Tampilkan postingan dengan label LAST RESORT - ORIGINAL SERIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAST RESORT - ORIGINAL SERIES. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Desember 2014

THE LAST RESORT PART 06 � ORIGINAL SERIES

 

 

�Taka? Apa kalian benar-benar peduli dengan kematian pemuda menyedihkan itu?� Misaki tertawa, �Melihat satu saudaraku saja ia sudah histeris sampai hampir menjadi gila seperti itu. Dia jauh lebih lemah daripada perempuan yang baru saja mati itu, siapa namanya? Yuka?�

�Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu itu!�

Miki berusaha mengeluarkan kekuatannya lagi, namun tak ada apapun yang terjadi.

Misaki tertawa kembali, �Kenapa? Tak tahu cara mengendalikan kekuatanmu? Oh nona manis, bagiku kau hanyalah bocah ingusan. Jika sejak awal kau sudah menyadari kemampuanmu, tentu saja teman-temanmu takkan mati konyol seperti itu, bukan?�

�Namun kami melihatmu mati, di resort!� seru Masa-kun.

�Aku tak bisa mati, Tampan.� Misaki menatap pemuda itu dengan matanya yang menyala, �Karena aku sudah pernah mati.�

�Kau adalah salah satu dari makhluk-makhluk itu.� Akhirnya Miki mengerti.

Misaki kembali tertawa, �Jangan samakan aku dengan makhluk-makhluk merayap yang menyedihkan itu. Aku jauh berbeda dengan mereka. Aku adalah yang pertama.�

�Kau adalah salah satu yang sempurna.� ujar Masa-kun.

�Ah, kau tahu juga.� kata Misaki, �Sekarang kalian tahu kan mengapa aku menjadi yang terkuat di antara mereka? Aku menjadi pemimpin mereka untuk menghukum warga desa ini, atas perlakuan nenek moyang mereka kepadaku.�

�Tapi mengapa? Aku tak mengerti!� seru Miki.

�Kurasa tak ada salahnya memuaskan rasa ingin tahu kalian. Toh sebentar lagi kalian juga akan binasa.� Misaki tersenyum, �Dahulu aku dan ibuku tinggal di gubuk ini, berdua saja. Ayahku sudah lama meninggal dan walaupun janda, ibuku tak pernah memohon belas kasihan orang lain. Ia selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami. Aku ingat dulu sering membantu ibuku membawa kayu. Sesekali aku pergi ke pantai untuk bermain dan di sanalah semua itu terjadi.�

�Kau tenggelam?�

�Dewa pemilik laut meminta tumbal. Ia menarikku ke bawah. Beruntung saat itu aku memakai jimat pemberian ibuku.�

�Plasentamu.�

Misaki kembali tersenyum, �Aku terkesan, Tampan. Kau sepertinya tahu banyak tentang sejarah desa ini. Ya, aku memang mati saat itu, namun ibuku berhasil membangkitkanku kembali. Kau tahu, ibuku menyimpan rahasia bahwa ia menguasai sedikit ilmu sihir.�

�Penyihir yang tinggal tersembunyi di dalam hutan, itu semua masuk akal sekarang.�

�Ibuku bukan penyihir!� Misaki tampak marah, �Masyarakat selalu menghakiminya seperti itu, namun ia bukan penyihir! Ia hanya berusaha menyelamatkannya anaknya, seperti yang semua ibu lakukan. Namun ketika mereka melihatku, semua masih terlalu awal. Bentukku masih belum menyerupai manusia sehingga mereka langsung membenciku dan berusaha memisahkanku dengan ibuku ...�

�Karena kau tidak normal! Bukan kodratmu untuk kembali hidup setelah mati sekian lama!�

�Tak normal?� Misaki tertawa sambil menatap Miki, �Bagaimana dengan kau sendiri? Kau dengan kekuatanmu itu? Aku yakin orang-orang memandangmu dengan tatapan aneh, walaupun kau sekalipun tak pernah menyakiti mereka.�

Miki terdiam. Matanya nampak berkaca-kaca. Masa-kun merasa iba melihatnya. Ia tahu apa yang Misaki katakan mengena di hatinya.

�Mereka ... penduduk desa ... dibantu biksu-biksu itu ... mereka menaburkan garam, melemparkan kertas mantra, mengucapkan ayat-ayat kitab suci ... semua untuk memisahkan aku dari ibuku. Hal-hal itu memang bisa melukaiku, namun tak bisa membunuhku. Aku bersembunyi, menyempurnakan diriku, kemudian masuk kembali ke desa tanpa sedikitpun mereka curigai. Dengan sisa-sisa kekuatan kuil pertama ini, aku berhasil menciptakan kutukan. Apabila darah tertetes di hutan terkutuk ini, maka saudara-saudaraku akan bangkit, menuntut balas bagi keturunan mereka yang telah menyengsarakanku.�

�Darah?� Miki teringat, �Ya Tuhan, darah Taka saat kecelakaan itu ... �

�Benar sekali, itulah yang membangkitkan mereka. Dan semakin banyak tumbal, maka semakin besar kekuatan kami.�

�Karena itu kau membunuh Taka dan yang lainnya ....�

�Bukan karena itu saja. Jika berita tentang kami tersebar keluar, maka kami takkan lagi aman. Orang-orang di desa ini takkan membuka aib mereka sendiri. Namun orang-orang pendatang seperti kalian, aku tak bisa membiarkan kalian hidup.�

�Jadi semua ini ... hanya demi pembalasan dendammu?�

�Mereka memisahkan aku dengan ibuku! Mereka pantas menerimanya!� jerit Misaki murka.

Tiba-tiba terdengar tawa Masa-kun. �Demi ibumu? Omong kosong! Kau tak pernah benar-benar mencintai ibumu! Aku tahu apa yang kau lakukan padanya, kau memakannya!�

�Tidak!� jeritan Misaki makin menjadi-jadi, �Itu bohong!�

�Aku tahu semua tentangmu, Misaki ... tentang orang pertama yang melakukan ritual itu, yakni ibumu, dan juga bagaimana dia mati! Kau membunuhnya!�

�Tidaaaaaaaak!� jeritan Misaki terdengar menyakitkan, �Aku terpaksa melakukannya! Jika tidak, aku akan kembali ke lautan yang dingin itu! Aku ... aku tidak mau lagi!�

�Kau tak pernah mencintai ibumu sedikitpun. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri!�

�Diam kau! DIAM!� Misaki mengerahkan kekuatannya dan mencabut salah satu kayu pilar dari kuil itu. Tiba-tiba ia menerbangkannya ke arah dada Masa-kun dan menusuknya.

�TIDAAAAAK!!!� jerit Miki. Namun terlambat. Tubuh Masa-kun terbanting dengan pasak kayu tertancap di dadanya.

�Kau iblis!� teriak Miki sambil berlinang air mata melihat tubuh pemuda itu tergeletak tak bernyawa di lantai kuil.

Tiba-tiba tangan Misaki memanjang dan langsung mencekik leher Miki. Perempuan itu menampakkan wujud aslinya. Ia tertawa hingga mulutnya sobek hingga ke telinganya, memamerkan gigi-giginya taringnya yang runcing. Ia kini tampak tak jauh berbeda dengan makhluk-makhluk yang tadi mengejar mereka.

�Sekarang kita sudahi saja permainan ini! Matilah terbakar di dalam api ini!!! Hahahahaha!!!� Misaki berusaha menarik tubuh Miki ke dalam api yang membara di tengah kuil. Miki berusaha melawan, namun segala upayanya sia-sia. Ia sama sekali tak bisa menandingi kekuatan iblis itu.

�Tunggu!� seru seorang pemuda.

Miki tak percaya mendengar bisa suara itu lagi.

Misaki menoleh dengan marah.

�Kau? Bagaimana mungkin kau bisa hidup!�

Masa-kun berdiri dan menarik pasak kayu itu dari dadanya.

�Karena aku juga sudah mati.�

�Apa? Masa-kun ...� seru Miki tak percaya, �... kau juga ?�

�Aku tahu sekarang!� mata Misaki terbelalak, �Kau putra Ryuichi dan Makiko!�

***

 

Api di tengah kuil masih berkobar.

�Kau? Tapi bagaimana mungkin? Aku tak bisa merasakanmu ...� jerit Misaki dengan suara mengerikan. Suaranya tak lagi seperti anak-anak yang polos. Kini suaranya mirip seperti monster.

�Karena aku tidak sama dengan kalian!� kata Masa-kun. �Sekarang lepaskan dia!�

�Apapun kau ... kau takkan bisa mengalahkanku!�

Masa-kun mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. Kotak kayu berukir yang tadi Miki lihat.

�Tapi aku punya ini!� Masa-kun langsung menunjukkannya di depan makhluk itu.

�Tidaaaak! Itu jimatku! Dari mana kau mendapatkannya???�

�Dari kedalaman lautan. Aku mengambilnya karena tahu hanya ini yang bisa membunuhmu. Jika jimat ini hancur, maka begitu juga kau!�

�Serahkan jimat itu! SERAHKAN!!!� makhluk itu melolong, mengeluarkan suara mengerikan yang hampir membuat telinga Miki pecah.

�Tangkap jika kau bisa!� Masa-kun langsung melemparkannya ke arah api. Makhluk itu menjerit dan berusaha menangkapnya, otomatis melepaskan Miki dari cengkeramannya. Namun ia gagal, peti itu keburu terbakar oleh api.

�TIDAAAAAAAK!!!� makhluk itu kembali mengeluarkan teriakan yang mengerikan. Tubuhnya seketika dilalap api, sama seperti yang terjadi dengan jimat itu.

Namun api yang membakar tubuh Misaki juga ikut membakar lantai kayu kuil itu. Api dengan cepat menjalar hingga ke pilar dan langit-langit.

�Masa!� jerit Miki ketakutan. �Kita harus keluar dari sini!�

�Tidak, aku tetap di sini!�

�Apa? Apa maksudmu? Kita harus pergi!�

�Miki, api ini menyucikan segala kekuatan gaib yang ada di tempat ini. Termasuk aku ...�

�Ta ... tapi kau akan ikut mati! Mengapa kau ingin mati lagi?�

�Miki, kau tak mengerti!� pemuda itu menggenggam tangan gadis itu. �Ketika aku mati, aku melihat cahaya .... sebuah cahaya yang membuatku merasa tentram dan damai. Cahaya itu menuntunku ke suatu tempat. Namun ketika ibuku melakukan ritual itu ... kegelapan tiba-tiba merenggutku. Aku tak bisa pergi ke tempat itu ... ke tempat dimana aku seharusnya berada . Tentu saja ritual ibuku gagal dan aku terjebak, selama bertahun-tahun, di dalam kegelapan itu . Namun kemudian kau menolongku ...�

�Kau ...� Mata Miki berkaca-kaca, �Kau anak yang tenggelam itu?�

�Ketika kau mencoba menyelamatkanku saat itu, aku merasakan kekuatanmu. Percayalah Miki, kau sendiri tak sadar betapa besar kekuatanmu ... betapa berharganya dirimu. Kekuatan ini memberiku wujud baru dan akupun tahu, bahwa itu misiku ... untuk membunuh makhluk yang terus meneror desa dan keluargaku .�

�Tapi sekarang ... kau sudah hidup kembali, bukan?� Miki mulai terisak, �Kau bisa bertemu lagi dengan ayahmu ... dan ....�

�Tidak.� Pemuda itu menggeleng, �Di sini bukan tempatku. Hanya inilah satu-satunya kesempatanku untuk akhirnya bisa pergi ke sana ... ke tempat dimana aku seharusnya berada bertahun-tahun lalu .�

Miki mulai menitikkan air mata.

�Maafkan aku.� ucap Masa-kun sambil menatap mata gadis itu dalam-dalam.

�Izinkan aku ikut denganmu!� kata Miki tiba-tiba.

Masa-kun merasa tersentuh dengan perkataannya, namun ia harus menolaknya.

�Tidak, Miki. Jalanmu masih panjang. Ada banyak hal yang belum kau lakukan. Lagipula, kau harus tetap hidup untuk melakukan sesuatu untukku.�

Masa-kun mengulurkan tangannya dan tiba-tiba sebuah cangkang kerang muncul. Cangkang yang pernah Miki pungut di pantai.

�Berikanlah ini pada ayahku. Hanya ini permintaan terakhirku.�

Miki menerima cangkang itu. Ia tak bisa mengatakan apapun lagi agar Masa-kun membatalkan keputusannya.

�Dulu aku tak mengerti mengapa aku harus mati, mengapa aku harus mengalami semua ini ...� Masa-kun mengusap air mata yang mengalir di pipi Miki. �Namun jika itu memang harus terjadi supaya aku bisa berjumpa denganmu, maka aku takkan sedikitpun menyesalinya.�

Masa-kun melepaskan tangannya dan berjalan ke arah kobaran api. Dia berbalik sejenak dan tersenyum ke arah Miki. Kemudian api menelan tubuhnya, tak menyisakan apapun kecuali kepedihan yang menyayat dalam hati Miki.

Ia menatap cangkang kerang spiral di tangannya dan mengusap air matanya.

Ia harus keluar dari sini. Ia harus tetap hidup!

Miki segera mencoba mencari jalan keluar, namun asap menutupi matanya. Ia tak tahu lagi dimana pintu yang tadi membawanya masuk.

Ia terjebak di sini, di tengah kobaran api.

Tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang di tengah lautan api. Seorang gadis.

Yuka.

�Yuka? Kau masih hidup?� jerit Miki. Namun tidak, ia salah.

Yuka berdiri di tengah kobaran api, akan tetapi api tak mampu membakarnya. Tangannya yang transparan terangkat dan menunjuk ke satu arah.

Air mata Miki kembali meleleh. Bahkan Yuka kembali untuk menyelamatkannya.

Miki tak membuang waktu dan segera berlari ke arah yang ditunjukkan Yuka. Akhirnya ia melihat pintu keluar! Miki segera berlari keluar, namun ketika ia mencapai pintu, tiba-tiba sesuatu meraih kakinya dan iapun terjerembap di lantai kayu.

Miki mencoba bangun dan melihat apa yang menarik kakinya.

Misaki.

***

 

Ia belum mati.

Tubuhnya terbakar hebat dan terlihat bahwa ia mulai kembali ke wujudnya semula, menyerupai makhluk-makhluk yang tadi mengejarnya.

Kepalanya kini botak. Ia merangkak dengan kepayahan, dan jari-jarinya yang panjang mencengkeram kaki

�Kyu-ai ... kyu-ai!� ia terus melontarkan bunyi itu dari mulutnya yang sobek.

Tiba-tiba Miki melihat tubuh Misaki semakin menyusut. Tubuhnya semakin ciut dan tangannya makin memendek.

�Kyu-ai ...�

Tubuhnya mengalami degenerasi, pikir Miki. Akan terus begini hingga akhirnya tubuhnya habis, tak menyisakan apapun.

Namun makhluk itu masih mencengkeram kaki Miki dan menatap gadis itu.

Saat makhluk itu menyentuhnya, Miki merasa terhubung dengannya.

Akhirnya ia mengerti bahasa mereka. Ia akhirnya memahami apa arti kata yang terus mereka ucapkan.

�Kyu-ai ...�

� ... �

�Ibu ...�

Miki bisa mendengarnya seakan makhluk itu berbicara dengan bahasa manusia.

�Ibu ...�

Miki sadar, makhluk itu mengira ia adalah ibunya. Tak hanya tubuhnya, namun pikiran dan ingatannya juga mengalami kemunduran.

�Ibu ... kumohon ... jangan tinggalkan aku sendirian lagi....�

�...aku takut ibu ....�

�...Ibu ...�

Miki hanya bisa menangis. Makhluk itu terus menyusut sampai di suatu titik dimana tangannya tak mampu lagi mencengkeram kaki Miki. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah gumpalan daging.

Tali pusar.

Miki berdiri dan segera keluar dari kuil yang terbakar itu. Ia melihat dari luar ketika gubuk itu akhirnya ambruk dan sisa-sisa bara yang masih menyala memangsa tumpukan kayu dimana kuil itu pernah berdiri.

Semuanya kini sudah berakhir.

***

Pagi telah menjelang dan Miki kembali ke desa. Para biksu adalah yang pertama datang, berdoa untuk menyucikan tempat ini, juga bagi mereka yang terbunuh dalam pertempuran kemarin malam.

Polisi kemudian datang. Miki pertama merasa bingung, bagaimana ia menjelaskan mayat teman-temannya. Mereka takkan mempercayai sedikitpun apa yang ia katakan. Namun ternyata ia tak perlu mengucapkan sepatah katapun.

Para polisi itu telah mengerti apa yang terjadi. Ini bukan yang pertama kalinya.

Miki melihat sesuatu tergeletak di atas tanah. Kamera milik Seiji. Gadis itu mengangkatnya dan mulai memutar kembali rekaman dalam kamera video itu dari awal.

Ia hampir menangis melihat teman-temannya di sana. Taka, Seiji, Shun, Haruna, Yuka, dan dirinya. Mereka semua bergembira sepanjang perjalanan menuju ke pantai dan bernyanyi bersama.

Kini hanya ia yang masih hidup. Yang lainnya telah meninggal.

Miki memutuskan untuk menyimpan kamera video itu dan meneruskan misinya.

Miki berjalan di depan resort dan melihat seorang pria paruh baya. Wajahnya tampak lesu melihat rumahnya. Ia tampak putus asa.

Miki langsung tahu siapa dia.

�Pak Ryuichi?�

Pria itu menoleh.

�Ya?�

Miki mengulurkan cangkang itu. Mata pria itu langsung berbinar.

�Masahiro ingin Anda tahu bahwa ia selalu mencintai Anda.�

***

�Ayah? Apa ini?� tanya Masahiro.

�Oh, ini koleksi kerang Ayah, Sayang!� Ryuichi mengelus kepala putranya yang berumur 8 tahun.

�Kenapa ayah tampak sedih? Aku dengar ayah dan ibu bertengkar. Ada apa?�

�Oh, bukan apa-apa.� Ryuichi mengusap air matanya, �Hanya kondisi desa kita sekarang sedang sulit. Ikan semakin sulit didapat dan yah .... Ayah sedang mencoba bisnis baru. Mungkin Ayah akan mengubah rumah ini menjadi sebuah hotel, namun ibumu kurang setuju.�

�Lalu kerang-kerang ini untuk apa Yah?�

�Ayah akan mendekorasi lorong ini menjadi tempat penerimaan tamu. Kamu bantu Ayah ya, tapi sayang sekali...�

�Kenapa Ayah?� Masahiro yang sedang bermain dengan cangkang-cangkang itu menatap wajah ayahnya.

�Cangkangnya masih kurang. Coba ayah cari lagi di dalam.�

Ryuichi berbalik dan masuk ke ruangan, masih berusaha menyembunyikan raut muka kesedihannya.

�Kerang,� Masahiro berbicara pada salah satu kerang yang dipegangnya, �Aku tak mau melihat ayah sedih lagi. Aku akan ke pantai untuk mencari teman untuk kalian.�

Masahiro kecil tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya menyelinap pergi dari rumahnya dan tak pernah kembali lagi

***

Para biksu itu masih berdoa di dalam kuil. Tiba-tiba sang kepala biksu menghentikan alunan doanya.

Ada seseorang yang datang. Siapapun itu, ia memiliki kekuatan yang teramat dashyat.

Pintu kuil tergeser membuka. Sang kepala biksu menoleh.

�Iblis yang mengaku sebagai dewa laut dan memangsa anak-anak kecil itu...� kata Miki di ambang pintu, �Kita harus membasminya!�

***

Shun sudah menyiapkan segalanya. Ia sudah menaruh grimoire itu di tempat dimana orang tuanya dengan mudah akan menemukannya. Ia juga membawa tali pusarnya bersamanya dan menjadikannya jimat. Untunglah selama ini orang tuanya menyimpannya dengan baik.

Kini rencananya akan berjalan. Ia akan membalas dendam pada orang-orang yang telah menyiksanya. Ia akan membalas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

Ia akan membalas dendam pada orang-orang yang membuatnya begitu putus asa hingga ia hampir bunuh diri.

Shun berjalan ke dalam universitas, dimana para mahasiswa baru saja menyelesaikan kelas mereka dan berbaur di dalam lobby.

Shun mengeluarkan senapannya.

***

 

EPILOG

�Astaga� wajah pemuda yang berada di dalam rumah hantu itu menjadi pucat, �Aku ingat cerita itu. Penembakan massal di sebuah universitas di Tokyo. Polisi bilang pelakunya yang berinisal S menembak dirinya sendiri setelah menghabisi puluhan korban. Apa ... apa itu berarti kini ia bangkit kembali?�

Gadis itu mengangkat bahunya, �Entahlah. Aku tak pernah berjumpa lagi dengannya.� Ia akhrnya mengakhiri ceritanya, cerita mengenai resort yang ia kunjungi dan berakhir dengan kematian teman-temannya.

�Benar-benar cerita yang menyeramkan, Nona Miki.� kata pacar sang pemuda itu. �Saya benar-benar tak percaya kejadian semengerikan itu benar-benar terjadi pada anda.�

�Miki?� gadis itu terkekeh. Tawanya terdengar polos dan kekanak-kanakan, namun ada sesuatu di dalam suaranya.

Sesuatu yang membuat sepasang kekasih itu bergidik ngeri.

�Kau salah, aku bukan Miki.�

Mata wanita itu berubah menjadi putih, dengan pupil matanya menyusut menjadi sebuah titik di tengah bola matanya.

�Aku Haruna.�

 

THE END

Sabtu, 06 Desember 2014

THE LAST RESORT PART 05 � ORIGINAL SERIES

 

 

Shun mengubur kembali mayat gadis yang ditabraknya dengan tanah.

�Maafkan aku, Haruna.� Air mata menetes di pipinya, �Aku sungguh-sungguh tak sengaja ... namun jangan khawatir. Aku sudah mengetahui rahasia mereka. Aku akan membangkitkanmu kembali. Aku berjanji!�

Wajah cantik Haruna serasa bersinar memantulkan cahaya rembulan.

�Seharusnya aku mengajakmu tadi. namun aku tak percaya pada kalian.� Shun mengelus pipi gadis yang sudah kaku itu. Rasanya dingin namun halus, seperti porselen. �Salah satu dari kalian adalah pembunuh psikopat. Aku tak tahu yang mana, namun sebaiknya aku tak mengambil resiko. Kau harus tahu, Haruna ... bukan aku yang membunuh Taka ...�

�Kyu-ai ... Kyu-ai ...�

Shun menoleh dan melihat makhluk-makhluk itu mengintip melalui pepohonan.

�Sial! Maaf Haruna, aku akan kembali lagi untukmu!� Shun bergegas masuk ke dalam mobil.

***

Dengan bersusah payah, Miki berhasil membawa Yuka kabur dari makhluk-makhluk itu. Mereka harus bersembunyi, namun tak ada tempat yang aman.

Kuil itu, Miki teringat. Jika ada kuil itu, mereka takkan masuk.

�Ayo, gunakan kekuatanmu, Miki!� bisiknya dalam batin, �Konsentrasi! Ah, di sana!�

�Ayo, Yuka!� ajak Miki, �Kita akan aman di rumah itu!�

Yuka dengan pasrah mengikutinya.

�Apa kau yakin, Miki? Bagaimana dengan Shun, Haruna, dan Masa-kun?�

Miki menatap Yuka dengan sedih, terutama ketika nama Masa-kun disebut. �Kita tak bisa melakukan apapun untuk mereka, Yuka. Yang bisa kita lakukan adalah bersembunyi di sini hingga fajar. Aku yakin cahaya akan mengusir makhluk-makhluk mengerikan itu.�

Miki dan Yuka bersembunyi di dalam kegelapan, di balik dinding geser yang terbuat dari kertas.

Miki melubangi kertas di belakangnya dengan jarinya. Ia ingin melihat keadaan di luar.

Kosong. Hanya ada kegelapan malam di sana.

Miki tahu mereka aman di sini.

�Miki, kau berasal dari Kyoto, bukan?� tanya Yuka tiba-tiba. Sebelum itu, kesunyian telah menelan malam. Tak ada suara sedikitpun, bahkan jangkrik yang biasanya bernyanyi.

�Ya, kenapa memang?� Miki mengalihkan pandangannya dan menatap gadis itu. Mukanya sembab oleh air mata.

�Aku tak pernah pergi jauh dari Tokyo seumur hidupku.� Yuka menatap Miki dengan wajah sendu, �Ada kuil yang sangat indah bukan di sana, di Kyoto?�

�Tak hanya kuil,� Miki tersenyum mengingat kota asalnya, �Ada istana, taman Jepang, danau ...�

�Bisakah kita pergi ke sana jika kita keluar dari sini?�

�Tentu saja.� Miki mengangguk.

�Aku ingin mengunjungi kuil itu. Aku tak pernah percaya Tuhan, namun setelah semua ini ...� Yuka menunduk sebentar, lalu kembali menatap Miki. Matanya berkaca-kaca, hampir menitikkan air mata. �Kita akan mengunjungi kuil itu bersama-sama ya?�

�Ya, dan kita juga akan berpiknik di tepi danau sambil menikmati musim gugur yang indah. Dan siapa tahu kita bisa bertemu cowok-cowok di sana�

Yuka tertawa, �Itu kedengarannya asyik.�

Namun tawa mereka terhenti ketika mereka menyadari ada suara di belakang mereka.

�Ssssst ... kau dengar itu?� bisik Miki.

Terdengar suara pelan, namun semakin lama semakin dekat.

Suara napas yang berat.

Miki dan Yuka tahu benar, itu bukanlah napas manusia.

�Huuuuuuuuuuuh ... huuuuuuuuuuuuuh ...�

Miki dan Yuka serta merta menutup mulut mereka. Mereka tahu makhluk itu tak bisa masuk, namun bayangan bahwa makhluk itu hanya beberapa inci di belakang mereka membuat mereka takut.

Huuuuuuuuuuuh ... huuuuuuuuuuuuuuuh ...�

Miki merasakan makhluk itu bergerak, bahkan menyentuhkan jarinya ke dinding kertas di belakangnya.

Ia menyentuh tepat di punggung Miki.

Dan bernapas tepat di belakang gadis itu.

�Huuuuuuuuuuuuuuuu .... huuuuuuuuuuuuuuh ....�

Detak jantung Miki terasa berhenti.

Tiba-tiba suara napas itu menghilang.

Miki tak tahu apakah makhluk itu masih ada di belakang mereka atau tidak.

Suasana kembali sunyi.

Hingga suara seorang perempuan memecah keheningan.

�Yuka! Miki!�

�Ha ...� Yuka hendak memanggil, namun Miki segera menutup mulut Yuka.

�Ssssst!� bisiknya sambil menempelkan salah satu jarinya ke bibirnya.

�Ta ... tapi itu Haruna!� bisik Yuka.

Miki menggeleng dengan cepat, �Bukan ... dengarkan lagi!�

�Miki ... Haruna ... dimana kalian?�

Sama sekali tak ada intonasi dalam suara itu. Suaranya datar, seolah-olah diucapkan oleh robot.

�Tolong aku ... rasanya sakit sekali ...�

Yuka mulai menangis begitu tahu, apapun itu, ia bukanlah Haruna.

�Keluarlah ... Miki, Yuka ...�

Miki menoleh. Ia sadar ada sesuatu yang tengah memperhatikannya.

Di lubang di dinding kertas yang ia buat, Miki melihatnya ...

Sebuah bola mata tengah mengamati mereka berdua dari luar.

***

Selama sedetik, tak ada setetespun suara.

Bahkan Miki dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.

Apakah makhluk itu telah pergi?

Miki memejamkan mata, tak ingin melihat bola mata itu. Namun ia tergoda untuk mencari tahu, mengapa suasana begitu sunyi.

Miki membuka matanya dan ....

�GREEEEEEEEEEK!!!�

Tiba-tiba dinding di belakang mereka bergeser. Kedua gadis itu menjerit.

�Miki! Yuka! Kalian baik-baik saja?�

Miki mengenal dengan baik suara itu.

�Masa-kun?� Miki langsung berbalik dan memeluknya, �Kau selamat?�

�Ya, aku berhasil meloloskan diri. Ayo cepat pergi dari sini, aku menemukan kendaraan di luar!�

***

�Kau yakin kita bisa meloloskan diri dengan ini?� Yuka menatap dengan tidak yakin sepeda motor di depannya.

�Ya, kita bisa menaikinya bertiga. Kita harus mencoba, daripada terjebak di desa ini.�

�Kalian sebaiknya pergi terlebih dahulu.� kata Miki, �Lalu kalian bisa kembali menjemputku.�

�Tidak, Miki!� Yuka tak setuju, �Kami takkan meninggalkanmu di sini!�

�Ya, dia benar.� kata Masa-kun, �Kita akan pergi dari sini bersama-sama.�

�Tapi aku aman di kuil itu ...�

�Jangan sebut-sebut nama itu lagi!� Masa-kun tampak marah, �Tempat itu tidak memberikanmu perlindungan. Karena tempat itulah seluruh tempat ini dikutuk! Tak ada yang lain selain iblis yang bersemayam di sana. Kau tahu kenapa makhluk-makhluk itu tak mau masuk? Karena ada kekuatan yang lebih jahat bergentayangan di sana. Berlindung di sana sama saja menyerahkan dirimu pada setan!�

Dengan enggan, akhirnya Miki menuruti saran Masa-kun.

Pemuda itu tampak menyimpan sesuatu di dalam saku jaketnya. Seperti sebuah kotak kayu kecil yang berukir. Entah apa isinya, namun Masa-kun tampak ingin menjaganya dengan baik.

Mereka berdua membonceng pemuda itu dan ketika ia mulai menyalakan mesin, Miki kembali merasa gugup.

Apa mereka akan keluar dengan selamat dari tempat ini?

Motor itu melaju dan Miki segera menyadari makhluk-makhluk itu mengikuti mereka. Beberapa berlari dengan keempat kaki mereka, namun mereka tetap tak bisa mengikuti kecepatan motor yang dikendarai Masa-kun. Makhluk-makhluk yang terbang pun hanya bisa berputar-putar di atas mereka.

Namun mereka bertiga tak menduga, masih ada satu jenis makhluk lagi.

Makhluk yang muncul dari dalam tanah.

Salah satu dari makhluk itu tiba-tiba keluar dari dalam tanah dan mencengkeram roda sepeda motor yang mereka tumpangi ...

�KYAAAAAAA!!!!�

�BRAAAAAAAAAAAK!!!!�

Dengan mata berkunang-kunang, Miki masih menyadari makhluk-makhluk itu mengelilingi mereka.

Ia kini terbaring di atas tanah. Sekujur tubuhnya terasa nyeri, namun ia harus terus bergerak.

�Yuka?� Miki segera teringat akan sahabatnya itu dan mencoba mencarinya. Ia menemukannya tergeletak di bawah pohon yang mereka tabrak.

�Yuka! Yukaaaaa ...�

Miki mencoba menggoncang-goncangkan tubuh gadis itu, namun ia hanya bergeming. Kepalanya bersimbah darah. Miki tahu kenyataannya, namun ia menolak menerimanya.

�Yukaaaaa ... bangunlah! Bangun!�

�Miki!� Masa-kun bangkit dengan kesakitan dan menghampirinya. Ia menaruh tangannya di atas bahu gadis itu, �Dia sudah meninggal. Kau harus merelakannya!�

�Tidaaaak� tanpa sadar air mata meleleh di pipi gadis itu, �Aku sudah berjanji akan mengajaknya ke kuil. Aku harus menepatinya ...�

�Miki ...�

�Yukaaaaa ... kumohon bangunlah! Kita sudah berjanji akan pergi ke danau bersama-sama ...�

�Miki, kumohon! Kita harus pergi!� Masa-kun melihat makhluk-makhluk itu sudah mengepung mereka. Dari pepohonan, dari udara, berapa bahkan muncul dari dalam tanah bak bangkit dari kubur.

Kini sudah tak ada lagi jalan keluar.

�Kyu-ai! Kyu-ai! Kyu-ai!� suara makhluk-makhluk itu makin ramai.

�Diamlah kalian semua!� rasa duka Miki kini berubah menjadi amarah. Ia muak mendengar suara makhluk-makhluk itu.

�KALIAN SEMUA DIAAAAAAAAAM!!!!�

Tenaga yang sangat hebat tiba-tiba keluar dari tubuh Miki, menghantam makhluk-makhluk itu. Beberapa ketakutan dan kembali menggali ke tanah. Makhluk-makhluk yang berada di udara langsung berjatuhan dengan tubuh terpotong-potong setelah terkena energi yang dilepaskan Miki. Makhluk-makhluk yang berada di atas tanah segera merangkak menjauh meninggalkan mereka.

Miki menoleh dan segera menyesal telah kehilangan kendali.

Dilihatnya Masa-Kun duduk terpaku di atas tanah. Wajahnya tampak tergores dan tangannya memegangi bahunya yang berdarah.

Miki juga ikut melukai Masa-kun.

�Masa ... maafkan aku ...�

Masa-kun hanya tersenyum, �Tak apa. Aku kaget kau ternyata memiliki kekuatan sebesar ini. Ayolah, kita harus segera pergi dari sini.�

Tiba-tiba mereka melihat sesosok bayangan ... seorang wanita berkimono putih tampak berjalan dari kejauhan, meniti langkahnya menuju ke dalam hutan.

�Tidak, kita tidak akan kabur lagi.� Peristiwa tadi telah membuat gadis itu memperoleh kepercayaan diri, �Kita akan menyelesaikan masalah ini hingga ke akar-akarnya.�

Miki mengajak Masa-kun mengikuti wanita berpakaian kimono itu. Mereka tak bisa melihat wajahnya, namun mereka tahu ia-lah yang bertanggung jawab atas semua ini.

Merekapun menyadari mereka tengah menaiki bukit untuk menuju ke kuil di tengah hutan, tak jauh di lokasi dimana mobil mereka mengalami kecelakaan.

Wanita berkimono itu masuk ke dalam kuil; pondok bobrok yang berada di puncak bukit itu.

Masa-kun dan Miki mengikuti wanita itu. Mereka menutup hidung mereka untuk menghindari bau busuk yang tercium di udara.

Ia membuka segel dan menggeser pintu itu. Tampak kobaran api yang amat besar di tengah ruangan.

Wanita itu tertawa. Ia telah lama menyadari kehadiran mereka berdua.

�Kalian rupanya lebih kuat daripada yang kuperkirakan� katanya dengan suara polos dan kekanak-kanakan.

Suara wanita itu membuat mereka berdua terkejut.

�Ternyata kau selama ini. Kau juga yang telah membunuh Taka!� ujar Miki.

Wanita itu menoleh dan membuka tabir identitas aslinya.

Misaki-chan.

 

TO BE CONTINUED

Minggu, 30 November 2014

THE LAST RESORT PART 04 � ORIGINAL SERIES

 

�Ada apa? Kenapa kalian berteriak?� Shun berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Wajahnya tampak pucat ketika melihat tubuh Taka yang tak lagi bernyawa tergantung di tengah kamar, dengan kursi di bawahnya.

�Keparat! Kemana saja kau!� Seiji mendorongnya dengan histeris, �Seharusnya kau menjaganya!�

�Ma ... maaf!� seru Shun, �Aku ... aku hanya ke kamar mandi sebentar. Aku tak mengira ia akan melakukannya ...�

�Tidak.� Terdengar suara di belakang mereka. Miki menoleh.

Masa-kun? Sejak kapan ia ada di sini?

�Bukankah tadi katanya kakinya sakit? Ia saja tak bisa berjalan dan harus dibantu agar sampai ke sini.� Masa-kun menatap darah yang mengering di paha Taka yang kini terayun berputar secara perlahan.

�Astaga.� Miki menutup mulutnya dengan shock begitu menyadari apa yang telah terjadi. Yuka hanya bisa melongo, sedangkan Haruna mulai menangis.

Taka tak mungkin naik ke sana.

Ia dibunuh.

***

�Kita harus memanggil polisi sekarang!� seru Seiji.

�Namun telepon tak bisa digunakan! Saya sudah mengatakannya pada kalian!� kata Misaki bersikeras. Ia mengikuti mereka berenam yang tergopoh-gopoh berjalan menuju ke pintu depan, dimana telepon berada.

�Siapa yang tega membunuh Taka?� Haruna terisak.

�Yang jelas bukan kita berempat.� kata Seiji dengan marah, �Sejak tadi kita selalu bersama di dalam kamar. Ini hanya menyisakan satu tersangka, kau!�

Semua menatap pria yang ditunjuk oleh Seiji. Shun.

�Ta ... tapi Shun tak punya alasan membunuh Taka!� Yuka berusaha membelanya, �Ia kan teman kita!�

�Teman?� Seiji tertawa sinis, �Apa kau tahu mengapa ia selalu ikut di geng kita, Yuka? Karena Taka memanfaatkannya. Ya, Taka hanya memanfaatkannya supaya mendapat nilai bagus! Dipikir lah pakai logika, tak mungkin orang kaya dan sepopuler Taka mau berteman dengan kutu buku culun seperti dia! Mungkin saja akhirnya si tolol ini menyadarinya dan membalas dendam!�

Wajah Shun tampak merah padam. Tanpa berkata apapun, ia berbalik pergi meninggalkan mereka.

�Hei, pembunuh! Tunggu!� Seiji hendak mengejarnya, namun keburu dihentikan Masa-kun, �Kau keterlaluan! Kau sama sekali tak punya bukti untuk menuduhnya!�

�Oh, dan kau, Mister Nice Guy? Dimana kau saat pembunuhan terjadi? Setahuku kau lenyap begitu saja, mungkin saja kau pelakunya!� tuduh Seiji.

�Kalian semua hentikan!� jerit Haruna. Tangisannya makin keras. �Kita ... kita harus keluar dari desa ini. Desa ini sudah dikutuk! Kejadian buruk selalu terjadi pada kita semenjak kita berada di pantai itu. Miki hampir tenggelam, mobil kita tabrakan, dan sekarang ...�

�Haruna, tenanglah.� Miki memeluk gadis itu, mencoba menenangkannya.

�Nyonya! Nyonya!� tiba Misaki menjerit ketika ia melihat ke luar.

Semua ikut melihat ke luar melalui pintu kaca dan melihat seorang wanita bergaun kimono putih berjalan di luar halaman resort. Ia melangkah menuju ke sebuah pintu, tepat di bawah lantai dua penginapan itu.

Ia kemudian membuka pintu itu dan mulai melangkah naik ke tangga.

�Nyonya Makiko!� Misaki mencoba membuka kunci pintu, namun Masa-kun melarangnya.

�Jangan! Itu terlalu berbahaya!�

�Namun Nyonya ada di luar ...�

Tiba-tiba telepon mereka berdering.

What the fuck ...� Seiji terkejut.

Tanpa membuang waktu, Misaki segera mengangkatnya.

�Halo? Tuan Ryuichi!�

�Misaki! Kau masih di resort? Kenapa kau tak pergi bersama yang lainnya?�

�Tuan, dimana Anda? Mengapa Anda membiarkan Nyonya sendirian?�

�Apa maksudmu? Aku masih berada di kuil!�

�Saya melihat Nyonya Makiko di luar. Beliau naik ke lantai dua ...�

�Misaki, itu mustahil! Makiko sudah meninggal!� terdengar kepedihan dalam suara Ryuichi, �Para biksu tak bisa menyelamatkannya. Mereka juga tak membiarkanku pergi dari kuil ketika makhluk-makhluk itu keluar. Misaki, cepatlah bawa mobil dan keluar dari sana!�

Misaki menutup teleponnya dengan berurai air mata. Tiba-tiba Seiji dengan kasar menarik tangan gadis itu.

�Kau pembohong! Katamu telepon sudah tak berfungsi lagi!�

�Seiji, hentikan!� seru Yuka sambil menangkap tangan Seiji, �Ia perempuan!�

Misaki mengusap air mata di pipinya, �Telepon masih berfungsi, tapi tak bisa digunakan untuk menghubungi ke luar desa ini. Memang sudah dirancang seperti itu ketika sirine berbunyi. Agar dunia luar tak tahu apa yang terjadi di sini.�

�Apa ... apa maksudmu?�

�Seiji, kumohon tenanglah!� suara Masa-kun berubah menjadi lebih tenang, �Kami tak bisa menjelaskan apa yang terjadi di desa ini, namun kita hanya punya dua pilihan. Tetap berada di resort ini atau pergi dari desa ini.�

�Pergi dari sini!� Haruna masih menangis, �Kumohon, kita harus keluar dari tempat ini! Aku tak tahan lagi!�

Misaki menatap mereka sebentar lalu berkata, �Baiklah. Tuan masih memiliki satu mobil di belakang. Saya akan mengambil kuncinya dan membawa kalian semua pergi dari sini.�

Misaki, walaupun di tengah dukanya, masih berusaha tegar. Ia membuka pintu geser kertas di dekatnya dan bayangannya pun menghilang di lorong.

�Apa yang kita lakukan sekarang?� Miki menatap Masa-kun.

�Kita harus menunggunya.�

�Bagaimana dengan Shun?�

�Dia ...�

Perkataan Masa-kun terpotong oleh suara gebrakan yang keras. Seorang pria berumur paruh baya tiba-tiba muncul di depan pintu, berusaha masuk.

Wajah Masa-kun berubah cerah ketika melihatnya, �Pak Hiroshi? Ini saya Masahiro! Anda masih ingat dengan saya?�

Namun ia sama sekali tak menghiraukan perkataan Masa-kun, �Biarkan aku masuk! Mobil kami mogok dan makhluk-makhluk itu ... mereka sudah membunuh istri dan anakku!�

�Apa yang ia bicarakan?� seru Seiji.

�Hati-hati, Masa-kun! Ia membawa senapan!� jerit Miki.

�Pak Hiroshi, tenanglah!� seru Masa-kun, �Kami akan pergi dari sini, jadi ...�

�Biarkan aku masuk!� pria itu tiba-tiba meletuskan senjata untuk memecahkan kaca jendela pintu. Para gadis menjerit. Ia segera meraih pegangan pintu dan membuka kunci dengan paksa.

�Pak ... kumohon, tenanglah!�

Namun pria itu tampaknya sudah kehilangan kewarasannya, sama seperti yang menimpa Taka, namun berkali-kali lipat lebih parah. Mereka tahu ia takkan segan-segan menembak mereka jika keinginannya tak dipenuhi.

�Dimana mobilnya! Aku tahu Ryuichi masih memiliki mobil lain! Dimana!� ia menodongkan senapan itu ke arah mereka.

�Tenanglah, Pak! Misaki baru mencarikan kuncinya!�

�Tak ada waktu lagi!� wajahnya tampak panik, �Mereka akan menemukanku! Mereka ada dimana-mana!�

Matanya membelalak ketakutan ketika ia melihat bayangan bergerak di pintu geser kertas di depannya.

�Li ... lihat! Mereka ... mereka ada di sini!�

Ia segera mengarahkan moncong senapannya ke bayangan itu dan ketika pintu itu bergeser membuka ....

�Tidak! Jangan!!!!�

�DOR!!!!�

Misaki tak pernah menyadari apa yang terjadi dengannya. Ia langsung ambruk di atas lantai kayu dengan perut berlumuran darah.

�Misaki-chan! Misaki-chan!� jerit Miki. Ia segera memangku tubuh gadis itu, berusaha menyelamatkannya. Namun terlambat.

Ia sudah tak lagi bernyawa.

Yukatanya yang indah kini bernoda darah. Miki menatap dengan marah pria yang baru saja menembak gadis polos itu.

Pria yang dipanggil Hiroshi itu tak sempat merasakan penyesalan karena tiba-tiba dua makhluk ganjil berkulit sangat pucat menerkam tubuhnya. Salah satunya merangkak naik ke atas tubuhnya dan langsung mematahkan lehernya.

�Krak!�

Dua makhluk itu segera menyeret tubuh pria itu dari pandangan mereka sambil mengeluarkan suara aneh,

�Kyu-ai ... kyu-ai ...�

Dua makhluk lain berusaha masuk dan melangkah di atas pecahan kaca. Mata mereka bulat dan besar, seperti bola yang menempel di lubang tengkorak. Pupil mereka sangat kecil, hanya setitik warna hitam, bila dibandingkan ukuran mata mereka yang seperti membengkak. Kepala mereka botak dan mereka berjalan dengan merangkak dengan keempat kakinya, seperti seekor laba-laba. Jari-jari mereka sangat panjang dan mulut mereka sobek hingga hampir mencapai telinga, memamerkan gigi-gigi taring mereka yang kecil namun tajam.

�Kyu-ai ... kyu-ai!�

�Katamu mereka tak bisa masuk!� seru Miki.

�Mereka tak bisa mendobrak masuk. Namun jika pintu dibuka, itu seperti mengundang mereka ...� seru Masa-kun. �Ayo semua, cepat pergi lewat pintu belakang!�

�Haruna!� tiba-tiba Yuka menjerit, �Haruna tidak ada!�

***

Shun segera menyalakan mobil. Beruntung sekali ia menemukan kunci ini di kamar sang pemilik penginapan. Ia sebenarnya tak mau pergi sendiri seperti ini, namun setelah apa yang dikatakan Seiji tadi ... Shun memilih untuk meninggalkan mereka supaya mati membusuk di sini.

***

Haruna berlari keluar. Ia meninggalkan teman-temannya. Ia benar-benar tak bisa berada di sana lagi. Ia harus pergi dari desa ini.

Ia melihat nyala lampu dan suara derum mesin mobil.

Di tengah kegelapan, ia bisa melihat sebuah mobil bergerak hendak meninggalkan penginapan.

�Tunggu! Kumohon tunggu aku!�

***

Shun tak bisa melihat apapun dalam kegelapan. Ia hanya mengandalkan lampu mobilnya. Ia seperti samar-samar mendengar suara seorang perempuan.

Suara apa itu? Apa halusinasi saja? Atau suara makhluk-mahkluk itu?

Tiba-tiba ia melihat sesuatu di depannya, memaksanya menginjak rem secara mendadak.

Namun terlambat, ia sudah telanjur menabrak apapun di depannya itu.

Apa itu salah satu makhluk itu?

Walaupun takut, Shun mencoba untuk memeriksanya. Ia keluar dari mobil untuk melihat apa yang telah ia tabrak tanpa sengaja.

�Tidak ... oh tidak ...�

***

�Cepat! Mereka mengejar kita!� seru Masa-kun. Miki, Yuka, dan Seiji berlari mengikutinya.

Seiji memperlambat larinya untuk menyalakan handy-cam. Ia harus merekam makhluk-makhluk ini. Dunia harus melihat mereka.

�Seiji, apa yang kau lakukan!� jerit Miki begitu menyadari Seiji sudah jauh tertinggal di belakang mereka.

Ia menyalakan handy-cam dan melihat ekspresi ketakutan teman-temannya di depannya.

�Seiji! Di belakangmu!�

�Apa .....AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!�

Tiba-tiba ia merasa sesuatu mencengkeram punggungnya. Ada yang aneh dengan gambar yang tangkap melalui handy-cam. Tubuh teman-temannya semakin kecil dan kecil hingga mereka menjadi titik di tanah.

Tidak, bukan mereka yang mengecil.

Ia yang semakin tinggi.

Ia menyadari sesuatu mengangkatnya ke udara.

Dan tiba-tiba ...

�AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!�

Seiji kembali menjerit ketika makhluk itu tiba-tiba menjatuhkannya. Tanah menjadi semakin dekat ... dan dekat ... dan ....

�BRAAAAAAAK!!!�

Handy cam itu kini hanya merekam tanah dengan layar yang retak.

***

�Tidak! Tidaaaaak!� jerit Yuka. Ia berusaha menggapai jenazah Seiji, namun Miki menghentikannya.

�Jangan, Yuka! Kita harus terus berlari!� seru Miki, walaupun ia sendiri menangis menyaksikan kematian temannya itu.

Dua gadis menjerit ketika lebih banyak makhluk-makhluk itu datang, berterbangan di udara seperti hama. Mereka berbeda dengan yang merangkak di tanah. Mereka memiliki sayap seperti kelelawar, namun masih mengeluarkan teriakan dan suara yang sama.

�Kyu-ai ... kyu-ai ...�

Salah satu makhluk itu terbang rendah dengan cepat, mengincar kedua gadis itu.

�Awaaaas!�

Miki menutup matanya dan berusaha melindungi Yuka. Namun yang ia rasakan hanyalah hempasan angin. Ia membuka mata dan menyadari Masa-kun berusaha melindungi mereka dengan menamengi mereka dari serangan makhluk itu menggunakan tubuhnya sendiri.

Namun hal yang lebih mengerikan terjadi. Makhluk itu mengangkat tubuh Masa-kun dan merenggutnya ke udara, membawanya terbang bersamanya.

�Masa-kun!!!�

 

TO BE CONTINUED

Sabtu, 22 November 2014

THE LAST RESORT PART 03 � ORIGINAL SERIES

 

 

�AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!�

�Taka!� Seiji yang paling tampak khawatir di antara mereka, sebab ia adalah sahabat Taka. Mereka berenam akhirnya sampai di tempat mobil mereka tabrakan tadi. Teriakan itu masih menggema di tengah kegelapan malam. Lampu-lampu senter mereka menimpa permukaan mobil. Para gadis hampir menjerit melihat noda-noda darah di bagian luar mobil. Namun tak ada tanda-tanda Taka berada di tempat dimana ia tadi duduk.

�Taka! Taka!�

�Jangan ... jangan ...� suara Taka seperti tangis ketakutan. Namun itu membuat mereka tahu ia masih ada di sini.

Masa-Kun yang pertama tiba di mobil itu dan mengintip ke dalam.

�Ia ada di sini!�

Tubuh Taka tampak meringkuk di dalam kursi belakang. Ia tampak sangat ketakutan. Tubuhnya gemetar sangat kencang, bahkan sampai membuat mobil itu ikut bergetar juga. Ia menatap ke depan dengan wajah pucat pasi. Air mata mengalir dengan deras di matanya. Teman-temannya ada di depannya, berusaha menenangkannya, namun ia tampaknya tak mengenali mereka. Ia masih sangat histeris.

�Taka-kun, tenanglah!� ujar Yuka, �Apa yang terjadi denganmu?�

Yuka berusaha menyentuh bahu Taka untuk menenangkannya. Namun Taka justru mengibaskan tangan Yuka dan berteriak makin histeris.

�Tidaaaak! Jangaaaaaaan!!!�

�Taka! Taka! Tenanglah!�

Miki mendengar sesuatu bergemerisik di belakangnya. Ia menengok ke belakang dan melihat sesuatu berwarna putih merayap di tanah dan bergerak memasuki hutan, meninggalkan mereka dan menghilang di balik semak-semak.

�Apa ... apa yang ia lihat sehingga ia ketakutan seperti itu?� Seiji ikut merasa ketakutan melihat temannya itu bertingkah sangat aneh, seperti kesurupan.

�Sesuatu itu ... sesuatu itu baru saja mengawasi kita ...� kata Miki.

�Hah?� semua menoleh ke arahnya.

Miki menatap teman-temannya, �Apapun itu, ia tahu kita datang ... mengawasi kita dari balik semak-semak ... dan baru saja pergi ...�

�Apa yang kau katakan?� Seiji menatapnya dengan jijik, �Taka dalam kondisi seperti ini dan kau masih mengatakan hal aneh seperti itu? Dasar perempuan aneh!�

�Sudahlah kalian jangan bertengkar! Tempat ini tidak aman! Kita harus segera pergi dari sini! Dengar ... letak desa sudah tak begitu jauh lagi. Kita bisa berjalan ke sana ....� kata Masa-kun dengan wajah cemas.

�Apa kau gila? Taka tak bisa berjalan! Lebih aman jika kita menunggu bantuan di sini sampai pagi!� Seiji menolak ide itu.

�Tidak, kalian tak mengerti .....�

�NGUUUUUUUUNG .....�

Terdengar suara dengung sirine. Arahnya dari pantai.

�NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNG ...�

�Ya Tuhan, itu adalah ....�

�NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNG!� sirine itu bertambah keras.

�Itu sirine tsunami! Semuanya pergi! PERGI!�

***

Entah kekuatan apa yang mendorong mereka hingga mampu berjalan hingga ke desa. Secara bergantian mereka membopong Taka yang kini menjadi seperti mayat hidup. Ia tak bisa mengenali teman-temannya. Ia selalu mengerang setiap saat. Bukan karena kesakitan, namun karena takut. Ya, rasa takut itu sepertinya menelan semua rasa sakitnya. Ia selalu menatap ke sekelilingnya dengan cemas, seakan-akan menanti makhluk itu kembali.

Sirine itu masih berdengung. Mereka selalu berusaha untuk tetap berada di tempat tinggi. Namun mereka tahu tak bisa tetap di hutan, karena apapun yang menakut-nakuti Taka tadi masih berkeliaran bebas di luar sana.

�Oh tidak!� Masa-kun menatap jalanan di bawahnya. Puluhan cahaya bergerak meninggalkan desa. Akhirnya mereka menyadari apa itu.

Lampu mobil. Para penduduk sudah mulai mengevakuasi desa. Mereka berbondong-bondong meninggalkan tempat itu.

�Tapi Taka membutuhkan pertolongan ... apa masih ada orang di desa?�

�Semoga saja masih. Harus!� kata Masa-kun. Entah mengapa, mereka mempercayakan Masa-kun untuk memimpin mereka semenjak Taka tak mampu lagi membedakan realita dan khayalan. Mungkin karena ia sudah tahu dengan baik tempat ini. Mungkin karena tinggal ia laki-laki yang bisa diharapkan di antara mereka. Mungkin karena ia mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Miki sendiri percaya padanya. Namun ia tahu, seharusnya ia tak terlalu menaruh kepercayaan penuh pada pemuda itu. Miki masih merasa Masa-kun merahasiakan sesuatu dari mereka.

Mereka memasuki desa. Suara sirine akhirnya berakhir, namun mereka tahu, situasi genting yang mereka hadapi belumlah usai.

Semua rumah yang mereka lewati dalam keadaan gelap. Tak ada satupun nyala lampu kecuali ...

�Hei, lihat! Masih ada orang di sana!�

Mereka bertujuh segera menuju ke rumah itu, sebuah kediaman bergaya Jepang kuno.

�B&B Cottage.� ucap Shun. �Kurasa ini sebuah penginapan.�

Mereka mengetuk-ngetuk pintu dan berteriak, �Tolong kami! Kumohon, tolong kami!�

Masa-Kun menggedor-gedor pintu, �Jika ada orang di sini, tolong jawab kami!�

Hotel itu hanya satu-satunya rumah yang menyala. Di balik pintu kaca, seorang gadis berpakaian yukata muncul dari dalam ruangan, menatap mereka dengan curiga.

�Syukurlah, kumohon biarkan kami masuk! Teman kami terluka!�

Gadis itu hanya terdiam sejenak lalu berkata, �Sa ... saya tak bisa membiarkan kalian masuk. Saya harus menunggu tuan saya pulang dulu.�

�Dengar, ini rumah milik Tuan Ryuichi dan Makiko-san bukan? Aku mengenal mereka. Kumohon, biarkan kami masuk. Kami butuh bantuan!� pinta Masa-kun dari balik pintu.

Mungkin iba melihat beberapa dari mereka adalah gadis muda dan mereka juga tengah menggendong seseorang yang sedang sakit, akhirnya dengan enggan, gadis itu membuka kunci pintu dan membiarkan mereka masuk.

�Syukurlah, terima kasih sekali!� Masa-kun masuk bersama yang lainnya. �Siapa namamu Nona?�

�Na ... nama saya Misaki. Apa ... apa yang terjadi dengannya?� ia menatap Taka yang dipapah oleh Shun dan Seiji. Tatapan matanya masih kosong dan darah di lukanya masih belum kering.

�Kami mengalami kecelakan, Misaki-chan. Kumohon, biarkan kami naik ke lantai dua. Tsunami akan segera datang.�

Wajah gadis itu langsung pucat, �Tidak! Kalian tak boleh naik ke sana!�

�Tapi tsunaminya akan segera datang!� Yuka bersikeras.

�Ya, sirine itu ....�

Misaki menggeleng, �Itu bukan tsunami. Tak ada tsunami di desa kami selama ratusan tahun.�

�Tapi sirine itu ...�

�Sirine itu untuk memperingatkan warga desa, namun bukan tsunami.� Misaki segera menutup dan mengunci pintu. �Melainkan sesuatu yang lebih mengerikan.�

�Lalu kenapa kau belum pergi?�

�Saya tak bisa. Tuan saya membawa istrinya ke kuil dan mereka belum kembali. Saya tak bisa meninggalkan resort ini begitu saja.�

�Haaaaah ... haaaah ...� Taka tiba-tiba mengerang lagi dengan ketakutan, �Mereka datang! Mereka datang!�

�Taka, tenanglah!� namun sepertinya semua usaha mereka percuma. Taka tak mendengarkan mereka lagi.

�Dengar, Nona! Apa kau memiliki kamar kosong? Teman kami butuh istirahat. Ia mengalami shock.�

�Baik,� Misaki mengangguk, �Kalian bisa membawanya ke salah satu kamar tamu kami. Saya akan mengantar kalian.�

Shun dan Seiji membawa Taka mengikuti Misaki. Para gadis berada di ruang depan bersama Masa-kun.

�Astaga, banyak yang terjadi semenjak aku pergi.� Masa-kun tertunduk lesu di depan pintu. Ia kemudian mengangkat kepalanya, menatap ke hiasan cangkang kerang yang ditempel di dinding lorong, �Dulu tempat ini bahkan bukanlah sebuah hotel.�

�Apakah kita bisa menggunakan telepon?� tanya Haruna.

�Kurasa tidak.� Misaki keluar dari dalam ruangan, diikuti Seiji dan Shun. �Jalur telepon selalu mati jika sirine berbunyi.�

�Kalian meninggalkan Taka sendirian?� tanya Yuka.

�Tak ada yang bisa kami lakukan untuknya.� Shun mengangkat bahunya.

�Ia terus-terusan berhalusinasi tentang makhluk yang ia lihat.� kata Seiji. �Demi Tuhan, makhluk apa yang bisa membuatnya ketakutan setengah mati seperti itu?�

�Apa kau tahu sesuatu?� tanya Miki tiba-tiba sambil menatap Masa-kun. �Sepertinya kau merahasiakan sesuatu dari kami.�

Masa-kun mendongak ke atas dan menatapnya. Melihat mata teduhnya, ingin sekali Miki mempercayainya. Pemuda itu jelas diselubungi misteri, namun dari raut wajahnya, jelas ia sama bingungnya dengan mereka.

�Kau juga bisa melihatnya bukan?� tanya Masa-kun. Miki berniat menjawabnya namun ia kemudian sadar, bibir Masa-kun sama sekali tak bergerak.

Bagaimana mungkin ia bisa mendengar suaranya?

�Kau bisa melihatnya kan Miki? Sejak kapan kau memiliki kemampuan seperti ini?�

�Apa-apaan ini?� tanya Miki dengan panik dalam hati, �Bagaimana ... bagaimana kau bisa berbicara dalam kepalaku?�

�Jadi, mereka sudah ada di sini?�

Tiba-tiba Miki mendengar satu suara lagi, kali ini seorang gadis. Miki menoleh ke arah Misaki. Ia tahu betul itu suaranya, namun lagi-lagi ia hanya tampak tak bergeming di tempatnya berdiri, tanpa menggerakkan bibirnya sedikitpun.

�Ada satu di hutan. Itu yang membuat salah satu teman kami hampir gila.� Masa-kun ganti menatap Misaki. �Sirine itu ... untuk memperingatkan warga kota akan kedatangan mereka bukan?�

�Tenanglah,� suara Misaki menggema di benak Miki, �Kalian akan aman di sini. Mereka takkan mendekati rumah yang memiliki kuil.�

�KUIL?� suara Masa-kun terdengar marah, �Ada kuil di rumah ini?�

�Tenanglah. Kuil itu membuat hal-hal buruk tak bisa masuk.� Misaki menjawab.

�Dan begitu pula hal-hal baik! Kuil itu membuat tanah di sekitarnya dikutuk!�

�Kalian berdua! Keluarlah dari kepalaku!� tanpa Miki sadari, ia menjerit sambil menutup kedua telinganya.

Teman-temannya memandangnya dengan aneh. Namun belum sempat mereka menegur Miki, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam, tepat dari ruangan dimana Taka berada.

Mereka semua bergegas melihat keadaan Taka. Ia tengah meringkuk di dalam selimut di atas kasurnya. Ia terlihat gemetaran sangat hebat.

�Taka! Apa yang terjadi?�

Tangannya terulur dari dalam selimut, sementara seluruh tubuhnya masih tersembunyi di baliknya.

Ia menunjuk ke pintu geser kertas yang ada di depannya. Mereka semua tak bisa melihat apa yang ada di baliknya, namun Miki ...

Ia bisa melihat bayangan di belakangnya. Siluet mengerikan seseorang ... bukan, sesuatu .... dengan sendi-sendi yang membengkok dengan tidak wajar. Ia tengah merangkak dengan keempat kakinya dan berusaha membentur-benturkan kepalanya ke dinding kertas itu.

Miki hendak menjerit, namun ia kembali mendengar suara dari kepalanya.

�Tenanglah, ia takkan bisa masuk.�

Itu suara Misaki.

Miki yang tak tahan lagi akhirnya keluar.

�Aku akan menjaganya di sini. Ia hanya berhalusinasi saja. Kalian beristirahatlah dulu.� kata Shun.

***

�Jadi apa yang sebenarnya dilihat Taka?� tanya Seiji sambil mengutak-utik kameranya.

�Mungkin macan gunung seperti yang kau katakan.� kata Yuka, mencoba mencari penjelasan logis atas semua ini.

�Ya, aku juga akan ketakutan seperti itu jika melihat macan gunung hendak memakanku.� kata Haruna dengan lesu.

�Ditambah lagi kita ditakut-takuti oleh alarm tsunami palsu. Benar-benar malam yang penuh kesialan!� maki Seiji.

Mereka berempat beristirahat di sebuah kamar. Sementara Misaki tengah mempersiapkan sesuatu untuk dimakan Taka. Sedangkan Masa-kun, entah dimana ia sekarang. Miki ingin bertemu dengan dia. Namun anehnya, bukan untuk meminta penjelasan dari semua yang terjadi ini. Tetapi karena Miki mulai merasa resah jika tak melihatnya. Apakah ini pertanda dia mulai ...

�Ah, mustahil!� pikirnya.

Miki ingin sekali mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada teman-temannya, tentang makhluk yang ia lihat. Namun ia tahu takkan ada yang mempercayainya.

Kecuali Masa-Kun.

Miki meletakkan tangannya di tatami, mencoba untuk bersantai setelah malam panjang yang ia lalui.

Namun tangannya menyentuh sesuatu.

Halus seperti porselen, namun berduri.

Miki hampir menjerit, namun ia masih menahan dirinya.

Cangkang kerang spiral itu lagi-lagi berada di sampingnya.

Miki jelas-jelas ingat ia meninggalkannya di dalam mobil.

***

Tanpa ada yang menyadari, Shun menyelinap keluar dari kamar Taka dan mengendap-endap ke sebuah kamar. Ia menyadari, dari interiornya yang berantakan, ini pastilah kamar pribadi sang pemilik penginapan.

Ia mulai mengobrak-abrik isi lemari dan menemukan apa yang ia cari.

Sebuah buku.

Buku manual tepatnya.

Dari sampulnya yang lusuh, ia tahu benar bahwa usia buku ini pastilah sudah tua. Buku ini pastilah diturunkan dari generasi ke generasi.

Di Barat, buku semacam ini dinamakan �grimoire�.

Buku yang memuat panduan praktik ilmu hitam.

Shun membuka isinya. Tepat seperti yang ia duga, praktik pemanggilan arwah ke dalam tali pusar untuk kemudian menumbuhkan tubuh baru memang sudah dilakukan secara turun-temurun di desa ini.

Tanpa mereka tahu, Shun sudah melakukan berbagai penelitian tentang masa lalu desa ini. Ia mengetahui kebiasaan mengerikan yang mereka lakukan, menggunakan ritual ilmu hitam untuk membangkitkan anak mereka yang hilang di tengah laut.

Tapi Shun percaya, ritual ini tak hanya akan menciptakan zombie. Zombie hanyalah mayat hidup tak berotak, namun yang mereka ciptakan ... sangat berbeda. Mungkin pada tahap-tahap awal, sosok mereka sangatlah mengerikan dan sama sekali tak mirip dengan manusia normal. Namun Shun percaya, jika sudah mencapai tahap terakhir, maka mereka bisa kembali menjadi manusia seutuhnya, seperti saat mereka hidup.

Shun menyebutnya: transformasi yang sempurna.

Sayang sekali, Shun belum pernah mendengar ada yang mencapai tahap itu. Selalu saja usaha mereka digagalkan para biksu Shinto yang mencium praktik upacara ilmu hitam mereka. Tentu saja apa yang mereka lakukan bertentangan dengan ajaran agama dan yang lebih mengerikan lagi ...

Mungkin mengundang sesuatu yang bukan manusia ke dalam dunia ini.

Namun inilah alasan Shun datang ke desa ini.

Dan kini ia sudah mendapatkannya.

Sebuah benda berkilau mencuri perhatian Shun.

Well, apa ini? Sebuah bonus!�

***

�Saya sudah mempersiapkan makanan untuk Taka.� Misaki muncul di depan pintu mereka sambil membawa senampan makanan. �Apakah tak apa jika saya masuk ke kamarnya?�

�Tentu saja, Misaki-chan.� jawab Yuka. �Shun ada di sana. Tapi biarkan kami mengantarmu jika kamu canggung. Kami juga ingin melihat keadaannya.�

Mereka berempat segera mengikuti Misaki. Miki masih penasaran dimana keberadaan Masa-kun sekarang. Tadi ia merasa terganggu dengan suaranya bergaung di kepalanya, tapi justru kini ia rindu ingin mendengar suaranya kembali.

Namun ketika mereka membuka pintu geser pintu kamar Taka, yang terdengar hanyalah suara jeritan Misaki dan suara ketika piring dibawanya jatuh dan pecah di lantai kayu.

Sedangkan yang lainnya tak mampu bergerak, apalagi bersuara, melihat apa yang terjadi di dalam kamar.

Tubuh Taka terayun bak pendulum di tengah ruangan. Selimut yang tadi ia gunakan kini melilit di lehernya.

 

TO BE CONTINUED

Senin, 17 November 2014

THE LAST RESORT PART 02 � ORIGINAL SERIES

 

Miki ingin menanyakan, apakah salah satu temannya sengaja membawa cangkang kerang itu. Namun ia pikir itu pertanyaan bodoh. Siapa yang peduli dengan sebuah cangkang kerang? Mungkin saja Yuka atau Haruna memungut cangkang ini dari pantai karena indah. Miki hanya tak ingin begitu memikirkannya.

�Ah sial! Hari sudah gelap begini! Padahal aku berencana meninggalkan desa ini sebelum matahari terbenam, tapi gara-gara insiden tadi ...�

Miki merasa bersalah mendengar perkataan Taka tersebut.

�Hei! Hei! Tunggu! Berhenti!� seru Haruna tiba-tiba.

�Ada apa sih?�

�Lihat di sana! Itu pemuda yang tadi!�

�Apa?� bisik Miki dalam hati.

Lampu mobil mereka menyorot tubuh seorang pemuda yang berjalan membelakangi mereka. Ia berjalan di pinggir hutan sambil memunggungi sebuah ransel.

Taka menyalakan klakson dan pemuda itu menoleh. Ia meletakkan tangannya di depan matanya, mencoba menghalau silaunya lampu mobil.

Miki bisa melihat wajahnya dengan jelas. Haruna memang tidak melebih-lebihkan. Ia memang tampan dengan sepasang mata cokelat yang gelap dan amat misterius.

�Hei, benar! Itu dia!� seru Haruna girang. Dia langsung membuka jendela dan segera menyapanya.

�Hei! Kamu pemuda yang tadi kan?�

Mata Miki dan pemuda itu saling bertatapan dari sela jendela yang terbuka itu.

�Kau mau kemana?� tanya Haruna lagi.

�Saya hendak ke desa.� jawabnya pelan, di tengah deru mesin mobil yang masih menyala. Mata mereka berdua masih saling memandang.

�Ikut saja dengan kami. Kami juga mau kesana kok!�

�Hei!� seru Seiji. Ia memang nampak keberatan, terutama karena mobil sudah penuh terisi dengan enam orang. �Apa ibumu pernah mengatakan sesuatu tentang mengangkut orang asing di tengah malam?�

�Ah, kau berisik!� protes Haruna. �Ia jelas-jelas orang baik sudah menolong Miki tadi. Justru kau di sini yang moralnya dipertanyakan, dasar tukang intip mesum!�

Seiji cemberut karena tidak mampu membalas Haruna.

�Sudahlah,� kata Taka. �Toh kita juga lewat desa kan? Tak ada salahnya, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih.�

�Ayo masuklah!� kata Haruna dengan girang.

Pemuda itu tak menolak sedikitpun dan masuk ke dalam, walaupun harus berimpitan dengan empat orang lainnya yang sudah berada di kursi belakang mobil. Entah mengapa, namun Miki berpikir bahwa mungkin ini karena dirinya.

Pemuda itu masih menatap Miki, membuat gadis itu merasa canggung. Tatapannya kemudian beralih ke depan, ke arah hutan.

�Apa kau backpacker? Ranselmu besar sekali?� tanya Haruna, yang kini jelas-jelas ingin merebut perhatian pemuda itu.

�Ah iya, saya sedang berlibur di daerah ini.�

�Sini ranselmu biar aku simpan.� Haruna lalu mengangkat ransel itu dan menjatuhkannya ke arah pangkuan Seiji yang duduk di depan.

�Hei!�

�Sudah jangan protes! Di sini sudah penuh! Tempatmu kan masih lega.�

Miki hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya.

By the way, siapa namamu?� tanya Haruna lagi tanpa bisa melepaskan pandangannya dari pemuda itu.

�Ehm ... namaku Masahiro.�

Ia kembali menatap Miki. Gadis itu mencoba mengalihkan pandangannya dan menatap ke depan. Tanpa sengaja ia melihat mata Taka tengah mengawasi pemuda itu dari spion depan.

�Masahiro? Nama yang bagus. Jadi kamu lebih sering dipanggil Masa atau Hiro?�

�Ehm ... orang tuaku biasa memanggilku Masa.�

�Oh, kalau begitu, aku panggil kau Masa-kun ya?� kata Haruna dengan genit. Miki hanya tertawa melihat Yuka menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah Haruna. �Namaku Haruna. Lalu yang ada di sampingmu Miki, yang kau selamatkan tadi, lalu cewek berambut pendek itu Yuka, yang berkaca mata itu Shun, dan yang sedang menyetir itu Takahashi, namun kami biasa memanggilnya Taka.�

�Hei, kok aku tidak mendengar namaku diperkenalkan?� seru Seiji dari depan.

�Oh ya,� kata Miki dengan canggung, tak berani menatap mata pemuda itu, �Terima kasih kau sudah menolongku.�

Miki tak mendengar sepatah katapun dari mulut Masa-kun, namun ia tahu pemuda itu tengah memperhatikannya.

�Sama-sama.� jawab pemuda itu dengan singkat.

�Kami semua datang dari Tokyo. Apa kau pernah ke sini sebelumnya??� tanya Taka, kali ini mencoba bersahabat.

�Ehm ... orang tuaku dulu berasal dari sini. Namun aku sudah lama tak pernah datang lagi ke sini.�

�Yah, kau memang terlihat seperti dari keluarga nelayan. Cara berenangmu tadi hebat sekali.� Entah apakah yang dikatakan Taka itu untuk memujinya atau ...

�AWAAAAS!!!!� jerit Miki tiba-tiba.

�BRAAAAAAAAAAAK!!!!�

***

 

Miki tak tahu apa yang terjadi, namun kepalanya sangat pusing. Sepertinya ia tadi terbentur.

�Apa kau baik-baik saja.� Terdengar suara lembut di sampingnya. Miki menoleh dan melihat tatapan pemuda itu. Tatapan yang membuatnya merinding sekaligus salah tingkah.

�Apa yang terjadi?� tanya Miki sambil memegangi kepalanya.

Miki menyadari mobil dalam keadaan miring. Ia menoleh dan melihat Yuka tampak kesakitan memegangi bahunya. Shun berusaha membuka pintu di sampingnya, tapi macet.

�Haruna, bisa kau buka pintu di sampingmu?� tanya Shun.

�Kalian berdua di depan tidak apa-apa?� seru Yuka dengan cemas.

�Apa ... apa tadi?� Seiji mengerang.

�Sepertinya kita menabrak sesuatu.� jawab Miki.

�Yah,� ujar Seiji kesakitan sambil menatap dengan ngeri kaca jendela yang pecah di depannya, membentuk pola seperti jaring laba-laba, �Kita menabrak pohon.�

�Tidak, sebelumnya ...� kata Miki, �Sebelumnya aku melihat sesuatu melintas di depan mobil kita. Seperti bayangan putih ...�

�Ya, aku juga melihatnya,� kata Taka sambil mengerang, �Aku membanting setir ke samping untuk menghindarinya, tapi justru kita menabrak pohon ..... aaaargh, sakit sekali ...�

�Apa kau terluka, Taka?� tanya Yuka sambil melongokkan kepalanya ke depan.

�Astaga ... � muka Seiji memucat ketika melihat darah merembes di paha Taka, �Man, lukamu kelihatannya parah ...�

Masa-kun membantu Haruna membuka pintu samping dan satu-persatu mereka yang duduk di kursi belakang turun. Seiji dan Shun membantu Taka untuk keluar dari mobil. Yuka dengan cekatan mengambil kotak P3K dan segera merawat luka di kaki Taka. Lukanya ternyata tidak begitu parah, namun Taka mengatakan kakinya terasa sakit untuk digerakkan.

�Ah, sial! Tak ada sinyal di sini!!� seru Seiji kesal.

�Ya, kau benar. Hapeku juga.� kata Shun.

�Jadi kita terjebak di sini?� Haruna tampak ketakutan. Mobil mereka jelas rusak parah. Bagian depannya benar-benar hancur dan asap keluar dari bagian mesin. Dengan kata lain, mereka kini terjebak di tengah hutan di malam hari yang gelap.

�Kurasa aku ingat ada sebuah rumah di atas bukit ini.� kata Masa-kun. �Aku tak tahu apakah ada penghuninya, namun kita bisa mencoba.�

�Malam-malam begini? Tidak, man! Bisa saja ada binatang liar di luar sana. Ba ... bagaimana dengan binatang yang baru saja hampir kita tabrak?�

�Kurasa itu bukan binatang,� kata Miki. Semua mata menatapnya, �Kurasa itu seseorang ...�

Yeah, right,� Taka tak setuju, �Manusia yang berjalan dengan empat kaki. Aku tak begitu jelas melihatnya, namun yang jelas ia merangkak dengan empat kaki.�

�Mungkin kijang atau mungkin ... singa gunung!� Seiji mulai ketakutan tanpa sebab.

�Mau tidak mau kalian harus mencari pertolongan,� kata Taka yang terlihat tak mampu lagi menahan rasa sakitnya, �Lebih aman jika kalian pergi bersama-sama.�

�Akan kuantar kalian ke sana.� Masa-kun menawarkan diri.

�Aku akan ikut denganmu.� Entah mengapa Miki dengan spontan mengatakan hal itu. Ia sendiri juga tak mengerti.

�Aku juga akan ikut. Hanya aku yang tahu ilmu medis di sini, bahaya jika terjadi sesuatu dengan kalian di luar sana. Apalagi ini sudah gelap. Kalian berdua, anak-anak cowok!� Yuka menatap Seiji dan Shun. �Kalian akan jadi bodyguard kami.�

�Aku bagaimana?� tanya Haruna cemas.

�Kau di sini saja menemaniku.� kata Taka sambil masih duduk bersandar di ban mobil.

Haruna kelihatan lega dengan ide itu. Ia bukan tipe gadis yang mau berjalan di tengah hutan malam-malam, apalagi dengan kemungkinan bertemu hewan liar.

�Baiklah, ayo kita berangkat.� Masa-kun mulai berjalan menaiki bukit, dibekali dengan sebuah senter. Empat orang lainnya mengikutinya.

***

 

�Maafkan aku tadi tidak menolongmu.� tiba-tiba Shun berkata pada Miki di tengah perjalanan.

�Oh,� Miki tersenyum, �Tak apa-apa, Shun. Aku mengerti kok kalau kamu tak bisa berenang.�

Miki tanpa sengaja melihat pergelangan tangan Shun ketika ia menggosoknya untuk mengusir rasa dingin. Ada semacam bekas luka sayatan di sana. Namun buru-buru Shun menyembunyikannya di balik lengan kemeja panjangnya ketika sadar Miki memperhatikannya.

Miki kembali melihat ke arah atas bukit dan melihat seberkas sinar.

�Kau benar. Lihat!� tunjuk Miki, �Ada cahaya di sana. Sepertinya ada sebuah rumah.�

�Syukurlah.� kata Yuka. �Semoga saja mereka punya telepon.�

Namun begitu mereka sampai, rumah yang dimaksud oleh Masa-kun ternyata hanya sebuah pondok bobrok.

�Ini yang kamu maksud dengan rumah?� tanya Seiji.

�Hei, bisakah kau menurunkan kamera itu?� Shun mulai merasa risih, �Apa kau perlu merekam ini semua?�

�Ini untuk dokumentasi liburan kita. Kamu anak baru diam saja!�

�Pondok ini kosong rupanya. Dahulu orang tua kami selalu melarang kami mendekatinya.� kata Masa-kun dengan heran, �Apa mungkin pemiliknya sudah pindah?�

Masahiro mendekati gubuk itu dan melihat sumber cahaya yang tadi mereka lihat.

�Apa itu lilin?� tanya Yuka yang hanya melihat dari kejauhan.

�Bukan, ini ....�

�Itu dupa.�

Masa-kun menoleh dan melihat Miki berdiri di belakangnya, menatap lekat-lekat dupa yang berjejer banyak itu.

�A ... aku tak pernah melihat dupa sebanyak itu.� kata Yuka yang mulai merasa ketakutan, �Bahkan di kuil Shinto sekalipun. Ini tempat apa?�

�Kenapa kita tak coba mengeceknya?� tiba-tiba saja Seiji membuka pintu gubuk itu.

�Hei, jangan!� Masa-kun mencoba menghentikannya, namun terlambat.

�Ugh, bau apa ini?� Seiji langsung menutup hidungnya. Bau busuk langsung menyeruak begitu pintu geser kayu pondok itu dibuka. �Hei, teman-teman, lihatlah ke sini! Aneh sekali di dalam sini!�

Miki segera mendatangi Seiji dan melongok ke dalam. Di dalam ruangan depan, terdapat tumpukan sampah ... banyak sampah. Seperti sisa makanan, menumpuk seakan-akan sudah berbulan-bulan ditimbun di situ. Baunya pun sungguh menyesakkan. Dan di dalam ruangan itu masih tedapat ruangan lagi. Kali ini pintunya tertutup rapat dengan jimat-jimat yang dihubungkan dengan tali, menyerupai jaring laba-laba.

�Tempat apa ini?� bisik Miki dalam hati. Perasaannya mulai tak enak.

�Astaga!�

Miki menoleh dan melihat wajah Masa-kun yang berdiri di belakangnya menjadi pucat pasi begitu melihat isi pondok itu.

�Ini kuil! Semuanya, pergi! INI KUIL!!!�

�Apa? Apa maksudmu?� tanya Yuka tak mengerti.

�Pergi dari sini! Aku tak bisa menjelaskannya, namun kita harus pergi!�

Walaupun mereka baru saja mengenal Masa-kun, namun intonasi dalam suaranya membuat mereka sadar bahwa ia sangat serius. Merekapun segera mengikutinya menuruni bukit.

�Desa sudah tak begitu jauh dari sini. Mungkin akan memakan waktu lama jika kita berjalan kaki, namun kita akan aman di sana!� kata Masa-kun. Suaranya penuh dengan nada kekhawatiran. Miki tak mengerti, seberapa serius situasi yang kini mereka hadapi?

�Teman-teman! Kalian dimana!� terdengar suara dari kaki bukit.

�Itu suara Haruna! Haruna!� panggil Miki. Apa terjadi sesuatu dengan mereka?

�Teman-teman!� Haruna tampak lega ketika melihat mereka menuruni bukit.

�Haruna! Kenapa kau di sini? Kau harusnya menjaga Taka!� tanya Yuka.

�Taka terus mengerang kesakitan. Ia menyuruhku agar meminta kalian supaya lebih cepat ...�

�AAAAAAAAAAAA!!!!�

Terdengar teriakan dari arah dimana mobil kami menabrak pohon.

Itu suara Taka.

�AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!�

Dan seumur hidup Miki tak pernah mendengar suara manusia ketakutan seperti itu.

 

TO BE CONTINUED

THE LAST RESORT PART 01� ORIGINAL SERIES

 

Inilah interpretasi-ku tentang sekuel Resort. Kisah ini akan menceritakan enam orang mahasiswa dari Tokyo yang tengah berlibur di pantai. Ketika mereka mengangkut seorang pemuda misterius dan terdampar di resort tempat semua cerita itu berawal, kejadian mengerikan pun mulai terjadi. Cerita ini terinspirasi dari berbagai film, mulai dari �Evil Dead�, �Sadako 3D�, hingga �Silent Hill�. Ingat baik-baik bagian prolog-nya karena akan berkaitan dengan bagian epilognya.

NB:

1. Cerita ini harusnya kumuat 2 minggu lalu, namun karena berbagai keterbatasan, maka baru bisa kumuat minggu ini. Karena itu aku akan langsung memuat part 1 dan 2 (dari keseluruhan 6 part) pada minggu ini. Namun untuk berikutnya, setiap part akan dimuat setiap hari Minggu seperti biasa.

2. Label �Original Series� berarti kisah ini murni tulisanku, bukan hasil copya paste dan terjemahan.

***

 

�Huh, seram apanya!� pemuda itu berkata pada pacarnya, �Rumah hantu ini payah sekali! Aku ingin uangku kembali!�

Anata ... kamu serius nggak takut? Aku saja merinding dari tadi ...� gadis itu mendekat pada kekasihnya.

Seorang gadis yang berjalan di belakang mereka tertawa cekikikan, �Anak zaman sekarang tak mudah ditakuti ya?�

Pemuda itu menoleh.

�Ah, maaf Nona. Saya tidak tahu anda di belakang kami.�

�Tak apa. Aku juga berpendapat sama kok. Rumah hantu ini sama sekali tak seram. Aku pernah mengalami cerita yang lebih seram.�

�Hah, benarkah? Pengalaman nyata anda?�

�Tentu. Apakah kalian pernah mendengar cerita tentang sebuah resort?�

�Resort?� gadis itu tampak tertarik. �Belum pernah. Seperti apa ceritanya?�

�Apa benar kalian ingin tahu seperti apa ceritanya? Tidak menyesal?�

�Hahaha ... tak ada yang membuatku takut, Nona!� kata pemuda itu menyombong. �Ceritakan saja. Saya sangat ingin mendengar seberapa seram ceritanya.�

�Iya,� kekasih pemuda iu juga mengangguk, �Ayo ceritakan!�

Gadis itupun memulai ceritanya sambil tersenyum.

�Semua dimulai di sebuah senja di pantai yang terlihat damai. Namun itu hanyalah awal dari bencana yang akan kami alami.�

***

Miki menatap lautan biru di hadapannya. Deburan ombak seolah menyanyi di kepalanya. Ia menatap jauh ke laut lepas, sementara pasir-pasir yang terbawa hempasan ombak seolah-olah menggelitik kakinya.

�Miki,� sahabatnya, Yuka, memanggil, �Kita harus pulang sebelum sore.�

�Ah, tak bisakah kita menunggu sampai matahari terbenam?� kata temannya yang lain, Haruna, sambil menggulung tikar yang tadi mereka pakai untuk piknik.

�Sebentar lagi malam.� Taka, yang selalu dianggap sebagai pemimpin oleh teman-temannya menjawab, �Aku tak bisa melihat jalan kalau sudah gelap.�

�Ah, kau ini,� keluh Haruna, �padahal kan kita sudah jauh-jauh ke sini.�

�Ini bukan Tokyo, Nona. Di sana tak masalah segelap apapun, aku masih hapal jalan.�

�Tokyo tak pernah gelap.� ujar Shun, pemuda berkacamata itu. �Sudahlah, Haruna. Berkemas-kemaslah. Kita bisa melihat senja dari atas mobil. Justru akan semakin jelas.�

�Nah, tuh.� goda Taka , �Dengarkan pacarmu itu!�

Haruna memukul bahu Taka, �Bocah culun itu bukan pacarku!�

�Haruna!� bisik Yuka dengan tajam, �Pelan-pelan, nanti dia dengar!�

Namun pandangan Shun masih terpaku pada buku yang ia baca.

�Kamu itu kenapa sih?� bisik Yuka, masih dengan raut muka kesal. �Kau bisa menyinggung perasaannya.�

�Kalian itu yang kenapa! Ini seharusnya menjadi piknik yang keren, tapi mengapa kalian malah mengajak si kutu buku itu dan gadis aneh itu. Seharian dia hanya berdiri menatap laut, sama sekali tak berbicara dengan kita.� Haruna menggerutu.

Well, aneh atau tidak, Nona,� kata Taka. �Miki tetaplah teman satu angkatan kita dan mau tidak mau kita akan berjuang bersama dia sepanjang semester ini.�

Yuka menatap Taka, �Dia tidak aneh. Ia memang introvert. Orang-orang bahkan mengatakan ia punya indra keenam.�

�Ah, kau dan empatimu, Yuka.� Taka menghela napas, �Aku tahu kita mahasiswa psikologi, tapi nalurimu untuk menolong orang, terlalu overwhelming bagiku. Setauku indra keenam nggak akan banyak berguna jika kita tak bisa menggunakannya untuk melihat soal ujian semester depan.�

Mata Yuka membelalak, �Jadi ini alasanmu mengajak mereka berdua?�

�Kok malah kalian berdua sih yang bertengkar?� malah ganti Haruna yang kesal karena tak diacuhkan, �Sekarang kemana Seiji? Dari tadi aku tak melihatnya.�

�Ah, anak itu,� Taka kembali mengeluh, �Pasti dia sedang merekam karang-karang bodoh itu. Biar aku panggil dia. Kalian berempat langsung saja ke mobil.�

Sementara itu, Miki sama sekali tak menyadari teman-teman tengah membicarakannya. Ia sibuk dengan suara ombak. Entah mengapa, suara ini begitu menenangkannya. Ia baru saja hendak berjalan ke arah teman-temannya ketika kakinya menginjak sesuatu tanpa sengaja.

Ia menatap ke bawah dan melihat sebuah cangkang kerang. Bentuknya seperti tanduk berulir dengan duri-duri di permukannya. Miki mengangkatnya. Cangkang itu cukup besar dan permukaannya halus seperti pualam.

Miki menatap bagian dalam cangkang itu. Hampa. Dulu pernah ada makhluk yang menghuninya, menganggap sebuah rumah, perlindungan. Namun ketika ia mati, ia hanya meninggalkan cangkang ini. Sangat menyedihkan.

Namun manusia lebih menyedihkan lagi, pikirnya. Ketika mati, ia takkan meninggalkan apa-apa. Ia hanya lenyap tanpa bekas, tanpa bukti bahwa ia pernah ada di dunia.

Ia takkan meninggalkan apapun, kecuali penderitaan.

Miki mendekatkan cangkang kosong itu ke telinganya. Ia bisa mendengar ombak berdesir di telinganya. Ia bisa membawa pulang pantai ini bersamanya, di dalam cangkang ini.

�Miki! Ayo! Keburu sore! Nanti Taka marah-marah!� seru Haruna.

Miki segera berjalan cepat ke arah teman-temannya, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar sesuatu di antara deburan ombak.

Itu suara teriakan.

Arahnya dari laut.

Ia segera menoleh dan melihat sesosok tangan menyembul keluar dari deburan ombak yang biru. Tangan itu mencoba menggapai-gapai udara. Sedetik kemudian, kepalanya muncul dari dalam air. Itu adalah seorang bocah laki-laki.

�Tolong ... tolong ...� suara itu makin jelas terdengar. Kepala anak itu kembali tenggelam ketika ombak yang lebih besar menghantamnya. Tanpa berpikir panjang, Miki segera berlari ke arah laut untuk menyelamatkan anak itu. Ia segera terjun ke dalam air dan berenang menuju ke tempat anak itu tenggelam. Sayup-sayup terdengar jeritan dari teman-temannya, namun ia tak mempedulikannya. Hanya beberapa detik di air, ia sudah merasakan air memasuki telinganya dan membuatnya tuli untuk sejenak.

�Dimana anak itu?� teriak Miki dalam hati, �Dimana dia?�

Namun kemanapun ia mencoba melihat, tak ada tanda-tanda anak itu. Hanya air dan air, berkilo-kilometer jauhnya. Bahkan ia tak bisa melihat daratan lagi.

�Hah, kupikir tadi aku tak berenang sejauh ini?�

Tiba-tiba Miki merasakan sesuatu menarik kakinya. Miki mencoba menjerit, namun air segera membanjiri paru-parunya ketika kepalanya mulai tenggelam. Miki mencoba meronta, namun genggaman di kakinya terasa lebih erat, menariknya lebih kuat ke dasar lautan. Warna biru yang mengelilinginya bertambah pekat, bercampur dengan buih putih yang berasal dari napas dan rontaannya.

Miki melihat ke bawah, mencoba melihat apa yang menariknya.

Apa kakinya tersangkut jaring nelayan?

Rumput laut?

Tidak.

Ia hanya melihat bayangan hitam, seperti manusia, bercampur dengan gelapnya dasar lautan.

Apapun itu ia memiliki sepasang mata yang menyala dalam kegelapan, menatap ke arahnya.

Kepalanya makin pusing dan terasa berat. Ia tak sanggup lagi meronta.

Ia tak sanggup lagi membuka matanya.

Ia tak sanggup lagi bernapas.

***

 

Miki membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah cemas dari teman-temannya yang mengelilinginya, terutama Yuka.

Ia masih merasakan rasa asin dalam mulutnya. Berarti ia tak sedang berhalusinasi tadi. Ia benar-benar tenggelam.

Mika mencoba bangun. Ia terbatuk dan memuntahkan air laut. Ia merasakan pasir-pasir menempel di rambutnya yang basah.

�Apa ... apa yang terjadi denganku?� Miki masih mencoba mengusir rasa asin yang melekat di lidahnya.

�Apa yang tadi kaupikirkan?!� seru Taka kesal, �Kata yang lain, tadi kau melompat begitu saja ke laut.�

�Anak itu ... apa ia tak apa-apa?� bisik Miki khawatir.

Teman-temannya saling berpandangan, �Anak yang mana?�

�Anak itu ... ia tenggelam. Apa kalian tak melihatnya?�

�Kami tak melihat siapapun di dalam air kecuali kau, Miki.� kata Yuka dengan wajah prihatin.

�Yah, kau dan cowok ganteng yang tadi menyelamatkanmu.� tambah Haruna.

�Oya, dimana dia?� Mereka segera menoleh untuk mencari pemuda.

�Aneh sekali, bukannya dia tadi ada di sini bersama kita?�

Miki tampak heran, �Pemuda yang mana?�

***

 

�Pemuda itu benar-benar ganteng!� pekik Haruna di dalam mobil. Selama setengah jam perjalanan, hanya itu yang ia bicarakan. �Aku benar-benar tak percaya. Ia begitu heroik! Entah dari mana tiba-tiba ia muncul dan membopongmu ke pesisir. Bahkan kupikir tadinya ia mau memberikan napas buatan kepadamu. Duh, kalau itu aku juga ingin.�

�Aku sama sekali tak ingat ada pemuda yang menyelamatkanku.� kata Miki. �Apa dia benar-benar melakukan napas buatan kepadaku?�

�Haha ... tidak seromantis itu Nona,� kata Seiji yang berada di kursi depan bersama Taka yang tengah menyetir. �Tapi ia menekan dadamu dan air langsung muncrat dari mulutmu. Lalu kau sadar.�

�Hei, Seiji!� seru Haruna tiba-tiba sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, �Bukannya tadi kau merekamnya di handy-cam-mu? Mana coba aku lihat!�

�Oh ya, aku lupa!� Seiji segera mengambil kembali handy-cam dari dalam tasnya, �Sebentar ...�

Serta-merta Haruna langsung merebutnya, �Mana, biar aku saja yang mencari!�

�Hei!� protes Seiji.

Namun Haruna tak peduli dan langsung mengutak-atik handy cam itu. �Mana ya rekamannya? Nah ini dia ...�

Ketiga gadis itu langsung melongok mencoba melihat ke layar handy-cam yang kecil itu. Namun yang tampak justru gambar mereka bertiga sedang menghabiskan waktu di pantai.

�Hei, dasar brengsek! Jadi selama ini kau memata-matai kami waktu berjemur memakai bikini!� seru Haruna marah.

�Dasar mesum!� Yuka ikut marah dan memukul pemuda itu dari belakang.

�Hei ... hei ... jangan mengamuk seperti itu! Taka yang menyuruhku!�

�Hei, man! Jangan sangkut-pautkan aku!� protes Taka.

�Eh, lihat ... ini adegan dimana kau terjun ke laut!� seru Haruna.

Terdengar suara jeritan para gadis di dalam video. Rekaman itu tampak bergoncang-goncang karena Seiji yang merekamnya tengah berlari menghampiri mereka.

�Ada apa?�

�Miki ... ia tenggelam!�

�Kenapa kalian tak menolongnya?�

�Ombaknya terlalu besar, kami takut ...� ujar para gadis.

�A ... aku tak bisa berenang ...� Shun terbata-bata.

�Ah, sial!�

�Hei, lihat! Ada yang mencoba menolong Miki!�

Kamera segera diarahkan ke tengah laut, namun ....

�Sreeek ... kesreeek ...�

Terlihat seperti semut memenuhi layar.

�Hei, mesum! Kameramu rusak!�

�Ah, tidak mungkin! Mana kulihat!� Seiji segera merebut kameranya kembali.

�Ak ..... ak ....sreeek .... sreeek ...� layar masih buram, walaupun selama seperkian detik masih menampakkan gambar normal. Tampak sesosok pemuda mengangkat tubuh Miki ke pantai, namun wajahnya tak jelas. Kemudian gambar kembali buram.

�Ah brengsek! Kenapa jadi rusak begini?� Seiji memukul-mukul kameranya, �Aaaah ...nah ini sudah benar!�

�Apa ... apa yang terjadi denganku?� terdengar suara Miki di rekaman itu.

�Apa yang tadi kaupikirkan?� terdengar suara Taka yang sedang kesal.

�Hei, bukannya ini pas Miki sudah sadar ya? Tba-tiba saja rekamannya normal pada saat kejadian ini. Tapi pas pemuda itu muncul, malah rusak. Aneh sekali.� Seiji tak habis pikir.

�Mungkin kameramu yang sudah bobrok.� Taka tertawa.

�Mungkin itu karma karena kameramu selalu kaupakai untuk perbuatan mesum!� protes Yuka.

�Tapi siapa ya pemuda itu? Kupikir hanya ada kita berenam saja di pantai saat itu.� tanya Miki penasaran.

�Ya, kupikir juga begitu. Mungkin saja ia penduduk lokal.� tambah Yuka.

�Apa mungkin ia penjaga pantai?� tanya Haruna yang lebih penasaran ketimbang mereka berdua.

�Tak mungkin. Bahkan tak ada yang berkunjung ke pantai itu.� kata Taka dari balik kemudi.

�Hah, kenapa?� tanya Yuka.

Seiji menoleh ke belakang, �Jadi kalian belum tahu pantainya berhantu?�

�APA? BERHANTU?�

Haruna memukul Taka dari belakang, �Jadi kau mengajak kami ke pantai berhantu?�

�Hei, kalian kan yang menginginkan pantai yang sepi? Di musim liburan seperti ini, itu hampir mustahil. Kecuali pantai itu, tak banyak yang datang ke sini karena takhyul bodoh ....�

�Itu bukan takhyul bodoh!� Shun yang semenjak tadi diam tiba-tiba angkat suara. �Kalian harus mulai menghormati kepercayaan orang lain. �

�Jadi ...� Haruna sama sekali tak mempedulikan perkataan Shun, �apa takhyul bodohnya?�

�Mereka bilang pantai itu meminta tumbal. Tiap tahun selalu saja ada anak yang menghilang tersapu ombak di pantai itu. Karena itu orang tua di desa dekat pantai itu selalu melarang anaknya mendekati tempat itu, makanya sepi.�

Miki mulai merinding mendengar cerita itu. Hingga sekarang, sepertinya semua teman-temannya, termasuk Yuka, tak mempercayai ceritanya tentang anak yang tenggelam itu. Namun Miki yakin tentang apa yang dilihatnya.

�Seharusnya kau cerita sejak awal pada kami!� seru Yuka, �Miki hampir tenggelam gara-gara kalian!�

�Hei itu bukan salah kami!�

Miki mencoba bersandar, tak ingin terlalu larut dalam pertengkaran teman-temannya itu. Tiba-tiba ia menyadari ada sesuatu yang menusuk punggungnya. Ia mencoba meraihnya dan menyentuh sesuatu dengan permukaan halus. Seperti porselen.

Miki menengok ke belakang dan menatap benda itu dengan terkejut.

Sebuah cangkang kerang yang berbentuk seperti terompet.

Ia ingat ia hanya melemparkannya begitu saja di pasir saat mencoba menyelamatkan anak itu.

 

TO BE CONTINUED