kantornya dan mengetuk.

Melalui jendela, aku bisa melihatnya mendongakkan kepalanya, tersenyum, dan melambaikan tanganku untuk memanggilku masuk.

Ia menyambutku dengan memperkenalkan dirinya dan menanyakan namaku. Dr. Tanner adalah seorang pria bersuara lembut yang tampaknya selalu memancarkan kebaikan. Kurang dari 30 menit, aku curhat bertele-tele tentang betapa kejam perlakuan orang tuaku dan bagaimana mereka tidak memperdulikanku sama sekali. Setelah beberapa lama, suaraku mulai gemetar dan aku berhenti berbicara. Sang psikolog mendengarkan dengan sabar atas segala perkataanku dengan tangan terlipat sambil sesekali mengangguk. Aku mengira ia akan mulai berbicara bahwa aku salah dan orang tuaku mencintaiku dan bla bla bla .... namun tidak.

Dr. Tanner mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil tersenyum dan berkata, �Kau tahu ... aku adalah psikolog sekolah terbaik di dunia. Aku berjanji akan memperbaikinya untukmu.

�Oke, tapi bagaimana caranya?� tanyaku.

�Aku punya caraku sendiri,� jawabku, �Aku memegang teguh kata-kataku tadi. dalam sebulan, aku berjanji hubunganmu dengan orang tuamu akan berubah, lebih baik. Selamanya.�

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, �Namun, terlebih dahulu kau harus berjanji padaku. Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali ke kantorku besok sepulang sekolah dan jangan katakan pada siapapun tentang percakapan kita hari ini. Ini akan menjadi rahasia kecil kita.�

Aku berjanji.

Hari berikutnya, aku kembali ke ruangan Dr. Tanner sepulang sekolah. Saat itu sudah sekitar jam 4 sore ketika aku memasuki kantornya. Setelah menyambutku dengan hangat, ia memintaku untuk duduk di depan mejanya lagi.

Setelah duduk, aku melihat Dr. Tanner menutup tirai jendela kantornya. �Nah,� ia tersenyum, �sekarang kita memiliki semua privasi yang kita butuhkan.�

Kami mulai berbincang mengenai hobiku, mata pelajaran kesukaanku di sekolah, guru yang paling kubenci, dan lain-lain. Setelah sejam bercakap-cakap, Dr tanner menawariku soft drink.

Aku dengan gembira menerima tawarannya, menimbang bahwa orang tuaku takkan pernah membiarkanku minum soda. Dr. Tannner menjangkau lemari es kecilnya dan menjentikkan jarinya sebentar sebelum menaruh dua kaleng soda dalam keadaan terbuka ke hadapanku.

Sesudahnya, kami melanjutkan percakapan mengenai keseharianku. Namun tidak lama kemudian aku pingsan karena obat yang dimasukkan Dr. Tanner ke dalam minumanku.

Membutuhkan waktu semenit untuk membiasakan pandanganku yang kabur begitu terbangun.

Dan ketika aku telah dapat melihat dengan lebih jelas, aku sama sekali tak menduga hal yang telah terjadi.

Aku diborgol ke sebuah ranjang dan mulutku tertutup oleh lakban. Aku mulai segera panik dan mencoba melepaskan tanganku dari borgol itu, namun percuma.

Mataku membuka tak percaya ketika melihat ke sekeliling ruangan. Ada banyak poster superhero tertempel di dinding, begitu juga foto2 dari atlit terkenal. Di tengah ruangan terdapat sebuah televisi tua dan Super Nintendo, juga berbagai macam kaset video games tertumpuk di sekitarnya.

Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan. Di sini aku berada, dikelilingi semua benda yang setengah mati diinginkan anak2 seumuranku. Aku mungkin akan menangis bahagia jika saja aku bisa melupakan sejenak kenyataan bahwa aku tengah dirantai di sini.

Perutku bergejolak ketika pintu terbuka dan Dr. Tanner masuk ke dalam. Ia kemudian duduk di tepian tempat tidur.

�Sekarang dengarkan,� katanya, �ingat bahwa aku ada di sini untuk menolongmu dan aku takkan pernah menyakitimu, oke?� Dr. Tanner dengan lembut melepaskan lakban dari mulutku dan kemudian membuka borgol di tanganku.

Insting pertamaku adalah mulai menangis, namun ada sesuatu mengenai Dr. Tanner yang membuatku merasa aman. Ia tersenyum kepadaku, �Kamu akan tinggal di sini untuk beberapa lama.� Ia melanjutkan, �Dan selama itu, kamu diperbolehkan untuk memainkan semua permainan yang ada di dalam ruangan ini, namun hanya ketika aku ada di rumah.�

�Ketika aku meninggalkan rumah, aku perlu untuk memborgol salah satu tanganmu di tempat tidur. Kamu masih bisa melihat televisi, namun aku ingin kau hanya menonton channel berita ketika aku tidak ada.�

Aku duduk membisu, masih mencoba memproses semua informasi yang ia berikan kepadaku.

�Jadi,� kata Dr. Tanner sambil menepuk lututku, �Bersantailah, aku akan datang kembali saat sudah tiba waktunya makan malam.�

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke tengah ruangan, dan menyalakan televisi sebelum mengunci pintu di belakangnya.

Beberapa menit berlalu sebelum aku menyadari abhwa Dr. Tanner sama sekali tidak bercanda. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah bermain Nintendo dan bermain Mario hingga malam.

Sekitar pukul 7, ia kembali ke kamar membawa dua piring kentang tumbuk dan potongan ayam. Aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya berapa lama aku akan ada di sini.

�Well, sekitar sebulan.� jawabnya, �Harus ada yang kulakukan terlebih dulu.�

Pagi berikutnya, aku terbangun karena tangan Dr. Tanner mengelus kepalaku. �Hei, teman ... kau tak perlu bangun sekarang jika kau tidak mau, namun aku harus memakaikan ini lagi,� bisiknya sambil memakaikan borgol di pergelangan tanganku dan menguncinya di jeruji tempat tidur.

Aku mendongak menatapnya. Ia mengenakan kemeja dengan jas sambil membawa tas koper. Ia tampak seperti akan berangkat kerja ke sekolah. Sebelum pergi, ia menempatkan remote televisi di dekatku dan menyuruhku untuk menyalakannya dan melihat acara berita.

Hal pertama yang kulihat adalah segmen �Breaking News� dimana beberapa polisi yang tampak berpangkat tinggi berdiri di podium dikelilingi wartawan. Salah seorang di antaranya mulai berpidato.

�Kondisi darurat telah diberlakukan di seluruh penjuru negara bagian pagi ini. Kami telah menempatkan beberapa penyelidik lapangan untuk menangani kemungkinan kasus penculikan. Namun hingga saat ini, belum banyak bukti yang berhasil dikumpulkan. Saksi mata menyatakan bahwa anak ini terkahir terlihat pukul 5 sore kemarin ...�

Aku mulai merasa mual ketika melihat fotoku terpampang di layar. Itu adalah fotoku yang diambil dari buku tahunan sekolahku tahun kemarin. Tulisan pada foto tersebut menunjukkan nama, umurku, sekolah, hingga nama kota tempat tinggalku. Di bawah fotoku tertulis judul �FBI MEMULAI PENCARIAN KORBAN dan PELAKU PENCULIKAN MASIH MISTERIUS.

Tayangan langsung berlanjut dan dua sosok yang langsung kukenali sebagai ayah dan ibuku menanjak naik ke atas podium. Mata keduanya tampak merah. Air mata mengalir deras dari wajah ibuku ketika ia berbicara di depan mikrofon.

Aku tak pernah melihat sebegitu besar emosi mengalir dari dalam ibuku sebelumnya. Ia terisak di depan kamera, terbata-bata saat mengucapkan kalimat seperti, �Tolong kembalikan anakku padaku,� dan �Maafkan aku�, serta �Kembalilah pulang kepada kami.�

Ketika ayahku mengambil mikrofon, aku berpikir ia masih akan sedingin batu, namun air mata juga mengalir dari matanya. Ia memohon kepada dunia agar membawa anaknya pulang dengan selamat dan memohon pengampunanku, �Aku tahu aku tak pernah menjadi ayah yang baik, demi Tuhan aku sangat menyesal. Tolong kembalikan putraku kepadaku!�

Aku mematikan televisi saat itu. Emosiku campur aduk karena tak pernah sebelumnya aku melihat ayahku menangis.

Aku merasa menderita melihat orang tuaku mengalami cobaan seberat itu, namun di saat yang sama, aku merasa lega. Aku sekarang tahu betapa dalam ayah dan ibuku mencintaiku.

Hampir empat minggu berlalu dan Dr. Tanner memperlakukanku sebaik mungkin. Ia meninggalkanku dalam keadaan terborgol sebelum berangkat kerja, namun kembali saat siang untuk makan siang. Ia juga akan menikmati makan malam bersamaku, bahkan bermain games bersama-sama.

Namun pada suatu pagi, saat Dr. Tanner membangunkanku, ia tak tampak seperti biasanya. Wajahnya tampak tegang. Selain itu, aku juga menyadari bahwa ia membangunkanku tiga jam lebih awal ketimbang biasanya.

�Kamu harus melihat berita hari ini, Nak. Tak ada pengecualian. Aku ingin kau memperhatikan televisi seharian dan memperhatikannya!� katanya dengan nada serius.

Tentu tak ada yang bisa kulakukan kecuali melihatnya berjalan keluar ruangan.

Setelah dua jam kemudian, sebuah segmen �Breaking News� memotong sebuah iklan pasta gigi yang kusaksikan. Judulnya.

�JENAZAH DITEMUKAN�

Seorang pembawa acara berwajah tegang ketika ia menyampaikan beritanya.

�Kami dengan sedih memberitakan bahwa pagi ini ditemukan kemajuan dalam kasus penculikan anak sebulan lalu.�

Pembawa berita itu menganggukkan kepalanya dengan sedih sambil membaca kertas-kertas di hadapannya.

�Sisa-sisa jenazah telah ditemukan di dalam kantong sampah di bawah jembatan tol. Diperkirakan bahwa itu adalah jenazah seorang anak, walaupun tak banyak yang tersisa untuk bisa benar2 dipastikan. Kepalanya telah dipenggal sementara sisa-sisa tubuhnya telah dibakar dan hanya menyisakan abu dan tulang.

Gambar beralih ke helikopter, tampak di bawah jalan raya dengan lusinan polisi berkumpul di bawah jembatan. Suara sang pembawa berita masih terdengar,

�Dalam tas polisi menemukan sebuah kartu pelajar berikut ini,�

Layar menunjukkan kartu pelajarku yang selalu kubawa di dalam ranselku. Plastik pembungkusnya tampak meleleh, namun foto dan namaku masih utuh.

Kamera berganti menunjukkan wajah orang tuaku, diapit dua reporter. Wajah ibuku tampak menahan kesakitan yang amat dalam sedangkan ayahku membenamkan kepalanya ke atas kedua lututnya.

Aku mematikan televisi itu.

Dr. Tanner kembali sangat terlambat. Ia segera masuk ke kamarku, membuka borgolku, dan memberikanku sebotol minuman bersoda.

Ia menempatkan kedua tangannya ke pundakku dan tersenyum.

�Aku sudah berjanji kan?�

Aku mengangguk, air mata keluar dari pelupuk mataku.

�Kamu harus berjanji lagi kepadaku,� bisiknya.

Ia mengatakan padaku untuk meminum seluruh isi botol itu � itu akan membantuku tertidur � dan bahwa aku takkan mengatakan apapun, bahkan menyangkal pertemuanku dengannya. Aku setuju.

�Sudah kukatakan, aku adalah psikolog sekolah terbaik di dunia, ya kan?�

Dan ia memang benar.

Aku terbangun malam itu, menemukan diriku terbaring di atas rumput. Bintang bersinar dengan cerah di atas langit malam. Aku mengenali bahwa aku berada di sebuah taman yang tak jauh dari sekolahku.

Aku kemudian mulai berjalan dan menemukan rumahku. Lampu di dalam rumah padam, namun aku masih bisa melihat bayangan ayahku duduk di tangga di depan pintu masuk.

Dengan ragu, aku memanggilnya. Ayahku mengangkat kepalanya dengan perlahan dan begitu melihatku, ia langsung berlari memelukku sambil meneriakkan namaku. Ibuku melakukan hal yang sama begitu keluar dari dalam rumah.

Dr. Tanner benar. Segalanya berubah menjadi lebih baik semenjak itu. Orang tuaku tersenyum setiap saat dan memperlakukanku penuh kasih sayang. Aku tak bisa meminta akhir yang lebih bahagia dari ini.

Sejak hari itu, aku masih sering melihat Dr. Tanner di sekolahku. Kami jarang berbicara, bahkan untuk bertukar pandangan sekalipun. Namun kadang kala, ia akan tersenyum ke arahku.

Aku selalu memegang janjiku padanya dan berpura-pura tak pernah bertemu dengannya. Namun ada satu pertanyaan yang selamanya akan selalu terngiang dalam benakku.

Siapa anak yang Dr. Tanner penggal?