Tampilkan postingan dengan label REAL SERIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REAL SERIES. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Oktober 2014

REAL PART 4/4 (FINAL)

 

Episode yang lalu: Tomohiko akhirnya tiba di Nagasaki untuk meminta bantuan Miss Akagi, namun lagi-lagi ia mengalami mental breakdown. Setelah bertemu dengan Miss Akagi, lagi-lagi sang hantu menampakkan wujudnya. Kini Tomohiko mulai mengerti sedikit tentang apa yang terjadi terhadap dirinya.

Aku ingin bangun sepagi mungkin keesokan harinya, namun ketika aku menemukan Miss Akagi pagi itu, beliau sudah menyelesaikan ibadah paginya.

�Selamat pagi, Tomohiko. Basuhlah wajahmu dan sarapanlah. Jika sudah selesai, kita akan pergi bersama-sama ke kuil utama.�

Sebelumnya akan kujelaskan. Agama Buddha memiliki banyak sekte dan Miss Akagi adalah pemimpin salah satunya. Sekte yang beliau pimpin memiliki sejarah panjang, bahkan disebutkan dalam buku teks. Ada banyak orang di penjuru Jepang yang mengikuti sistem kepercayaan yang sama. Walaupun sistem kepercayaan mereka sama, namun karena kondisi geografis, baik bagian timur dan barat Jepang memiliki kuil utamanya sendiri-sendiri. Karena aku berada di Nagasaki, maka kami berkiblat pada kuil yang ada di barat, yang letaknya cukup jauh dengan kuil dimana Miss Akagi tinggal.

Miss Akagi memberikan dua alasan mengapa kami harus pergi ke kuil utama. Pertama karena aku nampaknya memiliki suatu �skill� atau ketrampilan yang rasanya harus diasah. Aku sendiri tak bisa menjelaskannya, namun beliau mengatakan hal itu penting. Alasan lainnya karena kami harus melakukan semacam upacara peringatan bagi arwah yang mengikutiku, agar ia menemukan kedamaian dan jalan menuju ke sisi yang lain. Nenekku adalah yang paling bahagia ketika mendengarnya, namun ayahku tampak tak begitu setuju karena beliau belum begitu mempercayainya.

�Tak apa-apa Yah,� kataku pada beliau, �Aku akan kembali.�

Ketiika kami tiba, seorang pemuda sudah menunggu kami. Ia menyambut Miss Akagi dan kamipun pergi ke sebuah bangunan kecil di samping kuil utama ketika kami kembali disambut oleh lebih banyak orang yang bekerja dan tinggal di dalam kuil tersebut. Bahkan dengan penganut sebanyak itu, Miss Akagi masih tampak rendah hati. Di sana aku menyadari bahwa beliau cukup dikenal luas di Jepang dan akan mengunjungi berbagai kuil sepanjang tahun. Miss Akagi mengatakan bahwa perjalanan-perjalanan itu kadang membuatnya kesepian, namun beliau senang bisa berpergian di usia seperti itu.

Maka di sinilah aku, jauh dari kedua orang tuaku dan terpaksa tinggal di kuil ini sembari menunggu Miss Akagi pulang dari perjalanannya.

Awalnya aku merasa seperti sebuah beban bagi kuil ini karena diperlakukanseperti tamu. Oleh sebab itu aku kemudian membiasakan diri melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan orang lain di sini agar tidak merasa canggung. Kupikir Miss Akagi juga berperan dalam meyakinkan semua orang di sini untuk menerima kehadiranku.

Ketika aku berada di sini, aku menyadari betapa beruntungnya aku. Aku berjumpa dengan seorang wanita yang dihantui siluman ular selama 40 tahun, dan bahkan keluarganya sudah porak poranda akibat kutukan iblis itu. Ia tak lagi memiliki kerabat, padahal keluarganya berasal dari garis keturunan samurai yang mashyur. Aku tak tahu jika ada orang-orang yang kondisinya lebih buruk ketimbang aku.

Entah apakah karena kebiasaan yang kulakukan di kuil ini, karena lingkungan dimana aku tinggal, ataukah karena bimbingan Miss Akagi sebelum ia meninggalkanku di sini, namun aku mulai secara perlahan mendapatkan kembali keberanianku. Namun itu tentu tidak berarti aku tak merasa takut ketika tiba-tiba aku merasa roh itu berada dekat denganku. Aku masih merasa takut akan hal itu.

Sebulan setelah aku tiba di kuil itu, Miss Akagi akhirnya kembali.

�Wah, tampaknya ada yang merasa lebih baik hari ini.� beliau tersenyum ketika melihatku dalam keadaan segar.

�Ini semua berkat Anda, Miss Akagi.�

�Dan apakah kau sudah melihatnya semenjak datang ke sini.�

�Tdak!� tentu saja aku tahu siapa yang beliau maksud, �Saya pikir ia sudah menyeberang ke alam lain. Lagipula, ini kuil utama bukan?�

�Bagaimana kau bisa seyakin itu?�

Tiba-tiba aku merasa wajahku berkedut dan Miss Akagi langsung menyampaikan dengan gamblang apa yang beliau maksudkan.

�Maaf, Nak. Aku tak berniat menakutimu, namun kau harus mengerti. Ada banyak orang di sana ang merasakan sakit, ini sudah tugasmu untuk menolong mereka, kau tahu?� aku merasa bahwa roh yang selalu mengikutiku termasuk di antaranya. �Tomohiko, aku ingin kau tinggal di sini sedikit lebih lama lagi. Kau harus belajar terlebih dahulu.�

Aku melakukan apa yang beliau katakan. Aku masih merasa trauma atas pengalaman mengerikan yang aku alami dan kalau boleh jujur, aku menikmati tinggal di sini. Waktu terasa berjalan lebih lamban di sini dan aku merasakan secercah kedamaian.

Aku berakhir tinggal di sana selama 3 bulan. Miss Akagi baru pulang semenjak itu dan aku sebenarnya merasa agak tak nyaman ketika berbicara dengan beliau kali ini, sebab aku mulai merasakan suatu kesedihan. Aku mulai merasa jauh dengan cara hidup dimana aku dibesarkan dan mulai merasa tak nyaman dengan hal tersebut. Ketika Miss Akagi pulang, aku juga sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah keluargaku.

Aku berpakaian dengan baju yang formal dan mengucapkan terima kasih kepada semua yang ada di kuil. Aku berjalan keluar didampingi Miss Akagi dan aku merasa sangat senang akan bertemu kembali dengan keluargaku.

Namun pada suatu titik aku menyadari bahwa Miss Akagi tiba-tiba lenyap. Padahal sebelumnya ia berjalan di sampingku. Aku menoleh dan melihat dia berdiri jauh di belakangku. Berpikir bahwa aku mungkin berjalan terlalu cepat, akupun kembali ke tempat ia berada.

�Tomohiko, apa kau pernah berpikir untuk tinggal di sini saja?� matanya terasa bersinar ketika mengatakannya. Terlihat bahwa ia menyadari betapa besar perubahan yang kualami selama tinggal di sini dan itu membuatku senang. Namun tetap, yang kuinginkan hanyalah kembali pulang.

�Maaf, saya tak bisa hidup seperti orang-orang ini untuk selamanya. Aku pikir apa yang mereka lakukan itu hebat, namun itu bukan untuk saya.� Aku menatap mata beliau, mencoba untuk terlihat meyakinkan dan serius.

�Biarlah aku mengatakannya dengan bahasa lain: kau tak bisa pergi dari sini.�

�Apa?�

�Ia masih bersamamu.� Miss Akagi tampak sedang melihat sesuatu yang tak bisa aku lihat. Aku merasakan wajahku berkedut kembali.

Baru dua bulan kemudian aku bisa meninggalkan kuil itu, berarti dengan total aku sudah menghabiskan waktu hampir setengah tahun di sana.

�Kupikir kini kau akan baik-baik saja, Nak! Namun aku ingin kau kembali ke sini minimal sebulan sekali untuk berjaga-jaga.� Miss Akagi berkata ketika aku meninggalkan kuil. Bahkan beliau sendiri tak bisa mengatakan apakah makhluk itu benar-benar pergi ataukah ia hanya sekedar bersembunyi.

Butuh waktu memang, namun aku akhirnya mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan lamaku. Ibuku-lah yang mengurus apartemenku selama aku pergi dan ada beberapa barang yang dipindahkan ke rumah kami. Beliau mengatakan, ketika beliau mengunjungi kamar apartemenku, seperti ada bau sesuatu yang terbakar dan ada serangga-serangga kecil mengerbungi tengah kamarku, di lantai. Aku tak memiiki keberanian untuk memeriksanya sendiri, namun ibuku mengatakan bahwa memang sebaiknya aku tak melihat serangga-serangga itu.

Satu hal yang paling aku syukuri semenjak keluar dari kuil itu adalah mendapatkan telepon genggamku kembali. Aku sudah tak memegangnya selama setengah tahun dan saat aku memeriksanya, ada ratusan SMS dan email memenuhi inbox-ku, kebanyakan berasal dari Ogawa. Ia menyalahkan dirinya atas segala yang aku alami � dan itu memang salahnya � serta meminta maaf, entah berapa kali. Banyak dari emailnya berisi saran tentang apa yang harus kucoba berikutnya � �Aku dengar kau bisa mencoba ini dan itu� serta �Aku menemukan orang yang mungkin bisa menolongmu.� � dan berbagai nasehat lainnya. Ia tampaknya mencoba membantuku sebisa mungkin. Ketika aku menceritakannya, ibuku bahkan mengaku bahwa ia bahkan datang berkunjung beberapa kali selama aku tak ada.

Dua hari setelah kedatanganku kembali ke rumah orang tuaku, Ogawa meneleponku. Aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan karena suara musik yang gaduh di belakangnya. Ia nampaknya tengah berada di sebuah pesta, jadi aku menutupnya. Aku hanya mengiriminya SMS berisi, �Aku akan membunuhmu!�.

Ia membalasnya keesokan harinya mengatakan bahwa ia ingin meminta maaf. Ia berkata ingin datang dan berbicara langsung denganku. Aku setuju dan ia muncul malam itu juga. Ia tampak lelah setelah berkendara jauh dari Tokyo dan ia terlihat merasa sangat bersalah.

Begitu membuka pintu, aku langsung memukulnya dua kalo. Satu untuk membuatnya berhenti meyalahkan dirinya atas apa yang terjadi, dan yang kedua untuk membuatnya tahu kalau mengetahui ia sedang sibuk berpesta ketika aku dalam kesusahan benar-benar membuatku kesal. Ia tampaknya menerima dengan legawa tinjuku itu (lagipula tidak terlali keras kok, walaupun mungkin yang kedua agak terlalu terbawa emosi).

Aku menceritakan kepadanya segala yang terjadi. Kami bersenang-senang malam itu, seperti waktu-waktu dulu.

Ia bercerita balik kepadaku, apa yang terjadi pada Hayashi malam itu. Setelah ia berlari keluar dari rumah orang tuaku malam itu, Ogawa sudah tahu ada sesuatu yang ganjil. �Ia bertingkah sangat aneh.� cerita Ogawa. �Ia hanya diam di dalam mobil, kemudian tiba-tiba tertawa terbahak-bahak tiba-tiba, dan beberapa saat kemudian ia gemetar ketakutan. Ia terus mengatakan hal-hal seperti �Aku berbeda!� atau �Aku takkan melakukannya!� Itu benar-benar membuatku ketakutan.�

Semua ini membuatku teringat dengan kejadian di malam Hayashi berbicara dengan iblis itu. Aku mencoba menghapus gambaran itu dari benakku, namun tak berhasil.

�Maaf sudah menjadi seorang pengecut dengan meninggalkanmu malam itu.�

�Lalu apa yang terjadi dengan Hayashi? Apa benar dia pengusir hantu, aku meragukannya.�

�Yah, mungkin ia mengira kasusmu adalah sebuah hoax dan berpikir bisa memerasmu, namun ...� Ogawa tampak terdiam sebentar.

�Ada apa?�

�Aku mendengar dari temanku, aku tak tahu apa ini benar, namun Hayashi menjadi gila sejak saat itu.�

Aku terdiam. Aku menyadari pentingnya berkunjung ke kuil Miss Akagi sejak saat itu. Tahun pertama aku mengunjungi kuil sebulan sekali, sesuai pesan beliau. Namun tahun berikutnya, aku cukup pergi ke sana tiga bulan sekali. Dan dua tahun setelah terakhir kali aku melihat makhluk itu, Miss Akagi akhirnya memiliki kabar gembira.

�Kupikir kau tak perlu mencemaskan tentang dia lagi, Tomohiko. Namun kau harus tetap mengunjungi kuil ini sesekali dan ingat, jangan melakukan hal yang aneh lagi!�

Apa ini benar-benar telah berakhir?

Aku tak tahu.

Tiga bulan kemudian Miss Akagi meninggal, jadi mungkin aku takkan pernah tahu.

Aku harap aku dapat belajar lebih banyak dari beliau. Namun yang hanya bisa kulakukan sekarang hanyalah berharap dan berdoa.

Dua bulan setelah pemakaman beliau, aku akhirnya mampu merasa hidup normal kembali. Aku tiba di titik dimana aku hampir melupakan kejadian mengerikan yang pernah kualami itu. Aku tak perlu lagi membicarakannya dengan siapapun dan satu-satunya hal yang kuinginkan sekarang adalah hidup seperti biasa lagi.

Suatu hari, aku menemukan sebuah surat di dalam kotak surat, datang dari nenekku. Ketika aku membuka amplopnya, aku terkejut melihat bahwa di dalamnya ternyata ada selembar kertas dan sebuah amplop lain.

Aku membaca surat yang ditulis oleh nenekku.

�Miss Akagi memintaku untuk memberikan surat ini kepadaku. Sudah cukup lama sejak kematian beliau, sehingga aku bisa memenuhi janjiku kepada beliau.�

Aku membuka surat lain itu, yang ditandatangani oleh Miss Akagi.

Ada dua lembar kertas dalam surat itu. Aku kemudian membacanya.

Tomohiko,

Maaf tidak menulis kepadamu sesegera mungkin. Ini Akagi, kau mengenali tulisanku kan? Udah cukup lama semenjak semua kejadian itu, bukan? Apakah kau masih baik-baik saja? Aku harap kau sudah melepaskan ketakutanmu seluruhnya.

Ketika kamu tiba di rumahku, aku merasa takut. Aku tak mampu menangani roh yang kamu bawa bersamamu. Ia terlalu kuat untukku. Namun kau saat itu sangat ketakutan, aku sangat mengingatnya. Karena itulah aku mengatakan pada diriku sendiri untuk memberanikan diriku. Jika aku jujur, saat itu aku tak tahu bisa menolongmu atau tidak. Aku pikir kita saat itu sedang beruntung.

Bagaimana waktumu yang kauhabiskan di kuil? Kuharap kau mampu beristirahat selama di sana. Setiap kali aku kembali untuk mengunjungimu, aku selalu mengatakan kau belum bisa pulang. Apa kau ingat itu? Aku tahu jika kau melakukannya, sesuatu yang buruk akan terjadi kepadaku. Aku tahu pasti sangat membosankan bagi anak muda sepertimu, namun aku tak bisa membiarkanmu pulang jika itu berarti akan membahayakan jiwamu. Aku berdoa untukmu setiap hari, namun ia tak pernah pergi dari sisimu.

Namun aku pikir kau aman sekarang. Aku menduga ia pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Namun Tomohiko, jika sesuatu terjadi padamu, segeralah kembali ke kuil. Di sana kau bisa menjadi lebih kuat. Kau tahu itu. Dan ia takkan mampu menyakitimu di sana.

Aku hanya bisa berpesan kepadamu, jika kamu merasa kehilangan arah, berpalinglah ke arah Tuhan. Ketika yang kau miliki tinggallah rasa sakit, maka serahkanlah dirimu kepada-Nya. Bukannya aku menginginkan hal-hal buruk terjadi padamu, tidak. Namun jika ini semua ternyata belumlah usai, akan ada banyak kesulitan menanti di depanmu.

Kau bertemu banyak orang di kuil, bukan? Makhluk-makhluk yang sangat jahat akan mencoba menyakitimu seperti cara mereka menyakiti orang-orang itu. Mereka takkan pernah melepaskanmu. Mereka merasakan kenikmatan ketika melihat manusia menderita. Walaupun sangat pedih bagiku untuk mengakuinya, namun ada kasus-kasus dimana kami tak berdaya untuk menolong sang korban. Kami ingin menolong mereka, sangat ingin, namun kadangkala semua itu berada di luar batas kemampuan kami.

Aku ingin menolongmu, lebih daripada yang lain, Tomohiko. Aku melakukan semua yang aku bisa, tapi waktuku tak panjang lagi. Aku sudah tak bisa lagi merasakan kehadirannya, namun jangan biarkan itu membuatmu lengah. Ia mungkin sedang menunggu waktu yang tepat, dimana kau rapuh, untuk kembali menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Selalu, waspadalah dengan sekitarmu dan jauhi tempat-tempat yang angker, mengerti! Percayalah padaku akan hal ini!

Maafkan aku telah berbohong kepadamu. Aku tahu sangat egois untuk mengatakan semua ini kepadamu setelah aku tiada. Namun selama sisa waktuku, aku akan terus mendoakanmu. Dan jangan pernah kehilangan imanmu pada Tuhan. Jangan pernah!

Tanganku bergetar ketika aku membacanya. Aku mulai merasa mulai dan berkeringat dingin. Jantungku berdetak amat kencang.

Apa yang harus kulakukan?

Kupikir aku sudah bebas, namun menurut surat ini ....

Tiba-tiba aku merasa sedang diawasi. Tapi kemana aku bisa lari? Jikapun aku bersembunyi, bukankah tidak sulit bagi makhluk itu untuk tiba-tiba muncul di hadapanku?

Sekali benih keraguan telah ditabur, maka ia akan bersemi. Tidak ada lagi yang dapat kupercaya. Apakah Miss Akagi disakiti oleh makhluk ini? Apakah ini alasan kenapa ia meninggalkan surat ini, untuk memperingatkanku? Apakah semuanya akan kembali seperti semula? Miss Akagi kukuh berbohong hingga akhir hayatnya. Seberapa burukkah ini sampai dia terus menyimpan kenyataan ini hingga napas terakhirnya?

Aku tahu banyak orang beranggapan bahwa bertemu hantu itu �keren� atau bahkan konyol. Namun, seperti yang kusampaikan di awal kisahku ini, bahwa semuanya tak telihat seperti di film-film. Mengalami kerasukan atau diikuti oleh sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini bukanlah sesuatu yang bisa ditertawakan. Ini bukanlah lelucon. Karena itulah kau tak boleh lengah sedikitpun.

Tanganku masih bergetar dan aku tersadar, masih ada satu lembar surat lagi yang belum aku baca.

Masih ada satu rahasia lagi.

Akupun membaca lembar kedua tersebut.

Dan terakhir, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadaku. Ini berada jauh di luar pemahamanku, namun aku pikir kau harus mengetahuinya.

Aku tak mengerti dengan sisi psikologis seperti aku mendalami sisi spiritual. Namun ada hal yang harus kau tahu tentang dirimu, sebab aku yakin kau sendiri pasti belum pernah menyadarinya.

Orang tuamu mengatakan hal-hal ini kepadaku sebelum kau datang. Mereka sangat khawatir denganmu dan berpikir bahwa mungkin ini alasan kamu mengalami semua ini. Aku ragu akan hal itu, namun mungkin saja itu semua ada kaitannya.

Aku pernah mengatakan bahwa kamu lemah, Tomohiko, dan kamu mungkin tak menyadarinya. Bukan lemah dalam sisi fisik, namun di dalam jiwamu ... ada sesuatu yang kosong dalam dirimu. Entahlah, mungkin engkau kesepian tinggal jauh bersama orang tuamu tanpa ada banyak teman yang bisa kau ajak bicara. Mungkin karena pekerjaanmu, mungkin karena sekolahmu yang berat, atau mungkin karena alasan yang jauh lebih sederhana, karena kau dibesarkan sebagai anak tunggal.

Karena itulah kau mungkin membayangkan hal-hal yang sebenarnya tak ada untuk mengisi kekosongan itu. Bukan makhluk itu yang aku maksudkan. Ia bukan sekedar imajinasimu, aku sendiri bisa melihatnya. Namun mungkin alasan kenapa ia bisa merasukimu, karena sisi lain dirimu ini.

Mungkin harus kuperjelas. Kau mengatakan memiliki sahabat bernama Ogawa. Namun ketika ibumu menelepon kantormu untuk menyampaikan pengunduran dirimu, bosmu dan rekan-rekan sekerjamu mengatakan hal yang tak mereka duga. Kata mereka, engkau sering berbuat aneh di kantormu. Kau sering berbicara sendiri saat makan siang dan menanyakan pria bernama Ogawa, yang mereka sendiri tak kenal.

Kau mengaku bahwa Ogawa yang membawa Hayashi ke rumahmu, namun kenyataannya orang tuamu mengatakan bahwa Hayashi datang sendirian malam itu karena kau sendiri yang memanggilnya. Beberapa hari setelah kau pulang, kau menyambut seseorang di pintu. Seseorang yang orang tuamu tak bisa lihat, namun kau tetap bercakap-cakap dan bercanda dengannya. Orang tuamu hanya mengikuti permainanmu, menganggap bahwa Ogawa itu ada, bahkan mengatakan bahwa ia sesekali mengunjungi rumah. Semua itu hanya agar kau tak kehilangan kewarasanmu.

Namun aku harus jujur kepadamu, sebab mungkin jika kau sadar akan semua ini, maka kau bisa mencoba lebih tegar dalam menghadapi hidupmu.

Tomohiko, kaulah Ogawa.

TAMAT

Sabtu, 27 September 2014

REAL PART 3/4

 

Episode yang lalu: Kondisi Tomohiko semakin memburuk dan Miss Akagi yang diharapkan ternyata tak kunjung datang. Tomohiko terpaksa menerima bantuan Ogawa dengan mendatangkan seorang paranormal bernama Hayashi untuk mengusir hantu tersebut. Namun Hayashi sendiri kewalahan dan hantu itu kembali menampakkan diri dengan wujud yang lebih mengerikan. Tomohiko kini putus asa.

Empat hari berlalu sejak upacara pengusiran setan yang gagal itu. Leherku mulai terlihat dan terasa lebih baik. Bekas itu masih ada, namun secara fisik aku merasa lebih baik. Demamku ini sidah turun dan aku tak punya banyak hal untuk kukeluhkan sejak rasa sakit ini mulai berkurang.

Namun kelainannya kini tidak pada tubuhku. Mentalku menurun secara drastis. Entah apakah itu siang atau malam, aku selalu khawatir bahwa hantu itu akan menampakkan diri lagi. Aku tak bisa tidur saat malam dan aku bahkan tak berselera makan. Aku selalu memeriksa apakah ada yang aneh di sekitarku. Aku tak punya waktu untuk merasa lelah ataupun lapar.

Setelah sepuluh hari, aku memperhatikan bahwa wajahku mulai terlihat berbeda. Aku bahkan hampir tak mengenali wajahku sendiri di cermin. Kondisi mentalku yang melorot sangat terpancar dari wajah dan penampilanku. Aku benar-benar tak tahan lagi.

Jelas, dalam kondisiku seperti saat ini, aku sudah tak ingin lagi berurusan dengan �dunia normal�. Orang tuaku menghubungi perusahaan dimana aku bekerja di Tokyo dan mengatakan pada mereka bahwa aku berhenti. Saat mereka menelepon, aku melihat mereka menatapku dengan aneh. Entah, mungkin saja bosku marah mendengarnya dan mulai mengatakan hal-hal yang tidak-tidak tentang kelakuanku di tempat kerja.

Aku merasa takut dengan apapun., bahkan gerakan batang pohon persik yang ada di luar jendelaku, mengayun ke depan ke belakang, membuatku sangat ketakutan. Kapanpun aku melihat sesuatu di sudut mataku, aku selalu bertanya apakah gerakannya maju dan mundur? Masih dua minggu lagi sebelum Miss Akagi bisa menemuiku, dan aku mulai tak sabar. Itu sangat terlalu lama, apalagi dengan kondisiku yang takut setengah mati ini.

Suatu hari, orang tuaku secara mengejutkan membawaku keluar dan memaksaku masuk ke dalam mobil. Mereka hendak membawaku ke suatu tempat.

�Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.� kata ayahku sepanjang perjalanan. Ibuku, yang duduk di kursi belakang bersamaku, memijat bahuku dengan lembut. Aku tak ingat kapan beliau terakhir melakukannya, pasti sudah bertahun-tahun yang lalu.

Aku tak tahu berapa lama waktu yang berlalu, namun pada suatu titik matahari terbenam dan bulan mengambil alih tahtanya di langit, berpendar bersama bintang-bintang. Walaupun aku sudah berumur lebih dari 20 tahun, aku tertidur di pangkuan ibuku. Ini pertama kalinya aku dapat tertidur nyentak setelah berhari-hari.

Ketika aku terbangun, matahari telah naik dan aku merasa segar. Orang tuaku mengatakan bahwa satu setengah hari telah berlalu sejak kami naik ke dalam mobil ini. Aku merasakan bahwa aku mungkin takkan pernah tertidur senyenyak seperti semalam. Aku menatap keluar dan tersadar, tempat ini sepertinya tempat ini tak asing bagiku.

Sedikit demi sedikit, aku mulai mengingat tempat ini. Aku cukup yakin kami berada di Nagasaki setelah aku melihat sebuah kereta api melintas, pemandangan yang biasa kulihat saat aku kecil saat diajak berkunjung ke rumah kakek nenekku. Aku cukup terkejut orang tuaku membawaku sejauh ini. Aku berasumsi bahwa tak mungkin membawaku naik kereta ataupun pesawat, sehingga mereka memilih membawaku dengan mobil. Mereka mengaku bahwa mereka berhenti beberapa kali sepanjang jalan untuk beristirahat, namun tetap saja ayahku tak mendapat tidur yang cukup. Ibuku tak ingin aku khawatir, karena itu dia tetap memangkuku tidur untuk membuatku tenang. Aku pikir aku takkan mampu membalas semua yang telah mereka lakukan selama dua hari terakhir ini.

Kakek nenekku tinggal di wilayah yang bernama Yanagawa. Ketika kami tiba, kami berhenti di kaki sebuah bukit dan orang tuaku keluar dari mobil untuk berbicara dengan kakek-nenekku sebelum mereka membawaku. Mereka tinggal di atas bukit itu dan engkau perlu menapaki anak tangga dari batu untuk mencapai rumah mereka.

Orang tuaku hanya ingin menaruh beberapa barang bawaan kami dan menjemput kakek-nenekku sebelum kami pergi menemui Miss Akagi. Aku tahu kondisiku cukup buruk ketika orang tuaku menolah bantuanku untuk membawa barang bawaan kami. Namun tetap saja, berada jauh dari Tokyo dan Saitama, dimana aku mengalami semua pengalaman mengerikan itu, membuatku merasa santai.

Ketika aku menunggu mereka di dalam mobil, aku hanya duduk menyilangkan kakiku dan menatap keluar. Tiba-tiba saja leherku kembali terasa sakit. Rasa sakitnya amat tajam di sepanjang lingkaran di leherku. Intensitasnya yang luar biasa membuat rasa sakit yang dulu kurasakan seperti gelitikan. Tanpa berpikir, tanganku segera meraba luka di leherku tersebut dan aku merasa shock ketika menyadari bahwa luka itu basah.

Ketika aku menarik jari-jariku, aku melihat mereka berlumuran darah.

Melihat darah itu mengalir turun dan menetes dari jemariku membuatku tersadar bahwa kenyataan ini terjadi lagi. Tali yang seakan-akan mencekik leherku ini semakin erat dan mungkin, tak lama lagi semuanya akan berakhir. Air mataku mengalir di pipiku ketika aku menyadari bahwa aku tak lagi sanggup menghadapinya.

Mungkin sulit bagi kalian untuk memahami apa yang kurasakan saat itu, namun bayangkan jika semua hal buruk ini terus terjadi dan terjadi dalam hidupmu. Setiap kali aku merasa lebih baik, hal yang lebih buruk justru datang. Aku tersungkur dalam depresi karena aku tak mampu melihat ada jalan keluar dari semua ini. Fakta bahwa tiap kali aku mencoba memperbaiki keadaan, justru keadaan itu malah bertambah buruk, membuat jiwaku serasa remuk redam.

�Apa gunanya semua ini! Biarkan saja aku mati!� aku mengigau di tengah tangisanku. Keputusasaanku kini justru bertambah semakin dalam, hanya beberapa detik setelah tadi aku merasa harapanku terangkat oleh tindakan orang tuaku membawaku ke sini. Ketika orang tuaku kembali ke mobil bersama kakek-nenekku, aku mulai panik. Aku duduk di kursi belakang dengan darah menetes dari leherku dan air mata mengalir di wajahku.

�Apa yang terjadi?�

�Katakan sesuatu, Nak?�

�A .. aku sudah tak kuat lagi ...�

�Tomohiko, kumohon sadarlah!�

Semuanya berbicara bersamaan dan segalanya terasa terlalu berat bagiku. Aku mulai merasa marah dan akhirnya aku meledak.

�TUTUP MULUT KALIAN! DIAAAAAM!!!�

Apa yang harus aku katakan? Mereka tak bisa melakukan apapun untuk menolongku dan sudah jelas bahwa aku juga tak mampu menyelamatkan diriku sendiri. Berteriak tak takkan mengatasi masalah dan justru membuatku merasa lebih buruk. Aku tahu bahwa tak sepantasnya aku membentak orang-orang yang lebih tua dariku, namun aku merasa sangat kacau saat itu. Aku berhenti kerja dan orang tuaku hampir kehilangan banyak uang. Aku meringkuk di kursi dan mulai menyesal telah kehilangan kendali tadi. Aku telah menyebabkan banyak masalah bagi orang-orang yang kucintai, namun mereka selalu saja berusaha sebaik mungkin untuk menolongku. Memikirkannya sekarang membuatku merasa malu dan aku pantas untuk mendapatkan apa yang terjadi setelahnya.

Ayahku tak pernah menaikkan tangannya ke arahku seumur hidupnya. Namun di saat ia menampar pipiku, rasanya sangatlah sakit. Dan rasa sakit itu membuatku melupakan rasa perih yang menyayat leherku. Aku sering bertengkar dengan ayahku, namun belum pernah sekalipun ia lepas kendali dan memukulku.

�Minta maaf pada kakek dan nenekmu!� ia berkata dengan dingin. Entah bagaimana, perbuatan dan perkataannya justru menenangkanku. Rasa putus asaku sejenak lenyap dan aku mulai bisa menenangkan diriku untuk meminta maaf pada keluargaku. Tekadku untuk menyelesaikan semua masalah ini bangkit kembali. Aku kembali menangis ketika melihat kakekku menangis dan mulai menyemangatiku ketika kami menuju ke kediaman Miss Akagi. Aku merasa sangat menyedihkan saat itu.

Ketika kami tiba di kuil dimana Miss Akagi tinggal, aku merasa seperti beban di pundakku terangkat. Tak ada yang terjadi yang membuatku merasa seperti itu, namun aku berasumsi bahwa semuanya akan baik-baik saja begitu kami tiba di sini. Ketika kami berjalan menuju gerbang kuil, kami disambut oleh seorang lelaki separuh baya. Aku mendapat kesan bahwa kediaman Miss Akagi sering mendapatkan pengunjung dan kakekku sepertinya salah satu dari mereka.

Kami diantar menuju ke belakang rumah dan masuk lewat sana. Kami diantar ke sebuah altar Buddha berukuran besar dimana Miss Akagi sedang berdoa. Ia berlutut dengan bantal menyangga kakinya di depan altar. Dia memalingkan wajahnya dengan perlahan ke arah kami dan menunggu seseorang untuk mengatakan sesuatu.

�Tomohiko, tak apa. Miss Akagi akan merawatmu.� Nenekku mendorongku ke arah Miss Akagi.

�Sudah cukup lama, bukan? Kau sudah tumbuh sangat besar sejak terakhir kali kita berjumpa. Kau terlihat sangat tampan, Nak. Waktu benar-benar berlalu sangat cepat.� Ia tersenyum dengan ramah.

�Anda bisa merawat dia, bukan?� tanya nenekku, �Ia akan baik-baik saja?�

�Tentu saja dia akan baik-baik saja,� kakekku berkata pada nenek, �Kita baru saja tiba di sini. Berilah waktu bagi Miss Akagi, beliau belum tahu apa yang terjadi padanya.�

�Sayang, diamlah.� balas nenekku, �Aku tak bisa berhenti khawatir pada Tomohiko, kau tahu itu.�

Aku tak mengerti mengapa, namun hanya dengan berdiri di depan Miss Akagi membuatku merasa aman. Aku merasa semua energi negatif yang ada dalam diriku seakan terusir keluar tiap kali aku menghela napas di hadapannya. Dan orang tuaku juga nampaknya merasakan hal yang sama, walaupun rasa lelah masih jelas tergambar di wajah mereka.

�Kalian berdua pasti sudah sangat capek setelah bekendara ke sini selama semalaman,� kakekku pasti juga menyadari raut lelah di wajah orang tuaku, �Biarkan Miss Akagi melakukan keahliannya. Kalian berdua beristirahatlah di ruangan sebelah.�

Orang tuaku hanya mengangguk dan menuruti nasehat beliau.

�Nah,� Miss Akagi memanggilku dengan lambaian tangannya, �Tomohiko, ke sinilah!�

Aku berlutut di depannya, mencoba sebaik mungkin meniru posisinya. Beliau kemudian menoleh ke arah kakek dan nenekku. �Aku akan meminta kalian untuk pergi ke ruangan sebelah. Tak apa-apa bukan? Aku harus berbicara empat mata dengan cucu kalian. Jangan khawatir, aku akan menjaganya. Dan jangan kembali ke sini kecuali jika aku memanggil cucu kalian, mengerti?�

�Tolong jagalah dia.� kakekku membungkuk.

�Tomohiko, jangan khawatir!� nenekku masih berusaha memberiku semangat ketika ia berjalan meninggalkan ruangan, �Miss Akagi tahu apa yang beliau lakukan. Lakukan saja semua yang beliau katakan!�

Ketika mereka menutup pintu di belakang mereka, aku bisa melihat mereka berurai air mata.

Begitu mereka tak terlihat lagi, Miss Akagi mendekat ke arahku hingga kedua lutut kami bersentuhan. Ia mengenggam tanganku dan dengan hening menatap wajahku. Untuk suatu alasan, aku merasa bahwa ia hampir seperti orang tua bagiku. Aku merasa seperti kembali menjadi anak kecil dan aku tak bisa berhenti mengusir perasaan bahwa ia sedang menatapku dengan matanya yang bijaksana. Walaupun tubuhnya lebih mungil daripada aku, aku merasa sangat kecil di hadapan kekuatannya yang sangat besar.

�Apa yang harus kulakukan denganmu ...� aku tak punya jawaban atas pertanyaan itu, jadi aku hanya terdiam. Dia terus menatapku dan berkata kembali, �Tomohiko, apa kau takut?�

� ... ya ...�

�Aku sudah menduganya ... kau tahu, keadaan tak bisa terus-terusan seperti ini ... � ia menatapku dengan sungguh-sungguh.

�Apa?�

�Oh, jangan khawatirkan itu .... aku hanya bicara pada diriku sendiri.�

Apa maksudnya? Jangan khawatirkan ini, jangan khawatirkan itu ... aku mulai ketakutan lagi dan aku tak sanggup lagi menahan emosiku.

�Uh, apa yang harus saya lakukan? Saya harap anda dapat menolong saya,� begitu saya mulai mengucapkannya, kata-kata itu terus meluncur, � ... dan saya ingin tahu makhluk apakah ini? Mengapa ia menempel pada saya? Saya ingin ini segera diakhiri. Bisakah anda melakukannya?�

�Tomohiko ...�

�Aku tak melakukan kesalahan apapun!� rasa iba yang terpancar di mata beliau sama sekali tak membuatku tenang dan keputus-asaanku kembali terbit. �Maksudku, aku memang pergi ke tempat berhantu itu, namun bukan hanya saku. Ada orang lain di sana! Mengapa hanya aku yang harus mengalami semua ini? Apa karena aku melakukan hal tolol di depan cermin itu? Apa itu sebabnya? Aku sama sekali tak mengerti! Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa???"

�Keeeeeeahhhh .... paaaaaaaaaah ..... keaaaaaaaaaaah .....yaaaaaaaaaaah ..... paaaaaaaaaaaaah ....�

Suara itu membuatku hampir melompat ketakutan. Aku tak tahu apa yang terjadi dan aku tak tahu apa yang coba dikatakannya, sebab suara itu sangatlah ganjil dan aneh.

�Keeeeeeeeeaaaaaaah .... paaaaaaaaah ... � suaranya hampir seperti parkit, naik dan turun dengan intonasi yang benar-benar membuatku telingaku hampir tuli. Suara itu terus-menerus terulang dan akhirnya aku mengerti apa yang coba dikatakannya.

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Aku menatap Miss Akagi dan melihat bahwa ekspresi ramahnya sudah menghilang dari wajah beliau. Seakan-akan jiwanya sudah keluar dari tubuhnya dan tak berada lagi di sana. Dari sudut pelupuk mataku, aku dapat mengatakan ada sesuatu yang berada di ruangan ini selain kami.

Ketika aku bergerak, darah kembali menetes dari leherku.

Makhluk itu ada di sana. Ia merangkak sambil menatap wajahku. Aku tak punya bayangan apa yang sedang terjadi atau apa yang Miss Akagi sedang lakukan. Aku berada di dalam kuil, di hadapan seorang bikusini, namun entah bagaimana caranya, monster itu berada hanya beberapa jengkal jaraknya dariku.

Ia melakukan apa yang ia lakukan di apartemenku malam itu. Matanya sejajar dengan mataku dan kepalanya berputar seperti burung hantu. Ia tampak kebingungan.

�Kena-pa? Kena-pa? Kena-pa?� suarnya yang seperti jeritan burung liar itu seakan mengiris telingaku, terus menayakan hal yang berulang kali.

Aku berani bertaruh inilah suara yang didengar Hayashi ketika ia mencoba mengusirnya. Mungkin makhluk itu tak mengatakan hal yang sama dengannya, namun ia pasti mendengar suara yang sama mengerikannya dengan ini. Tenggelam dalam ketakutan, aku serasa berhenti bernapas. Mataku melebar dan mulutku membuka. Paru-paruku seakan mengais-ais udara, namun aku tak mampu bernapas dalam-dalam. Leherku terasa dicekik.

Ketika aku melihat gerakan tubuhnya yang patah-patah, aku menyadari tangannya bergerak mendekati wajahnya. Jari-jarinya mencoba mencabik kertas-kertas mantera yang menempel di wajahnya. Aku tahu jika kertas-kertas mantera itu terlepas, sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Detak jantungku makin kencang ketika aku melihat ujung rahangnya.

Aku mencoba berteriak agar ia menghentikannya, namun aku tak mampu bersuara sedikitpun. Napasku tersengal-sengal, bayangan tentang apa yang akan terjadi apabila ia melepas kertas-kertas manteraku itu dengan liar berkecamuk di kepalaku. Jantungku bergedup teramat kencang sehingga aku bisa mendengarnya di telingaku dan tiba-tiba ...

BANG!

Secara harfiah, aku terlempar ke udara ketika aku mendengar suara itu. Aku mengira jantungku telah melompat keluar. Karena caraku duduk, aku hampir terjatuh, namun aku akhirnya mampu menyeimbangkan driku dan berusaha kabur dari ruangan itu. Walaupun aku sekeras mungkin mencoba untuk berlari, namun tubuhku terjerembab dan akupun terjebak di sana. Kakiku menolak untuk bergerak. Aku terus mencoba merangkak dan menoleh untuk melihat apakah ia mengejarku. Namun kemudian ...

DUK!!!

Kepalaku menghantam dinding, sangat keras. Rasa takutku menelan semua rasa sakitku sehingga aku tak merasakan apapun. Yang kutahu berikutnya, darah mengalir dari pelipisku dan menetes di alis mataku. Namun yang lebih kupedulikan saat itu adalah segera kabur dari makhluk itu ketimbang apapun.

Darah yang mengalir ke mataku mulai membutakanku. Aku mulai bisa bergerak dan mengulurkan tanganku, mencoba mencari pintu. Namun sekeras apapun aku mencoba, aku tetap tak bisa menemukan jalan keluar.

�Kau tak bisa pergi sekarang!� teriak Miss Akagi. Suara itu cukup untuk menghentikanku untuk melarikan diri dari ruangan itu. Aku membeku di sana dan mencoba untuk menguasai keadaan. Akupun mencoba untuk mengikuti perintah Miss Akagi, apapun itu. Sebab mungkin itu satu-satunya jalan keluar.

Ketika aku mengusap darah dari mataku, aku melihat bahwa orang tuaku mencoba mendobrak masuk ke ruangan. Mungkin saja perintah Miss Akagi tadi ditujukan pada kedua orang tuaku yang meninggalkan ruangan mereka dan mencoba masuk ke sini. Miss Akagi menunggu sejenak hingga aku siap mendengarkan apapun perkataannya.

�Maaf, Tomohiko. Pasti tadi sangat menakutkan bagimu ya? Sekarang sudah baik-baik saja. Kembalilah ke sini.� beliau kemudian berpaling ke arah orang tuaku yang kini berdiri di depan pintu. �Sekarang sudah tak apa-apa. Kembalilah dan biarlah saya menyelesaikan ini semua.�

Aku bisa mendengar mereka berbicara di balik pintu, walaupun aku tak bisa menerka apa yang mereka katakan. Aku kembali menuju ke tempat Miss Akagi duduk dan beliau mengulurkan sebuah sapu tangan untuk mengusap darah dari wajahku. Sapu tangan itu terasa harum saat kugunakan. Aku duduk bersila kembali dan menyadari bahwa suara �Bang!� yang kudengar tadi bukan berasal dari iblis itu, melainkan dari Miss Akagi yang memukulkan tangannya ke tatami.

�Tomohiko, apa kau mendengarnya? Apa kau melihatnya?�

�Aku melihatnya.� Aku menelan ludahku. �Ia menanyakan kepadaku, �Kenapa, kenapa ... � terus menerus.�

Wajah Miss Akagi menjadi teduh. Aku terus mencoba untuk tetap tenang di depan Miss Akagi, meskipun aku baru saja mengalami pertemuan yang mengerikan dengan makhluk itu. Kini aku harus melakukan apapun yang harus kulakukan untuk mempermudah mengusir iblis itu dari hidupku.

�Benar katamu,� beliau mengangguk, �Ia terus bertanya �Mengapa?�. Mengapa menurutmu ia bertanya seperti itu?�

�Uh ... saya tak tahu. Apa seharusnya saya tahu?� aku tak memiliki ide sama sekali.

�Tomohiko, apa kau takut?�

�Ya, saya masih takut sekarang.� aku mengalihkan wajahku dari beliau karena merasa malu.

�Kenapa?�

�Well ... semua ini sangatlah aneh bagiku. Hantu dan semuanya, maksud saya ...� aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Aku merasa Miss Akagi mencoba membuatku mengerti sesuatu, namun aku hanya tak memahaminya.

�Apa dia melakukan sesuatu kepadamu?�

�Yah, kurasa ...� aku dulu yakin dia mencoba menyakitiku, namun kini aku tak yakin. Kepalaku yang berdarah juga bukan karena perbuatan hantu itu. Itu karena kecerobohanku akibat kepanikanku sendiri. �Leherku berdarah dan sepertinya tadi ia mencoba melepas jimat dari wajahnya.�

�Ya, aku ingat. Aku juga melihatnya. Tapi apa ada sesuatu yang lain terjadi?�

Aku sama sekali tak bisa menjawabnya. Aku tak yakin harus menjawab apa.

�Aku tahu Nak, situasi ini amat berat untuk dijalani ...�

�Maaf, saya benar-benar tidak tahu ...�

�Tak apa-apa.� beliau mulai menjelaskan agar segalanya terdengar masuk akal bagiku. Mungkin mengatakan bahwa beliau sedang �menguliahiku� adalah istilah yang tepat.

Pertama dan yang paling penting, makhluk yang baru saja menampakkan diri tadi adalah semacam roh atau lebih tepatnya monster. Aku bertanya apa ia jahat, namun beliau tampaknya tidak memiliki jawaban yang jelas atas pertanyaan itu. Beliau mendapat kesan yang jelas bahwa makhluk itu semacam roh yang �gelap�, namun beliau tak merasakan hal-hal yang �kejam� dari makhluk itu.

�Bahkan jika suatu roh tidak bermaksud jahat, hal-hal seperti ini bisa terjadi jika mereka terlalu kuat.� Beliau menjawab, �Wanita itu ... roh itu ... sudah sendirian sejak waktu yang sangat lama. Ia melewati waktu bertahun-tahun, ingin agar seseorang berbicara dengannya, menyentuhnya, melihatnya, atau hanya sekedar menyadarinya. Roh itu melihatnya dalam dirimu dan ketika kau memperhatikannya, ia menjadi sangat senang. Nah sekarang, jangan salah paham akan apa yang akan kukatakan, namun dibandingkan wanita itu, kau lebih lemah. Karena itulah kau merasa takut dan karena itu pulalah tubuhmu bereaksi sangat kuat jika ia hadir.� Cara beliau berbicara sangatlah tenang dan perlahan, seakan ia berbicara dengan seorang anak kecil.

Aku masih tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku dulu berpikir roh itu jahat, namun kini setelah mendengar penjelasan Miss Akagi ... ah, aku tak tahu apakah yang dikatakan Miss Akagi itu benar ataukah ia hanya mencoba membuatku tak merasa takut lagi.

�Nah, sekarang mari kita lakukan sesuatu untukmu. Ini akan memakan waktu, namun yakinlah ... aku pasti menolongmu!� kata-kata itu membuatku merasa lebih baik. Aku merasakan kelegaan ketika aku mendengar ada harapan untuk lepas dari ini semua. Aku akan menulis di sini apa yang beliau katakan kepadaku. Aku takkan melupakan kata-kata ini.

�Jika sesuatu terlalu menakutkan untuk dilihat, atau kau tak mengerti apa itu, ingatlah bahwa ia merasakan rasa sakit, sama seperti yang bisa kau rasakan. Raihlah dan cobalah tolong dia. Mungkin itulah yang ia tunggu-tunggu selama ini.�

Miss Akagi mulai membaca kitab suci. Tak seperti apa yang kuduga, ternyata beliau tidak sedang mengusir roh itu, melainkan untuk membuatnya tenang.

Malam itu, kepalaku teramat sakit dan leherku terasa seperti terbakar, namun aku tertidur sangat nyenyak. Miss Akagi membiarkanku menginap di sana karena yah, menurut beliau aku masih bertingkah sangat aneh.

BERSAMBUNG

 

Cuplikan episode berikutnya:

�Maaf, saya tak bisa hidup seperti orang-orang ini untuk selamanya. Aku pikir apa yang mereka lakukan itu hebat, namun itu bukan untuk saya.� Aku menatap mata beliau, mencoba untuk terlihat meyakinkan dan serius.

�Biarlah aku mengatakannya dengan bahasa lain: kau tak bisa pergi dari sini.�

�Apa?�

�Ia masih bersamamu.� Miss Akagi tampak sedang melihat sesuatu yang tak bisa aku lihat.

Sabtu, 20 September 2014

REAL PART 2/4

 

Episode yang lalu: Sang narator mengikuti ritual yang pernah diceritakan temannya, Ogawa, dan berujung pada penampakan hantu di apartemennya. Sang narator kembali ke rumah orang tuanya untuk meminta bantuan Miss Akagi, seorang biksuni untuk mengusir hantu itu. Namun dalam perjalanan, sang narator mengalami sesuatu yang aneh terhadap lehernya.

Dengan napas tersengal-sengal, aku segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangku. Aku mendengar ibuku menutup telepon dan begitu melihat wajahku, ia langsung berkata.

�Miss Akagi baru saja menelepon! Kau ingat beliau kan, biksuni yang tinggal di Nagasaki? Beliau sangat mencemaskanmu. Beliau mengatakan bahwa ada hal yang buruk terjadi padamu dan ingin berbicara denganmu secepat mungkin. Apa kau baik-baik saja, Nak?� mata ibuku langsung membelalak begitu melihat leherku, �Astaga! Apa yang terjadi dengan lehermu?�

Aku segera berlari ke cermin yang berada di lorong. Tadi aku sempat berpikir aku aman di sini, bahwa makhluk yang sebelumnya kulihat di apartemenku takkan mengikutiku di sini. Namun aku segera menyadari bahwa aku salah begitu melihat garis merah yang melingkari leherku. Luka itu terlihat seperti seutas tali yang tengah meliliti leherku. Aku mendekat ke cermin untuk melihatnya lebih jelas dan terlihat bagiku, luka aneh itu akan sulit hilang.

Aku mulai gemetar. Aku tak mampu berpikir lagi. Yang dapt kulakukan hanyalah naik ke kamar ibuku, dimana ada sebuah patung Buddha kecil di sana. Aku berdoa di depannya terus-menerus.

�Apa yang terjadi?� ayahku yang tampaknya baru saja berbicara dengan ibuku, menyerbu masuk ke dalam ruangan. Ibu sangat ketakutan, sehingga beliau memanggil nenek. Aku tak bisa menerka apa yang ibuku bicarakan di telepon di tengah doaku, namun aku bisa mengetahui bahwa beliau tengah menangis. Sesuatu mengenai ibuku yang ketakutan membuatku tersadar betapa serius kondisi yang tengah kualami ini. Tak ada tempat yang aman bagiku. Makhluk itu akan terus mengikutiku hingga akhir hayatku.

Setelah tiga hari, keadaanku hanya terus memburuk. Aku tak tahu apakah ini karena kondisi mentalku yang turun ataukah karena ulah makhluk yang terus mengikutiku ini, namun aku menderita demam yang amat parah selama dua hari. Leherku terus-menerus berkeringat dan pada hari kedua, darah mulai bercampur dengan keringatku. Pendarahanku mulai terhenti keesokan harinya setelah demamku mulai turun. Aku akhirnya bisa menenangkan diriku sedikit.

Namun leherku masih terasa gatal, bahkan terasa seperti disengat. Apapun yang menyentuhnya, apakah itu handuk, kaos, selimut, semuanya memberikan rasa sakit di sekitar luka tersebut. aku berusaha untuk tidak menyentuhnya karena takut darah akan keluar kembali dari luka tersebut. Aku hanya berbaring sepanjang hari, memaksa diriku sendiri untuk berhenti memikirkannya. Namun tiap kali aku masuk ke kamar mandi, aku tak mampu menghindar untuk melihat ke arah cermin.

Apa yang kulihat di cermin benar-benar hampir membuatku jadi gila. Warna merah hampir sepenuhnya menghilang, namun luka itu ... aku bisa mengatakan bahwa luka itu justru makin melebar. Benda itu benar-benar membuatku jijik. Aku akan mencoba menggambarkan seperti apa luka itu sekarang, maaf jika aku membuat kalian merasa mual.

Ketika pertama muncul, luka itu hanya berbentuk garis merah tipis sekitar 1 cm lebarnya. Garis itu melingkari leherku tanpa terputus. Kulitku cukup putih, sehingga warna merah itu sangat jelas terlihat, kontras dengan warna kulitku. Luka itu benar-benar nampak seperti tali merah yang tengah meliliti leherku.

Namun setelah tiga hari, benda itu mulai berubah bentuk. Bentuknya benar-benar menjijikkan saat aku melihatnya di cermin. Tampak benjolan-benjolan di luka itu, letaknya sangat berdekatan hingga hampir tak ada jarak antara satu tonjolan dengan tonjolan yang lainnya. Ukurannya kecil-kecil, namun yang membuatnya buruk, terlihat cairan nanah keluar dari benjolan-benjolan itu. Dan luka itu tampak semakin melebar dan melebar. Aku bahkan muntah begitu pertama melihatnya. Aku mencoba mencuci leherku dengan air, namun rasa sakit terus saja menyengat. Ibuku bahkan mengoleskan obat ke luka tersebut, namun aku tahu itu takkan membantu. Aku kembali berbaring di atas kasur dan menangis sepanjang malam.

�Kenapa aku?� hanya itu yang bisa kupikirkan. Tak ada hal lain yang terlintas di dalam benakku kecuali penyesalan.

Aku sampai di suatu titik dimana aku tak mampu lagi menangis. Telepon genggamku tiba-tiba berdering. Itu Ogawa. Ketika aku melihat namanya di caller ID, hatiku segera terisi dengan harapan. Aku tiba-tiba serasa di-charge dengan energi yang aku bahkan lupa masih memilikinya. Aku tak mengira aku akan sebahagia ini mendapat telepon darinya.

�Halo!� aku mengangkatnya secepat mungkin.

�Hei, apa kau baik-baik saja?�

�Tidak ... kondisiku tak begitu baik.� Aku mencoba sebisa mungkin tak membiarkan perasaan menguasaiku, namun tangisku hampir pecah.

�Oh, seburuk itu ya?�

Kata �buruk� bahkan tak cukup dekat untuk menggambarkannya. �Hei, bagaimana? Kau sudah menemukan seseorang untuk menolongku?�

Ketika ia tak segera menjawabku, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. �Maaf, tapi aku belum menemukannya. Aku sudah menghubungi beberapa kawan lamaku, namun aku belum mendapatkan kabar apapun.�

�Apa? Jadi apa yang harus kulakukan?� aku tahu aku terdengar sangat memaksa dan terdengar egois, namun aku tak peduli. Dia harus menolongku!

�Tenanglah sedikit, oke? Tak ada seorangpun yang kukenal bisa menolongmu. Namun mungkin ada seseorang, ia teman dari temanku. Temanku mengatakan ia sangat jago dan ia akan sangat senang menolongmu, namun ...�

�Namun?� aku mulai tak sabar.

�Harganya sangat mahal.� Ia tampak tak enak ketika menyebutkannya.

�Ia minta bayaran?�

�Ya begitulah kata temanku. Bagaimana, kau mau?�

�Berapa?� sebenarnya aku tak ingin mendengar jawaban Ogawa, sebab ia sendiri terdengar sangat berat untuk mengatakannya.

�Menurut temanku, mungkin sekitar 500 ribu yen [sekitar 59 juta].�

�500 ribu yen? Bagaimana aku harus membayarnya?� aku memiliki pekerjaan, namun mustahil bagiku mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Namun jika itu bisa melepaskan semua penderitaan ini, mungkin aku tak memiliki pilihan lain, �Baik, dimana aku bisa menemuinya�

�Temanku bilang ia tinggal di Gunma. Aku harus menanyakan pada temanku dimana persisnya, jadi aku akan meneleponnya dan lihat apa yang bisa ia lakukan.�

Percakapan kamipun usai dan aku pergi untuk berdoa di altar kembali. Kalian mungkin masih ingat, pada hari aku tiba, ibuku memanggil nenek. Beliau mengatakan bahwa Miss Akagi mungkin akan datang untuk menolongku secepat mungkin. Namun ada masalah. Beliau sangat sibuk dan beliau juga sudah sangat tua. Paling cepat beliau bisa tiba di sini 3 minggu lagi. Itu berarti aku terjebak dengan keadaan ini untuk tiga minggu ke depan. Aku tak tahu apakah aku bisa bertahan selama itudan semuanya itu membuatku sangat gugup dan ketakutan. Tiga minggu tanpa kepastian. Aku jelas takkan mampu melaluinya. Paling tidak, aku tak bisa hanya berdiam diri saja selama itu. Aku harus mencoba melakukan sesuatu.

Ogawa meneleponku kembali sekitar jam 11 malam itu.

�Maaf membuatmu menunggu. Aku harus menunggu temanku meneleponku balik. Ia bilang orang itu bisa datang ke tempatmu besok.�

�Besok?�

�Besok hari Minggu bukan?� Ogawa terdengar terkejut saat ia tahu aku tak menyadari bahwa ini akhir pekan. Akupun sama terkejutnya. Sudah lima hari berlalu sejak kami berjumpa terakhir kalinya. Aku bahkan lupa bahwa aku sudah absen selama seminggu dari kantor.

�Baiklah kalau begitu,� jawabku, �Terima kasih. Jadi, dia akan datang ke sini, ke Saitama?�

�Ya, katanya begitu. Ia memiliki mobil sendiri, jadi aku akan mengirimkan alamatmu kepadanya, oke?�

�Baik, aku akan mengirimkanmu SMS berisi alamatku. Oya, kau tak melakukan apapun kan besok? Bisakah kau datang bersamanya?�

�Oh, tentu. Jangan khawatir.�

�Oya ... bisakah kira-kira aku membayarnya belakangan?� aku tak mau berterus terang bahwa aku tak memiliki uang, namun kurasa Ogawa bisa menyimpulkannya sendiri.�

�Kurasa bisa.�

�Baiklah. Hubungi aku besok jika kamu sudah berada di dekat sini.� Semuanya tak begitu sesuai rencanaku, namun kurasa ini justru lebih baik.

Malam itu, aku bermimpi aneh. Seorang gadis mengenakan kimono putih berlutut di lantai di sampingku. Ia membungkuk dalam-dalam ke depan, menaruh tiga jari dari tiap tangan ke lantai ketika ia membungkuk. Ia kemudian berdiri dan meninggalkan kamar, namun tidak sebelum ia membungkuk kembali di depan pintu. Aku tak tahu apa kaitan mimpi itu dengan situasi yang kini kualami, namun aku merasa seperti semua ini ada hubungannya.

Hari berikutnya Ogawa meghubungiku tepat siang hari. Aku membimbingnya ke rumah orang tuaku ketika kami berbicara di telepon. Ia membawa teman yang katanya menawarkan bantuannya dan ia terlihat seperti berumur pertengahan 30-an. Aku sama sekali tak merasa pria ini bisa membantuku, ia malaj terlihat seperti anggota yakuza kelas teri. Aku belum memberitahu orang tuaku tentangnya dan jelas mereka juga sama curiganya sepertiku.

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Hayashi. Aku yakin itu bahkan bukan nama aslinya, namun semua itu bukan masalah bagiku. Ia kemudian berbicara denganku.

�Tomohiko, aku dengar bahwa kau terlibat masalah yang sangat besar, bukan?�

Maaf memotong di sini, namaku Tomohiko. Maaf baru mengatakannya.

�Hayashi, bukan?� ayahku memotong pembicaraan kami. Nadanya sangat tajam dan defensif, �Bisakah saya tahu mengapa anda datang ke sini?�

�Karena anak anda, Pak. Anda mungkin takkan mempercayai apa yang saya katakan pada anda, namun anak anda terlibat dalam suatu masalah, benar bukan? Dia mengemis meminta bantuan saya. Karena itulah saya datang.�

�Dia dalam masalah?� kata ibuku. Matanya beralih dari Hayashi ke arahku.

�Ya. Saya punya pengalaman dengan hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah kasus-kasus yang pernah saya tangani tak pernah ada yang seberat ini. Bukan saya ingin menakuti kalian semua, namun bahkan berada di ruangan ini lumayan membuat saya takut.�

Ayahku semakin tak yakin dengan orang ini, �Maafkan saya bertanya, namun apa sebenarnya pekerjaan anda?�

�Ah, mungkin anda berpikir saya ini orang gila. Namun pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang rumit dengan jawaban yang rumit pula. Percayalah saja pada saya ketika saya mengatakan bahwa hanya saya yang dapat menolong anak anda. Anda tak ingin dia direnggut dari anda untuk selamanya, bukan?�

�Apa kami bisa mempercayai anda untuk menolong anak kami?� ibuku tak sebegitu curiga pada orang ini ketimbang ayahku, namun ia juga tampak tak mempercayai Hayashi sepenuhnya.

�Saya akan membantu kalian jika kalian mengizinkannya.� Ia menatap mata ibuku dengan tajam ketika mengatakannya. Ibuku mengangguk.

�Masalah seperti ini hanya bisa dipecahkan oleh seorang ahli seperti saya. Dan anda tahu, hal ini juga cukup berbahaya bagi diri saya sendiri. Saya membutuhkan suatu jaminan, apa anda mengerti apa yang saya katakan?�

�Berapa yang kau inginkan?� keraguan ayahku semakin menguat. Garis-garis di wajahnya makin menebal.

�Hmmm ... jika saya tidak mendapat 2 juta yen [sekitar 230 juta rupiah] ...�

�Apa kau bercanda?� wajah ayahku berubah merah akibat amarahnya.

�Saya sudah memiliki niat membantu anda dengan datang ke sini. Maksud saya, saya hanya ingin menolong seorang teman di sini. Namun jika anda tak menginginkan bantuan saya, saya dapat pergi sekarang juga. Atau, saya bisa tinggal jika anda memberi saya 2 juta yen, sehingga saya bisa menyelamatkan jiwa anak anda. Saya pikir dengan semua resiko yang saya hadapi, harga itu cukup setimpal.� Ia berbalik menatapku, �Anda sudah pergi ke banyak kuil untuk meminta bantuan, bukan? Dan saya berani bertaruh, mereka sama sekali tak peduli pada anda. Well, itu karena tak banyak orang bisa menangani situasi seperti ini. Apa anda ingin mencari bantuan dari mereka lagi?�

Aku terdiam. Ketika Hayashi menyebutkan harga itu, aku menatap pada Ogawa yang terlihat sama terkejutnya dengan aku. Setelah berbicara satu sama lain selama beberapa saat, orang tuaku dengan enggan menyetujui harga itu. Hayashi kemudian mengatakan bahwa upacara exorcism (pengusiran setan) akan dilakukan malam ini dan ia mulai bersiap-siap.

Apa yang ia maksud dengan bersiap-siap benar-benar berbeda dengan yang aku bayangkan. Ia mengatur lilin di kamarku dimana kami berdiri di dan ia menempel kertas mantra di tengah ruangan. Dia duduk bersila, menaruh sebuah bola kristal tepat di depannya dan mengambil sebuah tasbih di tangannya. Ia mengambil apa yang kuduga sebagai sake dan menuangkannya ke dalam gelas. Ya, itulah yang ia sebut sebagai persiapan.

�Hei, Tomohiko, aku akan mengusir hantu itu dari tubuhmu, oke? Semuanya akan baik-baik saja sekarang, jadi aku ingin orang tuamu melakukan sesuatu untukku,� ia menatap mereka dalam-dalam, �Maaf, namun kalian harus meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu. Aku tak bisa menjamin hantu ini tak mencoba untuk merasuki orang lain, dan kita tentu tak ingin hal itu terjadi pada kalian.�

Orang tuaku menatapnya dengan curiga, namun akhirnya setuju untuk meninggalkan rumah. Mereka masuk ke dalam mobil mereka yang terparkir di luar sambil menunggu semuanya usai.

Hayashi memulai ritualnya tepat setelah matahari terbenam. Ia mulai merapal apa yang terdengar bagiku seperti ayat-ayat kitab suci. Pada saat-saat tertentu, ia akan mencelupkan jarinya ke dalam segelas sake yang tadi ia persiapkan dan mencipratkannya ke arahku. Aku setengah percaya dan setengah ragu apakah ia benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Aku menutup mataku dan berbaring di atas kasurku ketika ia menyuruhku begitu.

Upacara itu berjalan beberapa lama. Alunan ayat-ayat itu lama-lama terdengar seperti putus-putus, entah kenapa. Aku menjaga mataku tetap tertutup, namun suasana di sekitarku mulai terasa tak beres. Suasana semakin mencekam hingga aku sadar bahwa ruangan ini benar-benar sunyi, tak ada lagi setitikpun suara.

Aku tak merasakannya sebelumnya, namun leherku kembali terasa panas dan seperti terbakar. Rasanya sudah tak gatal lagi, namun menyakitkan. Aku ingin membuka mataku dan melihat apa yang terjadi, namun aku hanya menggertakkan gigiku dan memaksa diriku menahan rasa sakit ini.

Namun aku tahu ada yang salah.

Terdengar seperti upacara kini sudah berakhir, karena aku sudah tak mendengar suara apapun lagi. Namun rasanya ini bukan sebuah ending, melainkan ada sesuatu yang membuat upacara ini terpotong dari yang seharusnya. Benar-benar sunyi di dalam ruangan ini. Tak ada yang mengatakan sepatah katapun. Rasa sakit di leherku sama sekali tak berkurang, bahkan semakin meningkat. Rasa panas yang kurasakan sudah tak tertahankan lagi. Ruangan ini juga terasa lebih dingin ketimbang saat upacara itu dimulai.

Dan aku merasakan seperti ada sesuatu yang berada di sampingku.

Aku menyuruh diriku sendiri untuk tidak membuka mata. Aku tahu aku tak boleh melakukan itu. Aku tahu bahwa tetap menutup mataku adalah hal terpintar yang bisa kulakukan. Namun aku tak bisa menahan godaan itu. Aku membukanya.

Dan apa yang kulihat sangatlah mengerikan.

Hayashi masih duduk di sisi kananku, terdiam bergeming. Namun di sisi kiriku, duduk makhluk itu. Ia duduk bersila, sama seperti Hayashi. Tangannya berada di atas kedua lututnya.

Namun tubuhnya ...

Tubuhnya menjulur ke arah depan, memanjang, tepat di atas tubuhku. Dan kepalanya ... kepalanya tepat berada di depan wajah Hayashi. Jarak antara wajah Hayashi dan kepala makhluk itu mungkin hanya berjarak satu bola baseball.

Yang lebih aneh dan mengerikan, kepala hantu itu bergerak seperti burung hantu, memutar. Suara mengerikan seperti tulang patah mengikuti ketika ia memutar kepalanya, �Kreeek ... kreeeek ... kreeek ...�

Kepalanya miring, kemudian berputar hingga posisi kepalanya horisontal, kemudian memutar hingga tegak lurus, lalu memutar kembali hingga kembali ke posisinya semula, masih miring.

Ia menatap mata Hayashi kemudian berbisik dengan suara yang teramat menakutkan. Aku tak mengerti apa yang ia katakan, mungkin ia membisikkan sesuatu kepada Hayashi, sesuatu yang amat mengerikan. Apapun yang ia bisikkan memiliki efek yang sangat besar untuk Hayashi. Wajahnya memucat hingga seputih kertas. Kepalanya menunduk dan pandangan matanya mengikuti, jatuh ke bawah. Ia sama sekali tak berkedip dan tak mengucapkan sepatah katapun. Mulutnya membuka dan sebenang air liur jatuh dari bibirnya.

Walaupun sangat tipis, aku bisa melihatnya tersenyum. Ketika ia mendengarkan apapun yang makhluk itu bisikkan, sesekali ia mengangguk kecil. Yang bisa kulakukan hanya menatap peristiwa mengerikan itu tanpa bisa melakukan apapun.

Makhluk itu tiba-tiba memutar lehernya, �Kreeeeek .....�

Dan selanjutnya yang kutahu, ia tengah menatapku.

Aku merasakan mataku segera menutup dan aku menarik selimutku ke atas kepalaku. Aku membisikkan doa-doa, namun bayangan ketika kepala makhluk itu memutar seperti burung hantu dengan suara mengerikan tetap terpatri dalam benakku. Aku sangat ketakutan.

Aku mendengar suara berdecit dari arah tangga dan segera menyadari seseorang sedang menuruni tangga dengan terburu-buru. Hayashi telah melarikan diri. Aku meringkuk makin dalam di dalam selimutku, menunggu sesuatu untuk terjadi.

Beberapa saat kemudian, orang tuaku masuk ke dalam kamar, menyalakan lampu, dan menarik selimut dari atas tubuhku. Di sana mereka melihatku meringkuk seperti janin. Mereka mengatakan bahwa Hayashi kabur tanpa sedikitpun melihat ke arah mereka. Ia langsung melompat ke dalam mobil dan meluncur pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam.

Ogawa kemudian mengatakan padaku bahwa ketika Hayashi masuk ke mobil, ia hanya mengatakan, �Nyalakan mobilnya dan cepat pergi� serta berperilaku sangat aneh sepanjang perjalanan.

Kunjungan Hayashi seharusnya menyelamatkanku, namun kondisiku justru memburuk.

Aku tahu aku tak bisa lagi menunggu Miss Akagi.

BERSAMBUNG

 

Cuplikan episode berikutnya:

Makhluk itu ada di sana. Ia merangkak sambil menatap wajahku. Aku tak punya bayangan apa yang sedang terjadi atau apa yang Miss Akagi sedang lakukan. Aku berada di dalam kuil, di hadapan seorang biksuni, namun entah bagaimana caranya, monster itu berada hanya beberapa jengkal jaraknya dariku.

Sabtu, 13 September 2014

REAL PART 1/4

 

Catatan penerjemah (baca baik2 sebelum membaca cerita ini):

�Real� adalah cerita bersambung yang diambil dari blog okaruto.tumblr. Cerita ini mengisahkan pengalaman seorang pemuda yang iseng-iseng melakukan sebuah ritual memanggil hantu yang berujung pada pengalaman yang mengerikan. Cerita ini cukup pendek, hanya terdiri atas 4 bagian. Semuanya akan ku-update setiap seminggu sekali.

Aku tak yakin cerita ini dikutuk dan aku sendiri juga tak pernah percaya pada cerita2 yang �katanya� dikutuk. Namun tepat pada malam saat pertama kali menerjemahkan cerita ini, aku dihantui mimpi buruk. Aku tak bisa menceritakan detail mimpiku, namun ada elemen yang sama dengan cerita yang kuterjemahkan ini. Dan percayalah, mimpi itu sangat buruk, hingga2 aku terbangun karena terlalu takut. Hal ini sangat aneh karena kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi, bahkan sudah bertahun-tahun aku tak pernah mengalami mimpi buruk.

Bukannya aku ingin menakut-nakuti kalian, namun aku harus memperingatkan agar kalian jangan terlalu menghayati cerita ini terlalu dalam. Bacalah saja sambil lalu.

Dan mungkin karena alasan ini, aku akan berhenti dulu menerjemahkan cerita2 seram untuk beberapa waktu. Selain karena kesibukan, aku juga tak ingin hal yang sama terjadi lagi. Namun jangan khawatir, jika situasi sudah agak tenang dan jika pekerjaanku sudah tidak sesibuk sekarang, aku akan secepatnya meng-update riddle2 dan urban legend di blog ini.

NB: Beberapa detail dalam cerita ini sudah kuubah dari versi aslinya, terutama bagian akhirnya. Jadi jangan heran jika cerita ini agak berbeda dengan yang ada di blog okaruto.

----------------------------------------------------------------------------------

Cerita ini mungkin tidaklah menarik bagi kalian sehingga aku akan menjaganya tetap sesingkat mungkin. Namun maaf jika kenyataannya cerita ini terlalu panjang. Inilah ceritaku.

Pertama, kalian perlu mengetahui bahwa kerasukan atau diikuti oleh sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini sama sekali tidaklah menyenangkan. Segalanya sangat berbeda dengan yang biasa kita lihat di televisi. Berdasarkan pengalamanku sendiri, lepas dari cengkeraman makhluk semacam itu tidaklah mudah. Satu atau dua kali upacara pembersihan tidaklah membantu.

Kenyataan ini, walaupun tidak menyenangkan untuk didengar, perlu kukatakan kepada kalian. Jujur, tak semua orang yang mengalaminya bisa diselamatkan.

Ceritaku sendiri dimulai dua setengah tahun lalu. Sebelum kejadian itu, kehidupanku berjalan sangat normal. Dari luar, kehidupanku amatlah sempurna. Namun masalahnya, kita takkan pernah tahu kapan semua itu akan direnggut dari kita. Tak seorangpun tahu.

Kurasa aku harus memulainya dari awal. Pada saat itu, umurku baru 23 tahun. Aku baru saja mulai bekerja di sebuah perusahaan di Tokyo. Aku bekerja sangat keras karena baru saja lulus kuliah dan ingin melakukan semuanya dengan benar. Perusahaanku itu bukanlah perusahaan besar dan tak banyak pekerja yang berusia sama denganku. Dan bisa kalian tebak, di tempat seperti itu, para pegawai yang sama-sama berusia muda akan berakhir menjadi sahabat karib.

Satu pemuda yang menjadi sangat dekat denganku bernama Ogawa. Ia berasal dari wilayah timur laut Jepang dan sepertinya tahu akan segala hal. Ia tidak memiliki banyak teman dekat. Bahkan kupikir, mungkin hanya aku sajalah sahabatnya di sini. Tak ada orang yang berani mengatakan hal ini di depannya, namun dia itu ... yah, bisa dibilang agak aneh.

Sebagai contoh, ia akan mengatakan sesuatu seperti: �Jika kamu melakukan ini, maka ini yang akan terjadi ...� atau �Dia sedang menuju ke sini ...�. Orang-orang yang gemar mengatakan hal seperti itu akan dianggap sok tahu, namun tidak dengan Ogawa. Apapun yang ia katakan pada akhirnya akan menjadi nyata. Awalnya, aku hanya berpikir itu semua adalah sebuah lelucon.

Gaji yang kuperoleh dari pekerjaanku ini jauh lebih besar ketimbang yang biasa kuhabiskan saat kuliah. Karena itu aku tak pernah menghabiskan waktuku di rumah dan selalu berakhir pekan dengan berpesta dengan teman-temanku. Pada permulaan Agustus, Ogawa dan aku berhasil mendapatkan dua gadis sebagai gebetan kami. Kami mengajak mereka ke sebuah rumah terbengkalai yang kabarnya berhantu. Tempat itu memang seram. Aku merasa merinding hanya dengan berjalan mengelilinginya dan kami merasa ada sesuatu yang selalu mengawasi kami sepanjang waktu. Namun tak ada terjadi di sana dan kami akhirnya pulang setelah merasa bosan.

Tiga hari kemudian, aku sedang bekerja dan seperti hari-hari lain, aku pulang terlambat. Ada sebuah aturan tak tertulis di kantorku bahwa pegawai junior tidak sepantasnya meninggalkan kantor sebelum seluruh pegawai senior pulang. Ketika aku akhirnya bisa pulang, tubuhku sudah sangat teramat lelah. Aku berjalan masuk ke dalam kamar apartemenku, mengunci pintunya, dan melepaskan sepatuku. Aku tak tahu mengapa, namun begitu aku melewati cermin, aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Perbuatanku itu sangatlah bodoh, aku tahu itu. Namun hal itu terlintas begitu saja di pikiranku dan saat itu aku merasa perlu untuk melakukannya.

Agar tak membuat kalian bingung, sebaiknya aku menjelaskannya kondisi tempat tinggalku terlebih dulu. Apartemenku berjarak 15 menit dari stasiun kereta api. Kamarku bertipe studio [kamar luas tanpa penyekat] dengan sebuah lorong pendek menuju pintu masuk. Cermin itu berada di akhir lorong tersebut. Aku tak mau membicarakan terlalu banyak detail, namun Ogawa pernah memberitahuku tentang sebuah ritual kecil yang dapat kalian lakukan di depan cermin. Ia berkata, �Jika kamu berdiri di depan sebuah cermin dan membungkuk, kemudian melihat ke arah kanan, maka �sesuatu� akan tampak.�

Aku sama sekali tak mengira sesuatu benar-benar akan terlihat, jadi aku melakukannya. Aku membungkuk di depan cermin lalu menoleh ke kanan.

Begitu aku menoleh, aku bisa mengatakan ada sesuatu yang berada tepat di bagian tengah kamar apartemenku.

Apapun itu, ia terlihat sangat aneh.

Tingginya tak lebih dari dua meter. Rambutnya panjang dan berantakan, menutupi sebagian besar wajahnya. Kertas-kertas mantera menutupi wajahnya, namun aku tak bisa mengatakan ada berapa banyak. Ketika aku melihat pakaiannya, aku cukup yakin pakaian itu sama seperti yang dipakaikan kepada jenazah pada upacara pemakaman. Selain itu, ia juga bergerak maju mundur, seperti meliukkan tubuhnya, secara berulang kali.

Aku membeku saat itu juga. Aku bahkan tak mampu bersuara. Tubuhku terasa dilumpuhkan oleh rasa takut dan bingung. Otakku mencoba mecari penjelasan logis tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apakah makhluk itu sebenarnya. Namun rasanya tak ada penjelasan yang masuk akal tentang apa yang kulihat saat itu.

Aku ingin kalian mencoba memahami apa yang kualami saat itu. Coba tutuplah matamu dan bayangkan kalian berada di sebuah ruangan yang sangat sunyi. Kemudian bayangkan ada sesuatu yang berdiri di sana, mengamatimu.

Jelas ritual itulah yang membawa makhluk itu ke sini, namun aku sama sekali tak mengerti apa yang terjadi saat itu. Pikiranku terlalu dipenuhi oleh rasa bingung dan takut. Makhluk itu seperti muncul entah dari mana dan anehnya lagi, kehadirannya serasa membuat udara di sekitarnya menjadi biru.

Kamar itu teramat sangat sunyi, sehingga aku merasa seperti waktu telah berhenti.

Aku akhirnya berkesimpulan bahwa aku secepatnya harus pergi dari apartemen ini. Sepatuku masih tergeletak di lantai dan aku segera berusaha menggapainya, sementara mataku tetap terpaku pada makhluk itu. Aku tak tahu mengapa, namun aku merasa jika aku memalingkan wajahku dari makhluk itu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku berjalan mundur keluar dari kamar. Biasanya hanya butuh 3 langkah untuk berjalan keluar dari cermin itu ke pintu keluar, namun aku berjalan sangat perlahan dan waktu seakan berjalan lebih lambat. Aku masih bisa melihat makhluk itu dari cermin, dan aku melihat bahwa makhluk itu menggerakkan tubuhnya makin cepat, ke depan dan ke belakang. Aku juga mendengar ia mulai mengeluarkan suara, seperti rintihan.

Aku tak begitu ingat apa yang terjadi setelah itu. Yang kutahu, aku sudah berjalan menuju sebuah supermarket dekat stasiun. Aku lega begitu melihat masih ada banyak orang di sana. Namun aku masih tak bisa melepaskan pikiranku terhadap apa yang baru saja terjadi. Sebagian dari diriku merasa marah, sebab rumahku diinvasi oleh sesosok makhluk mengerikan. Sementara sebagian lain dari diriku mencoba tenang untuk mengingat, apakah aku tadi mengunci kamar apartemenku atau tidak.

Aku terlalu takut untuk pulang ke rumah dan memutuskan menghabiskan malam di supermarket itu hingga pagi. Aku pulang ketika fajar telah menyingsing dan melihat kondisi di dalam kamarku. Makhluk itu telah lenyap. Aku kembali pergi keluar, mencoba menenangkan diri dengan meneguk sekaleng kopi dari vending machine. Aku mulai berpikir, apa tadi malam aku benar-benar melihat sesuatu, ataukah itu hanya khayalanku saja setelah lelah bekerja seharian? Hal-hal seperti itu mustahil terjadi kan?

Matahari semakin merangkak naik ke atas ketika aku menghabiskan kopiku. Langit yang terang benderang memberikanku kepercayaan diriku dan akupun masuk kembali ke kamarku. Aku tak melihat apapun sebab tirai jendela kamarku masih tertutup.

Namun ketakutanku menjadi nyata. Apa yang terjadi tadi malam bukanlah khayalanku.

Makhluk itu meninggalkan jejak. Tempat dimana makhluk itu tadi malam berdiri tampak sangat kotor, seperti tertutup oleh lumpur yang berbau sangat menyesakkan. Jejak itu telihat seperti bekas kaki. Semua itu membuktikan bahwa makhluk yang kulihat tadi malam benar-benar ada.

Aku terhuyung mundur karena rasa takut. Telapak tanganku mulai berkeringat. Aku mulai menekan tombol lampu untuk menerangi ruangan, namun itu hanya membuatku menyadari sesuatu yang tak kalah mengerikan. Terdapat jejak lumpur yang sama di tombol lampu, yang kini mengotori jari tanganku yang tadi kugunakan untuk menekannya.

Untuk sesaat aku merasa putus asa. Namun aku kemudian menyadari, tak ada yang bisa kulakukan sekarang, jadi sebaiknya aku menghadapinya saja. Aku yang membawa �dia� ke sini, jadi ini adalah tanggung jawabku sendiri. Kupikir aku adalah contoh yang baik dari seseorang bergolongan darah AB: aku bisa menjadi orang yang kurang bertanggung jawab, namun aku selalu memiliki cara untuk mengatasi masalah.

Aku mencuci semua kotoran itu dan pergi mandi. Bagaimanapun menakutkan pengalaman tadi malam, tetap saja aku harus bekerja pagi ini. Jadi walaupun aku kurang tidur tadi malam, aku tetap bersiap-siap untuk berangkat kerja. Oya, bau itu ... aku melupakan bau menyengat di kamarku. Aku tetap saja tak bisa menyingkirkan bau memuakkan itu. Namun aku harus segera mengejar waktu untuk berangkat kerja, jadi aku berpikir lebih baik mengatasi masalah itu setelah pulang.

Di kantor, aku berusaha sebaik mungkin untuk melakukan pekerjaanku dengan normal. Namun aku tahu satu hal, aku harus berbicara dengan Ogawa. Ia yang memberitahuku tentang segala proses untuk memanggil arwah itu. Jadi, mungkin ia bisa memberikan sedikit nasehat.

Aku baru bisa berbicara dengannya saat makan siang, namun ia tak bisa memberikan informasi baru kepadaku. Ia hanya mengatakan hal-hal yang sudah kuketahui. Inilah percakapanku dengannya saat itu.

�Hei, kau tahu tentang hal yang pernah kau katakan padaku,� aku duduk di sampingnya, �Ketika kau berdiri di cermin, membungkuk sedikit, dan menoleh, kemudian hal yang menakutkan terjadi dan membuat apartemenmu berbau busuk? Nah, aku melakukannya dan hal itu benar-benar terjadi.�

�Hah? Apa yang kau maksud?� Ogawa bahkan tampak tak memperhatikan apa yang baru saja aku katakan.

�Aku serius! Sesuatu, entah itu roh atau apa, datang setelah aku melakukan apa yang kau katakan.�

�Oh. Oke, kurasa aku tak ingat pernah mengatakannya.� Ia bahkan sama sekali tak menoleh ke arahku dan terus menatap makanannya sambil mengunyah, seolah ia mengatakannya hanya untuk mengusirku.

�Berhentilah bermain-main denganku!� aku memukul meja dengan telapak tanganku. �Ada sesuatu yang sangat menakutkan berdiri di dalam rumahku tadi malam!�

�Aku sama sekali tak tahu apa yang kau katakan!� ia bersikeras, matanya tampak menyipit karena kesal.

�Dan aku juga tak tahu apa yang terjadi!�

Apapun yang kukatakan, tampaknya tidak ada yang membuatnya serius menanggapiku. Aku tahu, jika aku tak bisa membuatnya mempercayaiku, maka aku takkan mampu memperbaiki semua ini. Jadi aku ceritakan semua yang terjadi tadi malam. Ogawa awalnya tak mempercayaiku, namun ketika aku menyelesaikan ceritaku, akhirnya ia mulai menganggap ceritaku serius. Ia setuju untuk datang ke apartemenku sepulang kerja. Kami melanjutkan hari kami di kantor dengan bekerja, seolah tak terjadi apapun. Namun sepanjang hari itu, yang bisa kupikirkan hanyalah pulang dan membereskan semua masalah ini.

Ketika kami sampai di apartemenku, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku membuka pintu depan, dan kami langsung diserang dengan bau busuk yang kucium tadi pagi. Aku dengan bodohnya meninggalkan rumah dengan jendela tertutup dan dengan suhu ruanganku yang hangat, aroma itu hanya bertambah buruk. Akhirnya, aku berhasil membuat Ogawa percaya kepadaku. Namun yang ia katakan hanyalah, �Apa-apaan ini?�

Aku menduga ia akan memiliki suatu rencana untuk membantuku, namun nampaknya aku terlalu berharap. Ia hanya mengatakan bahwa aku harus �disucikan� dan ia akan mencari orang yang bisa membantuku. Ia seolah hendak melarikan diri dari tanggung jawab, secara harfiah, ketika ia meninggalkanku sendirian di kamarku. Akupun sendirian kembali. Kini harapanku hanyalah semoga salah satu kenalannya mampu membantu keluar dari semua masalah ini.

Aku sama sekali tak ingin tidur di kamar apartemenku malam ini karena bau ini, jadi aku akhirnya bermalam di sebuah hotel kapsul. Aku tak tahu apakah aku mampu tinggal di sana lagi.

Hari berikutnya, aku memutuskan membolos kerja dan mengunjungi sebuah kuil. Aku mengatakan pada biksu di sana tentang apa yang terjadi denganku, namun tampaknya ia tak mampu menolongku.

�Saya tidak dilatih untuk hal-hal seperti ini.� Ia masih mencoba untuk ramah, �Sudahkah anda berpikir untuk libur sebentar? Mungkin anda hanya mengalami strees dan butuh waktu untuk menenangkan diri.��

Aku pergi ke hampir semua kuil terkenal di penjuru Tokyo, namun apa yang mereka katakan semua hampir sama. Aku akhirnya kelelahan dan siap untuk menyerah. Aku memutuskan untuk pulang ke Saitama, kampung halamanku, yang letaknya tak jauh dari Tokyo.

Aku pulang tak hanya untuk bertemu orang tuaku saja. Aku kesana karena aku mengenal seorang biarawati bernama Miss Akagi. Aku tak bisa memikirkan orang lain yang bisa membantuku selain beliau. Aku akan menceritakan tentangnya agar lebih masuk akal bagi kalian.

Ibuku berasal dari Nagasaki, dan begitu pula nenekku. Aku tak tahu, mungkin karena perang atau apa, namun nenekku adalah seorang penganut Buddha yang amat taat. Beliau rajin pergi ke kuil seminggu sekali dan di kuil itulah tinggal Miss Akagi. Beliau di sana bertindak sebagai kepala biara, atau biksuni, atau apapun kalian ingin menyebutnya. Aku hanya pernah bertemu dengan Miss Akagi beberapa kali, namun aku tahu bahwa aku bisa mempercayai beliau. Miss Akagi bahkan cukup terkenal di daerah itu. Walaupun di luar sana mungkin banyak dukun2 palsu dan sebagainya, namun ketika kau melihat seperti apa Miss Akagi, kalian akan tahu bahwa kemampuan beliau adalah sungguhan.

Miss Akagi sangat lembut dan berbicara dengan ramah pada semua orang. Ketika aku masih duduk di bangku SMP, keluargaku memutuskan membeli sebuah tanah dan membangun rumah di atasnya. Aku tak tahu apa nama upacara itu, namun kami memiliki suatu kebiasaan untuk �membersihkan� rumah yang baru saja kami beli atau bangun. Nenekku memanggil Miss Akagi dan beliau sendiri yang memimpin upacara tersebut. Ternyata, menurut beliau banyak hal-hal �buruk� yang berkaitan dengan tanah itu, namun tak ada yang perlu kami khawatirkan setelah upacara itu selesai.

Aku tahu aku bisa bergantung pada beliau.

Karena aku menghabiskan hampir seharian berkeliling mencari pendeta di Tokyo, aku baru sampai di kota asalku jam 9 malam. Kota ini sebagian besar terdiri atas bangunan pabrik, jadi tidak seperti Tokyo, tak banyak orang berkeliaran di malam hari seperti ini.

Aku berjalan dengan cepat dari pemberhentian bus ke rumah orang tuaku, yang berjarak 20 menit. Jalanan hampir kosong, kecuali untuk beberapa lampu jalanan yang masih menyala. Masih teringat jelas di kepalaku apa yang terjadi tadi malam dan aku tak melihat tanda-tanda dari makhluk yang menghantui kamarku itu. Namun lebih buruk lagi, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku.

Walaupun matahari telah terbenam dan suhu udara cukup dingin, aku merasakan bagian belakang leherku sangat panas. Sangat sulit untuk menggambarkan bagaimana rasanya, namun rasanya seperti ada tali yang melingkar dan digesek-gesekkan ke leherku. Aku mulai meraba bagian yang panas itu dengan tanganku. Masih terasa panas. Bulu kudukku mulai berdiri dan aku mulai mencoba merasakan bagian tubuhku yang lain dengan telapak tanganku. Semuanya masih terasa sedikit dingin karena udara malam. Hanya leherku yang terasa panas, sangat panas. Aku juga mulai merasakan sensasi seperti disengat.

Aku berhenti berjalan dan mulai berlari ke rumahku.

BERSAMBUNG

 

Cuplikan episode berikutnya:

Upacara itu berjalan beberapa lama. Aku menjaga mataku tetap tertutup, namun suasana di sekitarku mulai terasa tak beres. Suasana semakin mencekam hingga aku sadar bahwa ruangan ini benar-benar sunyi, tak ada lagi setitikpun suara.

Aku tahu ada yang salah.

Dan aku merasakan seperti ada sesuatu yang berada di sampingku.