Tampilkan postingan dengan label DREAM CATCHER SERIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DREAM CATCHER SERIES. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2015

DREAM CATCHER - PART 05 (FINAL)

 

By: Andieta Octaria

tumblr_static_tumblr_static_filename_640

�Tidak ada dream catcher di tempat ini � dan tidak ada kutukan yang dapat diubah Nak �� Aku menatap nenek itu dengan bingung. Ia sudah tua, rambutnya yang sudah memutih di gulung rapi di belakang kepalanya. Kaca matanya sepertinya tak lagi bisa membantu pengelihatannya. Ia harus memicingkan matanya untuk menatapku yang berada persis di hadapannya. Umurnya mungkin sudah 80 tahun. Wajar bila nenek ini sudah tidak ingat lagi. Dengan kecewa, aku berbalik meninggalkan toko.

�Jangan pernah menggantungnya terbalik. Jangan pernah menggantungnya terbalik. Atau ia akan memakan mimpimu, lalu duniamu! HAK HAK HAK!�

Aku terpaku seketika. Saat aku menoleh, nenek di belakang kasir tadi menatapku tajam. Wajahnya yang keriput tertawa lebar. Tangannya mencengkram menja kasir kuat-kuat. Suaranya yang hangat berubah menjadi kering dan serak. Ia mengulangi kata-katanya tanpa henti, lalu terbahak hingga badannya bergetar. Aku berlari, meninggalkan toko tersebut lalu kembali mengayuh sepedaku.

KIK KIK KIK

Aku sungguh-sungguh bisa mendengar suara tawa makhluk itu. Keringat dingin mengalir. Aku bahkan bisa melihat sosoknya di pepohonan depan. Apakah aku mulai berhalusinasi? Atau aku belum terbangun dari mimpi?

KIK KIK KIK

Suara itu! Tinggi dan nyaring. Aku mengayuh sepeda dengan lebih cepat. Ini pasti mimpi! Aku harus cepat-cepat bangun sebelum makhluk itu datang! Aku bisa merasakan keringatku mengalir membasahi kausku. Kakiku pegal luar biasa, lututku lemas. Telapak kakiku mulai sakit. Namun aku memaksakan diri untuk mengayuh lebih kencang. Aku mengayuh tanpa henti hingga merasa mual.

Aku sampai di rumah dengan terengah-engah. Rumah masih sepi. Pasti ibu dan Haruka belum pulang. Namun rasanya ada yang salah. Aku berjalan perlahan-lahan. Aku mengecek dapur. Kosong. Ada yang salah. Aku tau ada yang salah. Aku berjingkat, memeriksa kamar Haruka. Seperti dapur, kamar Haruka juga kosong.

KRUK KRUK KRUK

SUARA ITU! Suara mengunyah itu terdengar lebih jelas sekarang. Berasal dari dalam rumah, entah dari mana. Ini pasti mimpi! Aku masih bermimpi! Aku cepat-cepat berlari ke kamar tidur, memastikan dream catcher tak lagi tergantung di atas tempat tidur, lalu bersembunyi di dalam selimut, berusaha keras untuk tidur.

***

�Hei Haruka, bukankah ini milik kakakmu, Kei?� Ibu menatap sebuah gantungan dengan bulu burung yang tergeletak di tempat sampah.

�Ya! Sepertinya kakak sangat menyukai benda itu sampai menggantungnya di dekat tempat tidur. Ah, kakak selalu ceroboh meletakkan barang-barangnya!�

Ibu mengambil gantungan itu, lalu masuk ke kamar Kei. Ia menggantung gantungan itu dengan hati-hati agar Kei tidak terbangun, lalu keluar dari kamarnya.

***

Harumi menghapus air matanya. Ia menatap jenazah Kei sekali lagi sebelum di kremasi. Semenjak ia menginap di rumah Kei, Kei tak pernah terbangun lagi. Orang tua Kei sudah melakukan segala cara untuk membangunkan Kei. Mulai dari memasukkannya ke rumah sakit, hingga membawanya ke kuil. Tak ada yang berhasil. Bahkan dokter tidak menemui satupun penyakit dalam tubuh Kei. Namun ia tak lagi membuka mata.

Kemanapun Kei dibawa untuk menjalani pengobatan, ibunya selalu membawa boneka kesayangan Kei dan dream catcher, barang terakhir yang Kei beli. Ibunya ingin ketika Kei membuka mata, barang-barang kesayangannya itu yang pertama Kei lihat. Sudah lima tahun Kei tergeletak di kasurnya. Hanya infus berisi makanan dan cairan yang membuatnya tetap hidup. Di tahun keenam, orang tuanya menyerah. Mereka melepas infus di tubuh Kei hingga akhirnya Kei meninggal dunia.

Kei akan dikremasi bersama boneka dan dream catchernya, lantas abunya disebarkan di laut dekat kampung ibunya. Namun Harumi meminta dream catcher itu untuk ia simpan. Bagaimanapun, Kei adalah teman pertamanya saat baru pindah sekolah. Ia ingin memiliki satu barang yang akan selalu mengingatkannya pada persahabatan mereka. Kei lah yang membuatnya berhenti percaya pada hal-hal berbau mistis. Ia ingin membuktikan pada Kei kalau ia tangguh.

Harumi memegang dream catcher milik Kei, lalu bergegas pulang sebelum tubuh Kei di kremasi. Ia tak bisa menahan tangisnya. Ia berjanji dalam hati, akan selalu mengingat Kei. Ia akan menggantung dream catcher itu di kamarnya, selalu mengingat sahabatnya, Kei, sebelum tidur. Harumi menatap peti mati Kei sekali lagi, lalu melangkah pulang.

***

Aku membuka mata. Apakah ini masih bagian dari mimpi? Ataukah dream catcher itu memang sudah tak lagi berada di dekatku? Tunggu dulu. Dimana ini? Aku menatap ke sekitarku. Gelap. Terlalu gelap disini.

PANAS! Ah! Panas sekali! Ada apa ini? Dimana aku? Aku menatap sekitar. API! Api di mana-mana! Perlahan-lahan, aku merasakan api membakar tubuhku. Aku berteriak sekuat tenaga. Di tengah teriakanku, aku mendengar suara itu untuk terakhir kali,

KIK KIK KIK

 

THE END

Kamis, 06 Agustus 2015

DREAM CATCHER - PART 04

 

By: Andieta Octaria

1438559507524

 

Aku terpekik, lalu lari secepatnya keluar dari rumah. Aku melihat dengan jelas giginya yang runcing besar-besar mencelat keluar dari bibirnya. Liur hitam pekatnya yang menetes-netes, dan berdesis saat jatuh ke lantai. Dua bolongan hidung yang bergerak-gerak membaui sekitarnya.

Seakan itu belum cukup, matanya membuatmu tak bisa lupa. Dua lubang besar yang seharusnya terisi bola mata digantikan dengan bulatan cermin. Di dalamnya, terdapat pantulan dirimu yang tengah berteriak ketakutan. Kau bisa melihat dirimu yang putus asa di dalam matanya.

Aku berlari tanpa berhenti. Hingga akhirnya, aku terbangun. Bagaimana mungkin ini mimpi! Ini terlalu nyata! Aku mengedarkan padangan ke sekitar. Tak yakin telah bangun dari tidurku. Suara kunyahan masih terngiang-ngiang dalam benakku.

Aku ingat hari ini ibu dan Haruka berangkat lebih awal. Berarti rumah kosong hari ini. Aku tak ingin sendirian di rumah. Mimpi barusan masih terngiang jelas. Aku terlalu takut untuk mengecek kamar orang tuaku atau dapur. Aku bahkan terlalu takut untuk ke kamar mandi. Akhirnya, aku buru-buru mengganti baju, lalu berlari ke sekolah.

Mukaku pasti kusut sekali hingga Harumi menanyakan keadaanku. Aku berbohong dan mengatakan kurang tidur karena kurang istirahat. Namun, aku meminta Harumi untuk menginap di rumahku malam ini.

�Wah! Kau menggantung dream catcher ini di kamarmu! Apa kau menggantungnya secara terbalik? Hal itu bisa berakibat buruk, Kei!�

�Lebih bagus bila di gantung terbalik. Lagipula aku menggantungnya karena menyukainya, bukan karena bisa menangkal mimpi buruk!� aku berbohong.

�Tapi��

�Harumi, aku lelah. Bisakah kita membicarakan hal ini di lain waktu?�

Harumi manatapku, tampak jelas ia ingin membantahnya. Namun aku cepat-cepat menarik selimut, lalu memejamkan mata. Aku bisa mendengar Harumi menghela nafas berat sebelum masuk kedalam selimutnya. Tak berapa lama, kami tertidur. Aku kembali memimpikan hal yang sama. Aku terbangun, dan mendapati rumah yang kosong. Saat akan berjalan keluar, kali ini, makhluk tersebut berdiri di depan pintu. Keringat dingin membasahi wajahku.

Tanpa buang waktu, aku berlari keluar melewati pintu samping. Namun, kali ini makhluk ini mengejarku. Seberapapun cepat aku berlari, ia selalu bisa menyusul dengan kakinya yang panjang. Aku bisa merasakan lidahnya yang panjang menjilat punggungku. Aku bisa merasakan liurnya yang lengket menempel di bajuku. Cairan itu mendesis, dan menguarkan bau busuk. Aku merasa mual. Apakah ini nyata? Ataukah mimpi? Mengapa semua ini terasa begitu nyata?

 

KIK KIK KIK

 

Aku berusaha berlari lebih cepat. Lebih cepat! Lebih cepat! Jantungku memompa tanpa henti. Tiba-tiba, pinggangku dicengkram dengan kuat. Aku merasakan tanah tempatku berpijak menghilang. Sesak!

Aku berteriak.

Tiba-tiba Harumi mengguncang tubuhku keras-keras. Aku terbangun. Ia menatapku panik. Pasti aku berteriak sampai membangunkannya barusan. Aku menjelaskan padanya bahkan aku tidak apa-apa. Hanya sedikit mimpi buruk. Awalnya ia tak percaya, namun sebelum ia sempat berbicara, aku menjelaskan bahwa kemarin ibu marah besar karena ulanganku mendapat nilai buruk dan hal ini membuaku mendapatkan mimpi buruk. Harumi diam saja, mungkin merasa bersalah karena ia mendapat nilai bagus sementara aku mendapat nilai jelek hingga terbawa mimpi.

Ia mengajak untuk belajar bersama, namun aku menolaknya dengan halus. Aku tahu, hari ini Satou memintanya untuk belajar bersama di kedai teh dekat sekolah. Dan meskipun Harumi tak pernah membicarakan perasaannya terhadap Satou, wajahnya selalu memerah setiap Satou mengajaknya berbicara. Sejujurnya aku cemburu. Namun saat ini, aku memiliki masalah yang lebih besar dibanding hubungan Harumi dan Satou. Setelah ia pamit pulang aku buru-buru membuang dream catcher itu ke tempat sampah, lalu mengambil sepeda dan mengayuh ke tempatku membeli dream catcher.

Sepanjang jalan, aku merasa di ikuti. Pemandangan di sekitarku terasa nyata. Namun mimpiku juga sama nyatanya. Ah, aku mulai tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Akhirnya aku sampai di toko itu, lalu bergegas ke kasir. Toko ini masih sama. Masih menguarkan aroma dupa yang menyengat. Aku mengetuk meja kasir dengan tidak sabar, membuat nenek penjaga toko yang tengah menghitung uang di dalam mesin kasir menatap ku.

�Nek! Bagaimana cara membalik kutukan dari dream catcher itu?�

�Dream catcher apa��

�Dream catcher yang aku beli beberapa hari yang lalu! Bagaimana cara menghilangkan kutukannya?�

�Tidak ada dream catcher di tempat ini� �

 

TO BE CONTINUED

Selasa, 04 Agustus 2015

DREAM CATCHER - PART 03

 

By: Andieta Octaria

original

 

Aku terperanjat. Mataku terpaku pada sosok yang duduk di tepi tempat tidur orang tuaku. Mahkluk itu duduk membelakangiku. Rambutnya yang panjangnya yang kusut dan tipis tergerai hingga menyentuh lantai. Tubuhnya kurus bukan main, aku bisa melihat tulang rusuk menonjol dari belakang tubuhnya. Kakinya yang kurus panjang menggantung lemas, dihiasi oleh kuku-kuku hitam keras yang tajam seperti cakar.

Namun bukan itu yang membuatnya tampak mengerikan. Ia duduk diatas genangan cairan merah kental. Ada serpihan-serpihan yang terserak di sekitarnya. Entah apa. Aku mati-matian menahan diriku sendiri untuk menatap pemandangan di sekitarnya. Mulutnya tak berhenti mengunyah hingga tubuhnya bergetar. Tubuhku lemas, jantungku berdetak kencang hingga tak sanggup untuk berteriak. Aku tak bisa menghentikan degupan jantungku yang semakin cepat.

Hingga tiba-tiba aku terbangun. Aku terkejut. Tubuhku lemas luar biasa. Aku bahkan masih bisa merasakan degupan jantungkku yang menggila. Mungkinkah tadi hanya mimpi? Namun semuanya terasa begitu nyata! Aku bahkan seakan masih bisa mendengar suara kunyahan itu dengan jelas. Aku terlalu takut untuk bangun dari tempat tidur hingga ibu akhirnya masuk kedalam kamar membangunkanku.

Sepanjang jalan, aku mencoba melupakan mimpi buruk itu. Hanya mimpi. Kau bukan gadis penakut. Aku mengulang-ulang kata tersebut berkali-kali dalam hati. Di sekolah, aku tak mengobrol dengan Harumi sepanjang hari. Mimpi tersebut masih terasa sangat nyata, bahkan berjam-jam setelahnya. Lagipula, Harumi terlalu sibuk dikelilingi anak-anak kelas kami. Nilai ulangan kami sudah di bagikan dan ternyata Harumi mendapat nilai tertinggi.

Mustahil mendapat nilai sempurna di pelajaran sesusah itu. Mungkin Harumi sedang beruntung. Kini, ia sibuk mengajari anak-anak dengan nilai jelek yang meminta bantuannya untuk mengikuti ujian ulang. Sayangnya, aku adalah salah satu anak dengan nilai paling jelek. Namun aku sedang tak ingin berada di dekat Harumi. Aku tak ingin ia tahu bahwa semalam aku mimpi buruk hingga ketakutan setengah mati. Maka aku memutuskan untuk belajar sendirian. Aku belajar hingga larut malam. Aku tak ingin tidur terlalu lama.

Meskipun aku bermimpi buruk semalam, aku tidak percaya bila hal tersebut ada hubungannya dengan dream catcher yang aku beli. Hal-hal seperti itu pasti hanya sugesti. Aku benar-benar ingin menunjukkan pada Harumi bahwa selama ini ia memercayai hal yang tidak nyata. Mataku terasa berat. Aku memutuskan menyelesaikan belajar, lalu tidur.

Suara dering weker diatas meja membangunkanku. Gawat! Aku selalu bangun sebelum weker berbunyi. Tidur terlalu larut membuatku sulit untuk bangun. Aku ingat hari ini Ibu berangkat lebih pagi bersama Haruka ke acara pertemuan orang tua murid. Pantas saja tidak ada yang membangunkanku.

Aku setengah berlari ke kamar mandi. Lalu, sebelum berangkat sekolah, aku mengambil sarapan di dapur. Namun langkahku terhenti seketika.

Makhluk itu! Makhluk itu berdiri di depan kulkas. Ia berdiri dengan sedikit bungkuk. Tingginya hampir mencapai langit-langit rumah. Suara kunyahan itu lebih keras dari sebelumnya. Rambut tipisnya lengket oleh cairan merah darah. Aku bisa mendengarnya makan dengan rakus. Terdengar suara KRUK, KRUK, KRUK keras setiap kali ia mengunyah. Bau amis menguar di udara. Aroma yang membuat perutku bergejolak dan ingin muntah. Bau ini, bukan hanya bau darah. Ada sesuatu yang lain di antara bau amis dari yang seperti besi. Ada aroma pahit yang menyengat dan aroma sesuatu yang basi. Aroma kehidupan yang menguap.

Lututku lemas seketika. Jantungku berdebar hebat. Aku bahkan bisa mendengar suara degupan jantungku di antara suara kunyahan makhluk itu. Tiba-tiba, suara kunyahan berhenti. Makhluk itu tertawa. Tinggi dan menusuk. Bulu kudukku meremang.

KIK KIK KIK

Aku berjalan mundur perlahan, berusaha membuat sesedikit mungkin suara yang bisa membuatnya melihatku.

KIK KIK KIK

 

 

 

Tiba-tiba, makhluk itu menoleh.

 

TO BE CONTINUED

Minggu, 02 Agustus 2015

DREAM CATCHER - PART 02

 

By: Andieta Octaria

1438559498055

Sesampainya di rumah, aku menggunting tali penggantung dream catcher, lalu kembali mengikatnya dengan terbalik. Aku lantas menggantungkannya di atas tempat tidur. Aku terlalu lelah hari ini, maka tak membutuhkan waktu lama hingga aku jatuh tertidur. Tidak ada apapun yang terjadi! Oke, aku memang tidak bermimpi tadi malam, namun kau juga pasti sering tidur tanpa bermimpi. Ketika kuceritakan hal ini pada Harumi, ia diam saja. Mungkin ia malu mengakui bahwa hantu dan hal-hal mistis itu tidak nyata.

Hari ini aku bermain basket setelah pulang sekolah. Tim kami akan ikut perlombaan antar wilayah bulan depan dan aku luar biasa semangat akan memenangkan pertandingan ini. Maka aku latihan hingga larut malam, dan sesampainya dirumah, aku langsung tertidur, bahkan hingga lupa mengganti baju seragam basket.

Keesokan paginya aku terbangun dengan badan yang terasa kaku. Ah, latihan kemarin pasti menyita seluruh tenaga. Aku bahkan kesulitan untuk bangun dari tempat tidur. Mataku sulit untuk dibuka dan seluruh sendi tubuhku menolak digerakkan. Aku memaksa bangun dari tempat tidur, lalu bergegas berangkat ke sekolah.

Aku sampai terlambat. Sial, aku lupa hari ini ulangan matematika! Bu Umaki selalu mengacak tempat duduk kami sebelum ulangan dimulai untuk mencegah kami mencontek. Aku mencari Harumi. Uh! Beruntung sekali dia! Harumi duduk di paling belakang, tepat disebelah Satou. Sudah menjadi rahasia umum bila Satou adalah cowok idola di sekolah kami. Ia luar biasa keren, namun juga luar biasa dingin. Sungguh sebuah mukzizat untuk bisa dekat dengannya. Dan kini, Harumi duduk persis di sebelahnya!

Sesungguhnya diam-diam aku kesal dengan keberuntungan Harumi. Sejak awal, aku diam-diam menyimpan rasa pada Satou. Aku tergila-gila pada sikapnya yang manis luar biasa tanpa bisa diduga. Belum lagi sikap dinginnya yang membuatnya terlihat tak dapat dijangkau. Ia juga salah satu andalan tim basket sekolah kami. Gerakannya yang lincah dan selalu tepat sasaran menjadikannya maskot basket sekolah kami.

Namun aku memiliki masalah yang lebih berat dibandingkan melihat Harumi dengan Satou. Aku tidak bisa mengerjakan ulangan dengan konsentrasi. Sepanjang hari tubuhku terasa berat. Mungkin aku kurang istirahat. Saat bel pulang berbunyi, aku langsung pulang ke rumah. Aku terlalu lelah, bahkan obrolan Harumi tentang Satou lewat begitu saja di telingaku. Sesampainya di rumah, aku mengganti baju, lalu masuk kedalam selimut. Sebelum jatuh tertidur, aku menatap dream catcher yang tergantung diatas kepalaku sekilas. Huh, mimpi buruk apanya!

Aku terbangun. Badanku tak lagi terasa kaku, sebaliknya, badanku terasa luar biasa ringan. Aku bergegas mandi. Namun rasanya ada yang salah. Sepi. Rumah terlalu sepi. Aku mengecek kamar adikku, Haruka. Namun tak ada siapapun di sana. Aneh, biasanya Haruka baru berangkat sekolah setelah aku pergi.

Tiba-tiba, terdengar suara pelan. Aku mendengarkannya dengan teliti. Suara kunyahan. Seperti ada yang sedang mengunyah dari ruangan sebelah. Namun suara ini terlalu keras. Seakan mengunyah sesuatu yang keras dan besar. Siapa yang sedang makan dengan suara sebesar ini? Atau mungkin lebih tepatnya, apa yang dimakan sehingga menyebabkan suara sebesar ini? Jantungku berdebar kencang. Suara kunyahan itu semakin lama semakin keras. Perlahan, aku berjalan menuju kamar orang tuaku yang berada persis disebelah kamar Haruka. Aku mengatur nafas sebelum membuka pintu. Ini konyol! Aku memaki dalam hati. Aku tidak pernah takut hantu!

Maka perlahan, aku membuka pintu kamar.

 

TO BE CONTINUED

Jumat, 31 Juli 2015

DREAM CATCHER - PART 01

 

By: Andieta Octaria

  25012-Dreamcatcher

�Dream Catcher� adalah sebuah cerbung pendek yang hanya terdiri atas 5 chapter. Ceritanya didasarkan pada sebuah jimat Indian berbentuk lingkaran dengan jala bermotif di tengahnya serta ekor burung dan manik2 menggantung di bawahnya. Dream catcher dipercaya penduduk asli Amerika dapat �menyaring� mimpi buruk, sehingga dapat melindungi pemiliknya di kala tidur.

Cerbung ini (bersetting di Jepang) menceritakan tentang Kei, seorang gadis yang tak percaya akan takhyul dan membeli sebuah dream catcher, tanpa mempedulikan peringatan yang menyertainya. Sejak saat itu, dia selalu dihantui sesosok makhluk mengerikan. Cerita ini mengingatkan gue dengan �Real�, salah satu cerbung dari Okaruto yang pernah gue muat di sini.

Cerbung ini merupakan original story bikinan Andieta Octaria, seorang mahasiswi dari Bandung sekaligus salah satu member setia grup Line gue.

Silakan nikmati ceritanya dan feedback dari pembaca sangatlah diharapkan.

***

Aku tidak pernah percaya hantu. Maksudku, umurku 17 tahun bulan ini, terlalu tua untuk percaya hal-hal seperti itu. Hantu hanyalah cara orang tua untuk menakuti anak-anaknya agar tidak pulang larut malam. Berbeda dengan temanku, Harumi. Semenjak pindah ke sekolahku minggu lalu, Harumi belum banyak mendapat teman. Meskipun baik hati, Harumi sangat pemalu. Ia bahkan hampir tidak pernah menatap langsung ke mata lawan bicara saat mengobrol.

Namun bukan itu yang membuatku terganggu. Harumi terlalu penakut dan percaya hantu. Ia juga terlalu percaya dengan takhayul di sekitarnya. Hal ini terkadang membuatku gerah. Ia selalu memilih tempat duduk di sebelah kanan, karena menurutnya sebelah kiri tidak baik untuknya. Ia menghindari angka empat karena menurutnya angka tersebut melambangkan kematian. Dan masih banyak hal-hal aneh yang Harumi lakukan ataupun takuti.

Awalnya aku mebiarkan Harumi dan segala kepercayaannya tersebut. Namun lama kelamaan, hal itu mulai menggangguku. Harumi bahkan selalu memintaku untuk menemaninya ke kamar mandi karena ia terlalu takut akan letak cermin di kamar mandi yang menurutnya dapat menjadi gerbang ke dunia lain! Hingga pada akhirnya, aku mengajak Harumi ke toko yang menjual barang-barang mistis untuk membuktikan bahwa hal-hal seperti itu tidak ada.

Toko ini cukup terkenal, meskipun letaknya cukup terpencil. Kau harus berjalan kaki cukup jauh dan masuk kedalam gang untuk menemukan toko ini. Yang kudengar, toko ini tidak hanya menjual barang-barang gaib, namun juga kertas mantra dan jimat. Hampir semua temanku pernah ke toko ini sebelum ujian, mencari jimat atau mantra. Aku hanya tertawa melihat teman-temanku sibuk merapal jimat sebelum ujian. Tak pernah kubayangkan suatu hari aku juga akan menginjakkan kaki di toko ini.

Aku masuk perlahan-lahan, lalu mulai mengelilingi toko. Seakan ada udara yang berbeda di dalam toko ini. Udara seakan lebih tipis. Mungkin karena dupa yang di pasang di bagian belakang toko. Entahlah, pasti ada penjelasan yang logis mengenai hal ini. Di belakangku, Harumi mulai tampak tertarik. Ia menatap sekelilingnya dengan penasaran. Aku membiarkannya berkeliling. Tiba-tiba, tatapanku tertuju pada sebuah benda yang tergantung di dekat meja kasir. Aku berjalan mendekat.

Sebuah dream catcher.

Dream catcher ini dilapisi oleh kulit berwarna coklat tua. Di bagian tengah lingkaran, terdapat jalinan benang yang membentuk pola seperti jaring laba-laba, dengan beberapa manik-manik kayu persis di tengahnya. Di bagian bawah, tergantung beberapa helai bulu binatang. Sepertinya bulu burung tropis. Aku belum pernah melihat bulu-bulu seperti ini sebelumnya. Bentuknya seperti bulu ayam, namun dengan warna-warna kusam dan berbintik putih, cantik sekali. Aku mengangkatnya perlahan. Cukup berat. Pasti dream catcher ini terbuat dari besi, lalu dilapisi dengan kulit sapi.

�Itu untuk menangkal mimpi buruk, nak!� aku terkejut. Dari balik kasir, muncul seorang nenek yang tersenyum ramah padaku. Huh bagaimana mungkin benda ini bisa menangkal mimpi. �Mungkin sekarang kau tidak percaya. Namun benda ini lebih kuat dari yang kau kira. Selama kau tidak menggantungnya secara terbalik, tidurmu akan selalu dipenuhi mimpi indah.� Aku kembali terkejut. Nenek ini seperti bisa membaca pikiranku. Namun aku cepat-cepat menutupi rasa terkejutku dan berusaha tersenyum semanis mungkin. Menangkal mimpi apanya?

�Kau membeli dream catcher? Aku membeli kaki kelinci ini untuk keberuntungan!� Aku menatap Harumi dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin ia percaya kaki kecil kumal di tangannya bisa membawa keberuntungan! Aku memang pernah mendengar cerita mengenai kaki kelinci yang dapat membawa keberuntungan bagi pemakainya. Aku hanya tidak percaya, aku memiliki teman yang mempercayai hal itu.

Aku benar-benar harus membuktikan pada Harumi bahwa hal kekanak-kanankan seperti ini tidak nyata. Mungkin ada baiknya bila aku membeli dream catcher ini dan membuktikan bahwa benda kecil ini tidak memiliki kekuatan apa-apa. Aku cepat-cepat membayar dream catcher, tidak sabar untuk membuktikan pada Harumi bahwa hal-hal seperti ini tidak nyata. Sudah saatnya Harumi menjadi dewasa dan percaya pada apa yang dapat dijelaskan logika.

 

TO BE CONTINUED