Jumat, 03 Januari 2014

URBAN LEGEND #14: LAUNDRY NIGHT

 

LAUNDRY NIGHT

MALAM MENCUCI

 

Anna adalah gadis manis berusia 17 tahun. Ia keluar dari kamar apartemen keluarganya, memegang sebuah keranjang cucian berwarna ungu, penuh dengan pakaian kotor ibunya. Ia berjalan menuruni tangga menuju satu-satunya mesin cuci yang bekerja di gedung berlantai dua itu. Ia memiliki sedikit uang receh di kantong celana jeans birunya, sekitar $ 1,25 untuk cuciannya. Ia menaruh semuanya di dalam mesin cuci sambil mengigit bibirnya, berharap benda ini tak rusak seperti saat terakhir kali ia menggunakannya. Mesin itu bekerja. Cuciannya tampak berputar-putar di dalamnya, mengeluarkan suara deruman di tengah keheningan malam. Dia berjalan kembali ke kamar apartemennya sambil melihat sekeliling. Entah mengapa, ia merasa ada yang aneh dengan semua keheningan ini. Saat itu pukul 7.22 malam.

Pukul 8.15 malam, ia kembali dan mengeluarkan cuciannya. Ia mematikan mesin cuci tua itu dan berganti menyalakan mesin pengering. Kali ini ia bahkan bertambah takut. Suasana di luar gelap gulita dan tak sedikitpun terdengar suara dari penghuni apartemen yang lain. Ini sangatlah ganjil. Dia melirik ke arah pintu yang tadi ia lewati. Ia terkejut ketika ia merasa melihat sebuah bayangan hitam di belakang pintu itu. Padahal seharusnya tak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Ia segera berjalan kembali ke kamarnya, kali ini dengan langkah tergesa-gesa.

Pukul 9.30 malam. Ia tahu seharusnya dia tidak kembali lagi ke sana malam itu, namun tak ada pilihan lain. Ia harus mengambil kembali cuciannya. Walaupun merasa ketakutan, ia mencari bayangan hitam itu di pintu dan lorong yang ia lewati. Namun ia tak melihat apapun. Mungkin saja ia hanya berimajinasi tadi. Rasa takut masih membanjiri hatinya. Jantungnya bergedup amat kencang. Langkahnya terhenti. Ia seperti melihat sesuatu mengawasinya. Apa itu?

Tak ada. Tak ada apapun di sana. Ia berusaha meyakinkan dirinya dan kembali ke kamarnya. Seharusnya ia tak perlu khawatir. Tak ada hantu menakutkan yang bersembunyi di lorong apartemennya. Tak ada monster mengerikan yang menunggu untuk menerkamnya. Tak ada pembunuh yang mengintainya di balik pintu. Hanya ada kegelapan malam. Dan aku.

*Jika belum mengerti makna cerita ini, baca baik-baik kalimat terakhir*

URBAN LEGEND #12: TALES FROM SECURITY GUARD

 

TALES FROM SECURITY GUARD

CERITA SEORANG SATPAM

 

Aku sudah menjadi satpam selama 7 tahun dan aku sudah bekerja di banyak tempat untuk berbagai klien. Namun pekerjaan paling singkat yang pernah kujalani adalah satu shift saja. Ini terjadi ketika aku masih tinggal di Maryland. Aku mendapatkan shift malam di hari pertamaku bekerja. Tugasku adalah mengawasi monitor CCTV di Rumah Sakit Jiwa St. Elizabeth di Washington DC. Mudah sekali, sebab tak ada yang terjadi malam itu. Aku hanya tinggal duduk2, menikmati kopi di ruanganku, sambil tetap mengamati layar monitor.

Semua staf dan pasien sepertinya sudah lelap tertidur. Yah hampir semua, sebab beberapa suster masih tampak masih lalu lalang. Kemudian ada pasien di kamar 19 yang masih saja belum tertidur. Ia adalah seorang pemuda, namun postur tubuhnya seperti orang tua. Ia selalu membungkuk dan menggerakkan tubuhnya maju mundur. Kadangkala ia berhenti untuk mencakari pintu kamarnya, sebelum akhirnya berlari-lari mengelilingi ruangan. Pemuda yang malang, pikirku. Jam 2 malam, akhirnya pemuda itu tertidur.

Supervisorku akhirnya datang ketika fajar tiba. Itu saat pertamaku bertemu dengannya dan ia nampak seperti pria yang baik. Ia bertanya bagaimana pendapatku tentang pekerjaan baruku.

�Pekerjaan ini enak,� jawabku, �Walaupun rumah sakit ini agak menakutkan.� kataku sambil tertawa.

Jawabannya takkan pernah kulupakan seumur hidupku.

�Ya, rumah sakit jiwa ini memang semakin menakutkan setelah dibiarkan kosong bertahun-tahun lalu.�

***

URBAN LEGEND #13: FEAST

 

FEAST

JAMUAN MAKAN

 

Seorang tetangga datang kepadaku malam itu dan membawa seekor anjing hidup, untuk makan malam katanya. Jamuan makan malam itu sangatlah lezat. Dagingnya sungguh enak dan dimasak setengah matang seperti seleraku. Dagingnya juga empuk sekaligus renyah berkat bumbu-bumbu yang kuberikan. Semuanya benar2 sempurna, aku tak pernah makan daging seenak ini. Aku memilih potongan daging terbaik untuk diriku sendiri, namun aku memutuskan untuk tidak egois.

Aku melemparkannya untuk anjing itu. Aku senang ia menikmatinya seperti aku.

***

URBAN LEGEND #10: OUT OF BODY EXPERIENCE

 

OUT OF BODY EXPERIENCE

PROYEKSI ASTRAL

 

Apakah kamu pernah mengalami perngalaman keluar dari tubuhmu dan rohmu melayang-layang menyaksikan dirimu sendiri tertidur?

Aku pernah. Pengalaman itu tidaklah menakutkan seperti yang dibayangkan orang.

Yang menakutkan adalah menyadari bahwa kau bukanlah satu-satunya yang sedang memperhatikan tubuhmu tertidur.

***

URBAN LEGEND #11: DOWNSTAIRS

 

DOWNSTAIRS

DARI BAWAH TANGGA

 

�Saatnya berangkat sekolah. Ayo turunlah!� seru ibuku dari lantai bawah.

Aku tak menjawab.

Apapun yang baru saja memanggilku tak tahu jika ibuku sudah meninggal tiga tahun lalu.

***

URBAN LEGEND #9: NO ACCOUNTING FOR TASTE

 

NO ACCOUNTING FOR TASTE

SELERA ORANG BISA BERBEDA

 

Aku mulai memiliki masalah serius dengan teman-teman kerjaku yang baru. Aku sudah mencoba membicarakannya dengan orang tuaku. Mereka mengatakan ini hanya �culture shock�, yang menurutku sangat mungkin, sebab ini adalah pekerjaan pertamaku. Belum lagi sejak kecil, aku selalu �homeschooling� sehingga aku mengakui memang kurang bersosialisasi. Ditambah lagi orang tuaku cukup overprotektif. Namun lama-kelamaan, perilaku teman2 kerjaku ini mulai sangat mengangguku, bahkan membuatku takut.

Maksudku, bukannya teman2ku ini hantu atau monster menakutkan. Bukan seperti itu. Mereka tampak seperti orang normal dan selalu ramah terhadapku. Ketidaknyamananku berasal dari apa yang mereka makan. Setiap hari pukul 12 siang, mereka selalu beristirahat untuk makan siang. Namun aku selalu saja makan sendirian di kubik-ku dan tak pernah bergabung dengan mereka. Sebab aku selalu takut dengan apa yang mereka makan.

Aku pernah menyelidikinya. Aku kadang mengendap-ngendap untuk mencium bau daging yang mereka bawa dari rumah. Bahkan aku pernah sampai mengubek-ubek tempat sampah untuk mencari bekas2 tulang yang tadi mereka santap.

Ketika aku sampai di rumah, selalu saja pertanyaan ini berkecamuk dalam diriku.

Mengapa makanan mereka tak menjerit ataupun menangis seperti makananku?

***

(FOTO) 2013: (SEMAKIN) BANYAK TRAVELING

Tahun 2013 merupakan tahun yang penuh dengan berbagai kejutan dan tekanan tingkat dewa yang bikin saya kalang kabut dan sempat depresi juga. Mulai dari pekerjaan, teman, hingga keluarga. Namun salah satu hal yang paling saya ingat tentu saja tahun 2013 ini merupakan tahun dengan rekor traveling paling banyak dari tahun-tahun sebelumnya.
Hmm.. Jadi saya kemana saja selama tahun 2013???