Tampilkan postingan dengan label RESORT SERIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESORT SERIES. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Agustus 2014

RESORT PART 15 � FINAL

 

Ia meninggalkan kami yang terpaku dalam kebingungan dan kembali menemui para biksu yang berada di ruangan dimana Makiko disekap.

�Apa ini semua belum selesai?� pikiranku berkecamuk dalam rasa takut. �Bagaimana jika ini memang takkan pernah bisa berakhir?�

Beberapa biksu datang dan kami sudah tahu apa yang akan mereka katakan. Kami akan mengulangi upacara tadi malam sekali lagi. Untunglah, kami tak diwajibkan untuk kembali ke ruangan mengerikan tempat kami menghabiskan malam saat itu. Kami disuruh mengadakan upacara itu kembali di ruangan ini, di kuil utama.

Suasana ruangan ini sangatlah berbeda dengan tempat kami berada malam tadi. Suasananya lebih nyaman. Dan lagipula, terdengar suara alunan dari para biksu yang berjaga di luar, sehingga kami merasa tenang mengetahui kami tak sendirian.

Peraturannya sama, kami tak boleh makan, minum, berbicara, maupun tidur selama malam itu. Semuanya kini terasa lebih mudah untuk kedua kalinya. Tanpa kami sadari, malam berlalu dengan cepat, dan pagipun menjelang.

Kami semua sangat mengantuk, namun lega ketika sang biksu masuk dan memberitahukan berita baik kepada kami. Ia mengatakan bahwa upacara kami telah selesai dan tak terjadi apapun semalam. Ini berarti hanya satu dari makhluk-makhluk itu yang �terikat� kepada kami dan ia telah benar-benar hilang sejak upacara tadi malam.

Kami sangat lega. Namun sebelum kami diperbolehkan pulang, ia mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menemui kami.

Kami sangat terkejut melihat siapa orang itu.

Ternyata itu Ryuichi. Wajahnya sangat pucat dan ia membungkuk, meminta maaf pada kami. Semula kami memang sangat marah pada istrinya. Namun sekarang setelah melihat keadaannya, kami justru merasa iba. Kami juga merasa ini bukan salah Ryuichi. Bahkan ia sudah berusaha untuk menolong kami hingga sejauh ini.

Aku mulai mengerti apa yang terjadi. Ritual yang ia lakukan sepertinya sama dengan ritual yang dilakukan para ibu yang kehilangan anak mereka di laut itu. Namun mungkin ia mendengarnya secara samar dan dalam kesedihannya yang mendalam, iapun dengan putus asa mencobanya. Namun ia melupakan hal utama dari ritual itu.

Seharusnya sang anak yang membawa tali pusar itu, namun justru Makiko yang masih menyimpannya. Ini sebabnya, mungkin apa yang ia panggil bukanlah anaknya, melainkan �sesuatu� yang lain. itu sebabnya, ia tak mengenali Makiko sebagai ibu mereka, bahkan justru menganggap kami sebagai ibunya.

Aku mulai bisa merasakan apa yang dirasakan Makiko saat itu. Rasa pedih akibat kehilangan seseorang yang dicintainya. Aku mulai mengerti alasan tindakannya, walaupun tentu saja itu tak bisa dibenarkan.

Setelah menerima permintaan maaf Ryuichi, kamipun berpamitan dengan sang biksu dan juga orang-orang lain yang telah membantu kami selama berada di kuil. Sekali lagi, sebelum melepas kami, sang biksu meyakinkan kami bahwa kami sudah aman dan tak ada yang perlu kami khawatirkan lagi.

Pria separuh baya yang kami lihat saat kami pertama tiba di kuil ini memutuskan untuk mengantar kami hingga ke stasiun. Ternyata ia adalah pria yang sangat gemar mengobrol. Ia menceritakan banyak hal kepada kami, tanpa peduli kami mendengarkannya atau tidak. Kebanyakan yang ia bicarakan adalah mengenai hal-hal yang menimpa kami.

�Seorang anak memakan orang tuanya...� ia pasti berbicara mengenai tragedi bertahun-tahun lalu, �Seperti seekor laba-laba bukan?�

Ia tertawa, �Pokoknya jika kalian dewasa nanti, jangan sekali-kali coba ritual itu. Atau jika tidak, tanggung sendiri akibatnya!�

Aku belajar satu hal dari bapak yang banyak omong ini.

Bahwa selama ini sang biksu telah berbohong pada kami.

Ia menyembunyikan kebenaran dari kami. Ia mengatakan pada kami bahwa ia tak tahu menahu mengenai ritual itu dan satu-satunya sumber adalah catatan dari nenek moyangnya.

Dari cerita bapak yang mengantar kami ini, kami berkesimpulan lain.

Baik ritual maupun hasilnya diturunkan secara turun menurun di daerah ini. Semua orang di kawasan ini mengetahuinya.

Bahkan mungkin mencobanya.

Dan membuatku bergidik membayangkan. Anak-anak yang ada di sini ... apakah ada di antara mereka yang berasal dari ritual itu?

Pria paruh baya tersebut menurunkan kami di stasiun. Di sana, kami hanya terdiam menanti kereta sambil bertanya-tanya, apakah semua yang diceritakan sang biksu juga adalah kebohongan?

Sejak kami kembali ke Tokyo, tak pernah terjadi sesuatu yang aneh kepada kami. Suatu hari, kami bertiga kembali berkumpul, bernostalgia merenungkan kejadian mengerikan itu.

�Aku takkan mau kembali ke sana.� Kata Shoji. Kami semua setuju. Ya, pengalaman itu memang cukup membuat kami trauma.

Bahkan sejak peristiwa itu, Shoji sangat ketakutan apabila melihat laba-laba. Aku tak bisa menyalahkannya. Aku sendiri sekarang sudah lulus kuliah dan bekerja. Namun sejak pengalaman itu, aku menjadi sangat takut akan gelap.

Hingga suatu hari, aku menjadi sangat penasaran. Apa yang terjadi dengan hotel itu? Apa tempat itu masih ada? Bagaimana kondisi Makiko dan Ryuichi saat ini?

Terutama, aku ingin tahu bagaimana kondisi Misaki sekarang.

Akhirnya, tanpa memberitahu kedua temanku, aku memutuskan menelepon hotel itu. Terdengar suara seorang wanita yang tidak kukenal di seberang telepon.

Namun yang tak bisa kulupakan, terdengar suara seperti kaokan burung gagak di belakangnya.

Sayup-sayup mulai kudengar pula suara desahan napas ....

� ........... huuuuuuuuuh ...................... huuuuuuuuuuuh ............�

Kemudian terdengar suara bisikan di telepon �

�.......... ibuuuuuu .........apa itu kaaaaaauuuuuuu?

Aku segera menutup telepon itu.

 

TAMAT

Sabtu, 26 Juli 2014

RESORT PART 14B

 

�Para biksu kemudian membuka pintu kuil untuk memeriksa keadaan sang ibu. Namun di dalam ia sangat kelelahan, menghabiskan sepanjang malam berteriak mencari anaknya. Ia segera mendapatkan perawatan, namun ketika ia bangun, mereka menyadari bahwa ia sudah kehilangan kewarasannya. Mungkin karena ia harus kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya, atau mungkin karena pengalaman mengerikan yang ia alami, tak ada yang bisa tahu secara pasti.�

�Sedangkan untuk wanita yang pertama, para penduduk desa mencarinya sepanjang malam. Keesokan harinya, mereka akhirnya menemukan jasadnya dalam kondisi yang sangat menggenaskan. Tubuhnya tergeletak di tepi pantai dalam kondisi tercerai berai. Seolah-olah ada sesuatu yang mencoba memakan tubuhnya. Akan tetapi wajahnya terlihat bahagia. Aku tak tahu apa yang terjadi. Catatan nenek moyangku hanya mengatakan. �Walaupun ia dimangsa anaknya sendiri, namun ia tersenyum di saat terakhirnya��.

Cerita itu memang sangat sukar dicerna, namun perlahan kami mulai bisa mengerti apa yang ia coba ceritakan pada kami.

�Para penduduk desa sepakat untuk menghancurkan rumah wanita itu. Dalam prosesnya, mereka menemukan catatan yang ia tulis. Catatan itu dibuat oleh wanita itu untuk menggambarkan perkembangan anaknya setelah ritual itu selesai. Bunyinya kira-kira seperti ini ...�

Hari 1: Mulai mempersiapkan kuil.

....

Hari ke-29: Tak ada perubahan.

....

Hari ke-37: Ia sudah pulang.

Hari ke-39: Ia sulit untuk bergerak.

Hari ke-45: Ia menumbuhkan kaki.

Hari ke-49: Ia mulai merangkak.

Hari ke-51: Ia bergerak dengan empat tangan dan kakinya.

Hari ke-54: Ia mulai berbicara

Hari ke-58: Ia bisa berdiri.

�Apakah Makiko juga melakukannya?� tanya Shoji tajam.

Kami semua menatapnya.

�Makiko ... ia melakukan ritual yang sama kan?�

Biksu itu menghela napasnya, �Kau benar, Makiko sebenarnya tak berasal dari desa ini. Ia baru pindah ke sini setelah menikah dengan Ryuichi. Mereka memiliki seorang anak laki-laki. Bahkan mungkin anaknya itu kini mungkin seumuran dengan kalian. Tapi ...�

Kami sudah bisa menduga kelanjutan cerita itu.

�Suatu hari, beberapa tahu lalu, anaknya menghilang setelah bermain ke pantai. Seluruh desa mencarinya, namun ia tak pernah ditemukan. Ryuichi mencoba membuat istrinya melupakan kesedihannya dengan mengubah rumah mereka menjadi hotel sehingga banyak anak-anak berkunjung ke sana saat musim panas. Bahkan hotel itu menjadi terkenal dan semua orang mengira Makiko telah melupakan kesedihannya.�

�Namun entah bagaimana, Makiko mendapatkan informasi mengenai ritual itu dan mencoba mempraktekkannya. Ia menciptakan makhluk yang hampir merasuki kalian. Namun entah mengapa, makhluk itu justru mengira kalian-lah ibunya, bukan Makiko.�

Biksu itu kemudian menceritakan bahwa ini mungkin karena Makiko melupakan satu hal yang penting. Saat meninggal, anaknya tidak sedang membawa tali pusarnya bersamanya. Makiko tidak mengetahuinya dan itulah yang membuat ritualnya berbeda dengan ritual yang seharusnya.

�Aku juga ingin meminta maaf meninggalkan kalian di kuil sendirian malam itu. Namun selain menyelamatkan kalian bertiga, aku juga harus menyelamatkan Makiko. Sama seperti kalian, nyawanya juga dalam bahaya. Kami semua tadi malam menguncinya di kuil utama, seperti yang dilakukan nenek moyangku saat hal ini pertama terjadi. �

Tiba-tiba Shoji berdiri. Dengan gemetar marah, ia menatap sang biksu dengan tajam, �Kalian melindunginya? Untuk apa? Jelas-jelas ia hampir membuat nyawa kami terancam! Dia hendak mengorbankan nyawa kami untuk menghidupkan kembali anaknya!�

Sang biksu itu mencoba menjelaskan, namun kali ini Takumi mencoba mendukung Shoji, �Dimana perempuan itu! Katakan kepada kami!�

Biksu itu tampak terkejut dengan reaksi kedua temanku itu. Aku hendak berusaha menenangkan Shoji dan Takumi ketika melihat sang biksu itu dengan wajah teduh dan suara sabar menjawab,

�Baiklah. Aku akan membawa kalian pada Makiko. Biarlah kalian menilainya sendiri.�

Dia berdiri dan berjalan keluar kuil. Kami bertiga mengikutinya. Pertama, kami mengira ia akan membawa kami ke aula kuil utama, namun ia justru berjalan menuju sebuah bangunan kecil, tepat di luar kuil utama. Ketika kami semakin dekat dengan bangunan itu, kami mendengar suara erangan yang keras serta suara alunan orang-orang yang membaca kitab suci. Juga terdengar suara �Bang! Bang!� yang amat keras.

Kami bertiga berdiri di luar bangunan itu dan menyadari bahwa suara-suara itu berasal dari dalam bangunan tersebut. Aku takut tentang apa yang akan kami lihat di dalam sana.

Sang biksu membukakan pintu dan kami melihat beberapa biksu bersila mengelilingi Makiko. Tak ada satupun dari kami yang berani bersuara saat kami melihat kondisinya.

Dia sedang ... aku tak tahu cara mengatakannya ... meringkuk? Seperti seekor udang. Aku tak bisa menjelaskannya dengan baik, namun ia sedang berbaring di lantai sambil melengkungkan tubuhnya dan menggeliat tak terkendali. Aku tak pernah melihat manusia melakukan hal seperti itu sebelumnya. Sesekali ia mengeluarkan suara seperti tangisan yang sangat menyayat hati.

Aku bahkan tak tega untuk melihat wajahnya. Kami hanya terpaku di sana.

�Ia sudah seperti ini sejak tadi pagi.� kata sang biksu dengan sedih, �Dan mungkin akan tetap seperti ini sepanjang sisa hidupnya ...�

Satu-persatu, kami bertiga meninggalkan ruangan itu. Kami tak bisa melihatnya dengan kondisi seperti itu. Sangat sulit. Kami seperti melihat wanita yang berbeda dengan Makiko yang biasa kami kenal di hotel.

Sang biksu membawa kami kembali ke ruangan dimana kami berada tadi dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia menyinggung bahwa upacara pengusiran setan yang kami lakukan tadi malam berhasil dengan baik.

�Kalau begitu bisakah kami pulang?� tanya Shoji, �Maaf jika kami kasar. Anda sangat baik pada kami, begitu pula orang-orang di kuil ini. Namun semua pengalaman ini, melihat makhluk-makhluk itu, benar-benar membuat kami ...�

�Tunggu! Makhluk-makhluk?� mimik muka sang biksu berubah, �Maksudmu mereka ada lebih dari satu?�

�Ya,� kata Shoji tak yakin, �Aku melihat ada beberapa bayangan saat berada di lantai dua hotel itu ...�

Sang biksu itu tampak terkejut.

�Tung...tunggulah di sini sebentar,� katanya gugup, �Jangan sekali-kali meninggalkan kuil ini! Tetap di sini dan aku akan memanggil seseorang untuk membantu kalian ...�

TO BE CONTINUED

Minggu, 20 Juli 2014

RESORT PART 14A

 

[Catatan admin: maaf, dari awal aku menjanjikan akan ada 15 episode untuk cerita bersambung ini. Tapi rupanya aku salah hitung dan sebenarnya ada 16 episode. Oleh karena itu, aku akan menyebut episode ini sebagai 14A dan episode selanjutnya 14B]

Takumi, Shoji, dan aku menatap sang biksu, tak sabar untuk mendengarnya melanjutkan ceritanya. Apa yang salah dengan bocah itu? Mengapa warga menjadi ketakutan melihatnya?

�Warna kulit anak itu penuh dengan lebam dan tubuhnya menggembung, seperti terisi air. Bola mata putih menonjol dari celah kedua kelopak matanya yang membengkak. Iris matanya terlihat menghadap ke atas. Ketika ia bernapas, terlihat buih keluar dari mulutnya. Dan suara aneh muncul ketika ia menjawab ibunya, suaranya terdengar seperti suara koakan burung gagak. Para penduduk melihat makhluk itu terkekeh dengan suara yang sangat aneh dan sang ibu mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Mereka langsung kabur ketakutan.�

�Sore itu, para penduduk berkumpul di rumah kepala desa, menceritakan semuanya. Saat sang kepala desa mendengar cerita mengerikan itu, iapun sadar itu di luar kuasanya. Ia kemudian memanggil seorang biksu terkenal, ia adalah salah satu nenek moyangku [catatan: pendeta Shinto diperbolehkan menikah]. Setelah mengetahu betapa mendesaknya masalah ini, iapun segera pergi ke rumah keluarga itu. Ketika ia melihat sang anak itu, iapun segera menyeret ibunya dari rumah tersebut menuju ke kuil. Anak itu mengikuti mereka sambil mengeluarkan suara-suara aneh sepanjang waktu.�

Mereka tiba di kuil dan sang biksu memaksa sang ibu masuk ke dalam kuil. Ia mencoba berbicara dengannya, namun ia hanya meronta, memaksa agar ia dipersatukan kembali dengan apa yang ia sebut sebagai anaknya.�

�Lalu apa yang terjadi?� tanya Takumi.

�Kekeraskepalaan wanita itu terlalu kuat untuk mereka bendung. Ia berhasil meloloskan diri dan kabur dari kuil tersebut.�

Biksu itu berhenti berbicara sejenak dan terlihat kekecewaan mengalir di wajahnya.

�Setelah itu, para penduduk kembali ke rumah wanita itu, namun baik ia dan anak menakutkan itu sudah menghilang. Saat mereka menggeledah rumah itu, mereka menemukan beberapa jimat tertempel di pintu dan terdapat tumpukan sampah makanan membusuk di pojok ruangan. Bau busuk memenuhi rumah saat itu.

Aku langsung memikirkan lantai kedua hotel tersebut.

�Semua orang berpikiran hal yang sama. Sang ibu, masih berduka atas menghilangnya anaknya, melakukan ritual ilmu hitam di ruangan itu. Hal yang tak terbayangkan terjadi: usahanya melahirkan monster. Merasa tak mampu lagi berbuat apa-apa untuk wanita yang pertama, sang biksu dan para pengikutnya beranjak ke rumah wanita yang kedua. Namun di sana mereka lagi-lagi terlambat. Sang ayah tampak hampir mati ketakutan di luar rumah, melihat monster yang diakui istrinya sebagai anak mereka. Sang biksu segera membacakan ayat kitab suci ke arah makhluk itu. Sang ibu, berusaha melindungi apa yang ia percayai sebagai anaknya, mengutuk sang biksu dengan teriakan yang mengerikan.�

Aku mulai berkeringat, meskipun itu hanya cerita.

�Para penduduk terlalu ketakutan untuk mendekat, namun biksu itu dan para pengikutnya mendekati ibu dan anak itu tanpa ragu-ragu. Mereka mencoba memaksa sang ibu untuk melakukan upacara penyucian ke kuil, seperti wanita pertama. Ia terus meronta ketika mereka membacanya. Sama seperti kasus yang pertama, makhluk itu juga terus mengikuti ibunya. Namun biksu itu terus melancarkan mantra-mantra ke arah makhluk itu sambil melemparkan garam ke jalan yang mereka lewati. Biksu itu akhirnya membawa wanita itu ke kuil kecil dimana kalian bertiga berdiam tadi malam. Ia diikat dan dikunci di dalam.�

�Itu sangat mengerikan.� Takumi merasa bersimpati padanya.

�Tak ada pilihan lain,� jawab sang biksu, �Prioritas pertama mereka adalah memisahkan ibu dan anaknya. Tanpa melakukannya, mereka takkan bisa melakukan langkah selanjutnya.�

Biksu itu kemudian melanjutkan ceritanya, �Beberapa langkah dilakukan untuk mencegah wanita itu bunuh diri, namun aku sendiri tak tahu menahu tentang detailnya. Kuil itu kemudian dibungkus dengan mantra-mantra sementara para biksu duduk di sekeliling kuil membacakan ayat-ayat kitab suci. Mereka dapat mendengar tangisan sang ibu dari dalam kuil. Untuk mencegah anak itu mendengar suara tangisan ibunya, mereka melantunkannya dengan keras-keras dengan tujuan menengggelamkan suara wanita itu.�

�Namun tetap saja, sang anak akhirnya muncul. Ia mencari orang tuanya dan mulai berjalan mengelilingi kuil itu. Dan ...�

Sang biksu berhenti untuk mengambil napas.

�Lalu apa yang terjadi?�

�Ketika ia mengitari kuil, terlihat bahwa ia semakin sulit untuk berjalan. Akhirnya ia ambruk ke tanah dan mulai merangkak. Setelah itu, sendi-sendinya mulai membengkok dengan cara yang sangat mengerikan dan ia mulai melata seperti seekor laba-laba. Seperti melihat kemunduran fisik dari seorang manusia. Ia semakin lama semakin lemah, kehilangan tangan dan kakinya. Akhirnya ia mulai untuk berguling.�

�Semakin mendekati fajar, makhluk itu menyusut dan terus menyusut hingga akhirnya yang tersisa hanyalah tali pusar.

�Tu...tunggu...itu berarti...tali pusar itu...� Takumi menunjuk pada kotak berisi tali pusar yang baru saja ditunjukkan biksu itu kepada mereka.

�Ya, tali pusar itu adalah tali pusar yang baru saja kalian saksikan.�

�Tidak mungkin!� Shoji tertegun.

�La...lalu kenapa hal yang sama terjadi pada kami?� tanyaku.

�Aku sendiri tak tahu.� kata sang biksu dengan jujur, �Catatan dari para biksu memang masih ada, namun sama sekali tak ada catatan mengenai ritual yang wanita-wanita itu lakukan untuk menghidupkan kembali anak mereka.�

�Mengapa mereka tak bertanya saja pada wanita-wanita itu?� tanya Shoji.

�Bukannya mereka tak mau,� kata sang biksu dengan wajah sedih, �Namun mereka tak bisa.�

Mulut kami semua menganga, �Mengapa?�

Sabtu, 12 Juli 2014

RESORT PART 13

 

Kami bertiga masuk ke ruangan dimana kami pertama berada ketika kami tiba di rumah ini.

�Kalian melakukannya dengan sangat baik tadi malam,� biksu itu mulai berbicara sambil tersenyum hangat, �Kalian kini telah aman. Upacara pembersihan berjalan dengan lancar dan kini telah selesai.�

Kami tak tahu apa yang dapat kami katakan, jadi kami hanya tersenyum dengan canggung ke arahnya. Ada banyak hal yang ingin kami tanyakan, namun tak seorangpun dari kami berani berbicara.

�Kurasa aku harus memberitahukan pada kalian segalanya,� ia berkata penuh simpati, �Mari, ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian.�

Ia berdiri dan mengajak kami kembali ke kuil. Dalam perjalanan menaiki tangga, Shoji dengan was-was menatap ke sekelilingnya.

�Semuanya akan baik-baik saja,� sang biksu berkata ketika menyadari ekspresi ketakutan dari wajah kami saat berjalan kembali ke kuil itu, �Apa ada sesuatu yang salah?�

�Ti...tidak. semuanya baik-baik saja.� kata Shoji, �Aku sudah tak melihatnya lagi.�

�Memang seharusnya begitu.� Sang biksu tersenyum.

Ketika kami berdiri di depan kuil utama, ia mengajak kami masuk melalui pintu belakang. Di sana kami melihat ruangan yang identik sama dengan ruangan tempat kami berada tadi malam. Kami disuruh menunggu di sana dan sang biksu pergi. Shoji masih kesulitan untuk menenangkan dirinya dan mengetuk-ngetukkan kakinya dengan was-was.

Setelah beberapa saat, ia kembali sambil membawa sebuah kotak kayu kecil. Ia duduk di depan kami dan mulai bercerita.

�Aku akan menunjukkan asal-muasal peristiwa yang menimpa kalian.� Ia membuka kotak itu dan kami bertiga sampai memajukan tubuh kami untuk melihat apa isinya. Di dalamnya terdapat seperti jamur kuping yang sudah mengering dibungkus dengan kapas.

Apa itu? Kami tak tahu sama sekali. Namun ada perasaan aneh menyelimuti kami ketika melihatnya. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat.

Aku mencoba mengingatnya, ketika akhirnya aku merasa seperti tersambar petir.

Ketika aku masih kecil, ibuku sering mengeluarkan kotak kecil yang terlihat berharga dari dalam lemari hiasnya. Aku sangat tertarik dan ingin melihat apa isinya. Ketika ibuku akhirnya memperbolehkan aku melihatnya, aku merasa sangat senang. Di dalamnya hanya ada kapas yang membungkus sebuah benda hitam. Aku tak tahu apa itu, jadi aku menanyakannya.

Ia hanya menjawab dengan suara lembut, �Benda ini adalah milikmu sekaligus milik ibu. Ini adalah bukti bahwa ibu dan kamu saling terhubung.�

Benda yang sedang ditunjukkan biksu itu sama persis dengan yang kulihat saat itu.

�Apa itu?� tanya Takumi.

�Ini tali pusar.� jawabku tiba-tiba. Semua orang menoleh padaku.

�Jadi kau pernah melihatnya?� tanya sang biksu. Aku mengangguk.

�Ehm...kurasa aku juga pernah melihatnya saat aku kecil.� kata Shoji.

�Aku belum pernah melihatnya.� sambung Takumi.

�Orang tua kalian mungkin pernah memperlihatkannya pada kalian,� komentar sang biksu, �Banyak orang di Jepang menyimpannya dan menganggapnya sebagai barang berharga.�

Kami bertiga mendengarkannya dengan saksama.

�Di dalam rahim ibu, orang tua dan anaknya dihubungkan oleh tali pusar ini. Untuk memperingati ikatan tersebut, banyak orang Jepang menyimpan tali pusar ini. Banyak legenda menyangkut tali pusar ini dan banyak orang zaman dahulu mempercayainya. Namun kini mungkin legenda-legenda itu dianggap mitos dan takhyul.�

�Legenda seperti apa?� tanya Shoji.

Biksu itu menghela napas, �Ratusan tahun lalu, orang-orang percaya tali pusar ini memiliki kemampuan untuk melindungi anak-anak mereka. Jika ada anak yang sakit parah, maka mereka membuat ramuan dari tali pusar dan meminumkannya pada anak mereka. Jika seorang anak membawa tali pusar bersama mereka, maka mereka akan dilindungi dalam bahaya. Namun ada suatu legenda yang amat mengerikan untuk diceritakan.�

Kami makin tertarik untuk mendengarnya. Apakah ini berkaitan dengan apa yang kami alami?

�Orang-orang di wilayah ini sangat percaya dengan legenda mengenai tali pusar ini. Di sini, banyak orang menggantungkan hidup mereka sebagai nelayan. Ketika seorang anak lahir dalam keluarga nelayan, mereka akan dibawa untuk berlayar sejak usia muda. Ini adalah kebiasaan di masyarakat nelayan.�

�Namun tentu bekerja di laut memiliki banyak bahaya. Aku hanya bisa membayangkan betapa sulitnya seorang ibu melepaskan anaknya untuk melaut, dengan kemungkinan bahwa anak mereka mungkin takkan kembali. Maka pada suatu titik, para ibu mulai meminta anak mereka membawa tali pusar mereka sebagai semacam jimat penolak bencana. Tali pusar itu juga diharapkan akan menunjukkan anak mereka jalan pulang kepada ibu mereka.�

�Jalan pulang?� tanyaku.

�Ya. Sangat umum terjadi di daerah tepi pantai seperti di sini, seorang anak tersapu ombak dan lenyap di lautan. Setelah beberapa hari, apabila mereka tak ditemukan, maka mereka dianggap telah meninggal. Namun ibu yang kehilangan anak mereka biasanya tak menerima kenyataan tersebut dan tetap menunggu anak mereka untuk kembali.�

�Karena itulah, tali pusar seringkali diberikan pada anak mereka. Seperti tali pusar menghubungkan mereka ke rahim ibu mereka sebelum lahir, maka tali pusar ini dianggap akan membawa mereka kembali ke ibu mereka. Tali pusar bagi mereka dianggap sebagai tali kehidupan. Namun ironisnya, kenyataan berkata lain. Tak satupun anak yang hilang dan membawa tali pusar mereka, pernah kembali.�

�Namun suatu hari, hal yang aneh terjadi di desa ini. Seorang ibu menangis bahagia dan mengaku anaknya yang hilang di laut telah kembali. Tak seorangpun percaya pada ceritanya dan mereka malah bertambah kasihan karena menganggap ia telah kehilangan kewarasannya. Lagipula, anaknya sudah menghilang sejak tiga tahun lalu.�

�Mungkinkah anaknya selamat dan terdampar di suatu tempat?� tanya Shoji, �Mungkin selama tiga tahun ia hidup bersama orang lain?�

�Itu juga yang orang-orang pikir. Maka mereka mulai menuntut ibu itu untuk menunjukkan bukti bahwa anaknya masih hidup.�

�Dan?� tanya Shoji.

�Ibunya kemudian berkata, �Tunggulah sebentar lagi, baru aku bisa menunjukkannya pada kalian.��

�Apa maksudnya?� tanyaku. �Bukankah kalau anaknya baik-baik saja, maka seharusnya tak apa-apa bila orang-orang ingin melihatnya? Mengapa harus menunggu?�

Entah kenapa pikiran itu membuat bulu kudukku berdiri.

�Tentu saja mendengar hal itu, para penduduk desa makin yakin bahwa ibu itu depresi. Namun tak ada yang berani mengatakan bahwa ia salah. Mereka akhirnya membiarkannya saja dengan semua khayalannya. Namun hari berikutnya, seorang ibu lain muncul dan mengatakan hal yang sama. Seperti ibu yang pertama, ia juga belum bisa menunjukkan anaknya.�

�Para warga kini kebingungan. Sudah ada dua wanita mengaku tentang hal yang sama. Mungkinkah keduanya sama-sama gila? Wanita yang pertama sudah kehilangan suaminya jadi tak ada cara untuk memastikan apakah perkataannya benar atau tidak. Namun suami wanita yang kedua masih ada dan merekapun memutuskan bertanya pada sang suami tersebut untuk kebenarannya.�

�Jawaban sang suami justru berbeda dengan perkataan istrinya. Ia berkata tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ketika para penduduk desa mengejarnya dengan pertanyaan, ia justru marah dan menyuruh mereka untuk tak mencampuri urusan pribadi keluarganya.�

Itu wajar, pikirku. Pria itu pasti malu mengakui istrinya sudah gila. Namun ia juga tak perlu semarah itu, bukan?

�Hingga suatu malam,� sang biksu melanjutkan ceritanya, �Wanita yang pertama terlihat sedang menggandeng seorang anak kecil sambil berjalan di tepi pantai. Karena kondisi saat itu gelap, maka mereka tak bisa melihat sang anak. Namun mereka berdua terlihat sangat gembira. Mereka kemudian berpikir bahwa selama ini sang ibu benar dan merasa malu menuduhnya gila. Maka merekapun datang bebrondong-bondong ke rumahnya untuk meminta maaf. Sang ibu kemudian menjawab,

�Jangan pikirkan hal itu! Kalian tak perlu minta maaf. Sejak anakku kembali, aku sangat gembira.� Iapun kemudian menarik anaknya yang tengah bersembunyi di belakangnya dan menunjukkannya pada mereka.�

�Melihat anak itu, para warga menjadi ketakutan.�

TO BE CONTINUED

Sabtu, 05 Juli 2014

RESORT PART 12

 

Akhirnya aku melihat wajahnya secara langsung.

Wajahnya tampak hitam pekat. Hanya terlihat matanya yang cekung, panjang, dan seluruhnya berwarna putih.

Ia sedang menatap kami.

Dan kemudian aku menyadari bahwa aku salah.

Kupikir suara hantaman tadi berasal dari tubuhnya yang dihantam-hantamkan ke dinding kuil. Namun ternyata tidak. Justru ia sedang menghantam-hantamkan kepalanya sendiri sembari bergerak.

Wajahnya menghilang dari retakan itu dan ia terlihat seakan sedang membungkuk, dan tiba-tiba ...

�BANG!�

Ia menghantamkan kepalanya ke dinding dengan tenaga tak terbayangkan. Aku bahkan tak bisa melepaskan mataku dari dinding itu. Aku mulai gemetar, terlebih karena aku telah melihat wujud aslinya. Ia terus berbicara dengan nada yang sama sambil menghantamkan kepalanya. Ia jelas-jelas bukan manusia.

Setelah ia menghantamkan kepalanya dengan keras tadi, ia terus berjalan mengelilingi kuil. Mungkin untuk mencari jalan masuk yang lain. Walaupun aku tak bisa lagi melihatnya, namun wajah mengerikan yang mengintip tadi masih saja terpatri dalam pikirkanku. Ketika ia menghantamkan kepalanya lagi, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas dalam benakku.

Sejujurnya, aku tak tahu sudah berapa lama ia berada di sana. Bahkan pada titik ini, aku tak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan khayalanku. Kami merasa ia sudah meninggalkan kami, namun kami tetap diam membeku. Shoji juga terlalu takut untuk bergerak. Bahkan kemudian kusadari bahwa giginya bergemeretak dengan sangat kencang hingga gusinya berdarah.

Aku tak sempat melihat ekspresi Takumi, namun dari apa yang ia ceritakan padaku setelah semua pengalaman ini usai, ia mendengar suara seperti kaokan burung gagak. Hanya Takumi yang bisa mendengarnya saat itu.

Terdengar suara seretan seolah makhluk itu bergerak menjauh dari kuil. Dengan perlahan, Takumi membawa kami kembali ke retakan itu, dimana cahaya rembulan bisa masuk ke dalam kuil. Makhluk itu telah menghilang, namun kami masih tetap tak bisa menenangkan diri kami. Kami terlalu khawatir bahwa ia mungkin akan kembali. Kami semua melalui malam dengan bersila dan kepala menunduk.

Malam itu adalah malam terpanjang dalam hidup kami. Kami sudah kelelahan dan menyaksikan sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini. Bahkan, tiap detail apa yang terjadi malam itu mampu kuingat hingga sekatang.

Biksu itu melarang kami tertidur malam ini. Dan tanpa larangannya pun, mustahil kami bisa tidur saat itu. Kami terus berjaga hingga akhirnya matahari terbit dan sinarnya menyentuh kepala kami melalui celah-celah di dinding kayu kuil. Suara ayam berkokok dan orang-orang yang memulai hari mereka terdengar dari kejauhan.

Kami semua mendongak dan menatap satu sama lain.

Hanya satu pertanyaan yang berkecamuk dalam hati kami.

Apa semuanya sudah selesai?

Kami mendengar suara langkah kaki mendekati kuil. Kami hanya bisa terdiam di lantai, terlalu kelelahan untuk bangkit. Suara itu berjalan mengitari kuil lalu berhenti di pintu depan.

Aku menahan napas ketika pintu kuil digeser dan cahaya matahari mulai merangkak memasuki kuil, menerangi tiap sudutnya.

Sang biksu tengah berdiri di depan pintu.

Ketika melihat wajahnya, kami hampir menangis.

�Kalian berhasil,� katanya. Aku takkan pernah melupakan sorot matanya. Matanya terlihat sangat hangat dan teduh. Aku sangat takut dan lelah, hingga aku merasa ingin pingsan. Namun apa yang bisa kulakukan hanya menangis.

Sang biksu masuk ke dalam kuil dan menepuk bahu kami satu-persatu. Jubahnya menebarkan bau dupa, mengindikasikan bahwa ia sendiri mengadakan suatu upacara malam tadi, ketika kami masih berjuang di sini.

Kami masih hidup! Aku berseru pada diriku sendiri dan menangis lebih kencang. Melihat bahwa aku tak mampu berdiri, biksu tersebut memanggil seorang pria berumur paruh baya untuk membantu kami. Dengan satu tanganku melingkar pada bahu pria itu, kami berjalan kembali ke rumah dimana Ryuichi menurunkan kami.

�Shoji,� bisikku padanya, �Apa kau masih bisa melihatnya?�

Masih terdengar nada kekhawatiran dalam suaraku.

�Jangan khawatir,� katanya sambil tersenyum, �Semua sudah usai. Aku tak melihatnya lagi.�

Ketika kami berjalan melewati kuil utama, kami bertiga mendengar suara jeritan.

�Bukankah itu suara Makiko?� bisik Takumi.

Ya Tuhan! Takumi benar, itu suara Makiko. Namun saat itu, aku terlalu lelah untuk mempedulikannya. Aku hanya ingin kembali dan beristirahat. Di dalam rumah, seorang wanita menyuruh kami untuk mandi. Kemudian ia menyediakan sebuah ruangan untuk kami beristirahat. Kami tahu di sana kami aman. Kami bahkan langsung tertidur begitu tubuh kami menyentuh tatami.

Hari sudah siang ketika kami terbangun. Aku yang terakhir bangun. Bahkan saat itu, Takumi dan Shoji sudah menghubungi kedua orang tua mereka untuk mengatakan bahwa kami baik-baik saja.

Namun sebelum kami pergi, masih ada satu hal yang harus kami lakukan.

Kami harus tahu kebenarannya.

Apa sebenarnya yang datang ke kuil malam itu?

TO BE CONTINUED

Sabtu, 28 Juni 2014

RESORT PART 11

 

�Shoji!�

Kami bertiga terpaku.

Kemudian kami mendengarnya kembali. Suara itu berasal tepat dari luar kuil.

�Shoji!�

Kami sadar benar suara siapa itu.

Suara itu sudah tak asing lagi bagi kami.

Itu suara Misaki.

�Shoji, aku membawakanmu onigiri.�

Walaupun suara itu jelas milik Misaki, namun sama sekali tidak ada intonasi dalam suara itu. Hanya suara yang datar, seolah-olah diucapkan oleh boneka.

�Shoji!�

Aku merasakan genggaman tangan Shoji semakin erat. Tentu saja ia tak menjawabnya dan suara itu terus berlanjut.

�Shoji.�

�Selamat datang!�

�Aku membawakanmu onigiri.�

�Shoji.�

�Selamat datang!�

�Aku membawakanmu onigiri.�

Ia terus-menerus mengulanginya, jelas sekali tak terdengar normal.

Aku mulai ketakutan. Itu suara Misaki. Tapi apa benar itu Misaki?

Biksu itu pernah mengatakan bahwa takkan ada seseorangpun yang akan mengunjungi kami. Ditambah lagi cara berbicara Misaki yang seolah-olah robot, aku tahu bukan ia yang berada di luar pintu kuil saat itu.

Takumi kembali dan mengenggam tanganku amat erat. Akupun tahu bahwa ia juga mendengar suara itu.

Suara itu kembali terdengar dari arah pintu kuil.

�Selamat datang!�

�Shoji!�

�Aku membawakanmu onigiri!�

Tiba-tiba pintu mulai bergetar.

Sesuatu yang ada di luar itu mencoba masuk! Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila makhluk itu berhasil masuk.

Aku ingin kabur secepat mungkin dari sini. Biksu itu berkata ia berada di kuil utama. Namun dimana kuil utama? Apa kuil besar yang ada di bawah itu? Bisakah kami mencapainya? Lalu bagaimana jika kami kabur dan tak menyelesaikan ritual ini? Apa ia akan terus menghantui kami? Sial!

Terdengar suara hantaman yang keras dari arah pintu. Bila tadi ia hanya menggerak-gerakkannya saja, kini kurasa ia menghantamkan tubuhnya ke arah pintu. Ia masih membuat suara-suara monoton yang sama seperti suara Misaki. Ia kemudian berhenti dan terdengar berjalan mengelilingi kuil, sambil terus menghantam-hantamkan tubuhnya ke dinding di sepanjang perjalanannya.

Ia tak bisa masuk, aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Ia tak bisa masuk.

Kemudian aku menyadari sesuatu yang menakutkan.

Di dinding dekat dimana kami berada, terdapat sebuah retakan, celah dimana papan-papan kayu bertemu. Dan ia bergerak makin dekat dengan dinding itu.

Bagaimana jika ia mengintip ke dalam melalui celah itu? Bagaimana jika ia melihat kami di dalam sini?

Aku tak mau menunggu hingga hal itu terjadi. Aku kemudian menarik kedua temanku ke tengah ruangan. Kami bergerak perlahan namun pasti.

Jantungku berdetak sangat kencang saat itu.

Kemudian tanpa sadar aku menoleh ke retakan di dinding itu. Akhirnya aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Ia sedang mengintip melalui celah itu.

TO BE CONTINUED

Sabtu, 21 Juni 2014

RESORT PART 10

 

Aku menatap Shoji. Sangat sukar melihat wajahnya saat suasana yang mulai remang-remang seperti ini, namun kurasa ia tak mendengarnya.

Dapatkah kalian mendengarnya? Apa hanya aku yang bisa? Ataukah ini hanya imajinasiku saja?

Pikiranku berkecamuk. Mengetahui betapa gugupnya aku, Shoji mulai melihat sekeliling. Sangat susah untuk kembali tenang ketika kami mulai merasa takut seperti ini.

Mata Shoji tiba-tiba terfokus pada suatu titik. Ia melihat tepat ke arah belakangku. Matanya tiba-tiba membelalak.

Takumi juga menyadari hal ini. Ia mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat Shoji, namun nampaknya ia tak melihat apapun.

Aku terlalu takut untuk menoleh.

Namun aku masih mendengar suara napas itu. Aku bahkan bisa mengatakan suara itu berasal dari belakangku. Ia sama sekali tak bergerak, hanya bernapas.

�.......huuuuuuh ... huuuuuuuuuh ...�

Aku semakin membeku ketika menyadari ada suara lain dari luar. Seperti suara sesuatu sedang diseret di tanah di luar kuil. Takumi menyadarinya dan langsung mengenggam tanganku.

Apapun itu, ia hanya berjalan mengelilingi kuil. Dan suara lain yang belum pernah kudengar sebelumnya mengikutinya.

�Kyu-ai ... Kyu-ai ...�

Walaupun tak dapat melihatnya, tapi aku tahu suara itu secara perlahan bergerak mengelilingi kuil ini.

Aku bisa merasakan detak jantung Takumi. Aku tak tahu apakah Shoji mendengarnya juga, namun ia tampak sangat tegang.

Tak ada dari kami bergerak sedikitpun.

Aku menutup mataku dan mencoba menutup telingaku. Aku hanya ingin melarikan diri dari rasa takut ini dan dalam hati berdoa agar �sesuatu� itu segera lenyap. Aku tak tahu berapa lama waktu berjalan, namun rasanya seperti lama sekali. Ketika aku membuka mataku dan melihat ke sekeliling, suasana dalam kuil gelap gulita dan aku tak mampu melihat apapun.

Namun suara itu telah berhenti.

Aku tak bisa mengetahui apakah ia sudah benar-benar pergi ataukah ia masih menunggu di luar, jadi aku tetap mencoba tak bergerak sedikitpun. Namun kegelapan hanya membuat suasana malam ini semakin menyeramkan.

Tak peduli berapa lama aku mencoba membiasakan mataku, aku tetap tak bisa melihat apapun. Aku bahkan tak tahu apakah Takumi dan Shoji baik-baik atau tidak. Namun Takumi masih mengenggam tanganku dengan erat, jadi paling tidak aku tahu ia masih ada di sini.

Aku mulai mengkhawatirkan Shoji. Tadi jelas-jelas ia melihat sesuatu yang membuatnya ketakutan setengah mati. Aku mencoba mencarinya dalam kegelapan, namun aku tak bisa melihat apapun.

Aku menarik tangan Takumi, mengajaknya berjalan pelan menuju tempat dimana aku terakhir melihat Shoji. Aku bergerak sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara.

Suasana sangat gelap saat itu. Jika salah satu dari kami panik dan menjerit, maka selesailah sudah.

Aku kemudian meluruskan tangan kananku, mencoba meraih Shoji dimana ia tadi berada. Tanganku meraih sesuatu yang keras dan dingin, hampir membuatku melompat ketakutan. Namun kurasa itu hanya dinding.

Aneh. Shoji tadi ada di sini, namun sekarang ia tak ada.

Aku semakin cemas. Aku mulai berjalan menyusuri dinding hingga aku mencapai sisi lain ruangan itu.

Kami kehilangan dia. Aku ingin menangis dan berteriak, �Dimana kamu Shoji?� namun itu tak mungkin. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, jadi aku hanya diam di sana. Takumi tiba-tiba bergerak dan gantian mengarahkanku ke tempat lain.

Pertama, ia mengajakku kembali menyusuri dinding dan kemudian berputar di pojok ruangan. Tiba-tiba saja ia berhenti dan menarik tanganku ke bawah. Aku menyentuh sesuatu yang hangat.

Itu terasa seperti tubuh seseorang yang sedang gemetar. Akhirnya kami menemukan Shoji.

Apa ini benar dia, pikirku. Kemudian aku juga mulai meragukan apa yang memegang tanganku ini benar Takumi.

Dikelilingi kegelapan yang teramat pekat, aku mencurigai segala sesuatu. Aku tetap diam dan ketika Takumi menarik tanganku lagi, akupun mengikutinya.

Kemudian aku melihat cahaya yang amat lemah. Sinar bulan sepertinya menyusup melalui celah di dinding dan membawa sedikit penerangan di dalam kuil ini. Takumi ternyata membawa kami ke arah cahaya ini.

Ketika melihat cahaya tersebut, aku merasa seperti diselamatkan. Setelah semua pengalaman ini selesai, aku sempat berterima kasih pada Takumi atas tindakannya itu dan inilah jawabannya.

�Aku tak melihat ataupun mendengar apapun. Aku memang mendengar ada suara seperti sesuatu diseret di luar. Karena itu, aku merasa lebih mampu melakukan sesuatu untuk kalian, sebab sepertinya hanya aku yang tak bisa merasakan keberadaan makhluk itu saat itu.� Dan sejak mendengar jawabannya itu, aku merasa lebih menaruh hormat kepadanya.

Akhirnya di bawah cahaya rembulan, aku bisa melihat wajah Takumi dan Shoji ditutupi keringat dan air mata. Aku penasaran apakah mereka melihat atau mendengar sesuatu, namun tentu saja saat itu aku tak bisa bertanya pada mereka.

Malam ini terasa sangat senyap. Kami hanya mendengar suara belalang bersahutan dari kejauhan.

Kami duduk melingkar sambil berpegangan tangan. Kami merasa lebih aman dalam posisi ini. Selain itu, kami bisa melihat wajah kami satu sama lain. Entah mengapa, ini membuat kami merasa lebih tenang.

Beberapa saat kemudian, hal yang tak dapat dihindarkan pun terjadi.

Takumi mengambil kantong yang diberikan sang biksu kepada kami kemudian pergi sejenak dari kami untuk melakukan urusannya.

Ruangan itu sangat sunyi, kecuali suara tetesan urine Takumi saat ia kencing. Suara itu bagi kami sangat konyol sehingga aku dan Shoji tersenyum.

Dan saat itulah suara itu muncul.

�Shoji!�

TO BE CONTINUED

Minggu, 15 Juni 2014

RESORT PART 09

 

Terasa sangat dingin di dalam kuil. Aku khawatir dengan syarat tak boleh makan dan minum, namun aku merasa percaya diri kami bisa bertahan untuk malam ini.

Bangunan itu sendiri sudah amat tua dan banyak celah-celah di dinding dimana papan-papan kayu bertemu. Kuil juga amat kecil.

Karena masih siang, aku masih dapat melihat wajah Takumi dan Shoji lewat cahaya yang masuk melalui celah-celah di dinding kayu. Ini pertama kalinya kami tidak saling berbicara meskipun kami berada sangat dekat satu sama lain.

Aku mengangguk untuk mengatakan, �Segalanya akan baik-baik saja.� Dan mereka mengangguk balik.

Setelah beberapa lama, kami berhenti saling menatap satu sama lain dan berakhir saling membelakangi. Frustasi pada kenyataan kami tak boleh saling berbicara, waktu berjalan sangat lambat. Kami tak mengetahui berapa lama kami di sini atau jam berapa sekarang. Yang dapat kami lakukan hanya duduk di sini dan menunggu dalam kebingungan.

Kami serasa menunggu sangat lama, namun masih terang di luar sana. Takumi mulai mengeluarkan suara. Heran dengan apa yang ia lakukan, aku menoleh untuk menyuruhnya diam. Ternyata ia memegang sebuah pena dan menghadapkan seutas kertas ke arah kami.

Ia tak mengindahkan apa yang dikatakan sang biksu dan membawa pena ke dalam. Kertas yang ia tunjukkan kepada kami adalah bungkus permen karet. Mungkin benda itu ada di sakunya selama ini.

Apa yang kau lakukan?

Aku memikirkannya beberapa saat. Biksu itu memang hanya melarang kami berbicara, bukan menulis, jadi sepertinya ini tak ada salahnya. Bagaimanapun aku merasa lega kami masih bisa berkomunikasi.

Aku membaca apa yang ditulis Takumi di kertas itu.

�Apa kalian baik-baik saja?�

Aku mengambil pena itu dan menulis sekecil mungkin,

�Aku baik-baik saja. Shoji?�

Aku memberikan kertas itu padanya dan ia menulis, �Aku baik-baik saja juga. Aku sudah tak mampu lagi melihat mereka.�

Ia kemudian mengembalikan kertas dan pena itu pada Takumi. Kami kemudian terus menggunakannya untuk berkomunikasi satu sama lain.

�Aku masih punya 4 lagi bungkus permen karet,� Takumi menulis, �Semoga ini cukup. Tulislah sekecil mungkin.�

�OK� aku setuju, �Kita tak akan bisa melakukannya saat matahari terbenam, jadi ayo kita menulis selagi bisa.�

�Apa kalian tahu jam berapa ini?� Takumi menulis.

�Tidak.� Aku menggeleng.

�Sekitar jam 5?� Shoji menebak.

�Kita masuk ke sini sekitar jam 1.� tulis Takumi.

�Jadi kita di sini baru empat jam� aku menarik kesimpulan.

�Ini akan menjadi malam yang panjang.� Dengan menulis itu, Takumi menghabiskan kertas pertamanya.

�Tulisanmu terlalu besar, Yuuki.� Tulisnya pada kertas berikutnya. Aku membuat gesture minta maaf dan ia memberikan pena serta kertasnya kepadaku.

�Aku lapar.� Aku menyerahkan kertas itu pada Shoji, namun ia langsung memberikannya pada Takumi.

�Aku juga.� balas Takumi. Ini aneh, pikirku. Saat kami tidak bisa saling berbicara tadi, ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Namun begitu kami menemukan cara untuk berkomunikasi, kami justru tak bicara banyak. Namun ada satu hal yang ingin kuungkapkan sebelum matahari terbenam.

�Apapun yang terjadi, kita akan melewati ini semua!�

�Tentu saja.� tulis Shoji.

�Bagaimana jika aku tiba-tiba ingin berteriak?� tanya Takumi.

�Sumpalkan sesuatu ke dalam mulutmu.� saranku.

�Seperti apa?� tanya Takumi.

�Aku akan menyumpalkan kaosku.� kata Shoji.

�Berharap sajalah takkan terjadi sesuatu.� Aku menulis. Namun aku sendiri meragukannya. Biksu itu memang tak mau berterus terang tentang apa sesungguhnya yang menimpa kami. Namun, ia menekankan bahwa sesuatu akan terjadi.

Dengan pikiran itu, aku berharap waktu akan segera cepat berlalu. Namun aku sangat takut, apa yang akan terjadi ketika malam tiba?

Rasa takutku ketika aku berdiri di ujung tangga di �kuil� itu kembali menyeruak. Satu-satunya yang menyelamatkanku saat itu adalah melihat teman-temanku ada di sana, menungguku.

Sedikit, aku berhasil membunuh rasa takut dengan ingatan itu, dimana teman-temanku selalu ada untukku.

Aku kembali menulis di atas kertas itu, �Kita tak punya banyak waktu lagi. Apa ada yang ingin kalian bicarakan?�

Aku hanya berharap pembicaraan sehari-hari akan sedikit menenangkan perasaan kami yang sedang kacau saat itu.

Takumi sepertinya mengerti dan mengambil kertas tersebut, �Apa yang akan kalian lakukan saat pulang nanti?�

�Pertanyaan bagus,� tulisku, �Kurasa aku akan ke rental video.�

�Kenapa ke sana?� tanya Shoji.

�Aku lupa mengembalikan DVD saat kita berangkat dulu.�

�Hah? Serius? Ini sudah hampir sebulan. Dendanya pasti sangat mahal.� balas Shoji.

�Apa itu DVD yang isinya aneh-aneh?� tanya Takumi.

Aku tersenyum. Sebenarnya itu hanya bohong belaka. Aku hanya menulis itu agar kami memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Ini bekerja, kami merasa sedikit santai setelahnya. Baik Takumi dan Shoji kemudian menulsikan rencana-rencana mereka. Cukup untuk membuat kami merasa optimis sedikit.

Ketika kertas yang kami miliki hampir habis, Shoji menulis sesuatu yang membuatku merinding.

�Aku akan melakukan apa yang dikatakan biksu itu. Aku tak mau mati.�

Takumi dan aku saling bertatapan. Kami tak pernah menyinggung-nyinggung kata �mati� sebelumnya. Dan ini menyadarkanku bahwa nyawa kami mungkin dalam bahaya.

Aku hanya bisa mengangguk pada Shoji.

Setelah itu, matahari mulai terbenam. Aku merasakan kesepian yang sama ketika aku pertama masuk ke kuil ini. Suara jangkrik mulai bersahutan di luar. Namun aku segera menyadari ada yang ganjil.

Aku mendengarkan lebih saksama. Aku bisa mendengar sayup-sayup suatu suara yang aneh. Aku mencoba mendengar lebih baik. Dan semakin aku mencoba, aku mendengar suara itu semakin jelas dan jelas.

Itu suara napas yang kudengar di lantai dua penginapan saat itu.

TO BE CONTINUED

Minggu, 08 Juni 2014

RESORT PART 08

 

Aku menoleh, dan tetap, aku tak melihat apapun di balik pintu kertas itu. Namun aku memperhatikan raut wajah Shoji amat ketakutan.

Biksu itu menoleh ke arah kami, �Jadi mana anak yang katamu bisa melihat mereka itu?�

�Shoji, anak ini.� ketika Ryuichi mengatakan hal itu, pria paruh baya dan pria tua itu saling menatap satu sama lain.

Sang biksu kemudian berbicara.

�Apa dia juga yang masuk ke dalam kuil?�

�Tidak.� Ryuichi menggeleng, �Itu adalah Yuuki.�

�Hmm...� hanya itu yang bisa dikatakan biksu itu.

�Shoji hanya di luar dan hanya mengamati, kurasa.� sambung Ryuichi.

�Begitukah?� biksu itu terdiam sesaat lalu berbicara dengan Shoji, �Apa ini kali pertamanya kamu mengalami hal seperti ini?�

�Mengalami hal seperti ini?� ia bertanya, tak yakin dengan apa yang dimaksud biksu itu.

�Ya, melihat roh atau hal-hal seperti itu.�

Shoji mengangguk, �Ini kali pertamaku.�

�Jadi begitu? Hmm...ini cukup aneh.�

�A....� Shoji tampak hendak berbicara dan semuanya menoleh ke arahnya.

�Bicaralah.� kata sang biksu.

�Apa aku akan mati?� ia tampak bergetar saat mengatakannya.

�Ya,� sang biksu menjawab tanpa tedeng aling-aling, �Jika ini terus berlanjut, kau pasti akan mati.�

Shoji kehilangan kata-kata. Gemetarnya berhenti seketika dan kepalanya menunduk.

Melihatnya, Takumi langsung berbicara, �Apa maksud anda dengan dia akan mati?�

�Maksudku ia akan dibawa pergi,� sang biksu menjawab. Takumi dan aku masih tak mengerti dengan apa yang ia maksud. Sesuatu akan membawa Shoji pergi?

Sang biksu melanjutkan perkataannya,

�Aku tak terkejut kalian tak memahami perkataanku.� Ia berpaling kepadaku, �Yuuki, ketika kamu masuk ke dalam kuil, apa kamu merasakan ada yang aneh?�

Kuil? Aku mengasumsikan yang ia maksud adalah lantai kedua hotel itu.

�Aku mendengar sesuatu. Suara garukan dan ada suara napas yang aneh. Ada banyak jimat menancap di pintu ...�

�Begitu,� kata sang biksu, �Kamu mungkin tak menyadarinya, namun yang tinggal di sana bukanlah manusia.�

Aku tak terkejut. Aku sudah menduganya sejak awal.

�Aku percaya bahwa kau dapat merasakan keberadaan mereka dengan indra pendengaranmu. Sedangkan Shoji, temanmu, bisa merasakan mereka lewat indra penglihatannya.� biksu itu menjelaskan, �Biasanya manusia tak mampu merasakan mereka. Mereka tinggal di suatu tempat, tanpa ada yang memperhatikan, meringkuk dalam kesunyian.

�Shoji,� ia berpaling ke temanku itu, �Apa kau melihatnya sekarang?�

�Tidak, namun aku bisa melihat bayangannya,� ia menoleh dengan gugup, menatap pintu geser kertas yang berada di samping kami. �Ia mencakari pintu dengan sangat keras.�

�Ia tak bisa masuk. Aku melindungi tempat ini, namun tetap saja ia berusaha menghancurkan pelindung itu.� Ia berhenti beberapa saat sebelum kembali melanjutkan, �Tapi kalian tak bisa tinggal di sini selamanya. Aku akan meminta kalian pergi ke suatu tempat. Dan Shoji, kau harus mengerti ... mereka akan mencoba muncul kembali di hadapanmu. Aku sadar ini akan sangat sulit bagimu. Namun kau harus tetap tenang dan mengikuti apapun perintahku.�

Shoji hanya mampu mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Kami mengikuti biksu itu dan meninggalkan rumah yang melindungi kami. Kami berjalan masuk ke torii dan menaiki tangga batu itu ke atas. Ryuichi hanya mengikuti kami sampai ke luar rumah. Ia kemudian membungkuk dan meninggalkan kami di tangan biksu itu.

Merasa ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang kami kenal, kami bertiga mengikuti biksu itu dengan enggan. Shoji terlihat sangat lelah dan ketakutan. Berupaya melindunginya, aku dan Takumi berjalan sambil mengapitnya. Kami berusaha sebisa mungkin menjaganya dari apapun yang ia lihat.

Begitu kami sampai di anak tangga terakhir, kami melihat sebuah kuil besar. Namun mengejutkan bagi kami, biksu itu tidak membawa kami ke sana; melainkan melewati sisi kanan kuil tersebut dan terus berjalan. Di sana terdapat sebuah torii lain dan tangga-tangga batu menuju ke atas. Namun sebelum kami tiba di bawah gerbang itu, sang biksu berbicara pada kami.

�Shoji, apa yang ia lakukan sekarang?�

�Ia berdiri ...� Shoji berkata, masih melihat ke sekeliling, �Ia selalu mengawasi dan mengikuti kita, kemanapun kita pergi.�

�Hmm... dia sudah berdiri? Dia pasti sangat bersemangat karena kau bisa melihatnya.� Biksu itu menjelaskan, �Kita sudah tak punya banyak waktu. Ayo, cepat!�

Ketika kami selesai menaiki anak-anak tangga tersebut, kami melihat kuil lain. Kuil ini lebih kecil, namun umurnya terlihat lebih tua daripada kuil yang ada di bawah tadi. Biksu itu berjalan ke bagian belakang kuil kemudian memanggil kami. Kami berjalan ke tempat dimana ia berdiri dan ia menjelaskan bahwa kami harus menghabiskan malam ini di dalam kuil untuk membersihkan diri kami dari apapun yang mencoba menempel pada kami. Begitu kami masuk, ternyata tak ada satupun sumber penerangan dan kami juga dilarang berbicara sepatah katapun hingga fajar tiba.

�Tentu kalian juga tak boleh menggunakan telepon genggam kalian juga.� Sang biksu menjelaskan, �Semua yang menghasilkan cahaya tidak diperbolehkan di dalam kuil ini. Aku juga melarang kalian untuk makan dan tidur selama kalian berada di dalam kuil.�

Ia memberikan kepada kami masing-masing sebuah kantong aneh dan mengatakan pada kami untuk menggunakannya apabla kami benar-benar membutuhkannya. Aku menatapnya lekat-lekat. Kantung ini untuk apa? Sebelum aku bertanya, biksu itu seakan sudah bisa membaca pikiranku dan menjelaskan bahwa kantong itu tahan air. Aku pikir itu adalah toilet kami untuk malam ini. Memang sukar dipercaya, namun kami terpaksa menerima semua peraturan yang diberikan kepada kami.

Setelah biksu itu selesai menjelaskan, kami diminta untuk meneguk air dari sebuah pipa bambu sebelum kami masuk ke dalam kuil.

Kami masuk ke dalam kuil satu-persatu, namun ketika Shoji masuk, ia menutup mulutnya tiba-tiba dan keluar untuk muntah. Takumi dan aku terkejut, namun ada yang lebih terkejut daripada kami. Biksu itu. Ia segera kehilangan postur tenangnya begitu melihat apa yang terjadi pada Shoji.

�Kalian tidak pergi ke kuil itu lagi hari ini, bukan?�

�Hah, tidak...tentu tidak.� jawabku.

�Aneh. Kalian hanya masuk sekali, namun upacara pembersihan langsung dimulai begitu kalian masuk. Bahkan kalian tak bisa masuk ke dalam kuil ini...�

Aku tak mengerti apa yang biksu itu katakan, namun ia menatap tas yang dibawa Shoji.

�Selama kalian tinggal di hotel, apa seseorang pernah memberikan kalian sesuatu?�

�Kami mendapat upah kami, namun hanya itu.�

Kemudian barulah kami teringat, �Oya, nyonya pemilik penginapan memberikan kami sebuah tas uang koin kecil.�

�Dan onigiri.� sahut Takumi.

Setelah mendengar hal tersebut, biksu itu bertanya pada Shoji, �Apa kau kebetulan membawa benda-benda itu?�

�Aku meninggalkan onigiri itu di tasku yang lain, namun kurasa aku punya uang koin dan amplop berisi upah kami.� Ia membuka tasnya dan mengeluarkan amplop dan tas uang koin yang kami terima. Sang biksu mengambil tas kecil itu dan membukanya.

Semula aku berpikir tas itu akan berisi uang-uang koin sebagai bagian dari upah kami.

Namun ketika ia membukanya dan memperlihatkan isinya pada kami, kami langsung mundur dengan ketakutan.

Tas kecil itu berisi potongan-potongan kuku, sama seperti potongan kuku yang menggores kakiku kemarin. Kuku-kuku berwarna putih dan merah.

Shoji muntah lagi dan biksu itu memutuskan untuk mengambil semua barang yang kami bawa. Kami memberikannya dompet, telepon genggam, dan benda lainnya yang kira-kira kami dapatkan dari hotel. Biksu itu mengangguk pada kami dan membiarkan Shoji minum dari pipa bambu itu kembali.

Kami bertiga masuk kembali ke dalam kuil.

�Kalian tak boleh membuka pintu ini,� kata sang biksu, �Aku akan berada di kuil utama. Aku akan kembali menjemput kalian esok pagi.�

Ia berhenti sesaat dan menatap kami.

�Kalian tidak boleh berbicara pada apapun yang mungkin akan datang dari balik dinding. Kalian tak boleh berbicara satu sama lain juga. Kam tidak mengatakan pada siapapun dimana kalian berada, jadi tidak akan ada siapapun yang datang untuk kalian malam ini, ingat itu! Aku akan berdoa bagi keselamatan kalian.�

Biksu menatap kami lagi dan kami mengangguk ke arahnya. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Kami sudah tidak diperbolehkan berbicara, sehingga kami hanya diam, ketakutan.

Biksu itu meninggalkan kami dan menutup pintu kuil itu rapat-rapat.

TO BE CONTINUED

Sabtu, 31 Mei 2014

RESORT PART 07

 

�Apa?� aku menoleh dan melihat sebuah mobil kecil mengikuti taksi kami. Benar, itu memang mobil dari penginapan. Mengapa mereka mengikuti kami?

Mobil itu semakin dekat dan kami bisa melihat Ryuichi melambai dari kursi depan. Kami berpikir apa mungkin kami meninggalkan sesuatu di penginapan dan meminta sopir taksi untuk berhenti. Ryuichi berhenti tepat di samping mobil kami dan menghampiri kami.

�Kalian tak bisa pulang begitu saja!� katanya.

�Kami takkan pulang,� jawab Shoji, �Kami tak bisa pulang dengan keadaan seperti ini!�

Mereka sepertinya mampu memahami perkataan satu sama lain, namun aku dan Takumi kebingungan. Kami tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

�Hei, apa yang kalian maksudkan?�

�Kalian naik ke sana, kan?� ia menatap langsung ke mataku.

Jantungku berdetak sangat kencang. Bagaimana ia bisa tahu? Aku merasa sangat takut. Aku merasa seperti ketahuan telah melakukan sesuatu yang sangat buruk.

�Ya.� aku menjawab dengan jujur.

Ryuichi menghela napasnya, �Jika kalian pergi seperti ini, kalian hanya akan membawa-nya bersama kalian. Kenapa kalian harus naik ke atas sana? Seharusnya aku dengan tegas melarang kalian untuk naik ke sana.�

Apa yang ia maksud? Membawanya bersama kami? Tapi, bukankah kami sudah mengakhirinya dengan pergi dari tempat itu?

Aku mulai cemas dan menatap Takumi. Namun ia sama cemasnya dengan kami. Ia menatap Shoji dan Shoji akhirnya berkata.

�Tak apa-apa, teman-teman. Kita akan diruwat. Kita akan membicarakannya ketika kita sudah sampai di sana.�

Diruwat ? Semacam upacara? Aku tak mempercayainya. Apa kami kerasukan? Apa aku akan mati? Sial...sial! kenapa aku harus naik ke sana? Jika kami memang tak boleh naik sana, seharusnya sejak awal mereka mengatakannya kepada kami!

Perkataan Shoji sama sekali tak membuat Ryuichi terkesan.

�Upacara penyucian?� tanyanya.

�Ya.� jawab Shoji dengan singkat.

�Kau bisa melihatnya, ya kan?� tanya Ryuichi lagi.

Shoji terdiam.

�Tunggu, apa yang kau lihat!� Takumi menuntut penjelasan.

�Maafkan aku, tapi tolong jangan tanyakan itu padaku.�

Tanpa berpikir, aku segera meraih Shoji dan mengguncang-guncangkan tubuhnya, �Demi Tuhan! Apa yang terjadi! Katakan pada kami!�

Ryuichi berusaha memisahkan kami, �Hei, hentikan! Seharusnya kalian berterima kasih kepadanya.�

�Tapi ia tak mau mengatakan apa yang terjadi! Kami berhak tahu!� emosiku mulai meninggi.

�Kalian beruntung kalian tak bisa melihatnya.� seru Ryuichi, �Justru Shoji yang dalam masalah sekarang.�

Mendengarnya, wajah Shoji berubah pucat.

�Apa yang sebenarnya terjadi? Aku yang naik ke sana, bukan dia!� seruku.

Ryuchi menjawab, �Kalian berdua tidak melihatnya kan?�

�Kalian terus berbicara tentang melihatnya dan tidak melihatnya. Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?� tanyaku.

�Aku tak tahu.� hanya jawaban itu yang meluncur dari mulut Ryuichi.

�Apa?� teriakku. Bagaimana ia bisa mengatakan hal seperti itu sementara nyawa kami mungkin terancam?

�Aku sendiri belum pernah melihatnya. Namun ....� Ryuichi menatap Shoji, �Walaupun kalian mendapat upacara penyucian, aku pikir itu takkan banyak membantu.�

�Kenapa?� Shoji bertanya dengan tatapan penuh keraguan.

�Sesuatu seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Hanya itu yang bisa kukatakan.�

�Tidakkah ... tidakkah kita bisa mencoba? Siapa tahu itu bisa berhasil?� Shoji bersikeras.

�Ya, kalian bisa saja mencobanya. Namun jika itu tak berhasil, apa yang akan kalian lakukan?�

Shoji tak mampu menjawabnya.

�Begitu kau melihatnya, maka hal itu akan akan terjadi sangat cepat.�

Aku sama sekali tak paham apa yang dimaksudkannya datang dengan cepat, namun begitu mendengarnya, Shoji langsung menangis. Takumi dan aku hanya berdiri di sana, tak tahu harus berbuat apa.

Merasa ada sesuatu yang terjadi, sang sopir taksi membuka jendela mobilnya dan memanggil kami, �Apa semuanya baik-baik saja?�

Kami tak mampu menjawabnya. Shoji sudah ambruk di tanah, berlutut sambil menangis. Ryuichi-lah yang kemudian berbicara dengan sopir itu.

�Maaf sudah membawa anda sejauh ini, namun bisakah anda menurunkan mereka di sini saja?�

�Hah? Tapi ...� ia menatap ke arah kami, tak yakin dengan apa yang harus ia lakukan. Ryuichi tak mengindahkan tangisan Shoji dan berbicara kepadanya.

�Kalian tahu kenapa aku sampai mengejar kalian sampai ke sini? Aku mengenal seseorang yang tahu mengapa ini semua terjadi. Aku ingin membawa kalian kepadanya sehingga ia bisa membantu kalian. Kita tak punya banyak waktu. Kumohon, percayalah kepadaku!�

�Ba ... baik ...� Shoji masih terisak. Tampak ia seakan-akan menanggung beban yang sangat berat sendirian di pundaknya. Semenjak kami mulai bersahabat, tak pernah aku melihatnya menangis seperti ini. Mendengarnya menyetujui saran Ryuichi, akupun berbicara dengan sang sopir taksi.

�Maaf, tapi sepertinya kami akan turun di sini saja. Berapa ongkosnya?� setelah membayar, kami masuk ke dalam mobil Ryuichi. Takumi dan aku duduk di bak belakang, sementara Shoji duduk bersama Ryuichi di kursi depan.

Ryuichi melajukan mobil ini secepat setan. Baik aku dan Takumi ketakutan, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan kami alami setelah ini.

Aku tak tahu berapa lama kami berkendara, namun sepertinya sangat jauh. Yang kuingat, ketika sampai, punggungku terasa sangat sakit.

Kami akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang tampak sangat normal. Di samping rumah itu berdiri sebuah torii (gerbang kuil) kecil dan tangga batu. Kami berjalan ke rumah itu dan Ryuichi menekan belnya. Setelah beberapa lama, seorang wanita keluar menyambut kami. Ia terlihat masih muda, sekitar 20 tahun.

Ia meminta kami masuk dan mengajak kami ke sebuah ruangan bergaya Jepang di bagian lain rumah tersebut. Di ruangan itu, duduk seorang biksu, seorang pria paruh baya, dan seorang lelaki tua. Ketika kami masuk, sang pria tua mulai berkomat-kamit.

Biksu itu hanya menatap kami ketika kami datang.

�Duduklah!� perintah biksu itu. Kamipun duduk dan Ryuichi duduk di samping kami.

�Ini tiga anak yang saya ceritakan kemarin ...�

�Tunggu!� tiba-tiba sang biksu menyetop perkataan Ryuichi saat ia memperkenalkan kami.

�Apa kalian yakin kalian tak membawa orang lain?� tanya sang biksu sambil memperhatikan lekat-lekat pintu geser kertas yang ada di samping kami.

TO BE CONTINUED

Minggu, 25 Mei 2014

RESORT PART 06

 

�Selamat pagi! Apa kalian tidur dengan nyenyak?� ia selalu menanyakan pertanyaan yang sama tiap pagi semenjak kami tiba. Namun entah kenapa, pertanyaannya kali ini seperti memiliki maksud lain. Aku merasa sangat gugup, jadi Takumi yang menjawabnya.

�Ya, maaf kami terlambat bangun pagi ini.� Ia menepuk bahuku agar maju ke meja makan. Aku terkejut Takumi yang pemarah ternyata bisa bersikap setenang ini setelah apa yang terjadi pada kami. Ia mengatakan bahwa Shoji merasa tak enak badan sehingga tak bisa ikut makan bersama kami. Kemudian ia bertanya apakah Misaki bisa membawakan beberapa onigiri untuknya.

�Oh, tentu saja,� jawabnya dengan nada khawatir, �Jika ia sedang sakit, maka seharusnya ia beristirahat saja.�

Kami kemudian duduk tanpa membicarakan tentang Shoji lagi. Kami tak memikirkan hal lain selain berhenti dari tempat ini.

Selama aku makan, Makiko hanya tersenyum ke arahku. Misaki dan Ryuichi pasti juga merasakan sesuatu yang aneh, sebab mereka hanya menatap bolak-balik antara aku dan Makiko. Aku bertambah gugup, bahkan kadang tak mampu menggerakkan sumpitku. Di lain pihak, Takumi duduk dengan tenang dan menikmati makanannya.

Kami merasa tak nyaman, sehingga kami dengan cepat menghabiskan sarapan kami. Ketika kami selesai, kami kembali ke kamar untuk menjemput Shoji agar kami bertiga bisa segera berpamitan dengan Makiko.

Dalam perjalanan ke kamar, kami mendengarnya sedang berbicara. Tampaknya ia sedang menelepon seseorang. Takumi dan aku tak mau menganggunya, jadi kamu duduk dan menunggunya hingga rampung.

�Ya, harus dilakukan hari ini.� Ia terdiam sejenak, menunggu jawaban dari orang yang diteleponnya. �Oh ... terima kasih ... ya ... ya .... aku akan menanyakannya ... terima kasih.� Kemudian ia menutup teleponnya.

Tampaknya ia sudah merencanakan untuk pergi ke suatu tempat setelah kami menyelesaikan urusan kami dengan penginapan ini. Takumi dan aku merasa tak enak menanyakan urusannya, jadi kami hanya mengajaknya ke ruang makan bersama-sama.

Misaki sedang bersih-bersih, namun Makiko tak nampak. Kemudian aku berpikir, apa ia sedang berada di lantai atas sekarang? Bayangan ia sedang membawa senampan makanan ke lantai dua muncul di benakku. Ia pasti menumpuk makanan yang baru ke atas makanan yang lama setiap hari. Lama-kelamaan ia membuat semacam gunung penuh sampah di sana.

Tapi kenapa? Apa tujuannya? Namun aku segera menghentikan pikiran itu. Satu-satunya yang penting sekarang adalah pergi dari tempat ini secepat mungkin. Ini saatnya mengucapkan selamat tinggal dan melupakan apapun yang kami alami kemarin. Aku harus melupakannya!

Takumi bertanya pada Misaki dimana Makiko berada.

�Oh, Makiko-san sedang menyirami tanaman. Beliau akan segera kembali ke sini,� ia berpaling pada Shoji, �Aku akan membuat onigirinya, tolong tunggu sebentar ya.� Ia tersenyum dengan manis lalu pergi ke arah dapur.

Oh, Misaki yang cantik. Seandainya semua ini tak terjadi, sebenarnya aku ingin mengenalmu lebih jauh.

Kami menunggu Makiko kembali. Ketika ia tiba di ruangan, ia sepertinya sudah tahu ada sesuatu yang salah. Iapun duduk dan menatap kami.

�Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini�

Aku menyiapkan diriku dan mulai berkata mewakili yang lain, �Bu, dapatkah kami berbicara sebentar dengan anda?�

�Tentang apa? Kalian tampaknya serius sekali?�

�Ehm. Langsung saja, kami ingin berhenti.�

Ekspresi Makiko tak berubah. Ia terdiam selama beberapa saat. Kami sangat merasa tak nyaman dengan ia diam seperti itu. Tampaknya ia sudah menduga bahwa ini akan terjadi.

Akhirnya, kesunyian pun pecah.

�Oh, aku mengerti. Seperti aku tak bisa melakukan apapun untuk membuat kalian berubah pikiran kan, anak-anak?� ia tertawa sedikit lalu melanjutkan pembicaraan tentang gaji kami dan juga meminta kami membersihkan kamar kami sebelum pergi. Ia meminta kami menghadapnya lagi setelah kami selesai beres-beres.

Setelah percakapan singkat yang cukup menegangkan itu, kami bertiga merasa lega. Namun masih ada sesuatu yang terasa janggal bagiku.

Kami segera bersiap-siap. Kami membereskan barang-barang kami dan membersihkan kamar kami.

Sejak memulai pekerjaan kami, sebenarnya kami tak pernah menghabiskan waktu di kamar ini. Selepas bekerja, biasanya kami akan pergi ke pantai lalu pulang saat malam dan langsung tidur. Untungnya, ini berarti kami tak pernah membuat kamar ini terlalu berantakan dan dalam waktu singkat, kamar ini kembali seperti semula seperti sebelum kami datang.

Setelah kami selesai bersih-bersih, kami memanggil Makiko. Ia, Ryuichi, dan Misaki yang terlihat sedih kemudian duduk bersama dengan kami.

�Kami di sini tak lama,� aku mulai berpamitan dengan mereka, �Namun terima kasih sekali atas segala kebaikan kalian terhadap kami selama kami di sini. Maaf jika kami harus berhenti mendadak seperti ini.� Kami bertiga kemudian membungkuk ke arah mereka.

�Tidak...tidak...justru kamilah yang harus berterima kasih.� Makiko kemudian memberikan amplop kepada masing-masing dari kami, �Ini tidak banyak, tapi kumohon, terimalah! Ini juga ada hadiah untuk kalian.� Ia juga menyertakan sebuah tas kecil, seperti tempat untuk uang koin.

�Jaga diri kalian baik-baik.� Misaki berkata dengan raut wajah sedih, bahkan ia terlihat hampir menangis. Ia kemudian memberikan kami bungkusan berisi onigiri, �Aku membuatnya cukup untuk kalian bertiga.�

Hei, hei ... kumohon, hentikan! Kau akan membuatku menangis! Aku bahkan tak bisa menatap wajahnya lama-lama. Aku bahkan sedikit tercekat, memikirkan kami akan berpisah dengan orang-orang yang sudah begitu baik dengan kami.

Kami mengucapkan selamat tinggal dan keluar dari penginapan itu.

Sebenarnya ada sebuah pemberhentian bus di dekat penginapan itu, namun kami setuju untuk naik taksi saja untuk kembali ke stasiun kereta. Ryuichi bertanya apa kami membutuhkan tumpangan, namun Shoji menolak dengan halus. Misaki kemudian memanggilkan taksi untuk kami.

Ketika taksi itu tiba, Makiko mengantar kami ke mobil. Situsasi saat itu memang tampak seperti perpisahan yang menguras emosi, namun sebenarnya kami sedang mencoba melarikan diri.

Tepat sebelum aku masuk ke taksi, aku menoleh. Aku melihat pintu menuju ke lantai dua sedikit terbuka. Ini aneh, pikirku, Makiko tak pernah membiarkannya terbuka sebelum ini dan selalu menutupnya rapat-rapat. Aku mengalihkan pandanganku dan masuk ke dalam mobil. Kami mengatakan pada sopir kemana kami akan pergi dan ia menyalakan taksinya.

Namun setelah kami berkendara sebentar dan pengiapan itu tak terlihat lagi, Shoji mengatakan pada sang sopir bahwa ia berubah pikiran dan memintanya mengubah arah. Ia memberikan catatan pada sang sopir kemana ia harus pergi.

�Benar kau mau ke sini?� tanya sang sopir dengan ragu, �Ongkosnya akan cukup mahal.�

�Jangan pikirkan itu.� Shoji bersikeras. Ia menoleh dan menatap kami berdua. �Aku harus pergi ke suatu tempat dan kuharap kalian berdua ikut denganku.�

Takumi dan aku menatap satu sama lain dengan bingung. Kemana kami akan pergi? Kami ingin bertanya, namun kami berdua sangat gugup dengan perilakunya yang aneh sejak pagi ini. Ia mungkin akan marah lagi jika kami menanyakannya, sama seperti ia marah pada Takumi tadi.

Namun setelah kami berkendara beberapa saat,

�Hei, mobil itu mengikuti kita. Bukankah mobil itu berasal dari tempat kalian berangkat tadi?�

TO BE CONTINUED

Sabtu, 17 Mei 2014

RESORT PART 05

 

Ia masih bisa melihatnya? Apa yang ia lihat?

Aku menoleh, namun tak ada apapun di sana. Hanya pintu geser yang terbuat dari kertas, itupun dalam keadaan tertutup.

Aku tak mengerti apa yang ia bicarakan. Sama sekali tidak. Aku berpikir ia sudah kehilangan akal sehatnya. Atau mungkin ia dirasuki oleh sesuatu.

�Aku memang berada di bawah saat itu, namun aku melihat sesuatu.� mulutnya gemetaran, namun ia berbicara dengan sangat jelas.

�Maksudmu kau melihat apa yang kulakukan di atas? Dengan sampah-sampah itu?�

�Tidak ... ya ... maksudku aku memang melihatmu. Namun bukan itu saja. Begitu kau sampai ke atas, aku bisa melihatnya dengan jelas ...�

Jujur, sebenarnya aku sama sekali tak mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Apa yang kualami kemarin saja sudah sangat seram. Namun tampaknya Shoji sudah tak mampu memendamnya lagi, ia harus menceritakannya pada orang lain. Ia dan Takumi mendengarkan dengan serius ceritaku kemarin dan itu membantuku. Kini, aku harus mendengar apa yang harus ia katakan.

�Apa yang kau lihat?� aku bertanya, walaupun aku sendiri takut dengan kebenarannya.

�Bayangan ...� ia bergumam, seolah-olah sedang bicara dengan dirinya sendiri.

�Bayangan?� tanyaku lagi.

�Ya,� ia mengangguk, �Pertama kupikir itu bayanganmu. Namun ketika kau berjongkok di lantai dan mulai memakan... yah, itu ... bayangan itu masih tetap bergerak. Aku melihat bayanganmu menciut ketika kau jongkok dan bayangan kami juga tak sampai sejauh itu. Namun bayangan-bayangan itu .... mereka bergerak. Mungkin ada tiga atau empat dari mereka.�

Aku merinding di sekujur tubuhku.

Ini pasti sebuah lelucon! Namun Shoji nampak serius.

�Namun hanya ada aku di sana.� kataku.

�Aku tahu ...� kata Shoji.

�Selain itu,� kataku lagi, �Tak mungkin tempat sesempit itu bisa menampung hingga empat atau lima orang. Hanya ada cukup ruangan untukku sendiri di sana.�

�Mereka bukan manusia. Aku cukup yakin hal itu.�

Aku hanya terdiam, tak mampu menyangkal pernyataan itu.

�Tak mungkin mereka manusia ...� ia kembali bergumam.

�Lalu apa mereka itu?�

�Mereka semua terjebak di dinding.�

�Hah?� aku tak mengerti apa yang ia coba katakan.

�Mereka semua seperti laba-laba.� Ia menjelaskan, �Mereka semua bergerak menjalari dinding. Seperti laba-laba.� Napasnya menjadi terengah-engah ketika ia mencoba menjelaskan.

�Tenanglah,� kataku, �Ambil napas dalam-dalam, oke? Semuanya baik-baik saja sekarang. Kami ada di sini untukmu.�

�Mereka bukan manusia,� ia terus berkata, �Tidak, mereka bukan manusia! Bahkan bayangan mereka tak seperti manusia. Ehm ... mereka sedikit tampak seperti manusia, namun ada yang ganjil ...�

Ia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tak mampu menemukan kata yang tepat. �Sesuatu dengan bentuk seperti bayangan manusia menjalari dinding. Seperti itukah yang kau lihat?�

Shoji mengangguk dengan enggan. Jantungku berdetak dengan kencang. Oke, bayangan yang ia lihat jelas bukanlah bayanganku. Tidaklah mungkin bayanganku bisa bergerak di sepanjang dinding dan langit-langit seperti yang ia deskripsikan. Bahkan jika mereka memang bayangan, mereka pasti berasal dari sesuatu kan? Dan tak ada siapapun selain aku di sana.

Dan jika mereka memang ada, mengapa aku tak menyadari mereka menjalar di sekelilingku saat itu?

Namun bagaimana jika aku salah?

Bagaimana jika suara napas dan garukan itu yang kudengar saat itu tak berasal dari balik pintu?

Mungkinkah saat itu mereka ada di sekelilingku?

Aku menjadi pusing oleh rasa takut. Kini aku mengerti mengapa Shoji meminta maaf padaku tadi. Ia melihat bayangan-bayangan itu di sekelilingku, namun ia tak mampu menolongku.

�Ma...maafkan aku tadi berteriak kepadamu.� Ia meminta maaf pada Takumi.

�Tidak apa-apa,� kata Takumi, �Justru aku yang harus minta maaf.�

Suasana menjadi canggung dan kemudianTakumi menanyakan sesuatu yang memang menggangguku sejak tadi.

�Kamu bilang kamu masih bisa melihat mereka?� tanyanya pada Shoji.

Shoji segera menjawab, �Oh, maaf.� Terlihat jelas ia memasang senyum palsu di wajahnya, �Aku hanya meracau tadi. Maaf, aku baik-baik saja.�

Terlihat jelas bahwa ia sedang berbohong. Matanya terlihat terfokus pada sesuatu selain kami. Sesuatu yang ada di kamar ini.

Aku tak tahu, tapi apa yang mengangguku adalah otot di bawah mata tampak berkedut. Hal itu terlihat sangat aneh. Seakan-akan ia memperhatikan sesuatu.

Namun baik aku maupun Takumi tak mau bertanya lebih jauh. Silakan anggap aku pengecut, namun aku memang sangat ketakutan saat itu dan tak mampu bertanya lebih jauh lagi. Aku tahu Shoji sedang menyembunyikan sesuatu. Namun aku juga terlalu takut untuk mengetahui jawabannya. Ini semua bisa membuatku gila!

Setelah kesunyian sejenak, kami mendengar Misaki, gadis muda yang tinggal di rumah ini, memanggil kami. Sarapan sudah siap. Kami ternyata sudah menghabiskan waktu cukup lama dalam perbincangan tadi.

Sebenarnya aku tak memiliki selera makan sedikitpun pagi ini, namun akan terlihat buruk jika kami tidak muncul untuk sarapan. Kami harus pergi. Jadi aku berdiri dan berkata kepada yang lain.

�Secepatnya kita pergi, semakin baik.� aku memulai, �Aku akan mengatakan bahwa kita berhenti setelah sarapan.�

�Ide yang bagus.� Takumi mengangguk.

�Aku tak mau makan,� kata Shoji, �Takumi, kau membawa laptop kan? Bisakah aku meminjamnya sebentar?�

�Silakan, tapi kau harus makan sesuatu!�

�Ada sesuatu yang ingin kucari,� ia bersikeras, �Aku tak punya banyak waktu. Maaf, tapi kalian berdua silakan makan duluan tanpa aku.�

�Baiklah,� jawabku, �Aku akan meminta Misaki membawakanmu beberapa onigiri.�

�Terima kasih.�

�Komputernya ada di tasku,� kata Takumi, �Gunakan saja semaumu. Seharusnya komputer itu sudah terhubung dengan internet.�

Takumi dan aku pergi ke ruang makan untuk menyantap sarapan kami. Aku hanya ingin berperilaku senormal mungkin pagi ini agar sang pemilik hotel tak curiga. Jadi kami pergi ke ruang makan dan di sana sudah duduk Makiko-san, menunggu kami.

Sejenak ia melihat luka-luka di kakiku, kemudian tersenyum lebar ke arahku.

TO BE CONTINUED

Minggu, 11 Mei 2014

RESORT PART 04

 

Aku ingat naik ke sana. Rasa takutnya masih melekat jelas dalam ingatanku. Namun aku tak pernah membungkuk dan yang lebih penting lagi, aku tak ingat pernah memakan sisa-sisa makanan yang membusuk.

Namun melihat kaosku yang penuh kotoran, mereka dapat dengan mudah membuktikan apa yang mereka lihat. Bahkan di tanganku ada bekas sisa-sisa makanan itu.

Aku merasa hampir gila.

Takumi dan Shoji memandangku dengan khawatir.

�Kau tahu, jika sesuatu terjadi padamu, kau bisa berbicara dengan kami,� Takumi menawarkan, �Kamu tak sendirian sekarang. Ada kami!�

Walaupun dikuasai ketakutan, namun aku tak mau menanggung semuanya ini sendirian. Dengan perlahan kuceritakan pada mereka pengalamanku ketika aku naik ke atas. Mereka sesekali mengangguk mendengar ceritaku dan tampak sekali bahwa mereka menanggapi ceritaku ini dengan serius. Walaupun apa yang mereka lihat dan apa yang aku alami berbeda, namun mereka mendengarkanku dengan saksama hingga kisahku berakhir. Dukungan mereka membuatku tenang, bahkan aku hampir menangis dibuatnya.

Aku mengeluarkan desahan panjang dan merasakan untuk pertama kalinya, bahwa kakiku terasa aneh. Aku melihat ke bawah dan melihat luka-luka kecil di sepanjang lutut dan kakiku. Aneh, pikirku. Aku memicingkan pandanganku dan menemukan ada potongan-potongan kecil seperti serpihan plastik menempel pada luka-luka itu. Beberapa merah, sementara yang lain berwarna putih dengan noda hitam. Aku tak mampu mengalihkan pandanganku ada benda-benda itu.

�Apa itu?� tanya Shoji. Ia mengambil satu dan mengamatinya. Tiba-tiba ia berteriak dan melemparkannya ke lantai. Takumi dan aku terkejut atas reaksinya tersebut.

�Apa ada yang salah?� tanya Takumi.

�Lihat saja itu!� serunya. �A...apa itu kuku?� ia bertanya dengan nada ketakutan. Kami bertiga membeku saat itu juga.

Meskipun rasa takut tengah mencekamku, namun aku mencoba berpikir dengan tenang. Suara yang kudengar dari balik pintu, itu adalah suara kuku yang menggaruk. Itu masuk akal. Dan suara �Krak� yang sempat kudengar saat menaiki tangga, mungkinkah itu suara kakiku menginjak kuku-kuku ini?

Apakah kuku-kuku ini berasal dari apapun yang sedang menggaruk dari balik pintu itu?

Aku pasti terluka dengan potongan-potongan kuku ini saat aku berjongkok dan memakan makanan busuk itu di lantai.

Namun itu semua tak lagi penting. Aku tak bisa tinggal di sini lagi. Aku menatap Shoji dan Takumi.

�Aku tak bisa lagi bekerja di sini.�

�Aku tahu.� kata Takumi. Aku sempat terkejut meihat reaksinya. Ternyata ia juga merasakan apa yang kurasakan.

�Aku juga berpikir sama.� Shoji juga setuju.

�Aku akan mengatakannya pada Makiko-san besok.� kataku.

�Kau akan mengatakannya, tentang kamu mengendap-endap masuk ke lantai dua?� Takumi tampak terkejut.

�Aku harus. Ia begitu baik terhadapku selama ini, dan aku harus meminta maaf.�

�Tapi apa kamu tak khawatir tentang apa reaksinya jika kita mengatakan kau naik ke sana?� Shoji tampak cemas, �Ia pasti akan sangat marah.�

�Jangan bodoh! Aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya. Semua itu tak penting lagi. Aku hanya ingin secepatnya keluar dari tempat ini!�

�Ya.� Takumi mengangguk, �Mungkin itulah yang terbaik.�

Malam itu, kami mengepaki barang-barang kami. Kami sadar bahwa kami terdengar sangat tak bertanggung jawab menelantarkan pekerjaan kami begitu saja, namun kami sangatlah takut. Kami semua tidur berdempetan malam itu, namun tak ada satupun dari kami yang benar-benar terlelap. Kami semua terjaga hingga pagi menjelang.

Salah satu alarm kami berbunyi dan memecah keheningan pagi itu. Hanya itu satu-satunya hal normal yang terjadi pada kami.

Pagi itu, Shoji tiba-tiba meminta maaf padaku.

�Maaf.� katanya. Ia selalu menjadi teman terbaikku dan aneh rasaya mendengar ia meminta maaf kepadaku. �Semua ini salahku. Saat itu aku tahu hal aneh terjadi padamu dan aku juga tahu kau sedang ketakutan, namun aku tak datang menolongmu. Maafkan aku ...�

Air mataku mulai menetes. Aku begitu bahagia mendengar bahwa ia begitu memperhatikanku sebagai teman.

Namun ada sesuatu yang ganjil. Ia tampak lebih ketakutan dari aku. Mengapa ia begitu ketakukan? Bukankah aku yang mengalami semuanya itu? Ia dan Takumi kan hanya melihat dari bawah? Apa aku membuat mereka takut? Apa ceritaku saat aku berada di atas yang membuat mereka takut?

Semula aku berpikir Shoji hanya tertular rasa takut itu dariku. Namun ternyata ketakutan Shoji menjadi nyata.

Ia hampir melompat ketika mendengar setiap suara keras yang terdengar dari kamar kami. Melihat dari caranya menatap luka-luka di sekujur kakiku, mudah mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengannya.

Takumi menatap Shoji dengan cemas.

�Hei, apa kau baik-baik saja?� Takumi memegang kedua bahunya, �Apa ini gara-gara kau kurang tidur semalam?�

�Diamlah!� tiba-tiba Shoji berteriak dan segera mendorong tangan Takumi.

�Apa yang terjadi denganmu?� seruku. Takumi terlalu terkejut untuk mengatakan sesuatu.

�Apa aku baik-baik saja? Bagaimana mungkin aku baik-baik saja?� ia menatap Takumi dengan tajam saat ia mengatakannya, �Aku pikir aku dan Yuuki akan mati kemarin! Jangan bertingkah seolah-olah kau peduli pada kami! Kau bahkan tak tahu apa yang terjadi!�

Apa yang ia katakan? Aku tak mengerti. Shoji berpikir ia akan mati? Ia tak mungkin berbicara tentang hal-hal yang kualami kemarin.

Takumi dan Shoji merupakan teman dekat walaupun aku tahu Takumi punya kecenderungan untuk membuat kesal teman-temannya. Namun sejauh ini, Shoji tak pernah marah dengan Takumi. Aku juga tak pernah melihat Shoji berteriak pada Takumi seperti itu. Dan menilai dari reaksi Takumi, ini adalah kali pertama hal seperti ini terjadi. Ia terlihat sedih akibat kejadian itu.

�Kau berpikir kau akan mati?� tanyaku, �Tapi selama itu kau selalu berada di bawah tangga ...�

�Aku...aku melihat semuanya dari bawah tangga ...�

Ia terdiam selama beberapa saat. Selama ini aku mengira ia sedang melihat ke arahku saat kami berbicara, namun kemudian aku menyadarinya. Ia sedang melihat ke arah belakang punggungku.

�Dan aku masih melihatnya sekarang ...�

TO BE CONTINUED

Sabtu, 03 Mei 2014

RESORT PART 03

 

Cahaya matahari dari luar menyinari tangga, namun masih cukup gelap di dalam. Dengan hati-hati aku menaiki tangga satu-persatu. Di tengah jalan, aku mendengar suara �Krak ... krak ...�

Aku mulai ketakutan dan menoleh untuk mengecek keadaan Takumi dan Shoji. Mereka sepertinya tak mendengar suara itu. Takumi melihat ke luar untuk memastikan Makiko tak keluar dan memergoki kami. Shoji mengawasiku dari pintu dan mengangkat salah satu jarinya, gesture yang kami sepakati untuk �Semuanya baik-baik saja.�. Aku mengangguk pada Shoji dan mulai naik kembali. Aku berpikir suara yang barusan kudengar mungkin bunyi decit tangga kayu saat kuinjak. Ini biasa terjadi di rumah tua.

Ketika aku sampai di ujung dimana cahaya dari luar mampu masuk, aku menjadi lebih takut ketimbang penasaran. Aku ingin berlari dan turun kembali. Namun aku akan malu dengan Shoji dan Takumi. Bukankah aku tadi sudah sok berani di hadapan mereka dengan naik ke sini? Tidak, aku akan meneruskannya!

Aku memusatkan mataku ke dalam kegelapan dan seperti melihat ada sesuatu berdiri di depan pintu di ujung lorong. Imajinasiku mulai menggila.

�Krak ... krak ... krak ...�

Suara itu bertambah keras dan akupun menyadari bahwa aku mungkin menginjak sesuatu. Serangga? Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Segala sesuatu di sini tampak diam, namun suasananya sangat gelap sehingga aku tak bisa memastikan. Aku tak tahu sudah berapa kali aku menoleh ke belakang, namun aku hanya bisa melihat bayangan teman-temanku memanjang dengan jari Shoji masih mengacung.

Semakin mendekat aku ke ujung lorong, aroma aneh segera menyeruak. Aku segera menutup hidungku, seperti yang dilakukan Shoji tadi.

Bau busuk apa ini? Aromanya seperti sampah yang membusuk. Darimana asalnya? Aku melihat ke sekelilingku dan melihat asalnya. Pada ujung lorong terdapat tumpukan makanan yang membusuk. Pasti inilah sumber bau tak mengenakkan ini. Lalat berputar-putar di udara dan tumpukan sampah itu terus mengeluarkan aroma busuk.

Namun tiba-tiba aku melihat sesuatu yang lain.

Pada kayu yang menutupi pinggiran pintu di lantai dua terdapat banyak paku menancap, tak terhitung jumlahnya. Dan di paku-paku tersebut tergantung puluhan jimat. Terakhir, utas demi utas tali diikatkan ke tiap paku, membentuk semacam pola seperti jaring laba-laba.

Jelas sekali, dengan jimat dan jaring itu, bahwa sesuatu sedang �dikurung� di kamar itu. Akupun sadar bahwa sejak semula seharusnya aku tak naik ke sini.

�Saatnya untuk pergi.� kataku pada diriku sendiri. Namun ketika bersiap-siap turun, aku mendengar sesuatu dari belakangku.

Krek ....... krek ......... kreeeeeeeek ...........� terdengar seperti suara sesuatu sedang menggaruk sisi lain dari pintu itu.

�.......huuuuuh ........ huuuuuuh ...........� kemudian terdengar bunyi napas tak teratur. Aku mengira bahwa aku akan terkena serangan jantung saat itu.

Apa ada seseorang di sana? Siapa itu?

Aku merasa seperti tokoh dalam film horor.

Aku tahu bahwa aku seharusnya pergi saat itu juga, namun aku tak bisa. Aku tak memiliki keberanian untuk maju dan aku juga terlalu takut untuk mundur kembali. Aku sepenuhnya membeku saat itu. Satu-satunya yang mampu bergerak adalah bola mataku. Punggungku basah oleh keringat dingin yang terus mengalir.

Suara cakaran dan desah napas itu membuatku putus asa, aku mungkin takkan keluar dari sini.

Untuk sesaat, suara-suara itu terehnti dan semuanya menjadi sunyi. Saat itu berlalu sangat cepat, mungkin hanya satu kedipan mata saja.

Dan kemudian ...

�KREK ...KREK ... KREEEEEEEEEK!!!!!!� suara itu terdengar makin cepat. Namun sukar dipercaya, suara itu tak lagi berasal dari pintu, namun dari atasku. Aku dapat mendengarnya berasal dari papan kayu yang menutpi langit-langit. Apapun itu, ia baru saja berpindah dari kamar ke langit-langit.

Kakiku gemetar ketakutan. Aku berpikir aku akan tamat. Diam-diam aku menangis meminta tolong.

Sejenak kemudian, aku melihat sesuatu dari pelupuk mataku. Hal itu, apapun itu, membuat sesuatu yang sedang bergerak tadi merasa terancam dan kemudian mundur. Aku ragu, namun akhirnya aku memutuskan untuk menatapnya.

Itu adalah Takumi dan Shoji. Mereka tampak berbisik memanggilku sambil melambai-lambaikan tangan mereka. Sayup-sayup, aku bisa mendengar apa yang mereka coba katakan.

�Hei! Cepat turun! Cepat!� bisik Takumi.

�Apa kau baik-baik saja?� bisik Shoji.

Mendengar suara familiar mereka, akupun mengumpulkan kembali tenagaku dan bergerak. Aku berlari menuruni tangga secepat mungkin. Aku bahkan tak sadar saat itu bahwa aku berlari dengan mata tertutup dan berlari begitu cepat hingga melewati mereka.

Saat itu aku hanya ingin berada di tempat yang aman. Kami bertiga kabur ke kamar kami. Setelah kami berada di dalam kamar, merekapun dengan cemas bertanya.

�Kau tak apa-apa?� tanya Takumi.

�Apa yang terjadi? Apa ada yang terjadi di atas sana?�

Aku tak mampu menjawab. Suara-suara itu masih saja terulang dalam pikiranku dan aku masih terlalu takut untuk menjawab.

Takumi menatapku dengan prihatin, �Apa kau memakan sesuatu di atas sana?�

Aku tak mengerti apa yang ia maksud, jadi dia mengulangi pertanyaannya. Namun aku pikir pertanyaan itu sangatlah konyol.

�Segera setelah kau sampai di atas, kamu jongkok kan?� Takumi menjelaskan, masih dengan ekspresi yang sama, �Shoji dan aku penasaran dengan apa yang kau lakukan jadi kami mencoba melihatnya dengan lebih baik. Dan kami bersumpah melihatmu memakan sesuatu dengan sangat rakus, seakan-akan hidupmu bergantung pada itu. Atau ... kau hanya menjejalkan sesuatu ke dalam mulutmu...�

�Yah, itu ...� Shoji menunjuk dan memandang kaosku. Heran dengan apa yang mereka lihat, aku menatap ke kaosku sendiri dan melihat makanan-makanan sisa yang menempel di dadaku. Baunya seperti sampah yang membusuk. Aku segera bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang ada dalam perutku.

Ada hal yang sangat aneh terjadi padaku.

TO BE CONTINUED

Minggu, 27 April 2014

RESORT PART 02

 

Hari berikutnya, kami menyelesaikan pekerjaan kami lebih awal dan berkumpul di pintu masuk dimana Shoji berada.

Kami menunggu Makiko-san.

Segera setelah kami berkumpul di sana, Makiko meninggalkan salah satu kamar dengan keranjang makanan. Ia membuka pintu menuju ke tangga dan menghilang ke dalamnya. Pertama akan kujelaskan, untuk menuju tangga, kami harus keluar dari pintu masuk hotel, sebab tak ada jalan menuju ke lantai dua dari dalam penginapan. Kami harus keluar terlebih dahulu dan di pojok bangunan terdapat sebuah pintu untuk menuju ke lantai atas.

Seperti yang dikatakan Shoji, dia kembali setelah sekitar 5 menit berada di atas. Makanan di atas keranjang telah lenyap. Dia kembali masuk tanpa mengetahui keberadaan kami.

�Lihat,� kata Shoji, �Cepat kan?�

�Yah, kau benar.�

�Ada apa di atas sana?� tanya Takumi.

�Aku tak tahu. Apa kalian mau memeriksanya?� saran Shoji.

�Uhm, jujur ... aku agak takut,� kata Takumi.

�Sebenarnya aku juga. Tapi bagaimana, apa kalian tak mau tahu?� desak Shoji.

�Hmm...kurasa itu bukan ide buruk. Ayo kita kesana.� kataku dan kami bertiga segera mengendap-endap ke arah pintu tersebut.

�Apa pintunya terkunci?� Takumi bertanya dengan nada cemas. Aku berusaha menggeser pintu dan pintupun terbuka beberapa centimeter. Shoji yang berada di sebelah kiri pintu dapat melihat bagian dalamnya.

�Ew...� ia melenguh dan menutup hidungnya.

�Ada apa?� tanya Takumi.

�Apa kau tidak menciumnya?�

�Mencium apa?� Takumi dan aku kebingungan.

�Serius kalian tidak menciumnya?� ujar Shoji sambil terus menutup hidungnya, �Buka pintunya lebih lebar dan kalian akan menciumnya!�

Aku mengumpulkan segenap keberanianku dan membuka pintu itu lebih lebar. Udara hangat mengalir keluar, diikuti debu yang berterbangan.

�Maksudmu debu-debu ini?�

�Hah? Aku tak menciumnya lagi ...� ujar Shoji.

�Berhentilah mempermainkan kami!� Takumi tampak marah, �Jika kau mengerjai kami lagi, aku akan meninggalkanmu di sini!� Takumi memang berwatak agak keras dan kasar.

�Maaf...tapi aku tadi benar-benar menciumnya, seperti bau sampah.�

�Cukup!� seru Takumi, �Itu hanya imajinasimu!�

Aku mengintip ke dalam melalui celah pintu dan memperhatikan sesuatu.

Lorong di dalamnya sangatlah sempit. Begitu sempit hingga hanya satu orang yang bisa melaluinya. Dan sama sekali tak ada pencahayaan di dalam. Aku hanya bisa melihat ujung lorong karena cahaya yang masuk dari luar, dari pintu yang kami buka ini. Di ujung lorong di lantai atas, terdapat pintu lain.

�Apa kita akan naik ke atas?� tunjukku.

�Tidak! Tidak!� Takumi tampak panik, �Jangan naik ke atas!�

�Kau tak mau?� Shoji keheranan melihat Takumi panik.

�Jika kalian mau ke sana, silakan saja. Tapi aku tetap di sini!� Takumi bersikeras.

�Yah, kalau begitu aku tetap di sini saja juga.� kata Shoji.

�Ah, kalian berdua pengecut! Bukankah kalian yang mengajakku ke sini?� ujarku, � Baiklah, kalau begitu aku yang akan naik ke atas.�

�Serius?� mereka berdua berseru bersamaan.

�Jika aku tak pergi sekarang, aku takkan bisa tidur memikirkannya. Jika aku tak bisa tidur, maka aku akan pergi ke sini malam-malam dan itu tentunya akan lebih gawat. Jadi aku akan naik ke sana sekarang!� Alasan itu memang tak masuk akal, namun rasa penasaran sudah telanjur menguasaiku. Selain itu ada Shoji dan Takumi di sini, jadi pasti aman.

Namun selain penasaran, aku juga merasa takut. Aku akan naik ke sana sendirian, tetapi mereka berdua telah berjanji untuk tidak lari dan memperingatkanku jika sesuatu terjadi.

Maka akupun mulai naik ke atas.

TO BE CONTINUED

Sabtu, 19 April 2014

RESORT PART 01

 

Catatan: Resort adalah sebuah cerita yang sangat panjang, meliputi sekitar 15 episode. Kisah ini bercerita tentang tiga sahabat bernama Takumi, Shoji, dan Yuuki (sang narator). Mereka memutuskan untuk bekerja selama liburan musim panas di sebuah penginapan terpencil. Mereka menduga Makiko, sang pemilik penginapan menyembunyikan sesuatu di lantai dua penginapannya. Ketika mereka memutuskan untuk naik ke lantai dua, didorong rasa ingin tahu mereka, hal mengerikan pun terjadi.

Karena cerita ini sangat panjang, sebaiknya jangan terlalu berharap untuk langsung mengetahui endingnya. Nikmati saja tiap episodenya.

***

Peristiwa ini terjadi ketika aku masih menjadi mahasiswa baru.

Musim panas mulai mendekat. Aku dan empat temanku memutuskan untuk berlibur ke pantai. Ketika kami membahasnya, salah seorang teman kami mengusulkan untuk bekerja paruh waktu di sana. Kamipun setuju, karena toh sebulan bermain di pantai kedengarannya membosankan. Paling tidak dengan bekerja, kami akan mendapat tambahan uang saku. Sayangnya, dua orang teman kami harus mengikuti seminar, sehingga mereka tak bisa ikut. Akhirnya, hanya kami bertiga yang meneruskan rencana tersebut.

Maka kamipun mulai mencari pekerjaan musim panas secara online Lowongan di sebuah hotel menarik perhatianku. Tentu karena aku berpikir pasti mudah bertemu dengan gadis-gadis di tempat semacam ini. Sempurna!

Kami menelepon hotel tersebut dan pemiliknya melakukan wawancara melalui telepon. Semua berjalan lancar. Kami bertiga diterima bekerja di sana selama musim panas. Dengan rencana kami berjalan lancar, kamipun tak sabar menantikan musim panas, bahkan sudah berandai-andai bertemu wanita-wanita cantik di sana.

Akhirnya hari itu tiba dimana kami mulai bekerja di hotel itu. Ini adalah kali pertama aku bekerja, jadi aku merasa sedikit gugup, namun juga excited.

Ketika kami tiba di hotel itu, kami terperangah. Ternyata hotel itu bukan hotel modern seperti yang kami duga. Hotel itu ternyata adalah rumah tradisional Jepang yang sudah tua, namun sangat luas dan masih terawat baik. Namanya cukup aneh, �B&B Cottage�, sama sekali tak cocok dengan atmosfer Jepang yang sangat kental di sini.

Kami memanggil dari depan pintu dan seorang wanita berumur separuh baya menyambut kami. Ia tersenyum dan memperkenalkan dirinya sebagai Makiko-san, pemilik penginapan ini.

Hotel ini memiliki empat kamar untuk tamu, sebuah ruang makan, dan dua kamar untuk staf. Sehingga total terdapat enam kamar, tidak termasuk dapur. Kami kemudian dibawa ke ruang makan. Setelah beberapa saat, seorang gadis muda muncul dan membawakan kami teh. Ia mengatakan namanya adalah Misaki-chan dan ia bekerja di penginapan ini. Selain kami berlima, ada pula suami Makiko bernama Ryuichi.

Kami secara singkat memperkenalkan diri kami dan Makiko menjawab, �Kamar para tamu berada di lantai satu. Kamar kalian akan berada di ujung lorong ini. Nah, sekarang mari kita bawa barang-barang bawaan kalian ke kamar.�

Dua temanku, Takumi dan Shoji, tiba-tiba bertanya, �Bukankah ada kamar juga di lantai dua?�

Kami memang melihat dari luar bahwa hotel ini memiliki dua tingkat.

Makiko tertawa, �Memang ada lantai dua di rumah ini, namun kami tidak menggunakannya.�

Kami bertiga keheranan sebab saat ini adalah musim liburan. Bukankah lebih menguntungkan untuk membuka kamar-kamar di lantai dua sehingga bisa menampung lebih banyak tamu? Namun saat itu kami tak begitu memikirkannya. Mungkin saja jika tamu sudah banyak, mereka akan membukanya, pikir kami.

Kami membawa barang-barang kami ke kamar. Pemandangan yang terlihat di kamar kami sangatlah indah, dengan taman Jepang dan pegunungan di kejauhan. Maka pekerjaan musim panas kamipun dimulai. Pekerjaan itu ternyata sangat berat, namun karena orang-orang yang bekerja dengan kami sangat menyenangkan, maka kami mengerjakannya dengan senang hati.

�Wah, kita benar-benar beruntung mendapatkan pekerjaan ini, ya kan?� temanku Takumi berkata padaku setelah kami bekerja di sana selama seminggu.

�Ya, bahkan lebih keren lagi: kita akan mendapatkan uang.� kata Shoji.

�Yah tentu,� jawabku, �Namun puncak liburan akan segera datang. Kita akan sangat sibuk nantinya.�

�Nah, karena kau mengungkitnya tadi ... apakah mereka akan membuka lantai dua jika lebih banyak tamu berdatangan?�

�Kurasa tidak,� kata Shoji, �Bukankah Makiko-san dan keluarganya tinggal di sana?�

�Benarkah?� Takumi dan aku menaikkan nada suara kami. Kami baru tahu hal itu.

�Aku nggak benar-benar yakin sih. Tapi bukankah ia selalu membawa makanan ke atas?�

�Aku tak tahu.� Takumi dan aku sama-sama heran mendengarnya.

Shoji membersihkan halaman pada suatu sore dan melihat Makiko naik ke atas cukup sering. Dia membawa keranjang dengan makanan di dalamnya dan bergegas naik ke atas. Ketika Shoji mengatakannya kepada kami, kami cukup terkejut.

�Benarkah?� mungkin karena aku tak melihatnya sendiri, aku tak begitu mempercayai cerita Shoji itu.

Beberapa hari kemudian, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri ketika sedang menyapu lorong. Makiko mengendap-endap keluar dari salah satu kamar tamu. Biasanya ia tak membersihkan kamar itu. Selalu Misaki yang mengerjakannya. Aku pikir itu agak aneh. Bahkan aku sempat meragukan penglihatanku, namun itu jelas Makiko. Aku memikirkannya sepanjang hari dan tak tahan untuk menyinggungnya di hadapan teman-temanku.

�Ya, aku melihatnya juga.� Takumi berkata ketika aku menceritakan hal itu.

�Serius? Mengapa tak kau ceritakan padaku?�

�Aku hanya berpikir ia mungkin ada keperluan di sana.� Takumi menjelaskan, �Toh dia pemilik penginapan ini kan? Ia bebas untuk berbuat apapun.�

�Memang.� aku setuju.

Hanya sebulan sebelum pekerjaan musim panas kami berakhir. Kami tak bisa menahan rasa penasaran kami.

�Kenapa kita tidak mengikutinya saja?� saran Shoji.

�Apa yang kau katakan?� Takumi heran, �Tempat ini kan sangat kecil. Jelas sekali kita bakal ketahuan.�

�Tapi ...� Shoji masih tampak penasaran.

�Sekarang bagaimana?� aku bertanya. Namun tak ada yang bisa menjawabku. Beberapa minggu lagi kami akan pergi dan kami ingin ada pengalaman berkesan sebelum meninggalkan tempat ini.

Sebuah petualangan.

�Baiklah. Jika salah satu dari kita melihat hal yang aneh, maka kita akan memberitahu satu sama lain. setuju?� kamipun sepakat sebelum pergi tidur malam itu.

Keesokan harinya, Shoji memanggil kami ke sebuah ruangan. Kami dengan enggan mengikutinya.

�Nah, kalian tahu kan saat aku mengatakan bahwa Makiko selalu naik ke lantai dua?� Shoji memulai, �Sebelumnya aku hanya melihatnya naik ke atas, namun kali ini aku menunggunya hingga ia turun. Dan ia menghabiskan waktu sekitar lima menit di atas, lalu ia turun membawa nampan makanan yang kosong.�

�Dan?� Takumi penasaran.

�Dia selalu makan dengan kita kan? Namun ia membawa makanan ke atas...bukankah itu artinya ada yang tinggal di lantai atas?�

�Aku pikir begitu, namun ....� kataku.

�Siapapun yang tinggal di atas, kita belum pernah melihatnya. Kita bahkan belum pernah mendengar ada yang tinggal di atas bukan?�

�Apa mungkin orang yang tinggal di atas sedang sakit?�

�Namun jika dia hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk makan, bukankah itu berarti dia sangat sehat? Tidakkah kalian berpikir ini aneh? Kamu sendiri kan yang bilang untuk mengatakan pada kalian kalau aku melihat ada yang aneh. Itu sebabnya aku mengatakannya pada kalian.�

�Lalu, apa yang sebenarnya ada di atas?� kami bertiga bertanya-tanya.

 

TO BE CONTINUED