Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2015

MENCICIPI KULINER PASAR SANTA, JAKARTA

Pasar Santa. Saya rasa hampir semua warga Jakarta pasti kenal dengan pasar yang satu ini. Dulunya ini adalah kawasan pasar tradisional pada umumnya yang bisa ditemukan di mana saja. Awalnya lantai 1 difungsikan bagi para penjahit, namun karena sepi pembeli, para penjahit pun turun dan menempati lantai dasar pasar Santa. Lantai 1 pun sempat terbengkalai dan kosong melompom. Namun sejak Agustus

Minggu, 12 Oktober 2014

PULAU ONRUST: THE TOMB OF RESTLESS HISTORY

 

PULAU ONRUST

�Onrust� dalam bahasa Belanda berarti �unrest� alias �tak pernah beristirahat�. Sebab dahulu, pulau ini adalah pusat maritim bangsa Belanda yang supersibuk. Bahkan di sinilah, pundi2 kekayaan VOC terisi dengan jerih payah bangsa ini. Sayang sekali, warisan sejarah Pulau Onrust ini tak banyak tersisa. Bukan karena Belanda, Jepang, atau bangsa penjajah lainnya, melainkan karena ulah bangsa kita sendiri. Beruntung, Pemkot Jakarta sepertinya mulai menaruh kepedulian pada kelestarian sejarah di sini. Sejarah di pulau ini memang tak pernah beristirahat, seperti namanya.

Setelah menyambangi Pulau Cipir, tujuan terakhir dalam tur kami hari ini adalah Pulau Onrust. Pulau ini dijadikan �pamungkas� alias gong acara jalan2 kami karena ketimbang kedua pulau lainnya, atmosfer sejarah di pulau �harusnya� lebih terasa, sebab pulau ini adalah yang terbesar di antara ketiga pulau historis yang kami kunjungi.

Bisa dibilang, di sinilah titik nol dimana Belanda mulai bercokol dan perlahan-lahan menggerogoti kekayaan alam Nusantara. Di pulau inilah pada 1619 armada Belanda datang untuk menaklukkan Indonesia. Sebenarnya salah bangsa kita sendiri sih yang terlalu ramah pada para pendatang Eropa.

Pangeran Jayakarta yang saat itu berkuasa mengizinkan pelaut Belanda yang tiba di Nusantara untuk mempergunakan Pulau Onrust sebagai galangan kapal untuk memperbaikik kapal mereka yang rusak. Namun justru pada perkembangannya, setelah Sunda Kelapa takluk dan ditahbiskan menjadi Batavia, pulau ini menjelma sebagai gerbang perdagangan rempah2 dari Nusantara menuju Eropa. Dahulu, kapal pedagang yang hendak berlayar dari pelabuhan Batavia harus melalui pulau ini terlebih dahulu.

Kejayaan Pulau Onrust akhirnya runtuh akibat berbagai peristiwa. Pertama serangan Inggris pada 1803 � 1810 dan kedua, letusan Krakatau pada 1883 akhirnya meluluhlantakkan pulau ini. Kemudian pada 1960-1965, pulau ini dijadikan exile atau pengasingan bagi tuna wisma.

Begitu tiba di pulau ini, kami langsung disambut oleh seorang guide. Wah, dari ketiga pulau yang kami kunjungin, baru satu ini yang ditemenin guide. Gue langsung excited ketika bapak guide mengantar kami ke ruangan yang kini menjadi museum. Bangunan ini merupakan bangunan restorasi (aslinya dah rata dengan tanah), namun tetap dibangun menyerupai bangunan aslinya.

1412399742691

1412404806993

Walaupun koleksinya sangat minim, namun museum ini cukup lah menceritakan sejarah panjang pulau ini. Ini salah satu koleksi museum ini, yakni pecahan keramik tempo doeloe.

1412399864689

Poster2 yang ada di dinding museum ini juga cukup membantu dan informatif. Salah satu poster juga menyebut James Cook, penemu Australia, pernah singgah di Pulau Onrust ini dalam perjalanannya.

1412399900956

Ini foto gedung2 di pulau ini pada saat masih berdiri.

1412404663662

When U see it �.

1412399815211

Dan ini ... hmmm, apa ya?

1412404531732

Kami berjalan menyusuri reruntuhan bangunan yang seakan tiada habisnya sambil sesekali berhenti ketika sang guide memiliki cerita menarik untuk dibagi. Pulau ini dahulu disesaki oleh oleh berbagai bangunan, mulai dari dermaga, rumah sakit, kantor, benteng, gudang mesiu, bastion (bagian benteng yang menjorok ke luar), bahkan kincir angin. Kincir ini bukan hanya buat bernostalgia ama kampung halaman mereka di Belanda, namun juga berfungsi menyediakan energi untuk penggergajian kayu untuk perbaikan kapal. Wow!

1412406282686

Sayang dari apa yang gue ceritain, nggak banyak, bahkan hampir nggak ada yang tersisa. Sang guide mengisahkan kisah miris dimana pada 1968, sebagian besar batu yang digunakan untuk mendirikan bangunan di pulau ini dijarah secara berjamaah oleh penduduk Jakarta Utara. Namun di sela2 reruntuhan ini, masih ada cerita masa lalu yang asyik untuk diperbincangkan. Lubang ini misalnya, ternyata adalah pengolahan air bersih pada masa Hindia Belanda. Kalo dipikir2, gimana ya cara mereka kala itu dapat air bersih, karena kan pastinya pulau ini dikelilingi oleh air laut yang asin. Katanya sih pake sumur artesis, tapi masa iya? Ini kan di tengah laut? Ternyata teknologi masa lampau nggak kalah canggih.

1412400112622

Ini adalah sisa-sisa pagar anti tikus yang kedalamannya hingga mencapai beberapa meter ke dalam tanah. Tujuannya untuk mencegah tikus menggali masuk ke dalam rumah. Hal ini untuk mencegah berkembangnya penyakit leptospirosis yang ditularkan oleh air kencing tikus.

1412400247928

Kami lalu dibawa ke bekas gedung penjara yang kini telah direnovasi menjadi baru. Mengapa bangunan ini dianggap penting hingga direstorasi kembali, ketimbang bangunan2 lain seperti benteng? Ternyata penjara ini menyimpan kisah unik. Bangunan sirkular ini (yang awalnya gue tebak adalah tempat air) ternyata merupakan arena gladiator. Untuk mengurangi populasi narapidana di sini, mereka akan dipaksa bertarung di dalam ring ini sampai ini. Wah, nggak nyangka ya zaman penjajahan ada hal semacam itu juga. Kirain bangsa penjajah kala itu lebih civilized, ternyata masih primitif juga.

1412400360563

Bagian paling menarik lainnya dari pulau ini adalah makam Belanda-nya. Ada makam2 berbentuk sarkofagus yang agak nggak lazim dijumpai. Apa ini makam Yahudi seperti yang gue temukan di TPU Petamburan, Tanah Abang?

1412405481733   1412400546786

Kebanyakan batu nisan di sini sudah tak terawat, namun beberapa masih ada yang menyisakan cerita tersendiri. Ada banyak makam gadis2 Belanda di sini, contohnya makam Anna Adriana Duran dan Johanna Kalf.

1412400593164

1412400582653    1412400820259

Namun cerita yang paling menarik adalah cerita Maria van de Veldes. Ada yang mengatakan gadis cantik ini meninggal karena wabah malaria, namun juga ada legenda yang menyatakan bahwa ia meninggal bunuh diri. Gue sempet baca di salah satu blog bahwa pulau Onrust ini terkenal angker karena kerap dihantui sosok arwah noni Belanda yang cantik. Apa mungkin hantu yang dimaksud adalah Maria ini? Uniknya, di atas makam Maria dituliskan puisi (dalam bahasa Belanda) yang konon ditulis oleh kekasihnya. Daaaaan ... pas gue menyambangi makam ini, ada bunga ditaburkan di atas batu nisan ini.

1412400674704

1412400735042   1412400880870

Belakangnya ada pohon beringin besar yang menambah kesan creepiness.

1412400756264

Selain makam Belanda, juga terdapat makam lokal yang konon merupakan tempat peristirahatan terakhir Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI-TII yang dieksekusi juga di pulau ini. Ironis, di makam sang separatis ini justru berdiri gagah bendera Merah Putih.

1412401114819

Dan sisanya adalah reruntuhan yang dengan indah bersanding dengan birunya laut.

1412400077803    1412405026539

1412401148071

1412403396989     1412403549410

1412403918918   1412404260563

1412404782121

1412404864064   1412405052320

Aish ada kebon pisang di sini. Gue takut banget soalnya dari TV, gue tau kalo kebon pisang tuh tempat mangkalnya manusia serigala ama vampir di Indonesia.

1412404852743

Ini hal unik lainnya yang gue temukan di pulau ini. When U see it ....

1412405872727

1412405857313

1412405865179

Akhir kata, gue emang salut dengan usaha Pemprov DKI yang berusaha untuk melestarikan kekayaan sejarah di pulau2 ini. Memang tak banyak yang tersisa dari ketiga pulau yang gue sambangin kali ini. Namun itu tentunya nggak menyurutkan niat gue untuk berbagi dan mengajak generasi muda sekarang menghargai sejarah bangsa kita dengan menapak tilas tempat2 bersejarah yang telah menempa kita menjadi bangsa yang besar dan bersatu ini.

And the last thing I want to say is a quote from Saint Agustinus dari Hippo, �The world is a book and those who do not travel read only one page�. Jadi perkaya halaman dalam buku kehidupan kalian dengan travelling ke tempat2 yang akan membuka mata kalian, niscaya kalian bisa takjub dengan kekayaan sejarah dan alam negeri ini.

PULAU CIPIR: INGIN LARI DARI KENANGAN

 

1412395253426

Setelah puas mengarungi lautan *cailah* untuk mengunjungi Pulau Kelor, gue dan rombongan akhirnya sampai ke destinasi kedua kami, yakni Pulau Cipir. Berbeda dengan Pulau Kelor yang masih menyajikan bentengnya yang menakjubkan, Pulau Cipir hanya menawarkan sedikit cita rasa sejarah kepada kami. Bangunan2 yang ada di sini tersisa reruntuhannya saja, seolah-olah pulau ini hendak lari dari kenangan pedih kolonialisme yang dulu mencengkeramnya.

Pulau ini menyimpan sejarah kelam, mulai dari masa Kolonial Belanda bahkan hingga masa Orde Baru. Pulau ini dahulu disebut sebagai Pulau Kuiper yang berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan Belanda bersama dengan Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Pulau ini pada tahun 1911 dijadikan tempat karantina jemaah haji yang hendak dan telah menunaikan ibadah mereka di Mekah. Namun karantina haji itu ternyata tidak bertujuan untuk menjaga kesehatan para jemaah haji, melainkan cerita di baliknya ternyata lebih menyeramkan

Kala itu, ibadah haji bisa berlangsung sangat lama, hingga 3 bulan bermukim di Timur Tengah. Sepulang dari Mekah, pemerintah Hindia Belanda takut mereka akan menjadi fanatik dan memberontak terhadap pemerintah kolonial. Maka dari itu, mereka diawasi di pulau ini. Jika mereka �lulus� dari proses cuci otak di pulau ini, mereka akan dianugerahi gelar �Haji�. Namun jika tidak dan dianggap berbahaya, maka ia akan disuntik mati dengan dalih membawa penyakit berbahaya. Pemberian gelar �haji� ini juga bertujuan untuk mempermudah melacak orang tersebut apabila kelak ia memberontak (karena tokoh dengan gelar �haji� tentu akan terkenal dan mudah dicari). Denger2, bentuk pemberian gelar haji ini ternyata hanya ada di Indonesia dan kalo ditelisik dari asal-mulanya ternyata nggak begitu menyenangkan untuk didengar.

Setelah Belanda hengkang, sejarah di pulau ini terbengkalai. Pada pada masa Orde Baru, pulau ini kembali menjadi tempat karantina, kali ini bagi penderita TBC dan kusta (lepra). Namun mereka diangkut ke sini bukan untuk disembuhkan, melainkan sengaja diasingkan agar penyakit mereka tidak mudah menular. Lagi2 sebuah bentuk kesewang-wenangan terhadap sesama manusia. Liat fisik pulau ini, gue jadi inget film Shutter Island yang dibintangi Leonardo di Caprio. Yah mirip2 lah, bekas rumah sakit dan ada bentengnya juga dulu.

1412393491065

1412393859186   1412393869435

1412393907865

Lihat deh aturan #5!

Inilah sisa reruntuhan bangunan rumah sakit untuk jemaah haji kala itu.

1412393996263   1412394255106

1412394271378

Pohon2 kering di pulau ini seakan menjadi metafora yang sempurna dengan peninggalan sejarah di pulau ini yang mulai menguap tak bersisa.

1412395200785   1412394436997

1412394529977

Ini gue rasa kamar mandinya deh.

1412395160464

Masih ada klosetnya.

1412395169671

Gue suka banget ama pintu ini nih. Sureal banget, seakan ini adalah pintu kemana saja Doraemon menuju ke lautan biru.

1412394539870

Meriam yang menghadap ke lautan ini kurasa adalah bagian terbaik dari pulau ini.

1412395239528

Ini suasana pantainya.

1412395067023    1412395611172

1412397019837    1412394298909

1412396903428

Well, overall pantai di Pulau Cipir ini emang nggak se-wow pantai2 indah di Lampung yang pernah gue kunjungin. Sisa2 benteng Martello pun udah hancur tinggal fondasinya aja dan naasnya di atasnya malah dijadikan ini .....

1412394150605

Kantin sih katanya, tapi etis nggak sih dibangun di atas jejak sejarah seperti ini?

Oya, di ujung ini juga ada bekas jembatan yang dulu menghubungkan pulau ini dengan Pulau Onrust, destinasi kami yang berikutnya. Sayang udah hancur lebur.

1412394858294

1412399418718

Nah, setelah menyambangin Pulau Cipir, maka berkelanalah kami ke tujuan berikutnya, yakni Pulau Onrust.