Tampilkan postingan dengan label HITCH-HIKE SERIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HITCH-HIKE SERIES. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 November 2014

HITCH-HIKE PART 4/4

 

Apa yang sedang ia bicarakan? Jelas2 kami menumpang RV itu di luar tokonya. Aku bahkan melihat si ayah membeli perban dan lain-lain di toko ini dan membayarnya kepadanya!

Aku mulai merasa cemas. Aku dan Kazuya kembali bertatapan.

�Permisi,� kata Kazuya, �Saya perlu pergi ke toilet.�

Akupun mengikutinya dan kami segera menutup pintu di belakang kami.

�Aku tak mau berpikir bahwa ia membohongi kita, namun .... apa mungkin ia bekerja sama dengan mereka? Mungkin mereka berada dalam satu kelompok, atau sekte ... dan mereka semua berteman. Aku benar-benar tak mengerti.� Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, �Well, yang pasti kita tak bisa tinggal di sini. Coba kita tanya sopir truk itu, mungkin ia bisa membawa kita ke suatu tempat.�

Itu sepertinya menjadi satu2nya pilihan yang kami punya. Ketika kami hendak meninggalkan kamar mandi, tiba-tiba kami mendengar sesuatu dari balik salah satu bilik.

Seseorang sedang menyiulkan nada Mickey Mouse�s March.

Mungkin karena hari itu masih siang, atau mungkin karena alasan lain, aku lebih merasa marah ketimbang takut. Kazuya tampaknya juga merasakan hal yang sama.

�Buka pintu sialan ini!� Kazuya menendang pintu itu hingga terbuka.

Di dalamnya, seorang pemuda berseragam sekolah tampak dengan ketakutan menatap kami. �A ... apa yang kalian inginkan?�

�Oh ... oh ... maaf!� Kazuya merasa salah tingkah. Untunglah tak ada siapapun di luar kamar mandi yang mendengar apa yang barusan kami lakukan. Setelah meminta maaf kepada anak itu, kami meninggalkan kamar mandi dan melihat sang pemilik toko sedang bercakap-cakap dengan sopir tersebut.

�Terima kasih atas bantuan anda, pak.� kata Kazuya dengan sopan pada sang pemilik toko. Kemudian ia beralih kepada sang sopir truk, �Hei, apakah kami bisa meminta tumpangan sampai ke kota? Kami berjanji itu akan setimpal dengan waktumu.� Ia lalu membeli sebungkus rokok yang sama seperti yang sopir itu miliki dan membayarnya. Sepertinya Kazuya adalah seorang negosiator yang handal, pikirku.

Tak ada satupun di antara kami yang hendak melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Semuanya terkesan sangat sureal � tak nyata � untuk dipercaya. Dan aku ingin melupakannya sesegera mungkin. Walaupun kuakui aku menyesal kehilangan tasku beserta seluruh bajuku di dalamnya.

Tanpa kami sadari, kami berdua terlelap di dalam truk. Ketika kami bangun, truk sedang berhenti dan sang sopir membelikan kami yakisoba (sejenis mie goreng). Kami menyantapnya di dalam truk.

Ketika truk mulai berjalan, Kazuya kembali tertidur. Aku sudah merasa tak begitu lelah sehingga aku hanya bersantai sambil bersandar di kursi. Aku menatap keluar, mencoba menyaksikan pemandangan sambil merenungkan kembali kejadian mengerikan yang baru saja kami alami. Siapa sebenarnya mereka? Dan tangisan gadis itu ...

�Ah!� tanpa sadar aku berteriak ketika aku menyadarinya.

�Ada apa?� tanya sang sopir truk.

�Kumohon, hentikan truknya!�

�Apa?�

�Maafkan saya, ini hanya akan makan waktu satu menit. Sebentar saja!�

�Kamu ingin turun di sini?� tanyanya sambil memelankan truk dan akhirnya berhenti. �Kota masih jauh, kau tahu?�

Kazuya terbangun ketika aku membuka pintu.

�Hei, apa yang terjadi?�

�Lihat itu!�

Aku menunjuknya, dan Kazuya langsung membisu ketika melihatnya juga.

Mobil RV itu terparkir di pinggir hutan.

Tak ada keraguan sedikitpun, itu mobil yang sama. Warnanya, bentuknya, semua sama. Bahkan ada palang merah yang dicoretkan di pintu RV itu. Namun ada sesuatu yang salah, benar-benar salah ....

RV itu tampak bobrok. Kelihatannya mobil itu teronggok begitu saja di sana selama puluhan tahun. Bodinya tampak peyot dan berlekuk di sana-sini. Warnanya mulai pudar dan tampak berkarat. Semua bannya rata dan jendelanya pun pecah. Bahkan tumbuhan merambat mulai menjalari tubuh mobil itu.

�Maafkan kami, namun bisakah anda menunggu kami selama beberapa menit? Kami harus memeriksanya. Sebentar saja ya?� aku memohon dan akhirnya ia setuju. Kazuya dan aku segera turun dan menghampiri RV itu.

�Apa-apaan ini?� sebelum aku sempat mengatakannya, Kazuya sudah mengucapkannya duluan. Ketika kami semakin dekat dengan mobil itu, semakin kami yakin itu RV yang sama.

Hari masih siang dan ada beberapa mobil yang lalu lalang, dan itu memberikan kami keberanian untuk mendekatinya.

Ini sama sekali mustahil, pikirku. Aku mencoba membuka pintu RV itu dan segera bau busuk menyeruak keluar dari dalamnya.

�Hei! Hei! Lihat ini! Aku benar-benar tak percaya!� seruku ketika melihat sesuatu teronggok di kursi belakang, �Tas kita! Barang2 kita semua ada di sini!�

Namun tas kami dan semua isinya ... sama seperti mobil itu, terlihat seperti sudah berumur puluhan tahun! Pakaian yang kami tinggalkan, seakan semua telah membusuk.

What the hell ...� pekik Kazuya. Kami tak bisa mencari penjelasan logis dari semua ini. Yang kuinginkan hanya segera keluar dari mobil terkutuk ini.

�Ayo cepat pergi dari iini!� serunya. Kurasa ia sama ketakutannya dengan aku saat ini. Saat kami hendak meninggalkan mobil itu, tiba-tiba ... BANG! Terdengar suara dari pintu di belakang. Di toilet RV itu, ada yang memukul bagian dalamnya.

Aku segera menoleh. Pintunya masih tertutup rapat. Aku sama sekali tak memiliki keberanian untuk membukanya.

Kami mulai ketakutan. Apa kami benar-benar mendengarnya? Tak ada satupun di antara kami yang benar-benar yakin. Mungkin memang ada sesuatu di dalam situ, tupai atau hewan liar lain.

Namun yang kudengar berikutnya, aku sangat yakin itu bukanlah tupai.

�MAAAAAAAA!�

Kami segera berlari kembali ke truk secepat mungkin sambil berteriak seperti orang gila. Kami berdua segera masuk dan aku segera menyadari, entah karena alasan apa, sang sopir truk itu juga terlihat gemetar. Tanpa mengatakan sepatah katapun, ia segera menyalakan truk dan meluncur pergi.

�Apa yang terjadi?� aku lebih penasaran dengan ekspresi sang sopir truk yang tiba2 saja tampak ketakutan seperti kami.

�Oh, tidak ada apa2.� Ia meraih rokoknya dan mulai menghisapnya. Ia tampak gugup. �Kupikir aku hanya salah lihat tadi ... Semuanya baik2 saja kok.�

�Kami perlu tahu apa yang anda lihat barusan!� Kazuya memohon, �Ceritakanlah, please!�

�Well, kupikir aku melihat seseorang tadi.� katanya dengan gugup, �Ia berada di balik pepohonan, memperhatikan kalian saat kalian berdua sedang mengecek keadaan mobil itu. Dia hanya ... dia hanya diam berdiri di sana dan menatap kalian, mengawasi kalian. Benar-benar membuatku merinding.�

�Apa dia memakai topi ... semacam topi koboi?�

Sopir itu menoleh kepadaku dengan ketakutan, �Ba ... bagaimana kalian tahu? Apa kalian juga melihatnya?�

Kami bertiga terdiam selama sekitar setengah jam. Ketika kami semakin dekat dengan kota yang kami tuju, rasa penasaranku akhirnya tak terbendung lagi. Masih ada sesuatu lagi yang harus kutanyakan pada sopir ini.

�Ehm ... di dekat tempat dimana anda mengangkut kami tadi, ada pegunungan di dekat sana bukan?�

�Hmmm ... ya benar. Ada apa memangnya?�

�Apa pernah terjadi sesuatu di sana?�

�Hmm ... coba aku ingat2. Oh, pernah ada seorang wanita yang terbunuh di sana. Apakah hal seperti itu yang kau maksudkan? Sebab selain kejadian itu, tak ada peristiwa lain yang mencolok pernah terjadi di sana.�

�Seorang wanita terbunuh? Apa ... apa kejadiannya berlangsung di dalam kamar mandi?�

�Yah, kurasa begitu seingatku.� Sopir itu memandang kami sejenak sebelum akhirnya kembali memperhatikan jalan, �Dari mana kalian tahu?�

Kami tak memiliki penjelasan logis mengenai hal itu, jadi kami memutuskan untuk tidak menjawabnya.

Ketika akhirnya kami tiba di kota, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada sang sopir. Kami menginap malam itu di sebuah hotel dan keesokan harinya, kami langsung pulang menggunakan kereta shinkansen.

Aku mencoba tak memikirkan kembali apa yang terjadi terhadap kami, namun kadang kala aku hanya tak bisa melupakannya. Siapa orang-orang itu? Apa mereka benar-benar ada? Atau mereka hanyalah ilusi semata? Apakah mereka berasal dari dunia ini? Dan suara tangisan yang kami dengar di kamar mandi � suara siapa itu? Dan semua hal mengenai RV yang terbengkalai itu dan tas kami yang menjadi usang seakan sudah berumur puluhan tahun � apa arti semua itu?

Sudah 7 tahun semenjak kejadian itu, namun kurasa siapapun takkan bisa melupakan peristiwa setraumatis itu.

Kazuya berubah semenjak pengalaman kami hitch-hiking. Ia tak lagi menjadi playboy dan mulai serius menata hidupnya.

Sedangkan aku, seringkali aku masih bermimpi buruk tiap malam. Bermimpi tentang keluarga aneh dan RV itu. Bermimpi mendengar suara siulan Mickey Mouse�s March itu.

Dan kadangkala walaupun aku sudah terbangun, aku masih bisa mendengarnya.

 

TAMAT

Sabtu, 25 Oktober 2014

HITCH-HIKE PART 3/4

 

Aku mulai panik, namun kemudian aku mendengar suaranya di belakangku.

�Kamu sudah bangun?�

Aku menoleh dengan lega, �Darimana kau?�

�Apa kau tak mendengarnya?� ia memegang sebuah batang kayu yang besar, seakan ia bersiap untuk menyerang seseorang.

�Apa yang kau ...�

�Ssssst!�

Aku terdiam dan memfokuskan telingaku. Ia benar, aku bisa mendengar sesuatu dari kejauhan, suara siulan. Mickey Mouse�s March. Suaranya sungguh jernih dan indah.

Namun yang kami rasakan saat mendengarnya hanyalah rasa takut.

�Itu ...�

�Orang itu ...�

�Ia mencari kita!�

Sekali lagi kami berlari di dalam hutan. Hari mulai terang sehingga kami bisa melihat jauh lebih baik.

Kemungkinan kami tersandung berkali-kali seperti tadi malam berkurang drastis dan kecepatan kami bertambah. Kami pasti sudah berlari selama 20 menit ketika aku melihat sebuah lapangan kecil. Lapangan itu terlihat seperti tempat parkir. Akhirnya aku melihat sebuah kota di kejauhan, jauh di balik pepohonan. Kami benar-benar berlari cukup jauh tadi malam.

Kazuya mengatakan bahwa perutnya sakit dan ia perlu menggunakan kamar mandi yang berada tepat di samping tempat parkir itu. Aku ingin pergi ke sana juga, namun karena pria berpisau besar itu bisa muncul kapanpun, aku tak mau terjebak di dalam sebuah bilik sempit ketika hal itu terjadi.

Ketika Kazuya berada di dalam kamar mandi, aku berjaga-jaga di luar.

�Ah brengsek! Kamar mandi ini kotor sekali. Ada banyak nyamuk dan ah ... benda-benda berjejal di dalam sini. Tapi ini lebih baik daripada nggak ada.� Kazuya tetap saja bermulut besar dalam kondisi genting seperti ini.

�Eh, ada seseorang menangis?� seru Kazuya dari dalam kamar mandi.

�Apa?�

�Kupikir aku mendengar seseorang menangis di kamar mandi wanita. Apa kau melihat ada seorang gadis menangis di sana?�

Aku juga mulai mendengarnya, suara isakan pelan seorang gadis dari dalam kamar mandi perempuan. Kami berdua terdiam sejenak. Apa ada wanita di dalam kamar mandi itu? Mengapa ia menangis?

�Hei, coba cek keadaannya.� kata Kazuya, masih di dalam biliknya, �Tangisannya bertambah keras.�

Sejujurnya, aku merasa takut. Namun jika seseorang menangis di kamar mandi di tengah antah berantah, bisa saja sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku memberanikan diriku untuk mengetuk pintu kamar mandi perempuan. Aku masih bisa mendengar suara tangisan gadis itu dari balik pintu.

�Maaf, apa anda baik-baik saja?�

Tak ada jawaban. Ia masih saja menangis.

�Apa anda sakit? Maaf menganggu anda, apa saya bisa membantu anda?�

Namun suara tangisannya justru semakin menjadi-jadi dan gadis itu tetap tak menjawab.

Kemudian saat itulah aku mendengar suara mobil di areal parkir di luar mobil.

Aku merasa ketakutan dan segera berlari ke kamar mandi laki-laki dan mengetuk pintu bilik dimana Kazuya berada.

�Cepat keluar!�

�Ada apa?�

�Aku mendengar suara mobil. Itu mungkin mereka! Cepat segeralah keluar!�

�O ... oke!� aku mendengar Kazuya menutup resletingnya dan keluar dari bilik kamar mandi. Aku bisa melihat RV itu melaju mendekat dari pintu kamar mandi yang separuh terbuka. �Oh, ini tidak bagus ....�

�Jika kita berlari keluar, jelas mereka akan melihat kita. Satu-satunya cara adalah bersembunyi di dalam kamar mandi ini!� Aku berhenti memikirkan gadis yang tengah menangis itu dan menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kumohon, kumohon jangan berhenti di sini! Terus saja! Terus ....

�Hei ... apa mereka melihat kita?� Kazuya berbisik. Harapan kami sirna. Kami mendengar suara moobil diparkir di depan kami. Kami mendengar suara mesin mobil dimatikan, kemudian suara pintu mobil terbuka dan menutup, diikuti suara langkah kaki mendekati kamar mandi.

Aku dan Kazuya memutuskan kembali masuk ke bilik. Di belakang kami ada sebuah jendela dan di luarnya adalah tebing setinggi 5 meter. Selama tak ada yang mengetahui kami besembunyi di sini, kami akan baik-baik saja. Namun jika ada yang memergoki kami, kami akan melompat. Cukup tinggi memang, namun kurasa kami takkan terluka parah jika melompat di ketinggian seperti itu.

�Kumohon jangan masuk ke sini! Pergi saja!� aku terus berdoa.

Gadis itu masih tak berhenti menangis. Apakah keluarga itu juga akan melakukan sesuatu terhadapnya? Aku sangat mengkhawatirkan hal itu.

Seseorang masuk ke dalam kamar mandi laki-laki. Kami hanya bisa mendengar suara langkah kakinya dari balik pintu bilik yang tertutup.

Kemudian terdengar suara kucuran air. Ia tengah buang air kecil.

�Ah, rasanya enak sekali. Haleluya!�

Terdengar kembali suara langkah kaki berderap, aku menduga itu adalah si kembar.

Gadis itu pasti sudah ditemukan, sebab aku mendengar suara si ibu dari dalam kamar mandi perempuan, �Di sini tidak ada tisu toilet!�

Gadis itu masih terisak ketika para laki-laki meninggalkan kamar mandi.

Aneh.

Keluarga itu sama sekali tak bereaksi pada suara tangisan gadis itu. Ketika sang ibu akhirnya pergi, aku mendengar suara mereka ikut menjauh.

Tidak mungkin mereka tak menyadari keberadaan gadis itu. Ia masih menangis di sana!

Kazuya dan aku saling bertatapan. Bingung. Dan kemudian kami mendengar suara sang ayah dari luar.

�Kita harus menunggu dia dulu .... dia akan datang ...� katanya. Namun kami tak bisa menebak siapa atau apa yang tengah ia tunggu.

Si kembar terdengar mengkhawatirkan sesuatu. Sejenak kemudian, terdengar suara tamparan keras diikuti suara tangisan si kembar.

Perjalanan kami telah berubah menjadi mimpi buruk. Kami hanya ingin bersenang-senang. Bagaimana mungkin perjalanan kami menjadi mengerikan seperti ini?

Hingga detik itu, kami masih merasa ketakutan. Namun pada suatu titik, hati kami tiba-tiba dibanjiri dengan kemarahan.

�Kita bisa mengambil RV mereka dan pergi!� Kazuya berbisik, �Kita tinggal memukul orang tua itu dan si kembar itu juga tampaknya tak terlalu sulit untuk diatasi. Jika kita mau melakukannya, kita harus melakukannya sekarang. Si pria tinggi itu tampaknya tak sedang bersama mereka.�

Namun aku tak begitu yakin dengan rencana Kazuya. Walaupun ide itu terdengar bagus, namun aku pikir lebih aman bersembunyi di sini jikalau mereka benar-benar tak menyadari kehadiran kami. Biarkan saja mereka pergi dan mencari kita di tempat lain.

Belum lagi, gadis itu masih ada di dalam kamar mandi. Begitu keluarga aneh itu pergi, aku ingin mengecek keadaannya, apakah ia baik-baik saja atau tidak. Aku mengatakan hal ini pada Kazuya dan ia dengan enggan menyetujui rencanaku.

�Oh, dia sudah datang!� aku mendengar seruan sang ibu. Nampaknya orang yang selama ini dinanti keluarga itu akhirnya tiba. Aku mendengar suara percakapan kecil namun tak bisa mengira-ngira apa yang sedang mereka bicarakan. Langkah kaki kembali terdengar menuju ke kamar mandi.

Mickey Mouse�s March. Siulan itu. Tentu saja, jelas sekali orang itu yang mereka tuggu. Pria tinggi besar itu sambil bersiul gembira menggunakan urinal. Suara tangisan gadis itu menjadi semakin keras. Mengapa? Mengapa keluarga itu tidak memperhatikan keberadaan gadis itu?

Akhirnya suara ratapan itu berakhir dengan jeritan ketika akhirnya tak terdengar lagi.

Apa mereka melakukan sesuatu terhadapnya? Apa mereka menemukannya? Namun bagaimana? Pria besar itu ada di dalam kamar mandi pria. Aku dan Kazuya juga tak mendengar seseorang memasuki kamar mandi wanita.

Suara siulan dan langkah kaki pria itu terdengar semakin menjauh ketika ia meninggalkan kamar mandi. Aku mulai khawatir jika ia pergi ke sebelah dan menarik gadis itu kelar, sehingga aku menengok keluar melalui jendela untuk melihat apa yang terjadi. Aku melihat pria tinggi itu masih menggunakan topi koboinya dan bersiul.

�NAH, DISANA KAU RUPANYA!!!!�

Pria tinggi itu berseru dan aku segera menarik kepalaku masuk kembali. Apa dia melihatku? Kazuya masih memegang batang kayu yang ia temukan di hutan pagi ini (yang selalu ia bawa serta sejak itu), bersiap-siap untuk memukulkannya.

�Ya benar! Ya benar!� suara sang ibu terdengar gembira.

�Itu benar-benar dosa yang sangat berat!� seru sang ayah diikuti suara tawa si kembar.

�Apa kau mendengar mereka menangis?� sang pria bertubuh tinggi bertanya. Ia terdengar sangat puas dan bangga dengan dirinya sendiri.

�Yap! Yap!� jawab si ibu.

�Menangis seperti bayi. Itu adalah penebusan. Haleluya!� kata sang ayah kembali, lagi2 diikuti tawa si kembar.

Aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya mereka tak sedang membicarakanku dan Kazuya. Akhirnya terdengar suara mesin mobil menyala dan mereka tampaknya meninggalkan lapangan parkir.

Hari sudah pagi dan cahaya matahari bersinar sangat terang. Tak ada yang perlu kami takutkan. Mereka sudah pergi, benar-benar pergi. Aku sudah memastikannya. Kini giliranku untuk memeriksa keadaan gadis itu.

Namun ketika aku masuk, semua pintu bilik kamar mandi dalam keadaan terbuka dan tak ada siapapun di sana.

Apa-apaan ini?

Kazuya masuk dan menepuk bahuku, �Hei, apakah kau tidak menyadari sesuatu yang aneh?� bisiknya, �Kupikir sejak awal memang tak ada siapapun di sini.�

Apakah itu semua hanya halusinasi? Namun bagaimana mungkin kami berdua sama-sama bisa mendengarnya bila itu semua hanya imajinasi?

Jalan yang berada di depan lapangan parkir tersebut pada akhirnya akan membawa kami ke jalan yang lebih besar, bahkan sebuah kota. Namun kami tahu jika kami menyusuri jalan ini, besar kemungkinannya kami akan bertemu kembali dengan mereka. Kami akhirnya memutuskan untuk memotong jalan melalui hutan. Kami bisa melihat kota dengan jelas dari tempat dimana kami berdiri, kelihatannya tidak begitu jauh. Selain itu matahari bersinar sangat terang jadi kami sama sekali tidak takut akan tersasar lagi.

Kami berdua hanya membisu ketika menyusuri hutan. Dua jam kemudian, kami menemukan sebuah jalan raya yang besar, sepertinya itu jalan antarpropinsi. Kami tak membawa baju ganti ataupun barang lain. Kepada siapa kami meminta bantuan? Entah mengapa, pemilik toko kelontong yang kemarin menawarkan bantuannya adalah satu2nya yang terlintas di benak kami.

Kami menanti di jalan tersebut dan akhirnya kami mendapatkan tumpangan dari sebuah truk. Sopir truk itu agak kaget dan curiga melihat tubuh kami begitu kotor dan kami muncul begitu saja dari tengah hutan. Namun setelah kami menjelaskan apa yang telah terjadi, ia dengan cepat membiarkan kami menumpang.

Tentu saja kami tak mengatakan yang sesungguhnya (bahwa kami dikejar oleh keluarga yang kemungkinan kanibal), namun hanya menjelaskan bahwa kami berkemah di gunung dan tersesat ketika sedang hiking. Kami meminta untuk diturunkan di sebuah toko kelontong dimana kami berada tadi malam. Sopir truk itu tak hanya mengatakan ia tahu dimana toko itu, namun ia juga sering berbelanja di sana juga.

Setelah sejam, kami akhirnya tiba di toko yang dimaksud. Pemilik toko tahu kami pergi bersama keluarga dengan RV itu, jadi kami menceritakan kepadanya semua yang kami alami. Namun di tengah cerita, ia mulai melihat kami dengan tajam, seolah ia tak mempercayai tiap kata yang keluar dari mulut kami.

�Apa? Kalian masuk ke dalam RV? Tidak, itu tak mungkin! Kemarin malam, kalian berdua keluar dari toko ini dan mulai berjalan di sepanjang jalan besar. Aku mencoba menghentikan kalian bahkan sempat mengikuti kalian beberapa saat, namun kalian sama sekali tak mengindahkan panggilanku. Aku pikir mungkin kalian merasa tak enak dengan tawaranku untuk mengantar kalian, namun aku justru merasa lebih buruk ketika melihat kalian pergi begitu saja seperti tadi malam. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?�

BERSAMBUNG

Sabtu, 18 Oktober 2014

HITCH-HIKE PART 2/4

 

Mobil RV itu membuka dan seorang pria, kelihatan seperti berumur 60-an, beranjak keluar dan berjalan memasuki toko kelontong. Ia mengenakan topi dengan tepi lebar seperti topi koboi. Benar2 kelihatan aneh dan eksentrik.

Pada waktu itu, aku berada di dalam toko. Aku tak bisa berhenti memandangi pria berpenampilan aneh itu. Ia mengambil sebuah keranjang belanjaan dan mulai memasukkan perban dalam jumlah banyak dan perlengkapan medis lainnya. Ia juga membeli sebotol soda 1,5 L.

Ketika ia hendak membayar di kasir, mata kami bertemu. Ia akhirnya sadar bahwa semenjak tadi aku terus memperhatikannya. Akupun segera mengalihkan pandangan, berpura-pura membaca majalah yang dipajang di dekatku. Aku mulai merasa tak nyaman, namun aku terus mencoba sebaik mungkin untuk tidak mempedulikannya.

Akhirnya, pria aneh itu meninggalkan toko. Saatnya aku dan Kazuya berganti giliran. Namun saat aku berjalan keluar, aku memperhatikan Kazuya dan pria itu bercakap-cakap.

�Hei! Dia akan mengantar kita!� serunya.

Sial! Kesan pertamaku terhadap pria itu amatlah buruk, namun apa boleh buat. Kami tak punya pilihan lain. Mungkin saja dia hanyalah pria tua yang normal dan sebenarnya baik, aku mencoba menenangkan diriku.

Aku berjalan sambil menggumam kesal, namun aku sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan Kazuya.

�Tenang!� Kazuya menepuk bahuku. �Ia adalah tipe orang yang suka aktivitas di alam bebas. Makanya ia mengenakan topi itu.�

Setelah aku masuk ke dalam RV itu, barulah aku memaki dalam hati, �Sial! Ini aneh! Benar-benar aneh!�.

Aku tak tahu mengapa, namun orang ini benar2 aneh! Dan aku tak mau satu mobil dengan mereka!

Aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, namun aku hanya merasa semua ini sangatlah ganjil. Mungkin itulah yang disebut dengan insting. Kau tak bisa menjelaskannya, kau hanya tahu.

Di dalam van ini ada satu keluarga. Seharusnya aku sudah menduga bahwa tak mungkin seseorang mengendarai mobil sebesar ini sendirian. Dan keluarga ini, sama seperti ayahnya, juga terlihat aneh.

Sang ayah yang merangkap sopir, berumur sekitar 60-an. Aku sudah menyinggungnya tadi.

Sang ibu, duduk di sampingnya, berumur lebih tua, mungkin 70-an.

Anak kembar mereka, mungkin berumur 40-an.

Ketika seseorang berada dalam situasi yang tak ia inginkan, mungkin indranya akan bereaksi lebih cepat.

Itulah yang aku rasakan. Orang biasa mungkin tak menyadarinya, namun aku memperhatikan, semua jenis baju dan aksesori yang mereka kenakan sama. Baju, celana, sepatu, bahkan gaya rambut mereka. Mereka semua juga duduk dengan postur tubuh yang sama, bahkan dengan ekspresi wajah yang sama.

Kazuya juga speechless, sama seperti aku. Pokoknya kalian takkan mengerti betapa anehnya situasi ini kecuali kalian mengalaminya sendiri.

�Silakan masuk, kita akan segera berangkat.� kata sang ayah. Kami melakukan apa yang ia katakan karena menyadari kami sudah telanjur terjun dalam situasi ini.

Pertama kami mengucapkan �Halo� dan menceritakan sedikit tentang diri kami.

Karena sang ibu duduk menghadap ke depan, aku tak menyadarinya saat pertama kali masuk. Namun ia berdandan dengan sangat aneh. Wajahnya tertutup bedak putih yang amat tebal. Untuk menambah aneh situasi tersebut, ia mengatakan bahwa namanya adalah Saint Josefine.

Dan nama ayahnya adalah Saint George.

Nama kedua anak mereka lebih ganjil lagi. Mereka adalah Red dan Blue. Salah satu dari mereka memiliki wajah kemerah-merahan; ia adalah Red. Sedangkan yang satunya memiliki tanda lahir berwarna biru di pipinya; ia adalah Blue.

Apakah normal memberi nama anak kalian seperti itu?

Kami mencoba mengabaikan perilaku aneh keluarga ini dan mencoba mencari tempat dimana mereka bisa menurunkan kami sesegera mungkin.

Mereka gila. Mereka pasti gila.

Situasi menjadi cukup canggung bagi kami. Mereka kadangkala menanyakan sesuatu dan kami menjawabnya seperlunya. Si anak kembar tak mengucapkan sepatah katapun. Mereka meneguk air soda dari botol kola dengan gerak tubuh yang sama, berirama. Mereka bahkan bersendawa secara bersamaan. Hal ini membuat bulu kudukku berdiri. Aku sudah tak tahan lagi! Aku harus keluar dari sini!

Tanpa aku duga, lima belas menit semenjak kami masuk, Kazuya berbicara dengan sopan, �Terima kasih atas tumpangannya, namun anda bisa menurunkan kami di sini.�

Namun sang ayah tak mengizinkan kami turun. Sang ibu mulai berteriak, �Jangan sekarang! Beruang akan memakan kalian!�

Namun kami terus bersikeras untuk diturunkan saja.

�Paling tidak ikutlah makan malam dengan kami.� kata sang ayah. Ia tampaknya tak memiliki keinginan untuk melepaskan kami.

Kemudian si kembar mengeluarkan kembang gula dari kantung mereka bersama-sama dan mulai menjilatinya, dengan gerakan lidah yang sama persis satu sama lain.

Ini sudah cukup!

�Kita benar-benar dalam masalah besar!� bisik Kazuya. Aku mengangguk pelan. Sang ayah dan ibu terus-menerus melancarkan pertanyaan kepada kami begitu cepat, sehingga kami kewalahan untuk menjawabnya.

�APA KALIAN MENDENGARKU?� ia berteriak sekali ketika kami tak bisa menjawab pertanyaannya. Si kembar terkikik. Aku dan Kazuya bertukar pandangan. Kami sama-sama ketakutan.

Mobil RV itu keluar dari jalur jalan raya dan masuk ke sebuah jalan pedesaan yang berbatu-batu.

�Maafkan kami,� ucap Kazuya kembali sambiil mencondongkan tubuhnya ke arah sang pengemudi, �Namun kami benar-benar harus turun di sini. Terima kasih.�

�Namun kami akan menyiapkan makan malam.� jawab sang ayah. Ia mengatakan bahwa istrinya akan membuat masakan yang sangat lezat dan kami harus mencobanya.

Kami terdiam kembali. Jika kami memiliki kesempatan, kami akan lari. Tentu saja sangat berbahaya untuk melompat dari atas RV yang tengah berjalan, maka kami akan menunggu hingga mobil ini berhenti.

Setelah berkendara di jalan jelek itu selama 30 menit, akhirnya kami tiba di sebuah tanah lapang di dekat sungai kecil.

�Nah, kita sudah tiba!� seru sang ayah dengan nada gembira.

�Horeee horeee ...� terdengar suara kekanak-kanakan dari balik pintu (aku berasumsi itu adalah toilet) di bagian belakang mobil.

Ya Tuhan, masih ada satu lagi? Jantungku serasa mau copot.

�Mamoru juga sudah lapar, kan?� kata sang ibu. Mamoru? Hanya satu anggota keluarga ini yang memiliki nama yang normal. Dari suaranya, ia pasti masih kecil.

Si kembar, yang sejak tadi tak mengeluarkan sepatah katapun, mulai menangis dengan bersamaan, �Jangaaaaaan .... kalian tak bisa membiarkan Mamoru keluar!�

�Iya, itu benar. Karena Mamoru lemah.� kata sang ibu.

�Ahahaha!� sang ayah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

�Sial, mereka semua gila! GILA!� Kazuya berbisik di telingaku.

Kamipun keluar dan mendapati seorang pria telah membuat api unggun di tepi sungai. Oh tidak, masih ada satu orang, seperti ini belum cukup buruk saja. Aku mulai merasa sangat putus asa.

Orang terakhir itu tampak sangat tinggi, ia pasti memiliki tinggi badan sekitar 2 meter! Ia memakai topi dan baju yang sama seperti yang dikenakan sang ayah. Topinya agak tertarik ke bawah sehingga kami tak bisa melihat wajahnya.

Melalui cahaya api unggun, aku bisa melihat sebuah palang merah tercoreng di depan RV yang tadi kami tumpangi. Ada sesuatu yang benar-benar menakutkan dengan semua situasi ini.

Orang bertubuh tinggi itu mulai memotong sesuatu menggunakan pisau besar sambil menyiulkan �Mickey Mouse�s March�*. Melihat rambut yang begitu lebat di sesuatu yang ia potong itu, aku berasumsi itu adalah kaki seekor binatang yang besar. Kemungkinan babi liar atau bahkan seekor anjing. Aku tak tahu apa itu, namun yang jelas aku tak mau memakannya. Semula kami berencana kabur secepat mungkin begitu kaki kami menginjak tanah, namun melihat pria dengan pisau besar itu, nyaliku menjadi ciut.

�Nah, ayo silakan duduk!� perintah sang ayah. Sang pria tinggi kemudian duduk dan mulai memasukkan bumbu2 ke dalam sebuah kuali besar berisi air mendidih.

�Ehm ... aku perlu buang air kecil sebentar.� kata Kazuya.

�Tentu saja, ide yang bagus Kazuya!� aku bersorak dalam hati. Aku akan segera mengikutinya memasuki hutan.

�Jangan lama-lama!� teriak sang ibu dari belakang kami. Tepat begitu kami berbalik hendak memasuki hutan, aku sempat menoleh ke arah RV itu dan melihat sebuah dahi muncul tiba-tiba di kaca jendela. Posisi mata anak itu jauh lebih rendah daripada orang normal dan ia mulai memukuli kaca jendela.

BANG! BANG!

Ia lalu menekankan wajah dan tangannya ke kaca dan berteriak, �MAAAAAAAAA!�

Aku sudah tak bisa lagi menanggungnya! Kami segera berlari tunggang langgang masuk ke dalam hutan secepat kami bisa.

Di belakang kami, aku mendengar sang ayah dan ibu meneriakkan sesuatu, namun aku dan Kazuya tak punya waktu dan tenaga untuk memperhatikan apa yang mereka teriakkan.

�Sial! Sial! Sial!� Kazuya memaki sepanjang perjalanan, setiap kami melewati pohon demi pohon. Kami berdua jatuh terjerembap ke tanah tak terhitung banyaknya, namun kami kembali bangkit dan berlari secepat mungkin.

Aku memegang sebuah senter kecil di salah satu tanganku ketika kami berlari menuruni gunung, mencoba setengah mati untuk menemukan jalan besar dimana kami bisa meminta bantuan.

Pikiranku mulai mempermainkanku. Kukira tadi aku melihat cahaya dari kejauhan, mungkin sebuah rumah atau lebih baik lagi, sebuah desa. Namun setelah lari berjam-jam ke arah cahaya itu, kami tidak lagi melihatnya. Kami benar-benar tersesat.

Kami berdua sangat lelah dan kaki kami mulai kesakitan. Kami akhirnya ambruk terkulai ke tanah.

�Apa kau pikir keluarga Manson** tadi mengejar kita?�

�Mereka tidak akan memakan kita!� aku mencoba menenangkan kami berdua. �Mereka takkan mengejar kita. Ini bukan film slasher. Mereka hanya keluarga yang aneh, bukan?�

�Bagaimana dengan barang-barang kita? Kita meninggalkan tas kita di RV itu.�

Well, aku membawa dompet dan handphone bersamaku. Kurasa yang hilang hanya baju-bajuku saja.�

�Aku benar-benar mengacaukannya ya?� Kazuya terengah-engah.

Aku tertawa, �Haha. Ini bukan salahmu.�

Aku pikir kelelahan kami sudah tak lagi secara fisik, namun juga mental kami. Keanehan yang menimpa kami benar2 menguras seluruh energi kami dan begitu kami lolos, kami mulai menyadari bahwa apa yang kami alami sebenarnya sangatlah lucu. Setelah kami puas menertawakan nasib kami, kegelapan pekat dan aroma hutan membuat kami kembali tersadar.

Realitanya, kami tersesat.

Kami memang berhasil kabur dari keluarga aneh itu, namun kami menghadapi masalah baru. Kami berada terlalu jauh ke dalam hutan dan kehilangan arah.

�Bukankah lebih baik jika kita menunggu di sini hingga pagi? Aku tak mau membenarkan perkataan si mama Manson tadi, tapi jika memang ada beruang di sekitar sini ...� aku ingin secepatnya keluar dari sini, namun menjelajahi hutan di tengah kegelapan total seperti ini sama saja bunuh diri. Kami memutuskan untuk duduk bercakap-cakap hingga kami berdua tertidur.

Aku terbangun tiba-tiba dan secara refleks memeriksa handphone-ku.

Sudah jam 5 pagi dan fajar mulai menyingsing. Aku melihat ke sekelilingku dan menyadari sesuatu yang sangat menakutkan.

Kazuya tak ada di manapun juga.

Ia menghilang.

BERSAMBUNG

 

 

*Lagu Mickey Mouse�s March: Jika ingin mendengarkan seperti apa lagunya, klik dua video youtube di bawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=4I3YILhIJao

https://www.youtube.com/watch?v=82itSw28BoQ

*Keluarga Manson: sebutan bagi kelompok yang dipimpin seorang musisi bernama Charles Manson yang berkeliaran di gurun California dan melakukan pembunuhan berantai pada 1960-an. The real Texas Chainsaw Massacre.

Sabtu, 11 Oktober 2014

HITCH-HIKE PART 1/4

 

Hitch-hike adalah sebuah cerita yang kuadaptasi dari blog okaruto. Cerita seram ini mengisahkan sang narator yang berpergian dengan sahabatnya menggunakan metode hitch-hike, yakni menumpang pada setiap mobil yang mereka temui. Namun suatu malam, mereka menumpang sebuah mobil yang salah, membuat mereka mengalami berbagai peristiwa menakutkan dan tak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Bagian endingnya, seperti biasa, telah aku ubah sehingga agak berbeda dengan yang ada di versi aslinya. Hanya ada 4 part dalam kisah ini. No curse or bad dream in this series what so ever. Selamat menikmati.

Kisah ini terjadi sekitar 7 tahun yang lalu. Aku baru saja diwisuda dan belum memiliki pekerjaan tetap. Kurasa aku tipe orang yang tidak begitu peduli dengan �tekanan� harus bekerja lah, harus menikah lah, jadi aku merasa santai dengan kondisiku saat itu.

�Pekerjaan yang lebih bagus nantinya akan muncul kok.� kataku pada diriku sendiri saat sedang bekerja paruh waktu, pekerjaan yang sudah kujalani sejak aku masih kuliah.

Peristiwa itu terjadi pada musim panas. Aku sedang berbincang dengan sahabatku, Kazuya (bukan nama aslinya) ketika entah mengapa topik �hitch-hiking� mengelilingi Jepang tiba-tiba muncul. Kau tahu, seperti backpacker, hanya kau melakukan perjalanan dengan menumpang mobil orang lain yang kebetulan lewat. Aku yang masih sangat muda saat itu langsung terobsesi dengan ide tersebut.

Sebelum aku melanjutkannya lebih jauh, aku akan memperkenalkan siapa Kazuya. Kami kebetulan kuliah di universitas yang sama dan kami pertama berjumpa pada semester awal kuliah kami. Ia adalah seorang playboy sejati, tipe orang yang suka main-main dan jarang berpikir dengan serius. Walaupun hobinya berganti-ganti pacar, namun tetap saja ia mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Aku adalah salah satu yang paling dekat dengannya. Kepribadiannya yang ekstrovert sungguh kontras dengan kepribadianku yang introvert dan apatis.

Kami akhirnya sepakat melakukan hitch-hiking bersama. Sebenarnya tak ada rencana matang yang kami persiapkan. Kami hanya menumpang dan menumpang tanpa rute yang jelas. Pertama, kami akan terbang menuju Hokkaido dan kemudian kembali ke tempat asal kami di Kyushu dengan hitch-hiking.

�Yeah! Jangan panggil aku Kazuya jika aku tak bisa menggaet perempuan dari tiap kota yang kita lewati!� kata Kazuya seolah-olah hanya dia di dunia ini yang bisa melakukannya. Walaupun, secara menyedihkan, sebenarnya aku mengharapkan hal yang sama.

Kazuya memiliki rambut panjang yang ia ikat ke belakang, membuatnya tampak seperti bartender �bad ass� sejati (dia memang bekerja di sebuah diskotik btw). Dan kebetulan juga aku juga berhasil menggaet beberapa kenalan wanita saat sedang nongkrong bersamanya.

Aku akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan sampinganku dan Kazuya mengajukan cuti selama beberapa pekan. Kami membeli tiket ke Hokkaido dan mengisi tas backpacker oversized kami dengan barang2 yang kira2 kami butuhkan. Tiga minggu setelah merencanakan perjalanan ini, kami akhirnya terbang ke Hokkaido.

Ketika kami mendarat di Sapporo, kami makan siang dan berjalan-jalan melihat-lihat kota. Aku tak tahu apakah ini karena perjalanan kami, namun aku merasa sangat lelah sore itu. Akhirnya aku kembali ke hotel sementara Kazuya pergi untuk menikmati kehidupan malam di sana.

Kazuya tidak kembali malam itu, namun kami bertemu satu sama lain di lobby hotel paginya. Ketika aku melihatnya, ia membuat isyarat OK dengan jari2nya. Aku menduga ia menghabiskan malam dengan seorang gadis yang ia temui.

Hari itu juga, kami memulai hitch-hiking kami. Ini pertama kalinya kami melakukan hal tersebut dan kami berdua sangat excited.

Kami tidak memiliki rencana yang konkrit seperti �harus tiba di sini pada tanggal segini� atau target lainnya. Satu-satunya aturan yang kami miliki adalah �biarlah mereka membawa kita sejauh yang mereka inginkan�.

Namun ternyata hal itu tidaklah mudah. Kami menunggu selama sejam dan tak ada yang berhenti memberikan kami tumpangan.

Tepat ketika kami hampir menyerah, sebuah mobil menepi. Sudah satu setengah jam sejak kami memulainya. Hmmm .... tidak buruk. Namun mobil yang kami tumpangi tidak berniat untuk keluar kota, jadi mereka hanya membawa kami tidak begitu jauh ke arah selatan. Namun perjalanan tetaplah perjalanan, tak peduli berapapun jaraknya. Kami sudah merasa senang sudah bisa memulainya pada hari pertama.

Setelah mobil pertama yang mengangkut kami, kami memperhatikan bahwa seringkali yang berhenti untuk kami adalah sopir truk yang mengadakan perjalanan jarak jauh. Itu hal yang bagus sebab kami bisa melakukan perjalanan jarak jauh. Dan rupanya semua sopir truk itu, tidak seperti yang diduga banyak orang, adalah orang2 yang sangat baik. Naik truk benar2 adalah cara yang sangat efektif untuk melakukan perjalanan.

Pada hari ketiga, kami sudah mulai terbiasa. Ketika seorang pengedara truk menawarkan tumpangan, kami memberikan mereka sebungkus rokok sebagai ucapan terima kasih. Ketika yang mengangkut kami adalah pengendara mobil, kami memberikan mereka permen atau cokelat yang kami beli dari supermarket terdekat.

Sopir2 truk itu selalu senang ketika kami memberikan mereka rokok setiap kali kami menumpang, Kazuya selalu saja suka mengobrol dan dengan cepat menjadi akrab dengan mereka. Ia-lah yang menjaga atmosfer perjalanan selalu menyenangkan. Apalagi jika yang memberi kami tumpangan adalah wanita, maka Kazuya dengan mudah menjadi dekat dengan mereka.

Pada hari keempat, kami mencapai Honshu. Kami benar2 menikmati perjalanan kami sejauh ini. Kami bisa menikmati makanan2 lokal di tiap tempat yang kami kunjungi dan kami berteman dengan beberapa orang sepanjang perjalanan.

Untuk menghemat uang saku, kami berusaha berhenti di pemandian umum setiap hari dan menghabiskan malam di warnet. Bahkan, beberapa kali para pengendara truk menawarkan kami untuk menginap di rumah mereka. Kami benar-benar merasa bersyukur atas semua yang kami alami.

Namun sekitar dua minggu semenjak kami memulai perjalanan ini, ketika kami berada di pedesaan di dekat pegunungan di wiayah Koushin, keberuntungan kami mulai surut.

Siang itu, kami diturunkan di sebuah toko kelontong kecil di pinggir jalan raya yang sepi. Tak ada rumah sama sekali di sana, hanya bangunan kios itu. Dan lebih buruk lagi, tak ada satupun mobil yang berhenti untuk kami. Kami mulai merasa muak untuk menunggu. Dan karena hari yang sangat panas dan matahari bersinar sangat terik, kami mulai kesal.

�Aku tak percaya kita diturunkan di tempat terpencil seperti ini! Bukankah tadi sopir itu mengatakan dimana ia tinggal? Mungkin kita bisa tidur di tempatnya?� saran Kazuya.

Sopir truk itu memang mengatakan ia tinggal sekitar 10 menit perjalanan dengan mobil dari sini. namun kami sama sekali tak memiliki bayangan dimana itu, sehingga informasi itu tak banyak berguna bagi kami.

Kami memutuskan untuk menunggu mobil dengan bergiliran tiap 30 menit. Salah satu dari kami akan menunggu di dalam toko kelontong untuk mendinginkan diri, sementara yang lain akan berusaha mencari tumpangan di luar. Kemudian tiap 30 menit kami akan berganti giliran.

Ketika aku di dalam, sore mulai menjelang. Aku takut hingga malam tiba, saat toko ini tutup, belum ada mobil atau truk yang berhenti untuk kami.

Pemilik toko itu menyemangati kami, �Jangan khawatir Nak. Jika kalian belum mendapat tumpangan juga hingga malam, aku bisa membawa kalian ke kota.�

Aku merasa lebih tenang ketika mendengar perkataan dari orang baik itu. Memang kebaikan seperti itu yang biasa kami dapatkan di pedesaan seperti ini.

Sejam kemudian, kami belum mendapatkan satupun tumpangan. Kurasa memang tak banyak orang yang lewat daerah sini, pikirku. Aku hendak meminta bantuan sang pemilik toko untuk membawa kami bersamanya ketika sebuah mobil RV* memarkirkan diri di depan toko.

Saat itulah mimpi buruk kami dimulai.

BERSAMBUNG

 

*Mobil RV: Recreational Vehicle (atau dikenal juga dengan istilah karavan) adalah mobil berukuran besar yang bagian dalamnya ditata menyerupai rumah, dilengkapi sofa, tempat tidur, dapur, dan kamar mandi.