Jumat, 03 Januari 2014

BONUS: ENIGMA OF AMIGARA FAULT

 

ENIGMA

Komik ini sangat singkat (sekitar 30-an halaman) namun sangat menakutkan sekaligus kreatif. Penulisnya adalah masterpiece komik horor Jepang, Junji Ito (kreator komik dan film horor �Tomie�). Ceritanya berkisah tentang gempa bumi yang menyingkapkan sebuah formasi aneh yang dinamakan Amigara Fault. Di sana, terdapat penampakan alam aneh berupa gua-gua kecil menyerupai tubuh manusia. Orang-orang dari berbagai penjuru negeri pun berdatangan untuk melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka yakin salah satu dari gua-gua tersebut ditakdirkan untuk mereka masuki karena bentuknya sangat sesuai dengan bentuk tubuh mereka. Endingnya sangat mengerikan dan nggak terduga.

Namun aku peringatkan, bagi yang mengidap klaustrofobia (takut pada tempat sempit) harap tidak membaca komik ini karena dapat menimbulkan trauma.

Silakan klik link di bawah ini untuk membacanya:

http://brasscockroach.com/h4ll0w33n2007/manga/Amigara-Full/Amigara.html

NB: karena ini komik Jepang, membacanya harus dari kanan ke kiri. Selain itu, komik ini masih dalam terjemahan bahasa Inggris.

URBAN LEGEND #20: THE WATERFRONT PICTURE (VIDEO)

 

Urban legend berikut ini bukanlah cerita, melainkan video yang kutemukan di Youtube ini. Durasinya pendek, sekitar 5 menit, namun sangat menakutkan. Ceritanya tentang seorang gadis yang menemukan foto-foto misterius yang terbungkus amplop coklat di depan rumahnya. Walaupun video ini bersetting di Jepang, namun sama sekali tak ada percakapan di video ini sehingga tak diperlukan subtitle.

Perlu kuperingatkan, yang memiliki penyakit jantung atau masalah kesehatan lainnya dilarang keras melihat video ini!

 

URBAN LEGEND #18: DON�T CRY

 

DON�T CRY

JANGAN MENANGIS

 

�Jangan menangis, sayang! Jangan menangis! Semuanya akan baik-baik saja,� ibuku berbisik dengan lembut kepadaku sambil mengelus rambutku.

Aku berhenti menangis sesaat dan melihat ke sekelilingku. Mereka semua ada di sana, orang tuaku, keluarga, tetangga, bahkan orang-orang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mereka semua berkumpul di sekitarku. Beberapa memegang tanganku yang gemetaran, sementara sisanya menatapku penuh rasa iba dan mengatakan kepadaku agar kuat. Mereka semua hadir di sini untukku. Untuk menghiburku.

Akupun mengubur kembali kepalaku ke dalam telapak tanganku dan kembali menangis, namun bukan karena sedih. Aku merasakan begitu banyak cinta dan perhatian dicurahkan kepadaku. Aku belum pernah menikmati kehangatan dan kasih sayang seperti ini sebelumnya.Semua kasih yang tulus dan kata2 yang manis ini benar2 membuatku bahagia.

Akhirnya aku tahu, memang setimpal mendorong adik kecilku dari tangga.

***

URBAN LEGEND #19: FINAL GOODBYE

 

FINAL GOODBYE

PERPISAHAN

(cerita ini adalah sebuah riddle)

 

�Selamat tinggal.� salah seorang teman kerjaku mendatangi ruang kantorku yang terletak di penthouse. �Mulai sekarang aku tidak bekerja lagi di sini.�

Aku menatap temanku itu dengan iba. Sudah lama memang ia merasa stress bekerja di sini. Aku tak menyalahkannya. Tekanan pekerjaan di sini memang sangat berat.

�Apa kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?� tanyaku.

Ia tak menjawab dan mulai naik ke tangga. Mungkin ia hendak berpamitan dengan teman-teman kantor yang ada di lantai atas, pikirku.

Saat itulah aku mulai gemetar ketakutan.

***

URBAN LEGEND #17: PEEPHOLE

 

PEEPHOLE

LUBANG KUNCI

 

Aku melihat melalui lubang kunci yang ada di pintu depanku. Aku mendengar suara dari balik pintu dan saat ini masih jam 3 pagi. Istriku dan dua putri kecilku masih tertidur di lantai atas. Ketika aku mengintip, aku melihat seorang pria yang belum pernah kulihat sebelumnya menatapku balik.

Dia berbalik dan mulai naik ke atas. Dengan putus asa, aku berusaha sekeras mungkin mencari kunci rumahku.

***

URBAN LEGEND #15: FISHING

 

FISHING

MEMANCING

 

Charlie kecil selalu ingin memancing bersama teman-temannya di Danau Hennepin. Namun ibunya tak pernah mengizinkan. Terlalu jauh katanya, dan Charlie juga masih terlalu kecil. Akhirnya ketika Charlie berumur 9 tahun, ibunya akhirnya mengizinkannya dengan dua syarat. Syarat pertama, ibunya akan ikut dengannya, dan syarat kedua: jangan pernah mendekati pondok tua milik Nenek Endora, seorang wanita tua aneh yang tinggal di hutan dekat danau itu.

Sudah tiga kali Charlie pergi memancing ke sana setiap liburan sekolah. Ia selalu menikmatinya dan mematuhi perintah ibunya. Namun tahun ini ia sangat kesal karena ibunya mengajak Belle, adik kecilnya yang sangat menyebalkan. Charlie sangat marah sebab Belle selalu merengek dan membuat perjalanannya menjadi tak menyenangkan. Ibunya juga selalu memihak Belle tiap kali mereka bertengkar. Oleh karena itu, Charlie berusaha membalas dendam dengan sengaja tak mematuhi ibunya. Sore ini ia akan mengunjungi nenek tua Endora seperti yang selalu dilarang ibunya.

Sore itu sehabis memancing, ia tak langsung pulang ke pondok yang disewa ibunya, melainkan menyusuri hutan untuk mencari rumah nenek Endora. Akhirnya ia menemukannya. Sebuah rumah tua yang sudah peyot di tengah hutan. Nenek itu ternyata tak seburuk dugaannya. Ia nenek yang ramah, menyenangkan, bahkan gemar melucu. Ia bahkan menyuguhkan segelas susu dan semangkuk sup yang lezat untuk Charlie. Ia sangat baik, pikir Charlie. Mengapa ibu tak mengizinkanku mengunjunginya, tanya Charlie dalam hati saat ia berjalan pulang.

Di pondok, saat ibunya sedang menyiapkan makan malam, Charlie bertanya, �Ibu, kenapa ibu melarangku bergaul dengan nenek Endora. Ia kelihatannya baik dan tidak menyeramkan seperti yang dikatakan orang.�

�Hush, jangan membantah ibu! Pokoknya ibu tidak mau kamu pergi ke rumah orang tua itu!�

�Tapi kenapa Bu?�

�Anak kecil sepertimu tak perlu tahu! Ceritanya tak pantas didengar anak kecil!�

Tapi karena Charlie terus merengek, akhirnya ibunya menyerah dan bercerita.

�Nenek Endora itu gila. Banyak orang di sekitar sini mengatakan ia suka menculik gadis kecil lalu memasaknya menjadi sup. Sudah ada beberapa anak yang hilang di sini. Sekarang kamu tahu kan? Nah, sekarang cari adikmu Belle! Dari tadi ibu belum melihatnya.�

***

URBAN LEGEND #16: I NEVER LIKE EMILY

 

I NEVER LIKE EMILY

AKU TAK PERNAH SUKA EMILY

 

Aku tak pernah suka dengan Emily.

Ia memang tak pernah berbuat jahat padaku, namun ia selalu membuatku takut. Walaupun tubuhnya mungil, namun aku tahu lewat sorot matanya, bahwa ia jahat. Benar-benar jahat!

Dia suka menatapku dengan tajam kemudian tersenyum dengan mengerikan. Bahkan saat aku sedang sendiri, ia tiba2 ada di sampingku, mengejutkanku. Tiap malam aku juga sering mendengar langkah kakinya saat ia berjalan menelusuri lorong depan kamarku, padahal seharusnya ia diam di kamarnya sendiri.

Aku benar-benar tak mau berada dekat-dekat dengan Emily. Aku bahkan tak mau Emily ada di rumah ini! Aku sudah mengatakannya pada ibuku, namun jawabannya malah seperti ini, �Kau tahu kan Emily sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Dia sudah lama berada di rumah ini. Aku tak paham mengapa kau membencinya. Dan jangan bodoh, ibu takkan membuangnya!�

Akhirnya aku memutuskan untuk melenyapkan Emily untuk selama-lamanya. Aku membawanya ke taman dan ketika kami melewati jembatan, aku segera melemparnya ke dalam sungai. Arus sungai yang sangat deras akhirnya membenamkan dan menghanyutkannya. Takkan ada seorangpun yang melihatnya. Akupun lega. Ia kini lenyap untuk selama-lamanya.

Akupun kembali pulang dengan hati senang. Akhirnya, rumah ini bebas dari Emily! Ibuku bahkan tak bertanya padaku dimana Emily saat melihatku pulang sendirian. Mungkin akhirnya ibuku melupakan Emily. Semuanya sempurna.

Namun begitu aku masuk ke kamarku, di situlah Emily, duduk di ranjangku. Tubuhnya basah kuyub dan ia menyeringai ke arahku, menatapku penuh dendam.

Tuhan, tolong aku! Aku hampir menjerit.

Siapa yang tahu kalau boneka bisa berenang?

***