Sabtu, 15 Agustus 2015

RURAL HOUSE: CHAPTER 1

 

RURAL

By Andieta Octaria

 

Sambil menunggu serial Jeff X dipublish, simak dulu ya cerbung pendek berjudul �Rural House� ini. �Rural House� adalah cerbung pendek terbaru karya Andieta Octaria, mahasiswi Bandung yang hasil karyanya �Dream Catcher� juga pernah dimuat di blog. Menurut penulisnya, �Rural House� merupakan cerita yang diangkat dari kisah nyata mengenai pembunuhan yang terjadi di Indonesia. Untuk melindungi nama baik, maka nama dari tokoh dan korban di samarkan. Cerita ini akan terbagi dalam 5 part yang akan diupdate setiap 2 hari sekali. Feedback dari para pembaca semuanya sangat diharapkan!

Selamat membaca.

***

 

Eric menatap Sonia yang duduk membisu di sebelahnya. Sudah berjam-jam Sonia hanya menatap pemandangan di sekitarnya dalam diam. Sonia memang pendiam, namun Eric tahu, ada yang berbeda dari sikap Sonia hari ini.

Semua ini karena lagu sialan itu! Eric memaki dalam hati. Semua baik-baik saja sebelum mereka mendengar lagu itu.

Beberapa hari yang lalu, saat menjemput Sonia pulang kantor, di tengah kemacetan ibu kota, radio memutarkan sebuah lagu yang asing di telinga Eric. Namun tanpa disangka-sangka, lagu itu membuat Sonia bertingkah aneh. Sonia membesarkan volume radio, lalu mulai menangis.

�Kamu tahu lagu ini?�

Sonia hanya mengangguk, tanpa bisa berhenti menangis. Sepanjang jalan, Sonia tak berhenti menangis hingga mereka sampai ke apartemen Sonia. Ia juga tak menjelaskan apapun kepada Eric. Sonia hanya menangis hingga air matanya habis dan matanya membengkak. Namun ia tak menjelaskan sedikitpun apa yang membuatnya menangis.

Eric tak mendengar kabar dari Sonia keesokan harinya, ataupun dua hari kemudian. Semua pesan dan teleponnya tak berbalas. Bahkan ia sudah menghampiri apartemen Sonia langsung. Namun gadis itu seakan menghilang, membuat Eric panik bukan main. Untungnya di hari ketiga, Sonia menghubunginya. Gadis itu meminta Eric untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Tanpa pikir panjang Eric mengiyakan. Maka di sinilah mereka sekarang, menyisakan Sonia yang diam seribu bahasa dan Eric yang pegal luar biasa karena menyetir non-stop berjam-jam.

Eric menatap gadis di sebelahnya. Sejujurnya, tak banyak yang ia ketahui tentang Sonia. Mereka baru kenal beberapa bulan, namun Eric langsung jatuh cinta saat mengenalnya. Sonia yang manis dan pintar. Sonia yang pendiam dan membuatnya terlihat misterius. Ia tak mengetahui mengapa Sonia menangis begitu hebat mendengar lagu itu. Bahkan hingga kini, ia tak mengetahui lagu apa itu. Ia baru menyadari, tak banyak yang ia ketahui tentang Sonia.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah mungil dengan cat putih. Sonia turun, lalu membuka gembok garasi, mempersilahkan mobil Eric masuk. Sonia lantas membuka kunci rumah, lalu duduk di ruang tamu. Eric mengikuti Sonia perlahan, menatap rumah yang kosong.

�Ric��

�Ya?�

�Ada yang mau aku ceritakan.� Sonia menatap Eric lekat-lekat, memastikan pemuda di depannya mendengarkan, �Mungkin kamu belum tahu, aku yatim piatu. Saat aku berusia 12 tahun� keluargaku dibunuh. Saat itu aku sedang mengikuti perkemahan. Semuanya begitu tiba-tiba. Begitu tidak terduga. Saat aku pulang, hanya rumah ini yang tersisa.�

�Kami dulu memiliki pembantu. Arina. Ia masih muda. Bahkan aku masih bisa mengingatnya. Tubuhnya kurus, rambutnya keriting besar-besar. Ia beberapa kali meminjam uang pada papa. Aku tak pernah tahu berapa jumlahnya. Aku juga tak tahu berapa jumlah uang yang dipinjamnya. Namun suatu hari, saat papa menagih uang itu, tiba-tiba ia mengamuk.�

�Ia membunuh papa dan ibu. Ia lalu membunuh kakak dan adik ku yang baru pulang sekolah. Aku tidak pernah mengetahui dengan pasti mengapa. Aku juga tak pernah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi hari itu. Namun saat aku pulang dari berkemah, tak ada yang membukakan pintu. Saat aku masuk ke dalam rumah, yang aku lihat keluargaku lengkap. Hanya saja mereka tak lagi bisa menyapaku.�

�Arina ditangkap tak lama kemudian. Yang kudengar, ia dihukum mati. Namun aku tak pernah tahu. Aku masih terlalu kecil saat itu.� Sonia menutup ceritanya. Tak ada emosi dalam suaranya. Bahkan ia terdengar datar. Seakan menceritakan cerita dari buku yang pernah ia baca, bukan kisah hidupnya.

Eric menelan ludah, tak tahu harus mengatakan apa. Ia menggenggam tangan Sonia, berusaha memahami gadis itu. Berusaha menguatkan. Sungguh, ia ingin hadir di masa lalu Sonia, memeluk Sonia kecil yang kehilangan keluarga. Hadir di saat terberat Sonia. Andai ia bisa memutar waktu. Andai ia tahu.

Diam-diam ia ingin Sonia menangis, atau melakukan apapun, agar ia dapat menenangkan gadis itu. Namun Sonia hanya duduk diam sambil menatapnya. Ia tak dapat menebak apa yang sedang di pikirkan oleh gadis itu. Ia ingin memahami Sonia, namun gadis itu tak memberikan celah untuknya. Mereka berdua terdiam.

�Maaf membawamu jauh-jauh ke tempat ini. Setelah kematian keluargaku, aku tinggal bersama nenek dan meninggalkan rumah ini. Seharusnya rumah ini tidak terurus. Namun dulu papa merupakan salah satu orang yang terpandang di desa ini. Aku dengar, warga tetap merawat rumah ini untuk menghormati mendiang papa.�

�Awalnya aku hanya ingin melihat tempat ini. Namun hari ini cukup melelahkan. Bagaimana bila kita menginap? Aku tidak ingin memaksa kamu untuk menyetir berjam-jam kembali ke Jakarta. Lagipula besok hari Sabtu. Kita bisa pulang pagi-pagi sekali bila kamu mau.�

Eric menyetujui ide itu. Badannya kaku setelah menyetir berjam-jam. Lagipula, mungkin menginap di rumah lamanya akan membuat Sonia kembali ceria. Sungguh, ia akan melakukan apapun untuk membuat Sonia bahagia. Sonia mengajaknya berkeliling rumah.

Rumah itu kecil. Hanya terdiri dari dua kamar dan satu kamar pembantu di bagian luar. Perabotan di rumah itu masih lengkap, meskipun hanya tinggal sedikit. Seluruh bagian rumah di cat putih, seakan diguyur cat. Dinding, pintu, jendela hingga kusen semua berwarna putih polos. Dapur rumah kosong melompong, tanpa kompor ataupun perabotan. Sementara ruang tamu hanya diisi sebuah sofa kumal.

Sonia lantas menunjukkan Eric kamar tidur. Kamar tidur utama hanya diisi tempat tidur dan sebuah meja rias kecil, sementara kamar tidur lainnya hanya berisi sebuah kasur. Eric mempersilahkan Sonia untuk tidur di kamar utama sementara ia tidur di kamar sisanya. Eric selalu membawa selimut di dalam mobilnya, maka ia menurunkan selimut dari mobil dan memberikannya pada Sonia.

Sonia tersenyum, senyum pertama yang ia lihat hari ini. Eric merasa bebannya berkurang setengah saat melihat Sonia tersenyum.

�Terimakasih Eric, selamat malam.�

Eric tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar, diam-diam, Eric mengamati layar handphone-nya. Ia tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Ia mengetahui nama keluarga Sonia, maka diam-diam, ia memasukkan nama keluarga Sonia dalam google. Hanya membutuhkan waktu sepersekian detik hingga pencariannya membuahkan hasil.

Eric terpekik terkejut, perutnya bergejolak menahan mual, tak menyangka akan informasi yang ia dapatkan.

 

TO BE CONTINUED

Jumat, 14 Agustus 2015

JEFF X: THE RISE OF HOMICIDAL LIU � SINOPSIS

 

COMING SOON!

 

JEFF LIU

 

Hi readers! untuk menyambut ultah MBP bulan September depan, maka gue bakal nerbitin cerbung terbaru gue (yang aslinya harusnya gue publish pas bulan puasa kemaren, sayangnya baru bisa bulan ini). Cerita ini pernah gue publish di grup Line, namun detail cerita kali ini bakalan sedikit berbeda bila dibandingkan versi originalnya.

JEFF X: THE RISE OF HOMICIDAL LIU adalah sekuel terbaru Jeff The Killer yang terinspirasi oleh film �Jason X�. Walaupun awalnya gue kepengen menamatkan Trilogi Jeff The Killer di �Triumph of Evil�, namun banyak (terutama di grup LINE) yang menganggap ending yang dialami Jeff kurang memuaskan. Karena itu gue membuat serial bersambung ini untuk benar-benar menamatkan dan memperjelas nasib Jeff The Killer. Cerita ini agak berbeda karena tak hanya bertema misteri dan slasher seperti biasa, namun juga diramu dengan setting fiksi ilmiah yang futuristis.

Di serial ini, Liu terbangun di masa depan dan menyadari ia terdampar di tahun 2465 AD, di atas sebuah kapal luar angkasa bernama Genesis yang akan menuju ke koloni manusia di planet lain. Akan tetapi di tengah perjalanan, kapal mereka dihantam meteor sehingga mengalami kerusakan. Berbagai peristiwa misterius yang menyebabkan para penumpang kapal tewas satu demi satu membuat Liu curiga jika Jeff juga berada di dalam kapal itu.

Cerita ini juga mengandung flashback kejadian di masa lalu Liu pada tahun 2015 dimana ia berubah menjadi �Homicidal Liu�, tepat setelah kematian Jeff The Killer di ending �Triumph of Evil�. Jadi jangan bingung dengan pergantian setting dan tokoh-tokohnya. Cerita ini akan diupdate dalam jangka waktu yang nggak teratur (nggak mesti seminggu sekali seperti cerbung Jeff biasanya). Jadi selalu pantengin blog ini ya, siapa tahu seri lanjutannya sudah keluar. Dan sekali lagi, feedback maupun kritik dari pembaca sangat diharapkan.

 

Enjoy the story.

Rabu, 12 Agustus 2015

Last day in St. Petersburg

On our last day in St. Petersburg we did a boot tour in the river Newa, the Griboyedov canal and the Moyka. This was great to get a glimpse of the city especially all this great buildings on the embankment of the river.

Not to miss when you visit St. Petersburg: The Church of the Savior on blood. The Church contains over 7500 square meters of Mosaic. The colors are great and it feels like you are in a fairytale movie. 

We also visit the oldest market of St.Petersburg where you can get everything you need, from fresh fish to pigheads (ugrr).


Another photo shooting in front of the river Newa with a close up from us to say good bye to this very interesting city. Nevertheless, we are happy to visit Berlin.

Minggu, 09 Agustus 2015

Next day in St. Petersburg

We also visited a great art space in St. Petersburg called Loft Project Etagi. There it felt a little bit like Berlin and we were surprised that they have this space in the middle of the city centre. There was also a small cinema with films in original language, just when we were there, they were showing the great German movie "Victoria"
Hans and Paul even made new friends.

We also visited the main station of St. Petersburg, from there you can reach Moscow in 4 hours. We really liked the picture on the wall with all the destinations, there was Berlin on it :)

Here is a "making of" photo :)

Sabtu, 08 Agustus 2015

DREAM CATCHER - PART 05 (FINAL)

 

By: Andieta Octaria

tumblr_static_tumblr_static_filename_640

�Tidak ada dream catcher di tempat ini � dan tidak ada kutukan yang dapat diubah Nak �� Aku menatap nenek itu dengan bingung. Ia sudah tua, rambutnya yang sudah memutih di gulung rapi di belakang kepalanya. Kaca matanya sepertinya tak lagi bisa membantu pengelihatannya. Ia harus memicingkan matanya untuk menatapku yang berada persis di hadapannya. Umurnya mungkin sudah 80 tahun. Wajar bila nenek ini sudah tidak ingat lagi. Dengan kecewa, aku berbalik meninggalkan toko.

Jangan pernah menggantungnya terbalik. Jangan pernah menggantungnya terbalik. Atau ia akan memakan mimpimu, lalu duniamu! HAK HAK HAK!�

Aku terpaku seketika. Saat aku menoleh, nenek di belakang kasir tadi menatapku tajam. Wajahnya yang keriput tertawa lebar. Tangannya mencengkram menja kasir kuat-kuat. Suaranya yang hangat berubah menjadi kering dan serak. Ia mengulangi kata-katanya tanpa henti, lalu terbahak hingga badannya bergetar. Aku berlari, meninggalkan toko tersebut lalu kembali mengayuh sepedaku.

KIK KIK KIK

Aku sungguh-sungguh bisa mendengar suara tawa makhluk itu. Keringat dingin mengalir. Aku bahkan bisa melihat sosoknya di pepohonan depan. Apakah aku mulai berhalusinasi? Atau aku belum terbangun dari mimpi?

KIK KIK KIK

Suara itu! Tinggi dan nyaring. Aku mengayuh sepeda dengan lebih cepat. Ini pasti mimpi! Aku harus cepat-cepat bangun sebelum makhluk itu datang! Aku bisa merasakan keringatku mengalir membasahi kausku. Kakiku pegal luar biasa, lututku lemas. Telapak kakiku mulai sakit. Namun aku memaksakan diri untuk mengayuh lebih kencang. Aku mengayuh tanpa henti hingga merasa mual.

Aku sampai di rumah dengan terengah-engah. Rumah masih sepi. Pasti ibu dan Haruka belum pulang. Namun rasanya ada yang salah. Aku berjalan perlahan-lahan. Aku mengecek dapur. Kosong. Ada yang salah. Aku tau ada yang salah. Aku berjingkat, memeriksa kamar Haruka. Seperti dapur, kamar Haruka juga kosong.

KRUK KRUK KRUK

SUARA ITU! Suara mengunyah itu terdengar lebih jelas sekarang. Berasal dari dalam rumah, entah dari mana. Ini pasti mimpi! Aku masih bermimpi! Aku cepat-cepat berlari ke kamar tidur, memastikan dream catcher tak lagi tergantung di atas tempat tidur, lalu bersembunyi di dalam selimut, berusaha keras untuk tidur.

***

�Hei Haruka, bukankah ini milik kakakmu, Kei?� Ibu menatap sebuah gantungan dengan bulu burung yang tergeletak di tempat sampah.

�Ya! Sepertinya kakak sangat menyukai benda itu sampai menggantungnya di dekat tempat tidur. Ah, kakak selalu ceroboh meletakkan barang-barangnya!�

Ibu mengambil gantungan itu, lalu masuk ke kamar Kei. Ia menggantung gantungan itu dengan hati-hati agar Kei tidak terbangun, lalu keluar dari kamarnya.

***

Harumi menghapus air matanya. Ia menatap jenazah Kei sekali lagi sebelum di kremasi. Semenjak ia menginap di rumah Kei, Kei tak pernah terbangun lagi. Orang tua Kei sudah melakukan segala cara untuk membangunkan Kei. Mulai dari memasukkannya ke rumah sakit, hingga membawanya ke kuil. Tak ada yang berhasil. Bahkan dokter tidak menemui satupun penyakit dalam tubuh Kei. Namun ia tak lagi membuka mata.

Kemanapun Kei dibawa untuk menjalani pengobatan, ibunya selalu membawa boneka kesayangan Kei dan dream catcher, barang terakhir yang Kei beli. Ibunya ingin ketika Kei membuka mata, barang-barang kesayangannya itu yang pertama Kei lihat. Sudah lima tahun Kei tergeletak di kasurnya. Hanya infus berisi makanan dan cairan yang membuatnya tetap hidup. Di tahun keenam, orang tuanya menyerah. Mereka melepas infus di tubuh Kei hingga akhirnya Kei meninggal dunia.

Kei akan dikremasi bersama boneka dan dream catchernya, lantas abunya disebarkan di laut dekat kampung ibunya. Namun Harumi meminta dream catcher itu untuk ia simpan. Bagaimanapun, Kei adalah teman pertamanya saat baru pindah sekolah. Ia ingin memiliki satu barang yang akan selalu mengingatkannya pada persahabatan mereka. Kei lah yang membuatnya berhenti percaya pada hal-hal berbau mistis. Ia ingin membuktikan pada Kei kalau ia tangguh.

Harumi memegang dream catcher milik Kei, lalu bergegas pulang sebelum tubuh Kei di kremasi. Ia tak bisa menahan tangisnya. Ia berjanji dalam hati, akan selalu mengingat Kei. Ia akan menggantung dream catcher itu di kamarnya, selalu mengingat sahabatnya, Kei, sebelum tidur. Harumi menatap peti mati Kei sekali lagi, lalu melangkah pulang.

***

Aku membuka mata. Apakah ini masih bagian dari mimpi? Ataukah dream catcher itu memang sudah tak lagi berada di dekatku? Tunggu dulu. Dimana ini? Aku menatap ke sekitarku. Gelap. Terlalu gelap disini.

PANAS! Ah! Panas sekali! Ada apa ini? Dimana aku? Aku menatap sekitar. API! Api di mana-mana! Perlahan-lahan, aku merasakan api membakar tubuhku. Aku berteriak sekuat tenaga. Di tengah teriakanku, aku mendengar suara itu untuk terakhir kali,

KIK KIK KIK

 

THE END

Second day in St. Petersburg

On the next day we visited the famous Eremitage

  It is a very impressive museum. It is huge and the rooms are all very beautiful.

 Before you are able to visit the museum you have to stand in line, on an Sunday morning it took one hour ...

 But it is worth it! Because of the great wooden floor we had to leave our high heels at home :) (it is forbidden to enter the museum with high heels and the this is very special in Russia where we mostly saw women wearing them)

 After a couple of hours we were exhausting of walking around and left the building. If you want to see all artworks there you need more than 4 days to visit all 350 rooms.

Whats great about St. Petersburg, too? There are still some old Ladas moving around. My grandpa used to drive one when we were young...


Jumat, 07 Agustus 2015

DRAMA HORROR MBP#2: THE MEETUP

 

THE MEETUP

�The Meetup� adalah hasil karya klub drama MBP yang terinspirasi dari webtoon horor berjudul �Pertemuan Pertama�. Kisah ini menceritakan tiga orang gadis yang memutuskan untuk kopdar untuk pertama kalinya dengan tiga orang pemuda yang mereka kenal lewat chat online. Tak disangka, pertemuan itu berujung malapetaka.

Para pemeran:

Uci Jelly as Son Ga In (Part 1)

Dave Cahyo as Son Ga In (Part 2)

Dimas Arip Setiadi as Dong Tae

Kanti as Kim Hyun Ah

Septien as Choi An Na

Mutyara Ayu as Kang Min Hyuk

Isandi Syahputra as Jung Tae Woo

Tieya Aulia as Do Kyung Soo

Sutradara dan Penulis Naskah: Dave Cahyo

 

ADEGAN 1

Diambil dari sudut pandang orang ketiga (silent readers)

MEETUP PART 1 (1)    MEETUP PART 1 (2)

MEETUP PART 1 (3)    MEETUP PART 1 (4)

MEETUP PART 1 (5)    MEETUP PART 1 (6)

 MEETUP PART 1 (7)    MEETUP PART 1 (8)

 MEETUP PART 1 (10)    MEETUP PART 1 (11)

MEETUP PART 1 (12) 

ADEGAN 2

Diambil dari sudut pandang orang pertama (Son Ga In)

MEETUP PART 2 (1)    MEETUP PART 2 (2)

MEETUP PART 2 (3)    MEETUP PART 2 (4)

MEETUP PART 2 (5)    MEETUP PART 2 (6)

MEETUP PART 2 (7)    MEETUP PART 2 (8)

MEETUP PART 2 (9)    MEETUP PART 2 (10)

 

ADEGAN 3

Diambil dari sudut pandang orang pertama (Son Ga In)

 MEETUP PART 3 (1)   MEETUP PART 3 (2)

MEETUP PART 3 (3)    MEETUP PART 3 (4)

MEETUP PART 3 (5)    MEETUP PART 3 (6)

MEETUP PART 3 (7)    MEETUP PART 3 (8)

MEETUP PART 3 (9)   MEETUP PART 3 (10)

 

THE END